Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 105: Watuk Ono tambane, Watak di Gowo Mati!


__ADS_3

Haji Bagong seperti di cekik sekaligus di tenggelamkan berulang-ulang ke dalam air. Malam setelah mengatakan minta di lepaskan, Hajah Maesaroh seperti memboikot Haji Bagong sekarang. Nomor Haji Bagong di blokir. Bahkan saat akan di temui, wanita itu menolak dan memilih mengunci kamar dari dalam.


Haji Bagong menghembuskan nafas kasar. Sudah pantas di panggil kakek, tapi justru saat ini dia merasa seperti ABG yang kelimpungan membujuk pacar yang sedang ngambek. Tapi tidak, ini lebih mengerikan. Mertuanya bahkan hanya bisa memandang iba pada Haji Bagong yang berdiri di depan pintu kamar Hajah Maesaroh yang tertutup rapat.


"Kami prihatin dengan masalah rumah tangga kalian, tapi kami juga tidak mau ikut campur terlalu jauh" ucap ayah Hajah Maesaroh setelah mereka duduk berdua di ruang tengah.


"Saroh minta apa? harusnya kamu turuti saja, ini sudah terlalu lama kalian bertengkar"


Baru kali ini ayah mertua Haji Bagong angkat bicara. Kemarin-kemarin mereka hanya diam. Meski sudah tahu duduk perkaranya.


"Kalian sudah tua untuk bertengkar seperti ini, sudah tidak pantas!" Haji Bagong masih diam.


"Kalau kamu masih keras kepala, pulang saja! Dan tunggu surat gugatan cerai dari Saroh!"


Haji Bagong tercekat. "Jadi, Saroh sudah cerita?"


"Semuanya, tapi selama ini kami diam. Karena kami masih menghormatimu" Haji Bagong mencelos. Tidak menyangka Maesaroh akan membuka masalah rumah tangga mereka pada orang tuanya. Sebagai menantu tentu dia malu pada mertuanya.


"Maafkan saya..." Ucap Haji Bagong singkat sebelum pamit pulang.


****


"Hallo...!"


Tangan Saras bergetar mendengar suara berat itu. Ponsel di tangannya hampir saja ikut melompat.


"***... Assalamualaikum--- Abah..."


"Hmm ..." tidak menjawab salam Saras, Haji Bagong hanya bergumam dingin. Keangkuhannya masih terasa meski tak bertatap muka. Untuk melanjutkan bicara Saras bingung dan takut, harus mulai dari mana.


Saras diam, dengan ketakutan yang luar biasa. Selama ini Haji Bagong membuang bahkan menganggap Saras mati. Lalu hari ini, tiba-tiba lebih dulu menghubunginya. Apakah sang Firaun telah bertobat? atau ini hanya jebakan?


Saras benar-benar takut.


"Kapan ada waktu, datanglah ke rumah bersama laki-laki itu!"


Saras mengerjapkan mata, apa ini mimpi? atau dia sedang berhalusinasi? Tapi Saras sedang tidak melamun tadi, habis makan seblak dower, perutnya bahkan masih terasa panas sekarang. Bibir Saras bergetar, air matanya tiba-tiba menetes tanpa di minta.


"Baik Abah, nanti Sa--ras bilang du--lu ke mas..."


Belum selesai menyebut nama suaminya, sambungan sudah di putuskan. Saras menangis terisak. Kalau saja ponselnya tidak terbuat dari bahan yang keras, mungkin sudah remuk di genggamnya.


Paijo belum pulang, dan Saras hanya berdua bersama Kubro di rumah sore itu. Kubro yang melihat Saras menangis sontak saja panik.


"Ada apa to? OMG cup, cup, cup! Mbak Saras, tenang, cerita sama saya..."


"Huaaaaa... huaaaaa.....aaaaaa...."


"Haduh, saya takut mbak. Nangisnya malah tambah kenceng! Saya telpon mas Paijo aja ya..." Saras masih menangis terisak-isak. Kubro yang mencak-mencak di depannya dianggap seperti kentut, bau tapi tak kasat mata. Tak dianggap sama sekali.


Setelah di hubungi dan di kabari Kubro, dua jam berikutnya Paijo pulang. Pas adzan isya berkumandang sahut menyahut dari toak-toak musholla kampung. Paijo manusia bukan jin Musthofa jadi perlu waktu untuk perjalanan dari Sukorejo sampai rumah. Itu pun sudah termasuk gasik. Mengingat biasanya dia baru masuk rumah jam sembilan atau jam sepuluh malam.


Paijo menatap mata istrinya yang sembab. "Ada apa? kenapa kamu menangis?"


"Peluk mas..." ucap Saras manja. Paijo dengan senang hati mendekat memberikan tubuhnya untuk di peluk.


"Sekarang kamu bisa mulai cerita"


"Abah minta kita datang ke rumah..."


"HAH!!!????" Paijo tergelak kaget sampai tubuh Saras ikut tersentak.


"Tuh, kamu saja kaget 'kan mas, apalagi aku yang denger suaranya langsung tadi, maka dari itu aku sampai nangis..."


"Oke, maksudnya untuk apa kita di minta ke sana?"


Saras melepaskan pelukannya dan mengangkat bahu. "Aku juga tidak tahu mas, mau mikir yang baik-baik juga takut terlalu berharap"


"Abah Haji ngomong apalagi?"


"Cuman bilang itu, kita di suruh datang kalau ada waktu"


"Artinya kita bisa datang kapan saja" sambar Paijo.

__ADS_1


"Apa ini artinya Abah sudah mau menerima kita mas?"


"Hmm... mungkin... semoga saja"


"Terus kapan mas? Kapan mas siap?"


Paijo terlihat berpikir sejenak. "Lebih cepat, mas rasa lebih baik, lagipula mas selalu siap jika memang keluarga kamu mau membuka pintu untuk kita"


"Berpikir positif saja, jangan terlalu takut dengan apa yang belum terjadi, mas janji akan selalu memperjuangkan dan menjaga kamu sayang" hibur Paijo yang menangkap kegusaran di wajah Saras.


"Mas itu kalimat yang alay"


"Ga apa, habisnya bingung mau ngomong gimana, istriku nangis sampai matanya bengkak kayak habis di antup tawon" Saras tersenyum mendengar sindiran halus Paijo.


"Senyum gitu lebih cantik, jangan nangisan, mau punya anak kog, atau jangan-jangan kamu berniat balapan nangis sama anaknya nanti?" Saras mencibir lalu mencubit pinggang Paijo.


"Kita hadapi ini sama-sama!" ujar keduanya sambil berpegangan tangan.


****


Keesokan harinya, mereka sudah berada di depan rumah Saras. Rumah orang tua Saras yang megah bak rumah di sinetron Indosiar. Diam-diam Saras merindukan rumah ini. Saras menggenggam erat tangan Paijo. Detak jantung yang berdegup kencang, amburadul seiiring langkah mereka masuk ke dalam saat pintu sudah terbuka.


Benar, Haji Bagong sudah menunggu ke datangan mereka di sana. Bahkan tiga cangkir minuman sudah tertata di atas meja. Duduk di sofa mahal yang jika di beli dengan mengangsur saja bisa menghabiskan uang satu bulan gaji upah minimum regional Semarang. Haji Bagong menyilangkan kaki dengan wajah yang sama, menyeramkan. Seperti tuan Takur namun versi Jawa.


Kenapa Abah sendirian? dimana Umik? batin Saras.


Mereka berdua memberanikan diri mendekat dan meraih tangan Haji Bagong untuk di cium. Bentuk menghormati orang tua. Haji Bagong membiarkan saja, tidak menolak tangannya di cium.


"Duduklah!" Paijo dan Saras duduk di sofa panjang, mungkin agar lebih mudah saling menguatkan apabila ada hal-hal buruk yang bisa saja terjadi.


"Abah Haji apa kabar?" Paijo membuka suara. Terdengar tenang, tanpa terintimidasi dengan tatapan Haji Bagong yang sukses membuat Saras merinding. Mata itu bahkan tadi sempat menatap perut Saras yang membesar. Tatapan menusuk yang hampir bisa membuat perut Saras mules.


"Seperti yang kalian lihat..." jeda sebentar lalu bicara lagi. Nada bicara yang sombong.


"Kalau berpikir saya memanggil kalian kesini untuk meminta maaf terlebih dahulu, kalian salah"


"Saya selalu benar, dan tidak akan pernah mengakui saya salah, karena saya tidak pernah salah!" Watak keras kepala dan merasa yang maha benar. Seperti sifat iblis ya. Songong.


"Kamu pergi dari rumah demi laki-laki ini, lalu berani menikah siri, huh... jelas kalian yang bersalah!"


"Abah Haji, saya yang salah. Saya yang tidak sabar menunggu restu Abah, saya yang takut di pisahkan dari Saras, kami lancang karena berani menikah tanpa restu anda Abah. Saya memohon maaf atas apa yang sudah kami lakukan..."


Haji Bagong tidak merespon permintaan maaf Paijo. Dia malah lompat ke topik lain. Random memang orang tua ini.


"Saya dengar usahamu sudah sukses, pemasok kayu sengon di PT. Rimba Indonesia, juga pemasok rangka kain di daerah Bandung. Punya pengrajian kayu juga. Benar?"


Paijo mengangguk, "Saya masih taraf belajar mengembangkan usaha Abah, Abah terlalu memuji kalau bilang saya sudah sukses"


"Apa kamu merendah untuk di puji?"


Paijo mengulas senyum tipis, "tentu saja tidak"


"Lalu mobil Camry itu siapa yang beli?"


Astoge, Abah ternyata tahu banyak. Batin Saras.


"Itu ayah mertua Saras yang membelikan, Saras ngidam punya mobil Camry waktu itu, dua bulan yang lalu kira-kira" sambar Saras. Kurang cocok jika yang menjawab Paijo memang.


"Oh ya...? Abah baru tahu ternyata Burhanuddin royal juga"


"Bapak orang yang baik dan bijaksana" puji Saras pada ayah mertuanya.


"Maksudmu tidak seperti Abahmu ini?"


"Abah juga baik," perasaan apa ini, Saras takut, tapi diam-diam dia ternyata juga rindu pada Abahnya, meski canggung itu ada. Tapi bisa bicara seperti ini membuat Saras sedikit lega dan bahagia. Apa ini artinya Abah bisa menerima mereka?


"Apa yang kalian pikirkan saat saya minta datang ke sini?"


"Kami hanya berharap Abah mau memaafkan kami, selebihnya kami memang tak pantas berharap lebih..." jawab Paijo diplomatis.


"Kalau kamu Saras, apa yang kamu pikirkan?"


"Saya takut membayangkan di marahi Abah..." jawab Saras jujur.

__ADS_1


Haji Bagong manggut-manggut, lalu menyesap teh hangat dari cangkirnya. "Minumlah dulu teh kalian, kenapa sejak tadi tidak di minum? apa kalian takut Abah mencampurkan racun di teh kalian?"


Paijo dan Saras saling pandang lalu meringis, antara peringatan atau guyonan, wajah Haji Bagong tidak dapat di baca. Sepertinya Haji Bagong hanya punya satu ekspresi wajah, menyeramkan. Lalu mereka berdua ikut mengangkat cangkir berisi teh hangat itu. Menyesapnya sedikit kemudian meletakkan kembali di atas meja dengan penuh kehati-hatian. Sudah mirip acara ngeteh kaum bangsawan.


"Kalian harus meresmikan pernikahan kalian, ajukan isbat nikah ke pengadilan agama, saya tidak mau cucu saya jadi penduduk ilegal, saya juga mau kalian mengulangi akad nikah meskipun tidak di ulangi juga sebenarnya tidak masalah, saya ingin menjadi wali nikah"


Paijo dan Saras saling tatap, sekarang mata keduanya berbinar, tidak ada berita yang lebih membahagiakan dari ini. Bersyukur doa-doa mereka di kabulkan secepat ini. Kesabaran mereka berbuah manis.


"Terimakasih Abah Haji, terima kasih..." Paijo berhambur memeluk tubuh Haji Bagong, masa bodoh jika dianggap ngelunjak. Yang jelas hatinya langsung plong dan di penuhi kebahagiaan. Tubuh Haji Bagong sampai goyang karena pelukan Paijo.


"Saras kemari, apa kamu tidak ingin memeluk Abah juga!" ajak Paijo. Saras mendekat dan ikut melingkarkan tangannya di lengan kanan Haji Bagong.


"Terimakasih Abah sudah mau merestui kami" Dan air mata bahagia itu pelan-pelan mengalir. Saras rasa sekarang jadi semakin cengeng. Sedikit-sedikit menangis.


"Ehem! Kalian jangan senang dulu!"


"Ada syarat yang harus kalian penuhi!"


Maknanya, hati Paijo dan Saras langsung ngilu. Berdebar kenapa harus muncul kata syarat segala. Bikin dag dig dug semoga tidak dierrr!


"Apa?" tanya Paijo lemas.


"Pertama kalian harus bantu Abah membujuk Umik untuk kembali ke rumah ini"


"Memangnya Umik kemana Bah?"


"Sudah beberapa bulan ini Umik tinggal di rumah kakek kamu Saras, dan dia yang mendesak Abah agar menerima kalian. Untuk satu ini Abah mengaku kalah, Abah sangat mencintai Umik, Abah tidak mau berpisah dengan Umik kamu, kalian harus berterima kasih padanya nanti"


"Jadi ini semua berkat Umik? Saras kira tadi Umik sedang pergi, ga taunya purik ya Bah?"


Dalam hati Saras geli sendiri, ternyata Umik sukses menghukum suaminya sendiri. Good job mik. Wanita memang sekali-kali harus berani menyampaikan aspirasinya sebagai seorang istri.


"Kami bersedia membantu kapan pun Abah mau menjemput Umik"


"Syarat selanjutnya?" tanya Paijo.


"Syarat kedua, Abah mau kalian menggelar pesta pernikahan yang megah. Abah ingin pamer ke teman-teman Haji Abah, kalau Abah bisa mantu geden"


"Kalau perlu undang Nasida ria sekalian tanggap wayang juga, pokoknya pesta pernikahan kalian harus besar-besaran, Abah ingin mereka semua mengakui kemegahan pesta kalian, bagaimana kamu sanggup?"


Saras ingin menolak syarat gila ini. Dia saja tak punya niat menggelar resepsi. Bagaimana bisa ayahnya malah minta hal itu untuk ajang pamer pada teman-temannya. Saras ingin protes, namun tangannya di genggam Paijo dan lirikan Paijo membawa arti untuk mengiyakan saja.


Saras menuruti suaminya.


"Baik Abah, apapun itu kami pasti usahakan"


"Bagus!"


Seperti itulah Haji Bagong, seorang Haji kaya raya yang memiliki watak angkuh, sombong dan keras kepala. Jangan berharap dia meminta maaf, merasa bersalah saja tidak.


Baginya dirinya maha benar. Tidak ada yang boleh menyalahkan.


Dan sifat materialistisnya seperti mengakar hingga ubun-ubun. Jangan kira dia mau menerima Paijo dengan tangan terbuka jika Paijo miskin dan pengangguran. Adanya dia mau menerima, karena sudah tahu jika sekarang Paijo sudah jadi horang kaya.


Benar kata pepatah Jawa, Watuk ono tombone, watak di gowo mati! Haji Bagong tetaplah Haji Bagong dengan watak yang mungkin akan dia bawa sampai mati. Membagongkan bukan? Hihihi...


.


.


.


.


.


Lega bisa melalui part ini,...


Memang tidak terlalu mendramatisir *******, bahkan terkesan kog gitu aja, kog akhirnya Haji Bagong luluh juga, gitu doang?


Hehe... ya saya memang sengaja menulis ringan seperti ini, yang perlu di tekankan yaitu bahwa watak manusia memang seperti itu. Sulit di hilangkan. Jadi jangan harap sebelum tamat Haji Bagong nangis-nangis memelas agar Paijo dan Saras memaafkannya. Atau dia tobat jadi orang yang lemah lembut, mustahil!


Maaf juga tidak bisa mengabulkan keinginan kalian yg minta Haji Bagong di ganjar sakit struk dan jatuh miskin. Wkwkkwkw...

__ADS_1


Tinggal satu chapter lagi menuju tamat. Oke tetep dukung dengan like dan komen ya lur...


MatursuwunπŸ™ˆπŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜


__ADS_2