Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 80: Gangguan Setan


__ADS_3

Saras kerepotan membawa satu tas penuh berisi belanjaan. Rencana mereka untuk pindah rumah, hidup mandiri, awalnya di tentang oleh Salma. Masih jelas teringat bagaimana perempuan itu terlihat kecewa.


"Apa Ibu ada salah sama kalian?"


"Apa Saras tidak betah tinggal di sini bersama Ibu?"


Jujur, sebaik apapun mertua sebagai menantu pasti ada saja rasa tidak enak di hati. Atau memang sudah resiko jadi orang Jawa tulen, sehingga unsur pekewuh selalu saja ada meski semuanya baik-baik saja.


Beruntung setelah di beri penjelasan oleh Paijo, Salma mau mengerti. Suami Saras itu memang selalu bisa diandalkan. Meski harus dengan sedikit bujuk rayu.


Paijo mengatakan, jika nanti mereka akan sering-sering berkunjung ke rumah. Lagi pula mereka hanya akan pindah desa, masih satu Kabupaten bahkan satu Kecamatan, jadi tidak perlu yang ada di khawatirkan bukan.


Maka dari itu, dalam seminggu ini, sepetak rumah milik Paijo sedang di renovasi, seperti rencana Paijo. Renovasi itu hanya sekedar menambah ruang untuk tempat memasak.


Dan rencananya, satu minggu yang akan datang mereka akan benar-benar pindah rumah.


Saras mengusap peluh keringat di dahinya. Panas, menunggu mini bus yang tak kunjung datang. Di tambah sesaknya jalan raya sekitar pasar pagi yang selalu semrawut. Belum lagi jika di tambah ada antrian perlintasan kereta api. Wah, membuat siapa saja mudah terpancing emosi.


Tot...tot...!


Itu bunyi klakson mobil, bukan klakson odong-odong. Saras mengernyitkan alis saat mobil itu berhenti di hadapannya. Dan Jae terlihat keluar dan memutar tergesa menyambangi Saras.


"Hai, bawa sini biar aku bantu!"


Saras ingin menahan tas belanja dari anyaman nilon itu tapi kalah, sial itu berat sekali. Dan Jae berhasil merebutnya. Laki-laki tak tahu diri itu bahkan tidak basa-basi, apa Saras mau di bantu atau tidak.


"Hai, kenapa malah bengong, buruan masuk! Atau kita akan di marahi orang-orang karena menyumbang kemacetan"


Rasanya Saras ingin menukar orang ini dengan sebungkus kerupuk usek. Terlalu menyebalkan. Meski sedang kesusahan, Saras tidak berharap di tolong orang ini. Tapi mau bagaimana lagi, tas berisi belanjaan sudah nangkring di dalam mobilnya. Terlalu aneh jika menolak ikut pulang, pasti nanti Ibu jadi bertanya-tanya.


Saras duduk anteng di sebelah Jae yang sedang mengemudi. Baiklah, ini tidak akan lama, lima belas menit. Sepertinya tidak memulai pembicaraan pun tidak masalah. Saras hanya diam. Tapi tidak dengan orang di sebelahnya.


"Tadi aku kebetulan lewat dan lihat kamu, jadi harusnya tidak masalah 'kan kalau kita pulang bersama?"


Tatapan mata itu, entah mengapa Saras benci. Jae menatap Saras dengan kekaguman yang terpancar dari mata coklatnya. Saras tidak bodoh untuk tidak peka. Saras membuang pandangan jengah sebelum menjawab iya. Saras tidak berniat mengobrol banyak-banyak. Jadi menjawab singkat barang satu, dua kata, harusnya Jae peka, bukan pekok.


"Saras, aku masih penasaran, kenapa kamu mau-maunya menikah dengan Paijo?!"


"Menggelikan sekali melihat kalian,"


"Kamu itu cantik, cantik banget malah, sedangkan Paijo? SNI saja pasti tidak lolos!"


Kuping Saras memerah, di puji cantik dari mulutnya saja sudah membuat amarahnya meletup-letup di dada, Saras tidak akan tersanjung bahkan malah muak, di tambah lagi suaminya di hina?

__ADS_1


Jelas sekali sekarang, Jae bahkan tidak pantas menjadi saudara tiri Paijo, dia lebih pantas menjadi saudaranya setan.


"Oh sori, jangan tersinggung, aku hanya bertanya, kalau kamu tidak mau menjawab tidak apa, tidak masalah"


"Huh, aku hanya menyesal tidak bertemu denganmu lebih dulu, andai saja kita bertemu sebelum kamu menikah dengan saudara tiriku, pasti aku tidak akan segan-segan untuk mengejar mu"


Saras hanya diam, tidak menjawab sama sekali. Kalau tidak ingat dia anaknya Salma, mungkin Saras tidak akan dua kali berpikir untuk menabok mulutnya. Mulutnya tak beradab sekali. Lancang karena berani berbicara seperti itu.


Suara berdecit rem menginstruksi, menandakan jika mereka sudah sampai di depan rumah. Dengan tatapan membunuh, Saras membuka mulut.


"Saya merasa sangat terhina sekali saat kamu puji cantik, saya tidak suka bahkan jijik!"


"Saya mencintai Mas Paijo, dengan kelebihan dan kekurangannya dengan standar saya, bukan standar kamu apalagi standar nasional, saya ga butuh!" Saras menjeda omongannya.


Dia kemudian menarik nafas dalam-dalam dan kembali membuka suara.


"Andai kita bertemu lebih dulu, saya tidak akan segan-segan untuk mengatakan kalau anda, brengsek sekali!" Pelan, lirih, tapi jeru. Semoga itu cukup untuk menyadarkan Jae, jika dirinya tak tahu diri.


BRAKK!!!!


Saras membanting pintu mobil dengan sekuat tenaga. Saras harap pintu itu sekalian saja rusak. Lucu kali ya. Kata-kata Jae sangat melukai harga dirinya. Meski saudara tiri, harusnya dia sadar, Saras itu iparnya. Terlalu lancang jika dia bicara seperti itu. Bagaimana kalau Saras menceritakan hal itu pada Paijo? Besok pagi mungkin bendera kuning akan terpasang di pagar rumah Pak lurah Burhanuddin.


Saras yakin, pasti Paijo akan murka. Tapi tidak, Saras pernah belajar toleransi saat pelajaran kewarganegaraan dulu. Saras akan tutupi borok Jae, demi keharmonisan keluarga ini. Toh sebentar lagi dia dan suaminya akan meninggalkan rumah ini.


Saraswati, katakanlah aku brengsek! Tapi tetap saja itu terdengar sangat merdu di telingaku!


Wahahaha... aku gila hanya karena melihatmu!


Saras jelas emosi jiwa, masuk ke dalam rumah dan dapur yang pertama kali dia tuju. Bukan mau ambil pisau, dia hanya butuh minum air putih. Dalam satu tarikan nafas, Saras meneguk satu gelas penuh air putih itu.


"Saras!"


"Emmmb... uhuk, uhuk, uhuk!" Saras tersedak, itu panas sekali karena air minumnya bahkan keluar lewat lubang hidungnya.


"Eh maaf, maaf, Ibu bikin kamu kaget" ucap Salma sambil mengurut punggung menantunya.


"Ga apa Bu, Saras yang salah, haus jadi buru-buru minumnya"


Salma memberikan selembar tissue untuk Saras mengusap sisa air di mulut dan hidungnya.


"Tadi Jae bilang mau menjemput kamu ke pasar, kalian ketemu?"


Apa? jadi dia sengaja, bukan kebetulan lewat saja. Benar-benar pendusta!

__ADS_1


Saras mengangguk kecil, "Iya Bu, Saras bareng Mas Jae kog,"


"Oh ya sudah, syukur kalau kalian ketemu, tadi Ibu khawatir kamu kesulitan bawa barang belanjaan, dan dia langsung menawarkan diri jemput, btw mana tas belanjaannya?"


"Eh... masih di mobil kayaknya, biar Saras ambil dulu, tadi Saras buru-buru pengen minum soalnya"


Belum sempat melangkah, Jaelani muncul dengan sigap. "Don't worry, ini dia belanjaan Ibu!"


"Ah, terimakasih sayang. Kamu manis sekali, kenapa tidak cepat cari isteri saja, biar Ibu bisa melihat adegan ini, kamu sebagai suami siaga yang membawakan belanjaan isterinya"


"Oi, apa ini tidak sama saja Bu?"


Pukulan manja mendarat di lengan Jae dari ibunya. "Tentu saja beda, dia itu isteri adikmu, bodoh!"


"Kalau aku ingin merebutnya, boleh?"


"Omong kosong!"


"Saras, kamu tidak perlu mendengarkan dia, dia otaknya tinggal seperempat, jadi mulutnya itu udah kayak pantat yang ga bisa nahan kentut, bocor!"


"Hahahaha...." Jaelani tertawa.


Dan Saras merasa ini tidak lucu sama sekali. Andaikan Salma tahu kelakuan anaknya, apa dia tetap akan menganggap ini hanya lelucon.


Saras tersenyum getir. "Bu, Saras ke kamar dulu ya, ganti baju dulu, nanti Saras bantu masak"


"Oke sayang, kalau capek kamu istirahat dulu gapapa!"


Capek memang, capek hati!


.


.


.


.


.


.


Ramaikan like dan komen ya Bu ibu😁

__ADS_1


Novel ini ga panjang kog, rencana paling kurang dari 100 episode, wkwkwkwk🤭


__ADS_2