Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 58: Pendekatan 2


__ADS_3

Seperti nama desa itu, dusun Pening. Hari-hari Saras terasa pening. Bagaimana tidak pening pagi-pagi sekali Budhenya yang berambut keriting itu mengajaknya ke kebun. Iya kalau kebunnya dibelakang rumah, Saras santai saja. Ini kebun milik budhe harus berjalan mengitari satu bukit dulu baru sampai. Mendaki gunung lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudera. Ingin rasanya Saras bersenandung seperti itu tapi tidak. Dia sedang tidak bahagia.


Saras betah jalan-jalan seharian di mall. Cuma beli es krim aja juga ga apa. Tapi ini sangat keterlaluan dia seperti di paksa ikut hiking saat Pramuka dulu. "Bud, kakiku rasanya mau patah."


"Ini budhe ngajak Saras ke kebun atau ngajak mati sih!?" Terengah-engah Saras berjalan mendaki bukit.


"Mulutmu Saraswati!" Entah yang ke berapa kali mereka berhenti untuk sekedar mengambil nafas.


"Budhe lihat tadi malam kamu kayak aneh. Maka dari itu kamu harus banyak aktivitas."


"Kebanyakan melamun, merengek, menangis, lama-lama kamu bisa jadi Tamara."


"Siapa Tamara?"


"Orang gila yang suka pakai rok mini sambil nenteng-nenteng sepatu hak tinggi"


"Mungkin dalam benaknya dirinya itu model" "Kapan-kapan kalau lewat Budhe kenalkan sama kamu,"


"Dih ogah!" Saras mencibir kesal.


Setelah hampir satu jam berjalan, mereka berdua sampai juga di kebun yang di maksud. Saras membelalakkan mata saat melihat betapa indah pemandangan di sana. Ladang tembakau terhampar luas. Daun-daunnya yang hijau segar menandakan tumbuhan itu cukup mendapatkan asupan gizi.


"Wow! seberapa luas ladang tembakau yang Budhe miliki?"


"Hampir dua hektar, warisan dari almarhum suami Budhe."


"Wow..." Saras lagi-lagi tidak menyangka. Saras kira kebun Budhe Sri hanya di tanami daun singkong atau sejenisnya. Ternyata ladang tembakau. Dalam satu kali panen saja jika untuk membeli tiga motor baru cash bukan kredit adalah hal yang gampang.


"Kenapa? kagum?"


Saras mengangguk. Mayoritas keluarga Abah Saras memang tidak ada yang kismin. Mulai Haji Bagong sendiri yang punya toko emas, Pak lek Agung yang punya toko baju terbesar di Kendal, Bulek Rosa yang punya sanggar senam bercabang-cabang di Kendal dan sekitarnya. Dan ini Budhe Sri yang punya ladang tembakau berhektar-hektar. Tidak ada silsilah pegawai negeri, tapi mereka semua bisa dipastikan kaya raya. Walaupun masih standar kaya tingkat kabupaten. Bukan sultan macam Raffi Ahmad atau pun Crazy rich lainnya. Lalu kenapa Abahnya ngotot pengen punya menantu PNS, misteri sekali.


"Budhe sendiri yang mengelola ini?"


"Iya dong siapa lagi?" jawab Budhe Sri jumawa.


"Budhe mempertahankan ini semua, karena hanya ini sisa-sisa kenangan yang Budhe miliki sepeninggal almarhum suami Budhe. Budhe merasa nyaman disini. Tenang, hidup sak tetahe."


"Untung alhamdulilah, bisa untuk memberi pekerjaan sampingan buat tetangga. Apalagi saat musim panen tembakau, ngrajang mbako menjadi hiburan buat budhe. Rame, semua orang bersuka cita"


"Tetangga Budhe bisa ikut kerja, nambah penghasilan mereka."


"Budhe jadi merasa punya hidup yang bermanfaat,"


Saras menyimak curahan hati Budhe Sri. Ada perasaan terpukau mana kala seorang perempuan terlihat mandiri dan baik-baik saja. Meski menjanda berpuluh-puluh tahun lamanya. "Saat masih muda dulu kenapa Budhe tidak menikah lagi?"


"Haaaahhh... pertanyaan klasik yang beribu-ribu kali sudah di tanyakan orang."

__ADS_1


"Terlalu sinetron tidak kalau Budhe bilang, karena Budhe begitu mencintai suami Budhe?"


"Ahh... so sweat." Mereka berdua mengumbar senyum. Sembari berjalan santai menyusuri jalan setapak yang membelah ladang.


"Menurut Saras sih, sah saja. Itu pilihan Budhe, selama Budhe bahagia kenapa tidak."


"Apa benar kamu berpikir seperti itu?"


"Apa kamu rasa Budhe tidak terlalu kolot? Kata saudara yang lain begitu juga Abah kamu, mereka bilang Budhe itu wanita yang kolot."


Saras tertawa kecil, meski baru tinggal beberapa hari bersama Budhe Sri justru Saras menemukan sisi lain dari wanita ini. Wanita yang setia pada belahan jiwanya yang berharap bisa berjumpa lagi kelak di surga.


"Ah... yang kolot itu Abah. Kalau Budhe sih masih punya peri kemanusiaan." Di gombalin begitu Budhe Sri mesem-mesem.


Tiba-tiba Saras punya ide jahil. Tingkah laku manusia, biasanya akan over baik kalau sudah di puji-puji. Apalagi sejak tadi Saras sudah mau jadi wadah curahan hati Budhe Sri.


"Bud, fotoin Saras dong!"


"Kayaknya keren foto-foto di tengah ladang tembakau gini,"


Dan benar saja, Nudhe Sri merogoh kantung dress yang dia kenakan dan mengeluarkan hp dari sana. "Boleh, mau foto dimana?"


Saras menunjuk jalan setapak dengan background bukit di belakangnya. Sedangkan kanan kiri berupa hamparan tanaman tembakau. Saras berjalan ketengah kemudian merentangkan tangan selebar-lebarnya. Gesture tubuhnya seperti mengartikan jika dia bisa bernafas lega, dan bebas. Saras ingin mendapatkan kebebasannya kembali. Bukan di sembunyikan di desa terpencil seperti ini.


Beberapa foto telah diambil, giliran Saras yang menawarkan diri untuk memotret. "Gantian Budhe yang pose, sini hp-nya!"


Saras butuh kepastian apa mereka akan lama disini. "Bud, kita pulang sebentar lagi apa agak nanti?"


"Hahaha... ya udah buruan geser. Pose yang cantik, lumayan nanti fotonya bisa buat nakut-nakutin cicak! ga perlu pakai sapu lagi" Saras terkekeh.


Budhe Sri mencibir tapi tidak membalas hinaan keponakannya itu. Setelah Budhe Sri terbuai berpose-pose cantik, Saras baru bertindak.


Dia lari secepat mungkin membawa hp Budhe Sri sembari berteriak, "BUD, SARAS PINJAM HP DULU!!!"


"HAISHH... ANAK NAKAL!!! AWAS SAJA KAMU!!!" Budhe Sri tak kalah membalas teriakan Saras.


"TUNGGU SARAS DISITU SAJA!! SEBENTAR AJA!"


Mengejar sekuat tenaga apapun, tidak akan bisa menyusul, Saras lari seperti di kejar setan. Kemudian gadis itu menghilang di balik semak-semak.


****


"Maaf Pak, dari informasi yang saya peroleh sudah beberapa hari ini staf akunting yang bernama Yunita Saraswati tidak masuk tanpa keterangan. Kami juga tidak bisa menghubunginya,"


Rahang Paijo mengeras, sudah jelas sekarang. Saras tidak di rumah, dia juga tidak masuk kerja tanpa keterangan. Paijo yakin ini pasti perbuatan Haji Bagong. Saras kamu dimana?


Setelah dari kantor Saras, Paijo memacu sepeda motornya menuju toko emas milik Haji Bagong. Dia perlu bicara. Dia mau tahu keberadaan Saras sekarang.

__ADS_1


Berbarengan Paijo memarkir motor, Haji Bagong keluar dari mobil gagah yang dia banggakan. Paijo pun tidak berpikir dua kali untuk segera menghampiri.


"Pakdhe Haji..."


"Mau apa kamu kesini!"


"Pakdhe saya perlu bicara. Saya minta waktu sebentar saja" Paijo mengiba, tapi Haji Bagong tidak mau ambil pusing. Langkah kakinya panjang masuk ke dalam toko.


"Saya sibuk!"


"Pakdhe Haji, tolong jangan begini. Dimana Saras?"


"Saya tahu Pakdhe Haji menyembunyikan Saras dari saya."


Paijo memegang lengan Haji Bagong. Langkah Haji Bagong terhenti sejenak. "Apa perlu saya memanggilkan satpam untuk mengusir kamu hah!?" Rahang Haji Bagong mengeras, dia benci Paijo.


"Pakdhe," Paijo berlutut di bawah kaki Haji Bagong. Pemandangan itu membuat semua mata pengunjung berpusat pada mereka.


"Tolong jangan pisahkan kami,"


"Bangun! apa-apaan kamu ini!"


"Saya tidak akan pergi sampai Pakdhe memberi tahu dimana Saras,"


"Huh, jangan harap! Terserah mau sampai kapan kamu berlutut. SAYA TIDAK PEDULI!!!"


Haji Bagong masuk keruang kerja miliknya, meninggalkan Paijo yang masih berlutut dengan wajah memelas.


Para pengunjung mencuri-curi pandang kearah Paijo. Bahkan ada yang berbisik-bisik. "Apa laki-laki itu sudah gila?"


"Apa yang dia lakukan?"


"Kenapa dia?"


"Aneh sekali!"


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy reading ☺️


Jangan lupa dukungannya🙏


__ADS_2