Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 94: Dukungan Seorang Istri


__ADS_3

Paijo baru saja selesai bicara dengan Om Irwan lewat telepon. Laki-laki yang berjasa menunjukkan jalan usaha bagi Paijo itu menawari projek baru, yaitu pesanan rangka kayu untuk gulungan kain. Karena perusahaannya tidak memungkinkan menerima orderan itu. Sebab pengiriman barang yang terlalu jauh apabila dikerjakan di Malang. Sedangkan perusahaan yang mengajak bekerja sama itu sendiri berada di Bandung.


Maka dari itu Om Irwan melimpahkan projek itu pada Paijo. Jika Paijo mampu, tentu saja pundi-pundi rupiah bakal semakin lancar jaya mengalir di rekeningnya. Paijo antusias menerima orderan itu awalnya. Namun suami Saraswati itu kini duduk di kursi kebesarannya sambil memijat kening.


Butuh dana tambahan untuk biaya operasional pengiriman orderan itu. Misal menyewa satu truk container saja butuh puluhan juta rupiah untuk satu kali pengiriman dari Semarang ke Bandung. Paijo bingung harus mencari suntikan dana dari mana. Hutang di bank? Kalau bisa jangan.


"Mikirin apa?" Tanya Saras saat meletakkan secangkir kopi hitam di meja kerja Paijo.


"Pusing..." Jawab Paijo sekenanya. Dia tidak ingin istrinya ikutan mikir. Biar dia saja yang mumet asal Saras jangan. Meski sewajarnya pasutri itu saling berbagi.


"Mau aku pijitin?"


Paijo akan mengutuk dirinya sendiri jika sampai tangan Saras melakukan hal itu. "Enggak, mana tega aku minta pijit kamu. Kamu sendiri aja udah capek bawa anakku kemana-mana seharian"


"Harusnya aku yang mijitin kamu" terang Paijo lalu menyesap kopinya.


Saras tampak termenung, dia tahu suaminya sedang ada masalah. Saras pengen tahu, walau tak banyak membantu, setidaknya dia ingin menjadi tempat berbagi bagi suaminya. Melihat wajah istrinya begitu, Paijo jadi tidak tega.


"Mau bantu aku?"


Saras berbinar, "Apa?"


Paijo mendorong kursinya sedikit kebelakang lalu tersenyum jahil, "duduk sini!"


Titah Paijo sambil menepuk-nepuk pahanya. Saras merona, hanya karena di minta duduk di pangkuan suaminya.


"Apaan sih, aku berat Mas!"


"makanya coba dulu sini, masih kuat ga akunya"


"tapi janji kamu cerita, kamu pusing kenapa? Ada apa? Aku juga pengen ngerti..."


Sekarang berat tubuh Saras sepenuhnya bertumpu di paha Paijo. Tangan Saras melingkari leher suaminya. Takut kalau-kalau kursinya jebol. Pandangan mereka beradu. lalu satu tangan Saras menyusuri ujung kepala Paijo, turun ke daun telinga, lalu ke leher, dan tertahan di dada bidang Paijo.


"Sekarang cerita, ada apa?"


Bagaimana Paijo akan bercerita. Pusing di kepalanya sekarang bahkan bertransformasi menjadi pening karena salah satu bagian tubuhnya menegang di bawah sana. Keterlaluan hanya memangku saja efeknya luar biasa ternyata.


"Ya udah aku turun aja ya, kamu ga ada cerita kog, malah aku jadi beban buat kamu" Saras hendak berdiri dari pangkuan Paijo namun di tahan.


"Sama sekali tidak, kamu ga berat sama sekali!"


"duduk anteng aja udah, jangan banyak gerak"


"Gini aja aku udah enak, pusingku udah ilang"


Saras mengerucutkan bibirnya. Jengkel sekali karena Paijo masih belum mau cerita meski sudah di rayu.


"Kamu mau denger aku cerita?" Saras mengangguk.


"tapi janji jangan di buat pikiran kamunya!?"


"iya janji..."


Paijo menghela nafas cukup panjang sebelum bercerita. Lalu merengkuh kepala Saras agar bersandar di dadanya. Lalu mengusap-usap lembut kepala istrinya.


"Aku butuh suntikan dana, barusan Om Irwan nawari projek baru. Kalau deal, kita butuh modal yang cukup besar"


"Kalau aku hitung-hitung biaya produksi masih bisa tercover, tapi untuk jasa pengirimannya yang aku belum ada bayangan dana"


"Memang kirim kemana Mas?"


"Bandung" Paijo menghembuskan nafas kasar lagi.


"Oh... jauh ya, luar kota."


"Kamu ga coba nego sama perusahaan sana, barangkali mau bayar di muka separuh gitu, lumayan untuk biaya pengiriman?"


"Udah, tapi sana ga mau. Mintanya kita back up semua di awal. Nanti pembayaran langsung global di akhir setelah barang sampai"


"Kog gitu ya, tapi beneran bisa dipercaya Mas? apa ga sebaiknya Mas minta uang muka dulu,"

__ADS_1


"Om Irwan yang jamin, soalnya ini perusahaan milik teman dekatnya"


Saras hanya bisa bergumam Oh, lalu nampak berpikir. Saras ingin membantu, tapi apa suaminya bersedia menerima bantuannya.


"Udah jangan di pikirin! biar aku aja yang mikir nanti gimana baiknya"


"Ah... jadi pengen yang anget-anget"


Saras menegakkan badan. "Jangan modus ya Mas!"


Pasti suaminya minta jatah lagi. Saras paham betul kode-kode seperti itu.


"Apa? pikiran kamu aja yang gemar ke arah situ."


"Pengen anget-anget, maksudnya aku pengen minum wedang ronde"


"Hish... kamu ya!"


"Hahahaha... beli yoh, aku ikut"


"Berangkat!"


"Aku ambilin jaket dulu, biar kamu ga kena angin malam"


"Makasih Mas"


Jam menunjukkan sudah pukul setengah sepuluh malam, ketika mereka keluar rumah. Mencari penjual wedang ronde sampai alun-alun kota. Memang hanya di sana yang ada. Alun-alun Kaliwungu selalu punya cerita tersendiri bagi siapapun orang yang berkunjung. Selain sebagai pusat kuliner, tak jauh dari sana juga ada Masjid agung yang kini berdiri megah dengan cahaya lampu kuning yang menentramkan panca indera.


Saras memandang Masjid Al Muttaqin dari tempatnya berdiri. Perasaaan damai menyeruak dalam hatinya. Apalagi alun-alun sudah tampak lenggang. Hanya beberapa tenda saja yang masih buka. Jalanan juga sudah lenggang. Sesekali saja ada motor atau mobil yang lewat.


Paijo dan Saras memutuskan membungkus saja wedang ronde pesanan mereka.


"Di minum di rumah saja yah, kalau di sini bisa-bisa kita ga pulang-pulang, asyik ngobrol"


"Ke alun-alun malam begini ternyata rasanya beda ya Mas"


"Aku suka... ga ramai, lumayan buat cari angin"


"Minum bajigur sama ngemil tahu asin"


"Bisa sampai tengah malam kalau nongkrong"


"Oh ya? sambil nge-game pasti"


Paijo terkekeh, "Iya dulu pas muda, kalau sekarang sudah tobat"


"Sudah mau jadi ayah, mending sama istri di rumah"


"Keren kan aku..."


"Iya keren...!" cibir Saras lalu tersenyum bangga pada suaminya.


****


Besoknya, setelah memikirkan dengan matang, Saras memberanikan diri untuk bicara. Apa salahnya di coba. Kalau suaminya menolak bantuannya, dia pun tidak akan memaksa. Gayanya, padahal Saras tetep bakal memaksa. Hihi ...


Hari ini Paijo pulang lebih awal. Setelah mandi dan selesai dengan makan malamnya, Paijo bersantai menonton berita di televisi sambil ngopi. Saras keluar dari kamar dengan membawa sebuah kotak dan duduk di samping Paijo. Paijo masih fokus pada berita sehingga tidak begitu memperhatikan apa yang di bawa istrinya.


"Mas..."


Saras masih bingung mulai dari mana. Selama ini dia memang belum sempat bercerita jika ibunya pernah membawakan kotak perhiasan miliknya. Hajah Maesaroh pernah berpesan untuk menyimpannya barangkali butuh. Dan Saras merasa kali ini dia butuh. Saras ingin membantu suaminya.


Paijo menoleh, dari nada Saras memanggil namanya saja sudah seperti attention. Paijo merasa ada hal yang ingin Saras sampaikan. Hingga matanya tertuju pada sebuah kotak di pangkuan Saras.


"Apa itu?"


"Mas, sebelumnya aku minta maaf karena belum sempat cerita"


"Waktu lalu Umik pernah bawakan ini, koleksi perhiasan milikku Mas"


"Umik bilang bisa di pakai jaga-jaga kalau aku butuh"

__ADS_1


"Kamu pakai ini ya Mas, jual aja buat tambahan modal usaha kamu"


"Lagipula juga aku jarang pakai"


"Daripada nganggur di rumah, mending jadikan uang di puterin 'kan lebih bermanfaat"


Paijo diam. Saras jadi takut. Apa suaminya tersinggung. Saras menunduk tidak berani menatap wajah Paijo.


Beberapa detik kemudian, Paijo meraih tangan Saras dan menggenggamnya. "Terimakasih sayang, tapi aku tidak bisa menerima ini, ini punya kamu,"


"Aku saja belum bisa beliin kamu perhiasan sebanyak itu, kamu simpan saja ya"


"Kemarin kamu janji hlo, ga ikut mikirin ini"


Hah, benar kan sudah pasti di tolak...


"Tapi aku mau bantu kamu Mas,"


"Kalau di jual, aku belum tentu bisa gantiin beli kayak gitu, pasti itu juga berharga buat kamu"


"Udah, ga usah. Nanti Mas cari pinjaman di luar saja"


"atau mentok, lebih baik kita ga terima tawaran itu"


"Jangan Mas! ini kesempatan bagus buat usaha kamu semakin berkembang"


"Please, jangan tolak bantuanku Mas"


"Milikku juga milikmu Mas"


Lalu keduanya hening. Tenggelam dengan asumsi masing-masing.


"Atau gini aja Mas!" Saras berterima kasih pada otaknya, karena situasi seperti ini mampu memberi ide yang cukup brilian.


"Kita gadaikan saja ini, nanti kalau usaha kamu jalan terus balik modal, kita bisa tebus lagi, kamu jadi ga perlu khawatir aku kehilangan ini, syukur-syukur nanti aku di belikan perhiasan baru sama kamu, hehe ... gimana?"


"Win-win solution!"


"Kita gadaikan saja yah!" rayu Saras lagi.


"Mengatasi masalah tanpa masalah!" Saras terkekeh setelah menirukan slogan pegadaian itu.


Paijo tersenyum lalu mengacak rambut istrinya dengan gemas. Mungkin memang ada baiknya dia menerima bantuan dari istrinya. Daripada terbelit dengan urusan pinjaman bank. Lagi pula progresnya juga bagus. Paijo yakin bisa berhasil.


"Baiklah, aku terima bantuan kamu, aku gadaikan ini dulu"


"Aku janji bakal usaha keras buat nebus ini nanti"


"Makasih ya, kamu udah dukung aku sampai sejauh ini"


"Okay Mas, aku seneng kog bisa bantu kamu"


Saras merasa lega dan berpuas hati setelah Paijo menerima bantuannya.


Seperti itulah rumah tangga. Harus bisa bergotong royong dan berbagi. Maka tidak salah jika ada pepatah yang mengatakan,


'Di balik kesuksesan suami ada istri yang hebat.' Semoga kita bisa jadi salah satu istri-istri yang hebat itu ya bunda!


.


.


.


.


.


.


Terima kasih 😘

__ADS_1


__ADS_2