Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 49: l Love You So Much Much


__ADS_3

"Tahu apa itu Ma-de-su?!" suara Haji Bangong tandes sekali, seakan ingin sekali menorehkan luka sedalam-dalamnya.


"Masa depan suram!!!!"


"Kamu tidak lebih dari seorang pecundang! Jangan berani-beraninya membayangkan bersanding dengan putri saya, jika dari awal saja sudah terlihat kalau kamu itu produk gagal, produk reject!"


"Hah, anak kepala desa, tapi hanya jadi tukang kayu. Pekerjaan macam apa itu!?"


"Rendahan!"


Paijo masih diam mendengarkan caci maki Haji Bagong. Seketika dia ingat dawuh Gusdur yang mengatakan, 'Seperti orang yang ingin mengotori langit dengan meludahinya. Ludah itu hanya akan jatuh mengotori wajahnya sendiri. Demikian halnya, jika di luar sana ada orang yang sedang marah-marah kepadamu. Biarkan saja, karena mereka sedang membuang sampah hati mereka.'


Haji Bagong sedang membuang sampah di hatinya, entah sejak kapan dia menabung sampah-sampah itu. Paijo bukan tempat sampah, dia juga tidak mau menerima sampah itu, jadinya dia memilih diam mematung. Menunggu Haji Bagong lelah memaki.


Laki-laki tua yang sudah Haji berkali-kali itu sepertinya sudah mulai lelah sendiri, dadanya naik turun, dia bahkan sampai terbatuk-batuk. Paijo merasa iba sendiri. Dia berinisiatif menawarkan secangkir kopi yang belum tersentuh.


"Pakde Haji, minum dulu. Pasti capek sudah bicara panjang lebar," Haji Bagong berdecak keras.


Sumpah demi Rambo, ayam tuk Dalang yang suka nyuri sendal sebelah milik kawannya Upin & Ipin. Saras langsung berhenti menangis. Ingusnya dia sedot dalam-dalam agar gagal menetes. Dia tertegun dengan sikap Paijo yang lempeng-lempeng saja meski sudah di hina sedemikian rupa. Mas Paijo kuh, memang luar biasa.


Entah kapan dan dimana Paijo belajar ilmu mengendalikan emosi, dia benar-benar terlatih. Tenang seperti air di telaga Warna, Dieng.


"Pakde, saya memang bukan Sarjana. Saya juga tidak bisa menjanjikan banyak hal pada Saras."


"Masa depan saya mungkin suram atau buram sekalipun, tapi saya tidak akan berhenti berusaha. Saya tidak akan membiarkan Saras lapar, karena itu bahaya sekali."


"Saya paham sekali kalau Saras lapar dia jadi lemot, tidak bisa berpikir sehat."


"Makanya saya tidak akan membiarkan Saras kelaparan,"


Saras ingin menepuk jidat, ini Paijo kenapa malah melawak sih. Walaupun apa yang di katakan benar, tetap saja itu terdengar meledek Saras.


"Saya berkata terus terang, karena saya serius sama Saras."


"Saya harap Pakde paham, bagaimana pun Pakde Haji pernah muda, pasti tahu bagaimana rasanya jika sudah jatuh cinta pada seorang gadis,"


Beberapa detik Haji Bagong terdiam dengan mata melotot. Anak muda ini ternyata berani juga, pikirnya. Di gertak bukannya drodog, malah ngajak mikir. Apa dia sudah tidak waras?


"Huh! omong kosong!"


"Saya ayahnya, saya paling tahu yang terbaik untuk anak saya!"


"Pulanglah! jangan pernah injakan kaki 'mu lagi ke lantai rumah saya!"


Paijo sadar sudah di usir. Tapi dia pantang untuk kendur, maksudnya mundur. Jika hari ini dia gagal meminta restu, dia bisa mencoba lagi besok. Kalau perlu setiap hari dia rela mendatangi Haji Bagong.


"Pakde Haji, saya sangat menghormati anda. Saya mohon maaf jika saya lancang, atau bahkan mungkin Pakde Haji masih kecewa dengan keluarga saya."


"Satu hal yang Pakde Haji harus tahu, dulu memang saya tidak menginginkan perjodohan itu. Tapi sekarang, saya sayang sama Saras."

__ADS_1


"Hari ini Pakde Haji mengusir saya, tapi besok saya akan tetap kesini lagi."


"Saya akan terus berusaha, sampai Pakde Haji merestui hubungan kami..."


Haji Bagong membuang muka, dia muak dengan Paijo yang ternyata pintar bicara. Paijo bangkit menyalami Hajah Maesaroh. Kemudian berpindah menyalami Haji Bagong. Paijo tidak mau dianggap tidak sopan, meski sudah di hina tapi dia harus tetap bersikap baik.


Saras berdiri bermaksud mengantarkan Paijo sampai depan. "Mau kemana kamu?!"


"Kamu tidak perlu repot-repot mengantarkan dia! Masuk kedalam!"


"Abah..." Saras tercekat, dia menatap Paijo dengan tatapan nanar. Paijo hanya membalas dengan anggukan singkat.


Tidak apa-apa Saras, aku rela di maki, asalkan pada akhirnya kita bersama. Paijo pergi. Sedangkan Saras merasa Abahnya sangat jahat, dia berlari menaiki tangga menuju kamarnya.


"Saras! Abah ingin bicara denganmu!"


Saras nekat budeg, dia terus berlari menuju lantai dua dan menutup kamar rapat-rapat.


"SARAS!!!!" Haji Bagong berteriak murka.


"Kamu lihat? itu anak kamu, tidak kakak tidak adik, dua-duanya susah diatur!"


Haji Bagong menyalahkan Hajah Maesaroh yang hanya bisa diam menunduk.


Setelah itu Haji Bagong ikutan ngambek masuk kedalam kamar.


"Itu anak kamu? ucap Hajah Maesaroh menirukan ucapan suaminya. Abah pikir Umik bisa membelah diri, mereka 'kan juga anak Abah. Giliran ada apa-apa, Umik yang di salahkan." Hajah Maesaroh baru menggerutu setelah punggung Haji Bagong menghilang di balik tirai emas.


Saras menangis dalam kegelapan. Hatinya ikut sakit saat Paijo di hina. Pikirannya sudah kemana-mana membayangkan nasib yang entah bagaimana akan terjadi. Dia merasa enggan menjalani hidup. Berat jika harus memaksakan menuruti Abahnya. Jiwanya selalu bergejolak. Memberontak.


Ponselnya menyala tanpa nada dering. Saras buru-buru menggeser tombol hijau, dan suara Paijo terdengar lembut di telinganya.


"Hai..."


"Hiks...hiks....hiks....huaaaaaaaaa...." Saras menangis histeris. Dia tidak mampu menyembunyikan kesedihannya kali ini.


"Hai...cup...cup...cup...! udah jangan nangis,"


"tambah cengeng ya sekarang,"


"Huaa... huaaa....huaaaa...."


"Hloooo.... kog malah tambah kenceng nangisnya?"


"udah jangan nangis lagi, nanti capek hlo,"


"Jangan khawatir, kita pasti dapat restu nanti."


"Aku janji ga akan pernah nyerah gitu saja."

__ADS_1


"Aku sayang kamu, oke?"


"Hiks.... hiks...."


"Aku... huaa....aaaaa...."


"ma-af, Abah kasar sa-ma kamu,"


"Heh...udah ga apa, aku ga papa beneran."


"Udah sekarang kamu di usap air matanya, mandi, makan lagi, terus bobok."


Saras tersenyum kecil, perutnya sudah kenyang tadi. Bisa-bisanya dia menyuruh Saras makan lagi. "nanti a-ku jadi gajah mas, tadi udah makan di suruh makan terus, hiks...."


"Kamu mau jadi gajah atau king kong betina pun aku bakal tetep sayang kamu, hahahaha..."


"Aaaaaa.... sebel... aku ga mau jadi king kong betina, ga cantik sama sekali,"


"Kalau begitu jadi gajah betina,"


"ga mau juga!"


"Terus maunya jadi apa?"


"Jadi istri kamu..."


"Wuihhhh... gombal,"


Paijo terkekeh di seberang sana, saat Saras merajuk seperti ini Paijo merasa terhibur. Bercanda receh seperti ini lebih membuat Paijo bahagia dari pada harus melihat Saras menangis, Paijo ikut tersiksa.


"I love you Saraswati,"


"I love you so much much,...mas Paijo,"


to be continue...


.


.


.


.


.


.


like, komen, bagi hadiah

__ADS_1


suwun🙏


__ADS_2