Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 22: Bala Tentara


__ADS_3

Jika Tuhan mengirimkan burung ababil untuk menyerang pasukan raja Abrahah yang hendak menguasai Mekah pada 571 Masehi silam. Maka hari ini Tuhan mengirimkan bala tentara berupa tiga orang wanita cantik untuk membantu me-makeover warung bakso Malang jadul menjadi intagramable.


Bagi Bejo dan kawan-kawan kedatangan tiga gadis cantik nan menyejukkan mata itu seperti mendapatkan saluran energi listrik ribuan Watt. Siapa lagi jika bukan Saraswati, Rani dan Hayu. Mereka sangat bersemangat membantu merealisasikan ide Paijo.


Meski tugas mereka terlihat absurd, tunjuk sana tunjuk sini, komen sana komen sini tapi cukup berfaedah. Kaum wanita bertugas menyumbang ide, memilih properti yang kekinian, memilih warna cat dinding, dan sebagainya. Sedangkan kaum pria yang akan mengeksekusi. Semua orang bekerja sama. Saling menyalurkan energi positif untuk semangat memulai lagi dari nol.


Cak Sam melihat mereka dengan penuh haru, bergotong royong, bekerja bersama, saling bahu membahu.


"Hei Bejo, mau di bawa kemana kayu itu? taruh sini!" dan bos besar diantara mereka tetap PAIJO. Awalnya Cak Sam ragu dengan ide Paijo untuk merenovasi warung bakso miliknya, butuh dana besar tentu saja. Tapi Paijo meyakinkan jika cucunya sekarang berkantong tebal. Membuat Cak Sam semakin sayang dan cinta dengan cucunya yang tidak tampan namun berkharismatik itu.


Bejo mengerucutkan bibirnya, namun hanya bisa patuh menuruti perintah Paijo. Bagaimana lagi, walaupun nama hampir sama ternyata isi dompet mereka beda. Ya nasib ya nasib.


Saras squad sedang duduk bergerombol membicarakan konsep yang akan mereka usung sebagai YouTuber dadakan besok. Rencananya mereka akan mewawancarai pelanggan-pelanggan yang sering makan bakso Malang Cak Sam. Bagaimana pendapat mereka, pandangan mereka tentang isu yang sempat viral beberapa hari yang lalu. Ya mereka akan membuat semacam konten.


"Bagaimana, kalian sudah siap untuk besok?"


"Yuhu... siap lahir batin dong mas Jo," Hayu selalu di depan. Sikapnya yang optimis patut di acungi jempol.


Paijo tersenyum, "Bagus, semoga sukses untuk besok."


Semenjak nyaris mengakui perasaannya sendiri, Saras jadi pemalu di depan Paijo. Paijo meliriknya sekilas, gadis itu bahkan tidak berani memandangnya. Membuat Paijo ingin selalu menggodanya. "Saraswati!"


Saras yang sejak tadi menunduk, mendongakkan kepalanya. "Hah, apa?"


"Hidungmu...!" Paijo menunjuk hidung Saras, membuat gadis itu refleks memegang hidungnya sendiri. "Ada upilnya ngintip!"


"Hahaha..." semua orang tergelak tertawa. Saras jadi gemas ingin mencium bibir Paijo. Eh bukan maksudnya gemas ingin merobek-robek bibir Paijo dan membuangnya ke laut Mediterania. Saraswati mencak-mencak, sedangkan Paijo sok sibuk meninggalkan mereka tanpa dosa.


"Eh, sisturr... kamu udah jadian ya sama mas Paijo?"


"Bau-baunya ada yang kasmaran." tambah Rani.


Saras masih malu, dia jadi salah tingkah. "Heh, diam kalian berdua. Berisik!" Bibirnya sudah mengerucut membentuk sudut tiga puluh derajat.


"Ngambek! ngambek ih..."


"Mending kalian pesan es Boba gitu yang seger-seger. Dari pada bicara yang tidak-tidak." ucap Saras mengalihkan pembicaraan mereka.


"Bayarin ya?" Rayu Hayu dengan wajah sok imut.


"Boleh, tapi hutangku yang lima puluh ribu buat bayar bulu mata extension kemarin anggap lunas ya!"


"Cuih, sama aja aku beli sendiri." Giliran Hayu yang cemberut. Rani hanya terkekeh geli.


Hari kedua, mereka kembali menekuni tugas masing-masing. Saras squad rela berpanas-panasan mewawancarai orang sekitar yang bisa di pastikan pernah membeli bakso malang Cak Sam.


Seorang pria tua berkaos putih rela menyumbangkan suaranya. Bak wartawan profesional Saraswati menanyai pria itu.


"Apakah bapak percaya dengan isu yang tersebar, jika warung bakso Cak Sam memakai daging tikus?"


Pria tua itu mengeluarkan setumpuk struk pembayaran dari dalam dompetnya. "Lihat ini, ini adalah struk pembayaran saat makan di warung bakso Cak Sam. Saya sudah bertahun-tahun berlangganan di sini. Saya tidak percaya kalau bakso itu di buat dengan campuran daging tikus."


Rani yang bertugas membawa kamera mengacungkan satu jempolnya. Tanda proses shooting yang pertama mereka sukses. Berlanjut ke narasumber selanjutnya. Seorang wanita paruh baya.


"Saya tidak percaya, Cak Sam sudah buka puluhan tahun di sini. Saya bahkan sudah berlangganan sejak anak saya masih satu dan sekarang sudah lima kepala. Saya berharap warung bakso Cak Sam segera di buka lagi."


Saras squad tersenyum lega.


Beralih ke kaum muda. "Permisi kakak. Mau tanya dikit dong." Giliran Hayu beraksi.


"Pernah makan bakso di warung Cak Sam?" sepasang kekasih itu mengangguk yakin.

__ADS_1


"Gimana pendapat kalian? secara kemarin sempet viral 'kan?"


Mas laki-laki menjawab. "Kita ga langsung percaya gitu aja. Sering makan di sana, enak dan murah. Agak kaget juga, tapi kita percaya itu tidak mungkin. Apalagi Cak Sam sudah menyandang gelar Haji. Mustahil, beliau pasti sudah tahu haram dan halalnya."


"Gimana kalau warung bakso Cak Sam buka lagi?"


"Wah, kami pasti tidak ragu buat datang lagi."


"Terimakasih kakak komentar positifnya."


"Okey gaess, baru beberapa orang yang kami tanya. Tapi sebagian besar mereka tidak percaya dengan isu bakso tikus itu."


"Kita cari narasumber yang lain, cuss ikutin kita terus ya gaes!"


Mereka beralih pada seorang pemuda gendut. Dari postur tubuhnya bisa di pastikan doyan bakso nih orang. Langsung saja ajukan pertanyaan.


"Beri komentar dong tentang warung bakso Cak Sam!"


Saat pemuda itu membuka mulutnya, entah mengapa mereka bertiga malah ngeri. Di telinga mereka seperti di putar iringan lagu horor. Hiii...hii...hiii....


Usut punya usut, ternyata pemuda gendut ini indigo gaes.


"Yah, menurut mata batin saya. Cak Sam ini orang baik ya."


"Jualan jujur, jalankan pakai daging tikus. Pas nuangin micin ke mangkuk aja beliau mengucap basmalah. Minta perlindungan sama Tuhan, mungkin supaya yang makan baksonya sehat semua dan semoga tidak tambah bodoh karena kebanyakan micin."


Sumpah Saras dan kawan-kawan hampir tertawa, wajah pemuda itu amat lempeng tapi kalimat terakhirnya sangat lucu. OMG, Saras pengen guling-guling. Sebentar dia masih lanjut komentar.


"Saya juga lihat di sini, Cak Sam juga bersih dari hal-hal yang berbau mistis. Bersih tanpa pelaris maupun pesugihan."


Ini yang membuat jiwa Saras kepo maksimal. "Memang masih ada ya warung yang pakai begituan?"


"Wohoho..." mereka bertiga terlonjak kaget.


"Sumpah?"


"Sumpah demi apapun."


"Ya pesan terakhir saya, semoga warung Cak Sam segera di buka kembali. Itu saja."


Saras dan kawan-kawan mengucapkan terimakasih berulang-ulang. Mereka ingin segera kabur. Karena berada di dekat orang indigo seperti ini, membuat mereka merinding padahal ini tengah hari bolong. Belum jam tayang Kunti dan kawan-kawan. Mereka terkekeh berjalan beriringan.


"Kita kog berasa kayak tim pemburu hantu jadinya,"


"Siaran penutup yuk!" Rani mengingatkan karena diantara mereka bertiga dirinya yang paling waras. Saras dan Hayu mereka berdua hanya memiliki otak setengah-setengah.


"Closing kamu aja Saraswati. Lumayan buat meningkatkan pamor calon menantu idaman."


"Heleh..." Saras mendengus kesal. Tapi dia tetap bersedia menutup siaran itu.


"Oke gaes, bagi yang ingin ikut menyuarakan pendapat kalian. Silahkan follow Instagram kami, di @Baksoviral. Benar atau hoaks? Kebenaran pasti terungkap!" Closing penutup dari Saraswati sangat memukau.


"Marvelous, keren Saraswati! Sudah mirip kak Najwa kalau lagi siaran."


"Hahaha... terimakasih pujiannya. Tapi aku ga punya receh. Ntar tak bagi saldo gopay aja,"


Mereka kembali terkekeh bersama. "Balik warung yuk, waktunya makan minta bos Paijo."


****


Dua minggu berlalu begitu cepat, pengerjaan renovasi kedai bakso Cak Sam sudah delapan puluh persen ready. Followers akun @Baksoviral juga bertambah berjibun. Komentar-komentar positif memenuhi beranda mereka. Bahkan ada salah satu akun yang teliti berkomentar bak pakar telematika.

__ADS_1


Dari akun @maskempes, kalau di lihat full Vidio di awal agak ganjil. Bakso Malang mienya gulungan, kalau ada ekor tikus dari awal pasti pembeli itu lihat. Tapi see, bakso udah sempet di kasih saos dan sambal. Dan ketika mangkuk di banting hanya sisa beberapa pentol bakso. Maybe, pembeli udah sempet makan. Apa dia makan sambel merem yak?


Sukses analisis itu di banjiri berbagai komentar dari netizen lain.


"Jelas ada sabotase disini."


"Betul, bisa jadi pembeli yang marah-marah itu makan dulu, habis separo baru jegurin tuh buntut. Licik amat Lo!"


"Wah, minta makan gratis."


"minta di luknut malaikat kali"


"Ga takut masuk neraka, beraninya patonah"


"Tobat ***! ngisin-ngisini wong Malang. Minta makan gratis bilang dong! Papale papale.... toktok!"


"Pasti bentar lagi tuh orang gantung diri."


"Gue sumpahin, dia mati ke selek bakso!"


"Besok bakal muncul judul sinetron, akibat memfitnah bakso Malang Cak Sam, jenazah di tolak bumi!"


"lebih beradap orang gila daripada tu orang, orang gila aja ga kepikiran memfitnah pedagang bakso kalau cuma mau numpang makan!"


Saras hampir gila membaca komen-komen netizen. Dia tertawa sampai ke pentut-pentut.


Paijo yang melihatnya dari kejauhan tertarik untuk mendekat. Apalagi dia sedang sendirian.


"Bahagia sekali?"


Wajah Saras merona, Saras mengumpat dalam hati. Dia jengkel dengan wajahnya sendiri kenapa akhir-akhir ini gampang tersipu malu. Memalukan sekali.


"Hmm... ini lagi baca komen netizen. Astoge, bikin perut kram. Lucu-lucu, hehe..."


"Kamu juga lucu kog."


Hisss... Paijo sialan. Aku lucu apanya? apa wajahku kayak topeng monyet.


Lagi-lagi Saras hanya menunduk malu, mungkin jika ada Hayu di sini dia sudah di maki-maki. Karena wajah malunya itu menjijikkan.


"Saras, terimakasih ya."


Saras melirik canggung. "Untuk apa?"


"Terima kasih karena sudah banyak membantu."


Aku kira mau bilang, terimakasih sudah di sampingku saat aku rapuh. Wkwkwk ....


.


.


.


.


.


.


Like dan komen

__ADS_1


vote kalau boleh


othor ngelunjak🤭😆


__ADS_2