
Haji Bagong baru saja masuk rumah setelah selesai jamaah sholat subuh di Masjid. Di rumahnya yang megah bak istana sebenarnya dia kesepian. Memorinya berputar saat biasanya dia akan melihat sang istri masih berbalut mukena habis sholat subuh juga.
Hajah Maesaroh memang lebih suka sholat di rumah. Sedangkan Haji Bagong karena di rumah saat subuh dan menjelang isya saja, jadi sebisa mungkin Haji Bagong ke Masjid pada dua waktu itu. Tidak enak juga kalau di nilai tetangga, Haji yang ga kenal Masjid karena di waktu lainnya habis untuk mengurus toko perhiasan miliknya. Haji Bagong perlu menjaga brand Haji yang melekat pada dirinya itu sudah pasti.
Tiba-tiba Haji Bagong juga terbayang Saras dan Umi. kedua putrinya itu memang cukup bandel jika di suruh Sholat Subuh. Haji Bagong harus menggedor pintu kamar mereka satu persatu, barulah mereka mau bangun. Kalau tidak begitu, pasti mereka akan subuhan menjelang matahari terbit. Haji Bagong tidak menyangka sifat bandel kedua putrinya naik kelas ke sifat pembangkang. Hingga berani menentang larangan orang tua dan menikah dengan laki-laki yang tak sepadan dengan keluarganya.
Buku jari tangan Haji Bagong memerah. Dia benci sekali jika harus ingat itu semua. Sekarang tak hanya kedua putrinya, istrinya pun membangkang dan tak mau di ajak pulang.
Dering ponsel milik Haji Bagong yang melantunkan nada lagu milik Nasida ria menyadarkan lamunannya tadi. Pernah dulu, mulut Saras keceplosan meminta Abahnya untuk mengganti nada panggilan itu. Saras bilang lagu Perdamaian milik Nasida ria tak pantas di jadikan nada panggil bagi Abahnya, lebih bagus pakai nada lagu Demi waktu milik Opick, biar Abah ingat mati terus kata Saras. Sontak saja Abahnya muring-muring, Saras setengah menyindir gitu.
Haji Bagong mengangkat panggilan itu dan betapa kagetnya ternyata ada sekitar dua puluh panggilan yang tidak terangkat. Nama kontak panggilan dari orang yang sama. Dan saat melihat nama itu entah kenapa perasaannya jadi tidak enak. Satpam malam.
"Ada apa?"
Suara bergetar dari seberang menandakan keadaan di sana sedang tidak baik-baik saja. Satpam itu panik dan ketakutan saat meminta Haji Bagong datang segera ke toko.
"Pak Haji... toko kebobolan! Maaf, maaf... sepertinya anda harus kesini segera. Ya Tuhan Pak... bagaimana ini...."
"Pak Haji.... Anda masih dengar saya?"
"BODOH! APA YANG KAMU KERJAKAN HAH!!!!"
"Maaf Pak Haji... Maaf..." terdengar Satpam itu menyesal karena lalai dalam bertugas. Peristiwa pembobolan seperti ini tentu saja yang pertama. Biasanya keamanan di toko mereka sangat baik. Haji Bagong melengkapi bangunan cctv di setiap sudutnya. Satpam jaga malam bahkan lebih dari satu orang.
"Ini kami harus bagaimana?" tanya Satpam itu lagi.
"MASIH TANYA??!!! TELPON POLISI BODOH!!!!"
Haji Bagong menutup panggilan itu sepihak. Dadanya naik turun, emosi sudah pasti, cemas jangan di tanya. Membayangkan harta apa saja yang berhasil di gasak maling. Pening. Bagaimana kalau brangkas berisi emas berhasil di bobol. Bisa miskin mendadak. Haji Bagong tidak mau miskin.
Kalaupun di gariskan miskin setelah ini, dia pasti akan berusaha menghapus garis miskin itu. Haji Bagong bukan orang lemah lantas berpangku tangan menerima kemiskinan. Motto dalam hidupnya, hidup kaya raya di dunia dan masuk surga di akhirat kelak.
"Astaghfirullah hal adzim..." Haji Bagong menenangkan dirinya sendiri sebelum turun ke lantai bawah dan berteriak memanggil supir pribadinya. Teriakan Haji Bagong bahkan mengagetkan ayam jago milik tetangga sebelah yang akan berkokok.
****
Tribun Kendal:
Toko Emas Bagong di Bobol Maling!
Tribun Jateng:
Toko Emas di Kendal di Santroni Maling
Suara Merdeka:
Masuk Membobol Tembok, Maling Gasak Uang Ratusan Juta di Toko Emas
Bahkan tak hanya menjadi headline news di surat kabar. Berita itu wira-wiri di laman Facebook. Akun grup liputan 6 Kendal pun dengan rinci memuat kabar itu. Gambar lubang tembok toko emas Bagong terpampang di sana. Di sinyalir pelaku nekat membobol tembok untuk masuk ke dalam toko dan berhasil menyikat uang sebanyak seratus lima puluh juta dari dalam brangkas ruangan milik Haji Bagong.
Beruntung brangkas penyimpanan perhiasan berada di ruang berbeda. Sehingga aman dari pembobolan. Polisi setempat masih mendalami kasus ini. CCTV yang di harap bisa membantu proses penyelidikan rupanya ikut di bobol sang maling.
Saras mengerjap tak percaya. Melihat berita itu muncul di laman Facebooknya hari ini. Se benci-bencinya, Saras tidak pernah berdoa yang buruk-buruk terjadi pada Abahnya. Saras kaget dan juga merasa kasihan, seratus lima puluh juta rupiah itu uang semua, bukan campur daun.
__ADS_1
Brak! Brak! Brak!
"Mas! Mas!"
Paijo yang berada di dalam kamar mandi sampai menjendil, padahal sedang berjongkok konsentrasi.
"Mas! Toko Abah di bobol maling!" Paijo tak menjawab.
"Mas, kamu denger aku ga?" Saras kalau panik memang tidak sabaran.
Setelah bunyi guyuran air tak terdengar, pintu terbuka dan Saras masih setia berdiri di depan pintu dengan bibir mecucu. Paijo geleng-geleng kepala.
"Ada apa sih sayang? denger kamu panik, mas jadi ga konsen tadi"
"Kamu kalau udah ritual di dalam suka lama sih mas" omel Saras. "Aku panik baca ini!"
"Toko emas milik Abah di bobol maling, kasihan Abah mas, pasti sedih karena uangnya diambil banyak"
"Bagaimana keadaan Abah sekarang, aku khawatir" mata Saras berkaca-kaca. Dia merasa bersalah jadi anak yang payah sekarang. Akses hanya untuk bertanya bagaimana keadaan orang tuanya bahkan tak punya. Dia terlalu takut berhadapan dengan Haji Bagong. Saras tidak mau mendekat sementara ini. Saras takut di paksa berpisah dengan suaminya.
Paijo membaca sekilas berita itu, lalu memijat keningnya sendiri. Paijo jelas simpati dengan musibah ini. Tapi dia bisa apa. Selain menenangkan istrinya.
"Hei sayang, kamu jangan panik gini, please..."
"Kasihan dedeknya di dalam... releks!" Benar kata Paijo, memang tiba-tiba perut Saras terasa kencang. Kemudian Paijo menuntun Saras untuk duduk di sofa depan televisi seperti biasa.
"Mas bersimpati dengan kabar ini. Tapi kita bisa apa? kita hanya bisa mendoakan semoga maling itu bisa segera ketangkep"
"Mas yakin Abah pasti juga sanggup mengurus ini. Kamu ga perlu khawatir. Di dunia ini tidak ada barang hilang, yang ada di pindah tempat. Kalau masih rejeki pasti balik, tapi kalau belum jadi rejeki Abah, ya gimana itu resiko sih menurut aku, harus di ikhlaskan"
"Hemft... iya sayang, kita doakan saja. Kamu jangan kayak tadi, ingat ada anakku di perut kamu" Paijo berhasil menenangkan istrinya lagi. Seburuk apapun sebuah hubungan seorang anak dan orang tua, tidak bisa di pungkiri jika darah lebih kental daripada air.
****
"Saya kecolongan banyak mik"
"Pusing saya, mana itu buat gaji karyawan juga"
Haji Bagong duduk bersandar di kursi ruang tamu rumah mertuanya. Tidak ada tempat berbagi selain istrinya. Dia sadar itu. Hajah Maesaroh masih menyimak dengan raut wajah ikut bersimpati.
"Kamu kasihan tidak sama saya?" tanya Haji Bagong yang melihat Hajah Maesaroh hanya diam sejak tadi.
"Tentu saja saya bersimpati Abah, kehilangan uang sebanyak itu, hati siapa yang tidak getun"
"Tapi seperti yang Abah tahu, kadang ujian seperti ini itu semacam teguran buat kita"
"Bagaimana ibadah kita, bagaimana amal kita, apa sudah cukup atau masih kurang"
"Apa Abah kepikiran seperti itu?"
Haji Bagong mencelos. "Kamu yang paling tahu bagaimana saya beramal bahkan jadi donatur tetap di panti asuhan"
Hajah Maesaroh mencibir. Itu memang benar. Tapi beramal dengan hati yang sombong dan angkuh. Itu yang tidak benar.
__ADS_1
"Kalau Abah sudah di taraf mampu memberi, berarti yang harus di koreksi adalah hati Abah"
"Sudahkah hati Abah bersih? dari rasa sombong dan angkuh?"
"Bukan saya lancang, bagi saya Abah, kehilangan materi saja bukan apa-apa, tapi anak, anak kita Abah..." Pada titik ini Hajah Maesaroh menitihkan air mata. Lagi dan lagi.
"Saya rindu berkumpul bersama anak-anak kita, hiks... hiks..."
"Saya yakin, Abah tidak akan miskin hanya kecolongan uang seratus lima puluh juta, tapi saya berharap dari musibah ini Abah sadar, bahwa harta ini hanya titipan Abah"
"Kalau yang di atas berkehendak, dalam sekejap saja kita tidak punya apa-apa"
"Anak itu juga titipan, sampai kapan Abah menyia-nyiakan titipan itu?"
"Harta tidak di bawa mati, kalau Abah menggunakan seumur hidup Abah untuk menumpuk harta, buat siapa? kalau anak saja tidak punya? Anak di anggap sudah mati, mau di wariskan siapa harta Abah?"
"Saudara Abah? Huh, mereka bahkan sudah kaya raya"
"Abah tanpa sadar mendzolimi diri Abah sendiri dan juga anak-anak kita!"
"Menikah dengan siapa itu hak mereka, kalau harta jadi takaran Abah dan menganggap pilihan mereka salah, Abah juga dzolim"
"Umik, sudah pastikan mereka berdua suami yang bertanggung jawab, mereka menyayangi anak-anak kita, harusnya itu sudah cukup" Hajah Maesaroh menghela nafas berat.
"Saya kesini untuk meminta belas kasihmu agar mau pulang, bukan mendengarkan omong kosong ini lagi!"
"Kalau Abah anggap ini omong kosong, lalu apa artinya pernikahan kita?" Hajah Maesaroh memejamkan mata, dadanya naik turun karena di liputi emosi. Lelah rasanya harus bersengketa hal yang sama. Hajah Maesaroh ingin bernafas, hidup damai seperti dulu lagi. Saling menyayangi, rukun, dan berkumpul bersama.
"Hiks.... lepaskan saya saja Abah. Daripada kita terus seperti ini. Saya berdosa karena sudah membangkang sama Abah. Tapi untuk ta'dzim kepada Abah lagi saya sudah tidak mampu. Saya lelah. Saya hanya mau anak saya"
"NGOMONG APA KAMU!!!?"
"SAYA TIDAK BERPIKIR SAMPAI SANA!!!" tegas Haji Bagong.
"SAMPAI KAPANPUN, SAYA TIDAK AKAN MELEPASKAN KAMU!!!"
Haji Bagong bangkit dari duduknya. Dan kesekian kalinya perdebatan panas tentang anak-anak mereka hanya menggantung seperti itu saja.
Kapan Haji Bagong sadar?
Entahlah, yang di tegur ga sadar-sadar.
.
.
.
.
Kapan Haji Bagong sadar?
reader menjawab: nanti kalau sudah di Ganjar sakit lumpuh dan jatuh miskin bersamaan.
__ADS_1
Hihihi.... mau nulis mengakhiri ini kog susah banget, masih mbulet maap ya🙈🙈🙈🙏🙏🙏