Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 101: Otw Malmingan


__ADS_3

Wes wetengan tuwo, ojo lungo-lungo!


Anteng ning omah wae luweh becik!


(Sudah hamil tua, jangan pergi-pergi! Diam di rumah lebih baik!)


Itu kata orang tua, kalau kata Saras selama badannya baik-baik saja di ajak jalan dan di beri ijin suami, why not!


Memasuki usia kandungan delapan bulan, Saras merasa lebih nyaman. Makan minum sudah normal seperti biasa. Apa ini karena si Camry? mobil kesayangan Saras. Anggap saja begitu.


Jiwa muda meski perut berbadan dua. Siang tadi suaminya berjanji akan mengajaknya pergi malam nanti. Saras gembira sekali. Rasanya sudah lama mereka tidak menghabiskan Sabtu malam Minggu bersama, kalau bahasa gaul tapi agak alay mereka menyebutnya Malmingan.


Entah hukum alay dari mana, nyatanya tiap malam akhir pekan itu, jalanan lebih ramai oleh makhluk berpasangan. Jomblo soalnya jalannya melipir kali ya. Entah kaum muda atau yang sudah berkeluarga. Mereka berbondong-bondong keluar rumah, makan di luar, entah sekedar makan bakso atau nongkrong di kafe-kafe kekinian. Sesuai dengan pilihan dan isi dompet tentu saja. Sebuah budaya yang melekat hampir di setiap lapisan masyarakat sekarang sepertinya.


Saras sibuk memilih baju yang akan dia pakai nanti. Setelah bermumet ria, akhirnya pilihannya jatuh pada dress panjang semi cassual berwarna hitam dengan potongan bawah berbentuk pensil. Sejak di beli, pakaian itu memang belum pernah Saras pakai, untung saja sudah sempat di loundry.


Saras tersenyum sendiri membayangkan, betapa cantiknya dia nanti. Narsis memang. Biar saja. Yang penting dan utama dia sudah senang dulu. Paijo bilang akan mengajaknya jalan-jalan ke kota lama. Kota lama di malam hari? Huh Saras tentu saja sudah membayangkan hal-hal yang berbau romantis dan indah disana.


Paijo selalu tak sabar menunggu istrinya berdandan. Biasanya dia sudah nangkring duluan di atas motor sambil memanasi motornya yang berisik. Tentu saja agar Saras bisa lebih tanggap dan cepat selesai berdandannya. Padahal kalau Paijo ingin tahu, wanita di belahan dunia manapun sepertinya sama saja. Butuh waktu lebih, hanya sekedar untuk menggambarkan alis.


Sekarang Paijo hampir lumutan nunggu Saras di luar. Paijo kehilangan senjata ampuh, karena sudah tidak bisa lagi memanasi motor yang suaranya bisa jadi penolong agar Saras cepat-cepat. Camry yang akan mereka tunggangi tentu saja berderu merdu meski di gas sekalipun.


Membunyikan klakson? Paijo mana berani, yang ada Saras akan ngambek dan mengurung diri. Tidak sopan kalau Saras bilang. Meskipun naik mobil mewah, kita harus andhap asor, rendah diri. Jangan sampai bunyi klakson mobil kita menyinggung harga diri tetangga kita, apalagi menumbuhkan bibit iri. Itu kata Saraswati. Ibu hamil yang menjelma sebagai guru besar ilmu filsafat itu memang tak terbantahkan.


"Aku sudah siap mas, kita berangkat sekarang!" ucap Saras saat baru saja keluar dan mengunci pintu.


Paijo terpukau. Saras terlahir cantik, tapi malam ini dia terlampau cantik. Mau di lihat dari sudut berapa derajat pun dia cantik. Apalagi dengan dress panjang berwarna hitam yang kontras dengan kulitnya yang putih. Aura ayunya semakin terpancar. Di tambah malam ini Saras menutup kepalanya dengan balutan jilbab segi empat yang dia kedua ujungnya dia lilitkan di leher. Paijo rasa Saras itu bidadari yang nyasar ke bumi terus mager ga mau balik ke khayangan.p


Perutnya yang besar sebesar balon meski tidak berupa-rupa warnanya, membuat Saras semakin terlihat seksi. Astaga, Paijo jadi terusik. Nalurinya mengatakan agar Saras di giring masuk ke dalam kamar saja di bandingkan di bawa keluar.


Saras bangga, tentu saja suaminya terpukau. Paijo sampai ngowoh gitu. Malam ini dia dandan all out, sengaja agar berkesan. Menciptakan momen bahagia saat masa kehamilan itu penting sekali. Setidaknya kelak dia bisa menceritakan pada anaknya, betapa bahagianya dia saat hamil, jadi tidak sekedar cerita yang berkisar tentang mual dan muntah sjaa. Nehi. Saras anti berpenampilan burik.


"Gimana mas, aku cantik 'kan?" sombong Saras.


Alih-alih mengakui saja kecantikan Saras seperti yang ada di hatinya tadi, Paijo malah mengedikkan bahu. Dress yang mencetak lengkuk tubuh Saras itu jelas mengusik hati Paijo. Paijo mana ikhlas istrinya nanti jadi pemandangan gratis mata laki-laki lain.


"Cantik apanya? Kamu serius mau pakai baju itu?"


"Seperti itu?"

__ADS_1


Saras mendelik tak percaya. Bahkan dia tidak di puji karena sudah memakai kerudung malam ini. Jarang-jarang Saras berkerudung. Minimal di akui cantik gitu. Tapi sikap Paijo bertolak belakang dengan harapan Saras. Dasar Paijo!


"A-da yang salah?" tanya Saras megap-megap. Setengah dongkol tentu saja. Saras sudah fashionable hlo ini.


"Mau ganti baju atau kita di rumah saja?" Saras semakin mengernyitkan alis. Tak habis pikir. Apa yang salah coba.


"Bajuku kenapa mas? ini aku ketutup semua hlo, dari ujung bawah sampai ujung kepala, coba mana yang tidak bagus?"


"Baju ini bahkan tidak murah"


Paijo menghembuskan nafas sedikit kasar. Harusnya Saras paham jika Paijo tidak suka kalau istrinya berpenampilan seksi begitu. Harus di perjelas pelan-pelan agar Saras tidak tersinggung mungkin.


Paijo mendekat. Kedua tangannya menangkup wajah Saras, agar Saras memperhatikan hal ini dengan seksama.


"Sayang, kamu cantik. Bahkan sangking cantiknya bidadari minder papasan sama kamu" Saras membuang muka.


"Tapi maaf, aku tidak begitu suka kalau kamu pakai baju ini, terlalu seksi, nanti yang ada kamu di lirik laki-laki lain, enakkan mereka dong!"


"Terus ini, kerudungnya kenapa di lilitin gini?"


"Kamu mau jadi member jilboobs?" Enak saja, memang Paijo pikir Saras wanita apaan. Padahal Saras melilitkan kerudung hanya mengikuti mode saja bukan maksud pamer dada. Ya meski sadar juga dadanya bagus.


Saras berkaca-kaca, sudah ingin menangis. Dia kepengen pakai baju ini dari tadi siang. Tapi di komen seperti itu, tentu saja rasanya Mak jleb gimana gitu. Meskipun omongan Paijo banyak benarnya.


"Gimana mau ganti baju? atau mau beli baju baru dulu yang lebih gombrang?"


"Maaf kalau aku bawel, tapi aku emang ga suka kalau kamu kelihatan seksi gini di luar rumah"


Saras masih diam.


"Kalau di kamar sih ga masalah, aku malah mendukung sekali"


Paijo terkekeh mencoba mencairkan ketegangan yang sempat menghampiri mereka. Meski Saras merengut, Paijo yakin Saras bisa memahami maksud baiknya. Bagaimana pun seorang suami bertugas mengarahkan istri bukan. Sewajarnya Paijo mengingatkan.


"Tapi aku pengen pakai baju ini mas" rengek Saras. Berharap sekali saja, Paijo mengijinkan.


Paijo bersikeras menolak. "Tidak boleh!"


Saras menggembungkan pipinya. Lalu masuk ke dalam rumah lagi. Mau tidak mau dia nurut ganti baju, daripada gagal malmingan. Rugi banyak bedaknya. Saras juga tidak mau di ejek cicak kecemplung lengo, tiwas macak rak sido lungo. (Cicak masuk minyak, udah dandan ga jadi pergi)

__ADS_1


Sampai di kamar Saras memutar otaknya lagi. Mau di beri outerwear, Saras juga belum punya yang model long cardigan. Adanya yang biasa, ga nutup pantat. Ada nanti Paijo ngomel lagi dan Saras malas ganti-ganti baju lagi.


Sampai terpikir ide, ahay! Saras membuka lemari pakaian Paijo. Sippp! Saras bangga pada otaknya yang cukup cerdas. Saras keluar lagi dengan mood yang membaik. Lebih baik dari saat di komentari tadi.


"TARRRAaaaaaaaa...."


"Gimana mas? Sudah Oke belom?" tanya Saras mengedikkan alis, setengah sombong seperti biasa.


Akhirnya Saras bisa mengamalkan salah satu quotes yang pernah dia baca,


"Fashionable bukan berarti memakai baju yang mahal dan branded, tapi lebih ke bagaimana cara kamu memadu padankan baju"


Itu artinya berpakaian yang sopan dan pantas seperti kriteria yang di minta Paijo juga patut di pertimbangkan. Apalagi jika memakai hijab, harus di sesuaikan. Karena itu, malam ini Saras pinjam kemeja flanel kotak-kotak milik Paijo. Lumayan ukurannya big size di tubuh Saras yang mungil meski perutnya segede balonku ada lima.


"Pinjam kemejanya ya mas..." ucap Saras nyengir.


Saras tidak perlu ganti baju, cukup memakai kemeja milik Paijo itu sebagai outer dress pensil yang di nilai Paijo mengundang syahwat.


Paijo mengacungkan kedua jempol tangannya tinggi-tinggi.


"Kalau ini aku YESS!" ucap Paijo menirukan kalimat pamungkas milik kakek dari Ameena Hanna Nur Atta.


.


.


.


.


.


.


Meh ngomong apa bingung....


selamat membaca😘


Happy weekend ya gaes🥰

__ADS_1


__ADS_2