
Paijo sedang mengawasi lima orang pekerja yang terlihat masih kaku menjalankan pekerjaan masing-masing. Satu mesin band saw di pegang dua orang operator berpasangan. Pak Munawar dengan Mas Hasan, Pak Jupri dengan Mas Yanto, sedangkan Yadi terlihat mondar-mandir mengeruk serbuk kayu dan memasukkannya ke dalam karung.
Ponsel Paijo bergetar, dia berjalan menjauh dari mesin gergaji yang memang sangat berisik. Satu panggilan dari nomor yang tidak Paijo kenali. Barangkali penting, Paijo langsung mengangkatnya tanpa berpikir negatif. Padahal akhir-akhir ini marak sekali modus penipuan hipnotis lewat telpon.
Tetangga Paijo baru dua hari yang lalu menjadi korban. Berawal dari hanya "Hallo", menjawab telepon dari nomor asing, uang sepuluh juta di tabungan raib. Korban tidak sadar di minta mentransfer uang secara bertahap, setelah uangnya habis barulah dia sadar sudah ditipu.
"Hallo...!" suara Paijo berat.
Telinganya sudah di setel fokus agar bisa jelas mendengarkan si pemanggil. Paijo juga tidak mau pikirannya kosong, salah-salah dia gampang di hipnotis. Sepersekian detik hanya krusuk-krusuk yang terdengar. Sampai suara yang dia kenali terdengar melas sekali.
"Haaa--- hallo---Mas, ini Saras, jemput Saras Mas--"
Mulut Paijo kaku, belum sempat menjawab telinga Paijo menangkap suara jeritan seorang perempuan. Dari nadanya perempuan itu terdengar panik. "Aghhh... ya Tuhan, Saras! Saras! kamu kenapa malah pingsan?"
"Ya Tuhan, bagaimana ini..." Krusuk-krusuk kembali terdengar...
"HALLO!!!" Kepanikan suara perempuan di sebrang sana menular ke Paijo. "HALLO!!!!"
Tut...Tut ..Tut ... sambungan terputus!
"Yad! Yadi!!" Paijo harus berteriak keras untuk menyadarkan Yadi yang khidmat mengarungi gerajen. Yadi baru tersadar jika di panggil.
"Iya Mas Jo ada apa?"
Paijo mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompet, "Ambil ini, belikan makanan dan minuman untuk mereka, saya harus pergi buru-buru."
"Jam empat sore kalau mereka sudah selesai, kamu jangan lupa mencatat hasil produksi hari ini, ini kunci pintu gerbang, kamu yang kunci. Saya pergi dulu,"
Paijo tergesa-gesa sembari menghubungi nomor tadi berulang-ulang. Tapi tidak diangkat.
Saras pingsan? apa yang terjadi? apa dia sakit? sakit apa? ya Tuhan...
Paijo kalang kabut, dengan kecepatan penuh dia memacu motornya. Masih siang, sudah pasti Haji Bagong di toko. Paijo harus menemui Hajah Maimunah, jika mendengar anaknya sakit pasti wanita itu mau memberi tahu dimana Saras. Apapun itu, Paijo akan lakukan demi bisa bertemu Saras.
Mas jemput Saras Mas...
Jemput Saras Mas...
Suara Saras terngiang-ngiang memenuhi pikiran Paijo. Sesampainya di depan gerbang pagar rumah Saras Paijo lompat setelah mematikan mesin motor. Dia berteriak sekuat tenaga, mustahil satpam rumah itu akan membukakan pintu.
"BUDHE!!!! DIMANA SARAS???!!!"
"BUDHE! SAYA TAHU BUDHE PASTI DENGAR!"
"SARAS PINGSAN!!!! SAYA HARUS MENOLONG NYA!!!!"
__ADS_1
BRAK!!! BRAK!!! BRAK!!!
Paijo nekat mendobrak pintu pagar. Malik mendelik dari balik pagar. "MAS JANGAN BIKIN RIBUT DISINI!!!"
"SIALAN!! SAYA TIDAK ADA URUSAN SAMA ANDA!!!"
BRAK!!! BRAK!!!!
"BUDHE!!!! TOLONG BERI TAHU SAYA DIMANA SARAS!!!" Paijo berteriak seperti tidak takut pita suaranya putus.
Di dalam rumah, Hajah Maesaroh gelisah minta ampun. Memikirkan kondisi Saras di tambah lagi Paijo yang terus berteriak memanggil namanya. Haji Bagong yang setengah berbaring bisa mendengar jelas teriakan Paijo.
"Abah... bagaimana ini?" tanya Hajah Maesaroh gusar.
Haji Bagong bersikap dingin. Pinggangnya sakit, tapi hatinya belum juga melunak.
"Kamu jangan berani-berani pergi keluar menemui anak itu! Biarkan saja dia berteriak seperti anjing! Nanti jika sudah lelah dia pasti diam sendiri,"
Hajah Maesaroh ingin bungkam tapi hatinya bergejolak. "Abah, ini sudah keterlaluan... Saras sakit, Paijo bilang bahkan Saras pingsan, hiks...hiks...hiks..."
"Kamu jangan dengarkan dia! Pergi nonton sinetron sana atau masak di dapur! Tapi jangan berani kamu keluar!!!"
"ABAH!!! Hajah Maesaroh meninggikan suara, biasanya Hajah Maesaroh tidak sampai emosi seperti ini. Namun dia benar-benar kasihan melihat Paijo. Bersama dengan perdebatan di dalam rumah, petir menyambar tiba-tiba. Siang hari yang tadi panas menyengat tiba-tiba mendung, langit bahkan hitam pekat seperti akan segera roboh.
"Puluhan tahun saya menurut, puluhan tahun saya berusaha menjadi istri yang baik, saya menuruti anda bahkan saat salah satu anak perempuan saya anda capakkan, sekarang apa anda akan mengulanginya lagi?"
"Merebut kebahagiaan mereka? Kenapa Abah selalu saja egois hah? Kenapa Abah egois? hiks...hiks...hiks..." Hajah Maesaroh menangis meraung.
Hajah Maesaroh berlutut di bawah kaki suaminya dan mengiba.
"Kali ini saya mohon, ijinkan mereka bertemu,"
"Mereka hanya saling mencintai, dimana letak kesalahan mereka?"
Haji Bagong masih diam tak bersuara, rahangnya bahkan semakin mengeras.
****
Di luar hujan mulai turun dengan derasnya. Paijo masih tak bergeming berdiri tegap di depan pagar. Tubuhnya sudah basah kuyup. Dia tidak peduli, kalaupun harus menunggu berdiri sampai pagi di sana, Paijo tidak mundur.
Hampir satu jam Paijo menunggu, sampai pintu rumah Saras terbuka. Dan Hajah Maesaroh terlihat keluar dengan payung yang terbuka.
"Malik! Buka pintu gerbangnya!" Satu perintah, membuat satpam yang tak murah senyum itu bergegas membuka pagar.
Paijo menatap Hajah Maesaroh dengan tatapan penuh terimakasih. Meski belum tahu apa yang akan diucapkan wanita yang melahirkan gadis yang dia cintai, tapi Paijo sudah senang beliau mau menemuinya.
__ADS_1
Hajah Maesaroh memindai penampilan Paijo yang mengenaskan. Pakaian basah kuyup, rambut tiwul-tiwul yang basah dan brewok yang belum juga di cukur. Paijo sangat berantakan. Belum lagi pemuda itu terlihat menggigil kedinginan.
Hajah Maesaroh mengulurkan sebuah kunci mobil. "Ambil kunci ini, bawa anakku ke rumah sakit!"
Paijo mengangguk terharu, diam-diam dia sudah menangis, air matanya mengalir bercampur air hujan. Paijo tidak segan menerima kunci mobil milik Haji Bagong. Setelah Hajah Maesaroh memberi tahu alamat Budhe Sri, Paijo pamit.
Paijo menyetir membelah hujan yang masih deras. Wiper mobil bergerak-gerak menyingkirkan tetesan air hujan yang menghalangi pandangan Paijo. Setengah hati dia mengkhawatirkan Saras, setengah lagi dia merasa senang karena sebentar lagi akan bertemu dengan wanita yang dia puja siang malam.
Hujan rintik-rintik
airnya mengalir
Adek minta topi
di kasih onde-onde
Dua mata saya
setengah lingkaran
Tiga tambah tiga
sama dengan enam
Enam, enam, enam, enam,
tiga puluh enam di beri sudut....
Paijo tersenyum lembut, memori ingatannya baru saja mengingatkan pada seorang gadis kecil berkucir dua, yang sedang bermain di depan rumah sambil melantunkan lagu itu. Gadis kecil yang sering dia goda, entah mencubit pipinya yang menggemaskan atau menarik ujung kucirnya. Gadis itu akan berakhir pulang mengadu pada ibunya dengan menangis. Karena itu dia sering mengatai gadis itu cengeng. Sekarang giliran Paijo yang dibuat cengeng oleh gadis itu. Bahkan nyaris gila.
Saras, Mas Paijo datang menjemput mu...
Yeye...
.
.
.
.
.
Like dan komen
__ADS_1
tidak bosan saya ingatkan š