Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 91: Apakah Aku Hamil?


__ADS_3

Bulan sudah berganti. Saras menggigit bibir bawahnya, cemas. Saras kira perutnya yang sakit tempo hari jadi pertanda jika dia akan haid, ternyata hanya melilit biasa. Mungkin efek khilaf setiap kali di hadapkan sambel secobek.


Saras kembali menatap kalender di hadapannya. Terhitung satu bulan ini dia tidak kedatangan tamu. Kalender di kamarnya bersih dari coretan tinta. Bagi Saras mencatat jadwal mentruasi itu sangat penting. Selain untuk jaga-jaga persediaan obat jika sewayah-wayah perutnya sakit sebelum datang bulan, juga bermanfaat seperti ini, Saras jadi tahu jika telat menstruasi.


Bagaimana ini, apa aku hamil?


Lagi-lagi Saras menggigit bibir bawahnya. Paijo yang masuk kamar setelah berak, memeluk tubuh istrinya dari belakang. Membuat Saras kaget setengah hidup.


"Kebiasaan, bikin kaget aja," Saras menggerutu. Paijo malah bergelayut manja. Mengenduskan hidungnya di ceruk leher Saras yang selalu membuatnya tergeli-geli.


"Ngapain lihatin kalender terus? punya tanggungan jatuh tempo?"


Amit-amit, Saras tidak hobi hutang. Dan bersyukur sekali semua kebutuhannya tercukupi. Mau apalagi coba? Saras hanya bimbang, haruskah dia bilang sekarang jika terlambat datang bulan. Tapi belum tentu juga dia hamil, siapa tahu ini hanya telat biasa. Tapi baru kali ini juga Saras telat.


"Enggak, aku cuma lihat tanggal merah ini memperingati hari apa, tapi ga ngaruh juga sih, kamu mau tanggal merah atau hijau, atau berubah pink juga, tetap berangkat kerja terus yah," ini hanya pengalihan yang hiperbola, tapi kalau Paijo peka, nada Saras merajuk, sudah rindu holiday tentu saja.


Paijo masih bergelayut manja, jari-jari tangannya bahkan jahil berotasi kemana-mana.


"Kenapa? pengen jalan-jalan?"


"Kamu sibuk terus..."


"Geli ah, udah cuci tangan blom ini?!" Saras menggeliat karena tangan Paijo semakin aktif. Saras melepaskan diri dan berangsur naik ketempat tidur.


"Udah sayang, udah di basuh tujuh kali juga"


"Masak iya mau nyentuh istrinya, tangan masih bau ampas, gaklah!"


Saras terkekeh, sejenak lupa tentang kecemasannya tadi. "Yah siapa tahu kamu jahil"


"Sejahil-jahilnya aku, aku tak sejahiliyah itu"


"Aku udah bersih, udah gosok gigi, look! lihat!"


"Hahaha..." Saras tertawa kali ini, wajah Paijo mirip anak kecil yang ngambek. Meringis memamerkan giginya yang putih bersih.


"Maap, maap, jadi mau ngajak aku jalan-jalan ga nih?" Mumpung tadi kena tema itu. Bolehlah jalan-jalan.


"Minggu besok aku usahakan, kamu pengen kemana?"


"Healing, pengen lihat yang seger-seger"


"Pantai?" tanya Paijo.


"No! aku lebih suka ke pegunungan"


Paijo yang mencibir kali ini, "Aku sampai bosan muterin gunung tiap hari,"


Kemudian mata Paijo beralih ke dada Saras. Saras melotot dong. Paham arah pemikiran suaminya.


"Tapi kalau gunung yang itu, aku ga bosan, suwer!"


"Dih, modus terus" ucap Saras sambil menarik ujung selimut hingga kepala. Saras berlindung, meski percuma, ujung-ujungnya Paijo menyusulnya di bawah selimut.


"Apa sih Mas, geser sana!"


"Ga mau!"


"Kemarin udah hlo ya"


"Hari ini belom" Paijo kekeh.


"Pehelnya..."


Bukankah wajar saja kalau Saras kalau hamil ya, lembur terus gitu. Hla tapi kenapa Saras cemas? Saras takut hamil? atau Saras ingin menunda kehamilan? belum siap punya anak atau apa?


****


Hari Minggu tiba, Paijo benar-benar menepati janjinya. Motor mereka sudah melewati jalan Boja menuju daerah Bandungan. Salah satu daerah dataran tinggi yang berhawa sejuk dan terkenal banyak tempat wisata di dekat sana.


Karena menghabiskan masa muda banyak berada di Malang dulu saat kuliah, Saras baru tahu kalau Semarang ternyata punya kota dingin seperti ini. Saras senang sekali. Adem.


Melewati pasar Bandungan, Paijo menghentikan motornya. Dan menginterupsi Saras untuk turun dulu.


"Aku kebelet pipis sayang, kamu tunggu sini dulu ya. Mumpung ada toilet tuh!" Satu hal yang membuat Saras bangga, Paijo tidak suka buang air kecil sembarangan. Tidak asal ada pohon atau tembok lantas pipis.


Saras menunggu di tepi jalan, sambil memindai pasar Bandungan yang terlihat ramai dengan segala aktivitasnya. Menit berikutnya Paijo kembali dengan menenteng dua kantong plastik. Saras heran, pamit ke toilet, kembali dengan tangan penuh gitu.


"Beli apa?"

__ADS_1


"Kelengkeng sama getuk goreng, buat camilan nanti"


"Siiipppp...." kemudian mereka melanjutkan perjalanan.


Sesampainya di tempat tujuan, Paijo dan Saras meregangkan tubuh. Lumayan pegel juga. Dari tadi Saras bahkan merasakan pantatnya sudah kebas, kesemutan.


"Hah... jadi ini tempatnya"


"Iya, kelihatannya masih sepi, atau kita kepagian yah?"


"Ah enggak, udah jam segini juga. Ga apa juga sepi, malah enak, seperti privat wisata."


"Aku mau berendam nanti yang lama"


"Cus Mas, kita masuk, itu loketnya"


Begitu masuk, mata mereka sudah di manjakan dengan pemandangan alam yang menakjubkan. Sebelah kiri mereka ada lereng bukit dengan pohon-pohon lebat yang menghijau. Sedangkan sisi kanan berupa tebing yang sama-sama di penuhi pepohonan yang rindang. Paijo dan Saras berjalan di jalan setapak yang sudah berhias batu-batuan kecil yang tertata rapi. Tempat wisata Umbul Sidomukti memang termasuk salah satu icon wisata di Semarang. Pantas saja sangat terawat. Dari hasil berselancar Saras di Instagram, bahkan di sini banyak spot foto yang menarik.


Saras menghirup udara segar di sekitar. Namun tiba-tiba, hidungnya mengendus bau pesing. Sontak dia mencurigai Paijo.


"Mas, tadi cebok ga sih? bau pesing nih!"


Astaga, dari kemarin Paijo merasa istrinya itu seperti sering mengirimkan sinyal peperangan. Di curigai terus perasaan. Paijo teraniaya. Lantas sebal, memutar kepala Saraswati kearah kanan mereka.


"Tengok, kandang kelinci, yang pesing itu mereka"


"Enak saja nuduh Mas"


Saras meringis, sikapnya akhir-akhir ini memang menyebalkan. Semoga setelah kungkum di umbul nanti, dia bisa kembali insyaf. Saras sendiri juga heran, sepertinya moodnya sering loncat-loncat akhir-akhir ini.


"Hehe....Maap, ga lihat tadi, ada kandang di sana ternyata..."


Saras menggandeng lengan Paijo lalu kembali berjalan bersama. Naik turun jalan setapak, mereka sampai di puncak. Ada kolam ciblon dengan material batuan berbentuk lingkaran dan berudak. Kolam utama berukuran lebih besar, dan di bawahnya ada kolam lagi dengan ukuran lebih kecil. Di sisinya ada pohon palem yang menghiasi. Saras tidak sabar untuk nyemplung. Airnya pasti segar karena asli dari mata air pegunungan.


"Ayok Mas ganti baju kita nyemplung"


"Kita jalan-jalan dulu aja, lihat sebelah sana kayaknya bagus, duduk sambil makan getuk goreng, Yoh!"


Saras merengut karena tidak di turuti langsung. Paijo malah berjalan duluan meninggalkan Saras. Sungguh Saras merasa di kalahkan dan payahnya saingannya itu getuk goreng.


"Duduk sini, menikmati alam sambil ngemil getuk goreng, mantap!"


"Ga mau getuknya? coba dulu ini enak!"


"Nanti saja, belum pengen"


"Ya udah aku makan sendiri saja, enaknya sama kopi sebenarnya,"


"Mau aku belikan dulu?" tawar Saras.


"Ga usah, jalan naik lagi kesana, nanti kamu capek"


"Restonya 'kan di atas, kita kesana nanti kalau sudah berenang"


"Ya udah... " Saras membuang nafas kasar. Lalu seperti berpikir. "Mas..."


"Ya?" Paijo ngetamul dengan getuk gorengnya, mungkin udah getuk yang ketiga.


"Kamu ngerasa aku aneh ga akhir-akhir ini?"


Sebenarnya iya, bawel, galak, kadang lebih sering ngomel karena sesuatu yang ga jelas. Lebih sensitif juga sama bau-bau, dikit-dikit bau pesing, bau inilah, bau itulah. Bahkan kemarin malam Paijo di suruh gosok gigi sampai lima kali sebelum menciumnya.Masih di mandori juga saat gosok gigi di kamar mandi. Sampai Paijo frustasi.


Tapi mana mungkin Paijo tega mengatakan keluh kesahnya itu. Yang ada Saras nanti tersinggung. "Ga aneh kog, kamu malah terlihat lebih manis sayang"


"Masak iya? kamu bohong ya Mas? Kamu muji biar aku ga sebel aja kan?"


"Aslinya aku pasti nyebelin banget!"


"Enggak, nyebelin gimanapun juga,aku bakal tetep cinta sama kamu"


"Udah jangan manyun terus, kita kesini buat seneng-seneng 'kan?"


"Foto-foto yuk, aku fotoin deh!"


Mendengar tawaran yang menggiurkan untuk berfoto, mood Saras langsung membaik. Semangatnya berkobar.


"Boleh!"


"Kita foto bareng!"

__ADS_1


Satu, dua, tiga... cekrek!


Satu, dua, tiga...cekrek!


Foto mereka konyol sekali, Paijo dan Saras tidak berekspresi semanis-manisnya, malah sama2 mecucu sambil membuat gerakan mata juring. Mereka berdua memang makhluk aneh. Seperti pasangan Spongebob dan Patrick saat umat gilanya. Lalu tertawa terbahak-bahak bersama. Saling menertawakan diri mereka sendiri.


"Kita harusnya mendapat penghargaan Mas"


"Kategori?"


"Pasutri somplak, hahahaha...."


"Hahaha.... benar juga!"


"Hah... perutku sakit ketawa terus Mas"


"Udahan ah, ayok renang sekarang, ganti baju dulu tapi..."


"Iya ... iya ayok!"


Setelah berganti baju, mereka berdua berjalan ke kolam. Paijo sudah dengan celana kolornya sedangkan Saras memakai kaos lengan pendek dan celana legging panjang. Ini kolam ciblon jadi tidak mengharuskan pakai baju khusus renang apalagi bikini.


Paijo langsung nyemplung, lompat indah ke dalam air.


"Setan, airnya ternyata dingin banget! Brrrrrrrr....." Paijo mengumpat. Belum sempat memberi tahu Saras, istrinya itu sudah ikutan nyemplung.


Byuuuuuuuurrrrrrrr.....!


"Buaahhhhhhhhhh.... seger!"


"Brrrrrrr.......dingin sayang....!"


Paijo heran, kenapa istrinya itu terlihat biasa-biasa saja padahal dirinya kedinginan. Paijo menepi, lalu memilih duduk di pinggir kolam. Sedangkan Saras masih kegirangan berenang hingga ujung.


"Airnya dingin, jangan lama-lama!" teriak Paijo.


Saras masih berenang, bahkan pindah, mencoba ke kolam di bawahnya. "Seger Mas sini!" ajak Saras lagi


"udah, aku ga kuat dingin!"


"Heleh, payah ih Mas Paijo!" Tapi kog lama-lama bener, dingin juga ini air. Batin Saras.


Saras sudah mirip anak kecil yang kegirangan saat main air. Hingga kakinya tiba-tiba kram. Pandangan Saras juga mengabur.


Auchhhhh.... kakiku sakit sekali...


Apa sudah terlalu lama aku berenang? Kenapa jadi buram gini mataku? kenapa tiba-tiba pendengaran ku juga menurun... perasaan telingaku ga kemasukan air.


Saras sudah di tepi kolam, memanggil-manggil Paijo yang duduk di tepi kolam seberang.


"Mas tolong...." sekuat tenaga Saras ingin memanggil suaminya. Tapi sulit, sangat sulit.


Saras sadar jika sebentar lagi pasti dia tidak sadarkan diri. Tanda-tanda yang sama mata buram dan pendengaran menurun.


Apa aku akan mati di sini? sekarang? tolong aku Mas, bagaimana kalau aku mati sebelum tahu, apakah aku sudah hamil atau belum?


Mas Paijo... tolong Maafkan aku....


Lalu semuanya gelap!


.


.


.


.


.


.


Cerita berdasarkan kisah nyata, aku pernah pingsan juga di sana, aku kira bakal mati saat itu, padahal satu bulan lagi aku nikahan. Sampai kepikiran tempatnya jauh, nanti jasadku pasti di bawa pulang pakai ambulan, pasti keluarga sedih banget, untungnya aku masih hidup, ga jadi cerita tragis deh. Aku pingsan dulu karena sedang ga fit, masuk angin, terus belagu renang di air dingin. Gila memang Hehe... Jangan di tiru ya!


ga



Malah curhat ya.... wes ngono wae sing penting Ojo lali like, komen ya.... suwun😂😂😂😂😂

__ADS_1


__ADS_2