Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 57: Pendekatan 1


__ADS_3

Salma geleng-geleng kepala, baru saja sampai rumah Paijo sudah bergegas pergi lagi. Masalahnya mereka bukan balik dari warung atau pasar. Tapi dari Malang sana, meski naik kereta api tetap saja memakan waktu dan tenaga. Pantat Salma saja masih panas karena kebanyakan duduk.


"Mau kemana Jo? kamu ga capek apa?" Heran melihat Jo yang langsung menyambar kunci di lemari tv.


"Ke rumah Saras. Dari kemarin dia ngilang ga ngasih kabar. Aku cemas sekali. Jangan-jangan dia sudah di nikahkan paksa sama orang tuanya."


Salma mengernyitkan dahi, "Hlo bukannya sudah gagal?"


"Yang dulu emang udah gagal. Hla barangkali ada yang lain."


"Jo pergi dulu, Bapak mana?"


"Hmm, di kamar istirahat." Setelah mencium punggung tangan Salma, Paijo ngacir pergi.


****


Paijo menunggu Saras agak jauh dari pintu pagar rumah Saras. Kalau langsung tanya sama satpam, Paijo yakin tidak akan mendapatkan informasi apapun. Lebih baik menunggu Saras pulang kerja. Jam lima lebih sebelas menit, harusnya Saras sudah sampai rumah. Apa dia mampir dulu ke suatu tempat?


Paijo masih menunggu di menit berikutnya. Sangking lamanya dia bahkan sudah selesai menghitung jumlah buah mangga yang ada di pohon tempat dia berteduh. Langit sore bahkan sudah berganti mega merah. Tandanya masuk waktu Maghrib.


Nyaring terdengar suara adzan berkumandang. Paijo bergegas saat melihat Haji Bagong hendak keluar dari pintu pagar.


Mungkin akan ke Masjid untuk berjamaah. Paijo mengikutinya diam-diam. Motor milik Paijo dia tinggal di bawah pohon. Dan pergi ke Masjid mengikuti Haji Bagong.


Saat sudah di serambi Masjid, Paijo menyapa Haji Bagong. "Pakde Haji," membuat Haji Bagong kaget dan belum apa-apa sudah kesal.


"Mau apa kamu kesini?"


Paijo meringis, "Mau ikut jamaah," Paijo selamat dengan alasan yang logis. Iyalah mau sholat orang ke Masjid, masak mau belanja.


Haji Bagong memandang malas pada Paijo. Yang di pandang seperti tak tahu diri. Malah ngintil sampai tempat wudhu. Udah gitu nempel berdiri di shaf tepat di belakang Haji Bagong. Paijo tidak akan gentar. Toh saat ini tujuannya hanya bersujud pada yang Maha Esa. Syukur-syukur pulang dari sini Haji Bagong pintu hatinya terketuk. Langsung mengijinkan Paijo menikahi putrinya, amin sajalah.


Jamaah sholat Maghrib diakhiri dengan salam. Seperti pada umumnya usai sholat mereka saling berjabat tangan. Paijo dengan cepat mengulurkan tangan lebih dulu, hendak mencium punggung tangan Haji Bagong. Kali ini Haji Bagong tidak bisa menolak, karena khawatir di nilai buruk di mata jamaah yang lain. Paijo pun tersenyum senang.

__ADS_1


Melihat Haji Bagong yang belum beranjak dari duduknya. Paijo bergeser duduk agak kebelakang. Mungkin Haji Bagong masih ingin berlama-lama berdzikir. Tidak apa-apa Paijo akan sabar menunggu. Menit berikutnya Haji Bagong bangkit disusul dengan Paijo yang berjalan di belakangnya.


"Kamu kenapa ngikutin saya?"


"Hmmm...." kali ini Paijo terbata. "Hmmmm... Pakde Haji, saya mau bertanya, boleh?"


"Tidak! kalau tentang anak saya!"


Paijo membulatkan mata, kalau tidak tentang Saras, terus tanya tentang apa. Masak iya mau tanya berapa harga emas satu gram sekarang? Paijo itu perjaka bukan emak-emak yang doyan belanja perhiasan. Paijo pun tidak sadar menggigit tepi bibirnya.


Karena tak ada kalimat dari Paijo. Haji Bagong pun berniat segera pulang. Tapi tunggu, kemana perginya sandal milik Haji Bagong. Seingatnya tadi di taruh di sini, dekat tempat sampah. Tapi kenapa tinggal sepasang sandal yang bukan miliknya. Haji Bagong bingung, masak iya dia pulang nyeker.


Melihat gelagat Haji Bagong yang kebingungan, Paijo langsung inisiatif mendekat.


"Pakde Haji, sandalnya hilang?"


"Wah kebangetan sekali yang ngambil."


"Pakde Haji, monggo pakai sandal saya saja." Paijo mengambil sandalnya dan meletakkan tepat di bawah kaki Haji Bagong.


"Tidak perlu, saya tidak butuh!" Haji Bagong mau nekat nyeker. Tapi lengannya di cekal Paijo.


"Jangan begitu Pakde Haji, Saya akan merasa bersalah jika membiarkan Pakde Haji bertelanjang kaki"


"Saya masih muda, ga pakai sandal ga masalah. Tapi Pakde Haji orang yang terhormat, pasti malu di lihat orang. Mana nanti di ujung warung kopi sana pasti banyak orang nongkrong. Pakde Haji mau di tertawakan?"


Di gombalin mix di takut-takuti, Haji Bagong terlihat mempertimbangkan.


Benar juga ucapan pemuda tengil ini, pasti memalukan sekali di lihat banyak orang.


Haji Bagong masih dengan raut wajah yang dingin, akhirnya mau memakai sandal Paijo. Paijo rasanya ingin salto, rol depan rol belakang. Dia senang sekali karena Haji Bagong mau menerima bantuannya.


Flashback beberapa menit yang lalu....

__ADS_1


Paijo memohon ampun sebelum melakukan tindak kejahatan ini. Saat Haji Bagong masuk ke tempat wudhu, Paijo mengincar sandal swallow bertali hijau milik Haji Bagong. Dia mengambil sandal itu, dan dengan cepat membuangnya ke kebun yang gelap tak jauh dari Masjid. Kemudian dia bergegas ikut wudhu menyusul Haji Bagong.


Curang memang, tapi ini demi mendapat perhatian Haji Bagong. Anggap saja metode pendekatan yang pertama. Ibarat kata, kebaikan seseorang tidak akan terlihat jika dari awal orang itu sudah membencinya. Jadi sesekali Paijo ingin menampakkan diri jika dirinya baik juga. Paijo hanya ingin Haji Bagong sadar, jika dirinya benar-benar mencintai Saraswati.


Maafkan aku calon Abah mertua...


Flashback off...


Haji Bagong berjalan pulang ke rumah. Di belakangnya, jarak lima meter Paijo berjalan dengan tertatih-tatih. Meskipun jalan sudah berupa cor, namanya jalan kampung pasti masih ada kerikil-kerikil kecil di sana. Belum lagi kalau ada telek ayam. Mengerikan bukan!


Sesekali Paijo berjalan berjingkat-jingkat, Haji Bagong melihatnya saat menoleh tadi. Dalam hati Haji Bagong ingin tertawa. Karena tingkah Paijo yang lugu. Lucu tur wagu.


Haji Bagong langsung masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan terimakasih. Sandal Paijo sepertinya sudah di hak milik. Sudahlah Paijo ikhlas, toh sama calon mertua sendiri. PD banget ya!


Paijo masih menunggu lagi. Barangkali Saras lewat. Tapi satu jam kemudian hasilnya tetap nihil. Saraswati tidak menampakkan diri meski hanya bayangannya sekalipun tidak.


Mungkin ada baiknya besok pagi Paijo kembali mengintai di depan rumah Saras, atau mungkin datang ke kantornya saja. Huh, Paijo baru merasa capeknya sekarang. Paijo pun pulang.


.


.


.


.


.


.


Doble up hlo ini....


Kasih like, komen, hadiah wkwkwkkw😁

__ADS_1


__ADS_2