Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 55: Hujan Air Mata


__ADS_3

"Umik, Saras mandi dulu, gerah,"


Saras merasa harus cepat-cepat masuk ke dalam kamar. Persembunyian teraman. Namun lagi-lagi langkahnya terhenti.


"Tunggu! Abah belum selesai sama kamu,"


Saras duduk lagi di samping ibunya. Hajah Maesaroh hanya bisa berkali-kali menelan ludah dengan susah payah.


"Katakan dengan sejujurnya, apa benar kalian pernah melakukan itu? hamil, APA KAMU BENAR SEDANG HAMIL?!" Suara Haji Bagong bergetar, amarah dan kecewa menyelimutinya.


"JAWAB!!! KENAPA KAMU DIAM!!!!


Saras menjendil sangking kagetnya. Digertak begitu mayat di kuburan bisa-bisa ikut bangun. Lidah Saras terasa kelu. "A-bah,"


PRANKKK!!!!


Vas bunga di meja menjadi sasaran Haji Bagong, pecah berkeping-keping di lantai. Saras sudah meneteskan air mata yang luruh tanpa di minta.


Haji Bagong benar-benar murka kali ini. "Abah sudah bilang laki-laki itu tidak pantas untuk kamu!"


"Katakan, apa saja yang pernah kalian lakukan!"


"Apa kalian sudah berzina!!!???" Haji Bagong mencengkeram rahang Saras. Saras terisak meraung.


"Ji-ka Saras bi-lang, itu--- semua tidak benar, apa--Abah akan percaya? hiks...hiks..."


"Astaghfirullah Abah! Lepaskan Abah, kasihan,..."


Hajah Maesaroh tak kalah meraung, kedua wanita ibu anak itu sama-sama menangis.


Bukannya melepaskan cengkraman tangan Haji Bagong semakin kencang.


"....huaaaaaa....huaaa...."


"Abahhhhhh.... Saras ti-dak pernah me-la-ku-kan itu, sumpah... huaaaaa...."


Haji Bagong menyentak cengkraman di rahang Saras dengan kasar. Kepala Saras sampai oleng, untung tidak sampai lepas terus menggelinding. Baru kali ini Haji Bagong sangat kasar. Biasanya walaupun marah, Abah Saras ini tidak pernah main tangan. Hajah Maesaroh mendekap Saras lagi dalam pelukannya.

__ADS_1


"Abah kecewa sama kamu!"


"Abah! Umik percaya anak kita! Saras tidak mungkin hamil!"


"Pikir pakai kepala dingin!" Entah keberanian dari mana, Hajah Maesaroh menyumbangkan suara.


"Kita mana tahu jika dia berbohong! benar, bisa jadi dia menggugurkan kandungannya. Kita yang terlalu bodoh, tidak tahu apa yang mereka lakukan di luar sana!" Haji Bagong memijat pelipisnya. Dia merasa pening juga. Rencana perjodohan dengan Mahfud gagal. Masih ada satu calon lagi, tapi jika benar Saras sudah tidak lagi suci, pasti dia akan menanggung malu pada akhirnya.


"Hah!"


"Abah membesarkan 'mu bukan untuk membuat malu keluarga! tapi lagi-lagi putri 'ku, MELEMPAR KOTORAN DI WAJAH KU."


"Apa salahku?"


"Saat dia masih balita, aku sendiri yang menggendongnya tiap malam, aku rajin membacakan sholawat hingga dia tertidur, tapi saat sudah dewasa, dia sendiri tidak bisa menjaga kehormatan...hug...hug...hug..."


Hati Saras hancur kali ini, dia terpukul karena di tuduh hamil di tambah lagi hal ini membuat Haji Bagong ikut menyalahkan diri sendiri. Abahnya bahkan terguguk ikut menangis, meski menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Saras tahu jika Abahnya sedang menangis.


Dengan sisa-sisa tenaga, meski kaki terasa tak berdaya. Saras mendekati Haji Bagong yang duduk dengan wajah kacau. "A-bah, maafkan Saras, sum-pah demi apapun... Saras tidak hamil--- Saras juga ti--dak per-nah melakukan dosa itu, sumpah Abah.... huaaaaa...."


Saras bingung bagaimana meyakinkan Haji Bagong jika dirinya masih gadis. Apa dia harus berjoget dulu ala TokTok, "Saya masih ting-ting, di jamin masih ting-ting, sama sekali belum punya pengalaman," Huaaaa.... yang ada Saras di tabok pantatnya.


"Apa--- yang harus Saras lakukan, agar Abah percaya kalau Saras tidak bohong? hiks...hiks..."


Netra anak dan ayah itu bertemu, Saras sangat berharap jika ke salah pahaman ini bisa segera selesai. Namun, Haji Bagong melepaskan genggaman tangan Saras dan bangkit dari duduknya. Membuat Saras semakin nestapa.


"Putuskan hubungan 'mu dengan Paijo. Jika memang kamu tidak bohong!"


"Dan satu lagi, besok juga kamu harus mau pindah tinggal bersama budhe Siti. Abah tidak mau kamu bertemu lagi dengan Paijo..."


"Jika kamu menuruti kemauan Abah, baru Abah bisa percaya sama kamu!"


Bahu Saras semakin merosot, mata sudah mulai kabur sangking banyaknya air yang keluar dari sana. Memutuskan hubungan dengan Paijo sangat berat baginya, belum lagi memikirkan perasaan Paijo yang pasti tersakiti. Saras tidak tega. Tapi mau bagaimana lagi? Ini syarat yang di minta Abahnya. Dengan penuh keterpaksaan Saras mengangguk. Menyetujui permintaan Haji Bagong.


"Baik, Saras akan nurut sama Abah, apapun itu..."


"Yah, itu baru benar."

__ADS_1


"Sekarang, bawa sini hp kamu! Abah tidak ingin kamu berkomunikasi lagi dengan pria itu!"


"Jangan sekali-kali berpikir menghubunginya. Jika kamu masih kasihan sama Abah!"


Saras sudah mirip robot dengan batrai yang tinggal separo, pandangan matanya kosong. Pelan dia mengangsurkan hp miliknya kepada Haji Bagong. Hp baru pemberian Paijo kini sudah berpindah tangan.


Haji Bagong merasa puas, dengan begini Saras sudah mati langkah. Pria yang sudah naik haji berkali-kali itu meninggalkan Saras yang masih duduk bersimpuh di lantai. Kemudian pergi menghilang di balik tirai emas.


Tidak ada yang bisa Hajah Maesaroh lakukan, selain mendekap lagi Saras kedalam pelukannya. "Sabar Nok, sabar...." ucap Hajah Maesaroh sembari mengecup ujung kepala Saraswati.


Sore itu hujan air mata tak ada hentinya hingga berlanjut malam hari. Saras terduduk di samping bathub. Dia masih menangis sejak tadi. Belum juga mandi meski bathub sudah terisi penuh, hingga air itu mengalir membasahi pakaian Saras. Kacau! Saras merasa sangat kacau. Mau di bolak-balik seperti apapun. Kali ini dia tidak bisa apa-apa.


Maafkan aku mas Paijo, maaf... hiks...hiks...


****


Keesokan paginya, Saras sudah di giring untuk masuk kedalam mobil Pajero sport putih milik Haji Bagong. Saras merasa dirinya sudah mirip tahanan lapas. Kini kemerdekaannya benar-benar sudah direnggut.


Haji Bagong sendiri yang mengantar, di temani Andre sang keponakan yang setia dengan segala perintahnya. Sedangkan Hajah Maesaroh di larang keras untuk ikut. Jadilah dia hanya mengantar Saras hingga depan rumah. Masih dengan air mata yang terus menetes.


Perjalanan yang cukup jauh, Saras diam membisu. Dia lebih senang menatap hutan-hutan yang kini semakin gundul sehingga terlihat gersang, dari pada menatap kearah dua laki-laki yang berhubungan darah namun tidak pernah sepemikiran apalagi sehati dengannya.


"Pekerjaan Saras bagaimana kalau dia ikut budhe Sri?"


Haji Bagong sebenarnya tidak suka Andre melontarkan pertanyaan itu. Tapi kalau tidak di jawab kasihan, jiwa muda pasti jiwa ke kepoannya juga tinggi. "Tidak penting pekerjaannya, Saras tidak butuh kerja jika hanya sekedar untuk hidup!"


Andre langsung mengatupkan mulutnya. Benar juga, Saras tidak akan miskin jika hanya tidak bekerja. Sekarang dia paham lebih baik diam dan jangan banyak tanya. Daripada mendapat jawaban yang mengerikan. Lebih baik kembali fokus menyetir. Mobil pun terus bergerak tanpa ada lagi sebait conversation.


Tiga jam lebih, akhirnya mobil mereka telah sampai di pelataran rumah bergaya bangunan kolonial Belanda. Bercat dinding putih, di kelilingi pohon yang rindang. Saras sudah pernah kesini, kemarin-kemarin jika datang kesini dia selalu senang. Maklum dalam rangka liburan. Tapi kali ini sebaliknya, Saras sedang diasingkan. Jadi mana mungkin dia senang.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2