Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 78: Makan Malam


__ADS_3

Paijo masuk rumah saat adzan magrib berkumandang, saling sahut menyahut antara mushola satu dengan mushola yang lainnya. Saras menyambut kedatangan suaminya dengan suka cita. Layaknya anak kecil yang baru saja mendapatkan teman main. Dia senang sekali, hingga tidak sadar bergelayut manja di lengan Paijo.


"Kangen ya? Ntar malam ciki!" bisik Paijo jahil.


Beruntung kode ciki hanya mereka yang paham. Karena tiba-tiba Jaelani menghadang mereka sebelum masuk kedalam kamar. Sontak Saras menghela jengah. Jaelani sudah mirip Jelangkung, muncul tiba-tiba.


"Hai Jo, apa kamu tidak ingin menyapaku dulu?"


"Hah, kita tidak pernah sebaik itu untuk sekedar saling menyapa" jawab Paijo dingin.


Membuat Jae mengulas senyum tipis. Menyebalkan. Hubungan mereka memang tidak pernah baik. Meski Paijo sudah bisa menerima Salma, tapi tidak untuk anaknya. Saras merinding, dari pada terjadi perang dingin diantara mereka berdua. Lebih baik mengajak Paijo segera masuk kamar.


"Mas, kamu istirahat dulu ya, setelah sholat kita makan malam bersama, permisi Mas Jae, kita masuk kamar dulu"


Rahang Paijo mengeras. Dia sama sekali tidak bisa berpura-pura baik pada Jae. Sejak kecil, dia selalu di banding-bandingkan dengan Jae. Jae yang baik, penurut, pintar, dan sukses menjadi pegawai kantoran. Bukan iri, tapi hanya tidak suka di banding-bandingkan.


"Kamu tidak perlu baik-baik sama dia, tidak perlu,"


Saras memeluk tubuh suaminya, meski bau asem pulang kerja tapi Saras betah. Dia harus bisa menenangkan perasaan Paijo yang terlihat sangat jelas sedang meletup-letup karena amarah itu. "Aku kira hubungan kalian berdua baik, kemarin sepertinya mas baik-baik saja saat mendengar kabar dia akan pulang,"


"Itu karena, karena aku menghargai ibu"


"Kalau begitu sama, aku juga menghargai ibu, jadi sewajarnya saja aku berprilaku baik pada Mas Jae" Saras tidak akan mengatakan kalau dia juga tidak nyaman. Dia tidak ingin membebani Paijo dengan perasaannya sendiri.


Pelan Saras mengendus leher Paijo, membuat suaminya merem melek kegelian. "Aku belum mandi"


"Iya tahu... tapi aku suka"


"Huh, jangan memancing. Atau aku tidak akan mengampuni mu nanti malam!" Saras hanya terkekeh, dan membiarkan Paijo segera mandi.


Makan malam dengan formasi lengkap. Semua sudah duduk di kursi masing-masing. Salma yang terlihat paling semangat mengumbar senyum.


"Ayo, tambah lagi. Kalian semua harus makan banyak malam ini!"


"Ibu tidak mau tahu, semua makanan harus di habiskan!"


"Dengarkan ibu kalian, Jae makan yang banyak!"


"Tentu Pak. Saya juga kangen masakan ibu, jangan khawatir nanti Jae habiskan, pokoknya ibu malam ini ga perlu menghangatkan makanan lagi, bakal Jae habiskan semua, hehe..."


"Saras kamu juga, nambah lagi, makanmu sedikit sekali?" Burhanuddin ternyata memerhatikan Saras juga.


"Ini sudah cukup kog Pak,"

__ADS_1


"Mas Jo mau nambah lagi?" Saras melempar pertanyaan pada suaminya. Paijo hanya menggeleng pelan dan terlihat buru-buru menghabiskan makanannya. Dari tadi suara Paijo terlalu mahal untuk di dengar di ruang makan itu.


Salma beradu lirikan pada Burhanuddin, kemudian Saras. Salma sadar jika Paijo tidak nyaman. Dia pun juga tidak pernah memaksa Jo untuk akur dengan Jae. Hubungan mereka serenggang jembatan Kalikuto, Salma tahu itu.


Selesai makan malam, Burhanuddin, Salma dan Jae berkumpul di ruang keluarga. Menonton tv dan mengobrol santai. Sedangkan Paijo memilih mendekam di dalam kamar. Sebagai isteri yang baik Saras mau tidak mau menemani Paijo, meski sedikit tidak enak karena tidak berhasil membujuk Paijo ikut bergabung dengan mereka.


****


Pukul sepuluh malam lebih seperempat. Baru saja hujan berhenti. Dan suara katak, kung kong...! kung kong...! mendominasi kamar mereka.


[Ciki yuk! cocok sama hawanya😁]


[malu mas, kamar sebelah sudah ada penghuninya 🤭]


[bodo amat! siapa suruh dia pulang😏]


[hmmm... gimana ya?😁]


[Kenapa? takut kamu mendesah?]


Plak!


Saras memukul lengan Paijo yang terbaring di sebelahnya. Mereka berdua memang absurd sekali. Alih-alih berbicara berbisik-bisik, malah saling berbalas chat, padahal tubuh mereka saling menempel.


"Aku kepengen sayang," Paijo memelas.


Sial! bisa terancam kesejahteraan ku jika begini terus. Paijo mengumpat dalam hati.


Klunting!


Paijo tahu isterinya itu mengirimkan pesan lagi. Paijo jengah lama-lama. Tidak bebas mengekspresikan diri, kalau begini ceritanya.


[Sabar ya, nunggu tengah malam atau menjelang subuh nanti😁]


[😭😭😭😭]


[Sekarang bobok yang baik dulu]


[Iya kalau tengah malam bangun, atau subuh ga kesiangan🙄]


[Nanti bikin alarm😁]


[Ga! aku mau sekarang.]

__ADS_1


[Ciki virtual aja gimana?] tawar Saras.


[Mana berasa😠]


Kelamaan! Paijo tidak mau di ganggu gugat. Dia sudah berada di atas tubuh Saras. Dan siap menerkam Saras kapan saja.


Talk less do more. Paijo tidak ingin banyak bicara, tapi gerakan tangan dan bibirnya aktif sekali Bun. Saras kepayahan harus mengatur nafas. Ah, sepertinya dia butuh kain untuk menyumpal mulutnya sendiri.


Di kamar sebelah, Jae belum tidur meski lampu kamarnya sudah padam sejak tadi. Sial, kenapa wajah Saras terus terbayang di ingatannya. Sedangkan perempuan itu sudah pasti sedang tidur berdua dengan suaminya. Jae melirik sebal pada dinding di kamarnya.


Jangan bilang, kamar sebelas sedang asyik-asyikkan!


"Banyak nyamuk woi!" teriak Jae dari dalam kamar.


Peduli setan, Paijo tidak akan menghentikan aktivitasnya. Tidak ada hal yang lebih menyenangkan dari ini.


"Mas..." lirih Saras bergumam.


"Jangan hiraukan dia, kamu cukup nikmati saja oke?" Saras tidak sempat menjawab. Menahan nafas yang berantakan saja susah.


"Sepertinya besok kamu harus ikut mas"


Saras mengernyit di sela aktivitas mereka. "Kemana?"


"Aghhh,...",


"cari hotel!"


"Hmmmm....."


Kemanapun kamu mau mas Jo, Saras oke!


"Boleh"


.


.


.


.


.

__ADS_1


Like dan komen ya...


Suwun😁


__ADS_2