Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 92: Drama Piknik


__ADS_3

Saras bisa merasakan jika kini tubuhnya telah berada di gendongan seseorang. Berulang kali namanya di panggil-panggil, meski samar-samar Saras masih bisa mendengar.


"Saraswati, buka matamu! Saras!"


"Ya Tuhan, kamu tidak boleh menutup mata!" "Kamu masih dengar aku 'kan!"


Saras bersyukur, itu artinya suaminya sendiri yang menolongnya.


Paijo membopong tubuh Saras melewati orang-orang yang nampak kaget dengan kejadian pingsannya Saras di tepi kolam. Beruntung petugas tempat wisata itu dengan sigap memandu Paijo untuk membawa Saras ke ruangan khusus bagi pengunjung yang membutuhkan pertolongan pertama seperti Saras saat ini.


Mata Saras masih terpejam, tapi setiap sentuhan tangan suaminya dia bisa merasakan. Saras merasa seperti bayi besar yang sedang di gantikan baju oleh ibunya. Saras pasrah, yang terpenting saat ini memang mengganti pakaiannya yang basah.


"Sayang buka mata, kamu denger aku 'kan?"


Lalu bau fresh care tercium oleh hidung Saras. Paijo juga mengoleskan minyak hangat itu ke leher, telapak tangan dan telapak kaki. Tak peduli jika minyak pemberian dari mbak-mbak di luar tadi habis, Paijo bisa ganti dengan uang nanti, yang penting Saras bisa segera sadar.


"Mas...dingin....uhuk!"


"Alhamdulillah, dingin ya? Aku selimutin ya, ya Allah untung kamu udah sadar..."


Suara Paijo masih panik dan kalut, selimut tebal sudah membungkus tubuh Saras. Dan Paijo tidak ragu untuk memeluk tubuh istrinya agar Saras semakin hangat.


Lirih Saras berbicara lagi, "Mas, minum..."


"Tentu, sebentar ya, aku belikan minuman hangat dulu, aku turun dulu..."


Paijo baru sadar jika di luar cuaca sangat ekstrim. Hujan beserta angin kencang mulai menyapa tempat itu. Langit menghitam seakan mau runtuh. Beruntung ruangan yang di tempati Saras satu lantai dengan resto. Setelah mendapatkan tiga gelas teh hangat, Paijo kembali menemui Saras.


"Minumlah! di luar hujan lebat, kita istirahat di sini dulu aja sampai reda"


Saras mengangguk kecil dan menghabiskan gelas kedua yang berisi teh hangat.


"Ambil ini lagi, habiskan kalau kamu masih haus" Saras mengangguk lagi. Dan memegang gelas ketiga, kali ini Saras menggunakan gelas itu menghangatkan telapak tangannya.


"Jadi, kamu pingsan gara-gara haus?"


Saras rasanya ingin menghukum mulut Paijo. Enak saja haus, tidak tahu apa jika itu artinya tubuh Saras sedang tidak fit. Mentang habis dua gelas, Saras tentu butuh minuman itu untuk menghangatkan tubuh dan menormalkan kadar gulanya lagi. Dari pada menjelaskan seperti itu Saras lebih memilih merenggut saja.


Ternyata omelan Paijo tidak berhenti sampai situ. Masih ada kelanjutannya. Menyebalkan sekali batin Saras.


"Makanya kamu kalau di kasih tahu nurut, udah di bilang airnya dingin, masih kegirangan renang sana renang sini, disuruh makan getuk goreng dulu sebelum ciblon juga ga mau"


"Pasti gara-gara perut kamu juga belum di isi, kosong, jadi kaget gini"


Tidak mau makan getuk goreng bukan berarti perut Saras kosong, Paijo lupa apa kalau sebelumnya mereka sudah sarapan di rumah. Bukan karena itu, bisa jadi karena yang lain. Apa Saras harus mengatakannya sekarang?


"Untung saja aku langsung sigap nolong kamu."


"Sekarang kamu cerita gimana tadi kamu bisa pingsan, apa yang kamu rasain sebelum pingsan?"


"Habis dari sini kita ke dokter, kamu tahu rasanya tadi aku kayak mau mati! Lihat kamu tiba-tiba pingsan gitu..."


"Aku khawatir Saraswati!" Paijo mendesah kasar.


Oh ternyata, dia mengomel karena khawatir... aku kira karena aku merepotkan.


"Maaf Mas..."


Saras mulai terisak kecil, entah kenapa tiba-tiba dia jadi cengeng begini. "Hiks...hiks...."


Raut wajah Paijo langsung berubah bersalah. Apa tadi dia terlalu galak mengomeli Saras?


"Ehhh.... haduh maap sayang, jangan nangis!"


"Aku galak ya?"


Paijo merapatkan tubuhnya, kembali memeluk Saras. Tubuh istrinya sudah terlihat normal kembali setelah menghabiskan dua gelas teh. Padahal tadi saat pingsan nyaris mirip mayat, pucat kebiruan.


"Huaaaaaa.... Mas maaf, aku...hiks... hiks..."


"Aku... tiba-tiba pusing tadi...hiksss...kaki-ju-ga...kram... sakit...hiks..."


"Kayaknya...huaaaaa.... kayaknya....aku hamil Mas!"

__ADS_1


"Huaaaaaaaaaaaaaaaaa....hiks...hiks...."


"APA!!!!"


*****


Paijo bersedekap tangan, menatap Saras dengan tatapan yang mengintimidasi. Memastikan istrinya itu memakan semua makanan yang dia pesankan untuknya. Saras jadi ngeri. Saras kira setelah mengatakan kemungkinan dia hamil, Paijo akan berhenti mengomelinya. Ternyata ini lebih parah, suaminya itu malah terlihat marah dan jengkel.


"Ada anakku di dalam perut kamu, dan kamu tadi nyaris tenggelam!"


"Harusnya kita tidak kesini, jika kamu bilang dari awal!"


"Ya Tuhan, tadi bahkan kita ngebut, terus sempet ke jeglong lubang di jalan"


"Aku belum tentu hamil Mas, masih kayaknya..."


bela Saras.


"Habis makan nanti kita cari bidan terdekat, kamu harus segera periksa"


"Enak saja bilang kayaknya, kayaknya... udah tahu telat sebulan ga haid, kamu ini!"


"Aku udah bilang maaf berkali-kali Mas, kalau kamu masih ngomel terus, kayaknya aku bakal lebih kenyang karena omelan kamu dari pada makan makanan ini"


Paijo kicep. Sekalinya membalas omelan Paijo, kata-kata Saras sangat tajam dan menusuk. Paijo hanya tidak bisa mengaktualisasikan kebahagiaannya, dia senang jika Saras hamil tapi karena kejadian tadi sedikit banyak membuat jantungnya kepayahan. Takut kalau terjadi apa-apa.


Setelah selesai dengan mengisi perut, Paijo dan Saras keluar dari area wisata tersebut. Hujan juga sudah reda. Sungguh piknik yang penuh drama.


Selanjutnya Paijo melajukan motornya dengan penuh kehati-hatian. Jangan sampai ke jeglong atau jatuh ke lubang lagi. Bahkan kalau ada polisi tidur, Paijo rela menuntun motornya saja, misalkan. Jangan sampai ada gonjangan yang membahayakan calon bayinya apalagi gunjingan. Paijo tidak akan membiarkan itu.


Mata Paijo awas, menemukan puskesmas yang tidak jauh dari sana. Tidak mau menunggu sampai di kota kelahirannya, secepatnya dia ingin memeriksakan kondisi istrinya. Beruntung masih ada dokter yang masih di stay di sana. Padahal kata petugas di loket pendaftaran tadi, biasanya jam segini para dokter sudah tidak ada di ruangan alias sudah pulang.


Tidak perlu mengantri juga, karena puskesmas itu terlihat lenggang. Paijo dan Saras langsung di giring masuk menemui dokter perempuan bernama Sriyadah.


"Apa keluhannya Mbak?"


Saat Saras akan menjawab, Paijo mendahului.


"Jadi, kami ingin memastikan apa dia benar-benar hamil..."


Dokter itu tersenyum lalu bangkit dari duduknya. Mengambil sebuah cawan kecil dan bungkusan putih bercorak biru kecil, tespek.


"Oke, apa sekarang masih lemes? masih pusing mungkin?"


"Kita tensi dulu ya Mbak... habis itu Mbak bisa pipis ke kamar mandi, taruh pipisnya di cawan ini sedikit saja, ga perlu banyak kog"


"Paham ya, nanti saya bantu cek"


Sedetik kemudian Dokter Sriyadah merekatkan alat tensi di lengan Saras. "80/60, rendah ya Mbak, masih pusing?"


"Iya Bu... sedikit"


"Oke... ga apa, nanti di banyakin istirahat"


"Pipis dulu ya, saya tunggu..."


"Ayo, aku temani" Saras mendelik mendengar ucapan absurd suaminya. Malu sama Bu Dokter.


"Ah... maksudnya aku temani di luar pintu, takut kamu pingsan lagi" Bu Sriyadah tersenyum kecil.


Setelah keluar dari toilet dan berhasil menampung urinenya, Saras dibuat tersipu malu lagi oleh suaminya.


"Berikan, biar aku yang bawa!" Uluh-uluh, Mas Paijo rela membawakan pipis Saras. Siapa yang tidak melting coba.


Langsung dapat pujian dari Bu Dokter, "Wah, suaminya romantis sekali..."


Saras rasanya ingin cosplay jadi tanaman kaktus saja. Menggantikan tanaman janda bolong yang berada di sudut ruangan itu. Entah mengapa malah mengganggu mata Saras. Sebenarnya Saras tidak ada masalah dengan tumbuhan satu itu, cuma kurang cocok saja sama namanya. Janda bolong, entah siapa yang memberikan nama itu pertama kali. Kog terkesan mesumable sekali.


Kembali ke tespek. Hanya hitungan beberapa detik, dokter sudah bisa memastikan dua garis merah muncul di sana. "Wah, selamat Mas, istri anda positif hamil!"


"Garisnya jelas sekali, saya resepkan vitamin ya, nanti di tebus di apotek oke!"


Seketika tubuh Paijo bergetar, terharu. Ingin sekali memeluk istrinya langsung. Paijo bangga sekarang, kerja kerasnya, berkeringat tiap malam, menghasilkan calon bayi di rahim istrinya. Tapi untung saja masih sadar, ada Bu Dokter di hadapan mereka. Peluknya di tunda.

__ADS_1


******


"Kamu mau minta apa?"


"es krim? alpukat kocok? cilok? cimol? sebutkan!"


Saras mencibir, receh sekali apresiasi Paijo. "Kalau jajanan seperti itu ga usah aku hamil, aku juga biasa beli Mas"


Paijo nyengir, "Bercanda sayang, habisnya wajah kamu dari tadi sepaneng terus"


"Kamu kenapa? kamu ga seneng?"


Saras menghentikan langkahnya. Mereka sedang menuju parkiran motor setelah menebus obat tadi. "Seneng Mas, tapi..."


"Tapi kenapa?"


Paijo heran kenapa harus ada tapi, apa Saras tidak bisa merasakan betapa bahagianya dia akan menjadi seorang ayah. Kenapa dia yang akan jadi ibu, seperti biasa-biasa saja.


"Mas, kita nikah siri, bagaimana nantinya kedepannya, bahkan buku nikah saja kita tidak punya, seorang anak butuh akta kelahiran, kartu keluarga, belum lagi nanti jika dia mau masuk sekolah, aku kepikiran itu Mas"


Paijo menyentil kening istrinya sampai Saras mengaduh kesakitan. "Bodoh!"


"Jadi hanya karena itu kamu tidak senang sudah hamil?"


"Kamu khawatir anak kita tidak punya identitas? tidak dapat pengakuan dari negara?"


"Sampai kamu tidak mau memeriksakan diri sejak awal?"


"Kamu lupa punya ayah mertua kepala desa?"


"Urusan administratif seperti itu serahkan saja sama Bapak" Saras melongo, untung saja pintu keluar sepi. Tidak ada yang tertarik menguping pembicaraan mereka.


"Satu hal yang penting yang harus kamu tahu, dia anakku! kamu harus bahagia mengandungnya, oke?!"


"Dasar Saraswati!"


"Aku bilang aku senang hamil, tapi cuma khawatir, itu saja. Belum apa-apa kamu udah nyakitin aku!"


"Tahu istrinya hamil bukan di sayang-sayang, malah di omelin teros..." Saras menghentakkan kaki lalu berjalan cepat meninggalkan Paijo.


"Hehhh... Saraswati... jalan pelan saja!" Paijo menyusul istrinya, gemas dia langsung membopong tubuh Saras tanpa aba-aba.


"Astaga Mas! turunin! kamu apa-apa sih!"


"Ga bakal aku turunin! Kamu ga kasihan, jalan cepat gitu, nanti anakku pusing di dalam..."


"Enggak bakal pusing, yang ada ibunya yang pusing karena ayahnya ngomel melulu!"


"Turunin Mas, malu di lihat tukang parkir tuh!"


Alih-alih menurunkan tubuh Saras, Paijo malah berputar-putar sambil tertawa. Sudah mirip film India.


"I love you, calon mama..."


Manisnya Mas Paijo ....


.


.


.


.


..


.


.


Like dan komen di kentengin, biar aku juga rajin updatenya, wkwkkwkw....


suwun ya😘

__ADS_1


__ADS_2