
Malam itu Vino dan Nurul pun berjalan-jalan santai mengelilingi koridor rumah sakit
Vino mengorek lebih dalam tentang apa yang disukai Nurul dan apa saja yang dibenci oleh Nurul.
"tipe idaman lelaki kamu kayak apa sih Ran?"
tanya Vino pada Nurul.
Nurul menatap sedikit kesal kepada Vino karena dari tadi pembicaraan Vino berputar di situ saja tentang pacaran.
"Bapak kenapa sih nanya nya itu mulu? udah berapa kali Nur bilang Nur ini masih kecil belum mau pacaran Pak"
"yaa..kan saya tanya aja saya nggak nyuruh kamu pacaran kok" jawab Vino tersenyum kecut.
"kira-kira nih kalau kamu udah berumur,udah dewasa lah pokoknya mau cari laki-laki yang seperti apa?"
"seperti apa ya...
mungkin yang seperti Mas Dimas"
sahut Nurul sambil memutar bola mata nya.
"yang tua?" sahut Vino percaya diri.
Nurul tersenyum tipis melihat respon nya Vino.
"bukan tuanya, maksudnya tuh kan Mas Dimas penyayang baik sayang sama keluarga sayang kak Fani"
"ya walaupun beberapa kali Bikin kak Fani salah paham, tapi Mas Dimas itu baik.
dari dulu dia tuh baik banget sama keluarga Nurul"
sosok Dimas memanglah lekat di hati Fani sebagai pria yang baik. tak heran jika dulu mereka menganggap Dimas seperti ayah mereka.
"jadi tipe idealnya yang seperti Dimas kalau dari gen sih seharusnya aku dan Dimas nggak beda jauh lah.. cuma ya ku akui sifat kami agak berbeda" pikir Vino sambil angguk kepala.
"kalau bapak kenapa belum nikah?
pasti tipe cewek ideal nya yang aneh-aneh kan? yang cantik yang seksi yang putih yang baik ya kan?" ternyata selama ini Nurul memperhatikan gelagat Vino.
"ya wajar dong, kalau saya mau wanita yang baik untuk dijadikan pendamping hidup saya.
nggak mungkin saya memilih wanita sembarangan untuk dijadikan Ibu dari anak-anak saya" sahut Vino membela diri.
"tapi jodoh itu kan cerminan diri Pak Kalau kitanya baik ya mudah-mudahan jodohnya.
baik tapi kalau kitanya nggak baik ya jangan berharap lebih deh dapat jodoh yang baik juga"
lagi,lagi,dan lagi Nurul membuat Vino terkena mental tujuh turunan.
"bagaimana bisa anak sekecil dia membicarakan hal itu?" batin Vino sedikit kesal dan minder karena memang benar diri nya bukan orang baik.
"terus menurut kamu saya nggak baik gitu?"
Vino bertanya kepada Nurul tentang sifat nya.
"sejauh ini sih enggak,
hahaha......"
"nggak baiknya saya di mana coba?"
Vino semakin panas dingin melihat Nurul menertawakan nya.
"ya banyak Pak.."
lagi lagi Nurul mengatakan dengan enteng tanpa beban.
"coba kamu jelasin nggak baiknya saya di mana?"
"nggak baiknya bapak itu bapak selalu ngeliat perempuan dengan tatapan kaya gitu.
seperti apa ya Nurul pernah lihat di film-film tepat nya laki laki nakal gitu loh pak"
Nurul mempraktekkan sorot mata Fino yang terlihat aneh itu.
"masa iya"
__ADS_1
batin Vino.
ia bertanya-tanya dalam hatinya, jadi itukah yang membuat Nurul selama ini tidak begitu peka dengan segala macam usaha nya.
"loh..dek kok belum tidur?"
tanya Bian yang baru keluar dari ruangan pasien.
"belum ngantuk pak"
jawab Nurul dengan wajah berbinar.
"tidur gih..nggak baik lo tidur malam-malam ntar darah rendah" ntah karena dia dokter,Nurul merasa Bian ini sangat perhatian.
"hehehe iya, pak" Nurul tampak sangat ceria menanggapi Bian.
"hehehe iya pak๐" gumam Vino menirukan jawaban Nurul dengan bibir di miring-miring kan.
Bian: "gimana Kakak kamu nggak ada keluhan kan?"
"nggak ada Pak aman"
Nurul tersenyum lembut kearah Bian,tatapannya beda saat sedang bersama Vino.
tatapannya kepada Bian seperti tatapan seseorang yang sangat menghormati orang yang lebih tua sedangkan tatapannya ke Vino seperti seorang teman yang sebaya jadi dia bisa menatapnya tanpa segan.
Bian pun berpamitan untuk mengecek pasien lainnya.tak lupa Dia memberikan lambaian tangan kepada Nurul. ya tampaknya karena obrolan mereka sangat asyik kemarin mereka jadi lebih akrab.
"hiishh...turunin tangan kamu"
Vino menarik turun tangan Nurul.
"Kalau dia manggil kamu Adik jangan di sahutin."
ucap Vino,ia tampak sewot sekali setiap mendengar Bian memanggil Nurul adik.
"kenapa Pak?
Kak, Fani dan kak Dika, juga manggil aku adik kok"
"Bapak juga bukan siapa-siapa Nurul, tapi Nur nggak keberatan dipanggil Ran beda dari yang lain" ya memang tidak ada yang memanggil nya begiti selain Vino,teman teman di sekolahnya pun tidak semua memanggil nama lahir nya yaitu Kirana.
Dan sekali lagi Nurul membuat Vino terjungkal dengan jawaban SAVAGE nya.
hendak membantah pun Vino tak bisa,dia hanya bisa menghela nafas sambil tersenyum pahit.
...~~~~...
Pagi harinya
Nurul terbangun dibawah ranjang tidur Fani.
ya itulah kelebihannya atau bisa disebut kekurangan karena kalau tidur nya terasa nyaman Nurul akan melancong jauh dari titik awal.
Tiba tiba Dimas muncul hingga membuat orang di sana terkejut terheran heran.
"sayang kenapa kok kamu dirawat lagi?
apa separah itu?"
"lahh?!! kok Mas udah di sini.. ?"
Fani tak percaya dengan kehadiran Dimas.
"mas Nggak bisa tenang dengar kabar kamu dirawat sayang" Dimas terus saja mengelus lembut kening Fani.
"terus yang urus kerjaan Mas di sana siapa?"
tanya Fani.
"papa yang mengurus,dia juga yang menyuruh Mas cepetan pulang karena dia khawatir sama kamu dan cucunya"
"ya ampun kasihan dong papa ngurus sendiri padahal Fani nggak apa-apa loh"
"Selamat pagi Ibu Fani saya periksa dulu perkembangan nya ya"
ujar Bian. suster mengganti infusnya dan Bian memeriksa kondisi rahim Fani.
__ADS_1
"Kok dokternya ganti? bukannya dokter Okta?"
Dimas bingung karena dokter yang menangani Fani berbeda.
"karena kemarin dokter Okta ada pasien darurat,jadi ibu Fani di percayakan dengan saya. Bapak suaminya ibu Fani ya?" ujar Bian dengan sangat ramah.
"kenapa malah tambah bening dokternya?
sumpah nggak rela aku istriku dipegang-pegang sama laki-laki bening begini,kenapa sih dokter S.pog di kota ini laki laki semua"
batin Dimas menangis melihat dokter yang sangat tampan rupawan itu.
"nggak bisa dipindahin ke dokter Okta lagi?"
Dimas menawar agar Fani dipindahkan lagi.
"saya sudah membicarakan ini kemarin bersama dokter Okta. dan dia mempercayakan Ibu Fani kepada saya. Karena dia juga akan repot hari ini dengan jadwal operasinya Pak" terang Bian panjang lebar.
"nggak papa lah Mas,lagian dokter Bian juga bagus kok dia juga teliti banget meriksa Fani"
Dalam hati Dimas
"teliti sih teliti,tapi bening banget gini ntar yang ada kamu malah kecantol lagi"
"suster tolong periksa lebih detailnya ya,dan Bapak Dimas bisa ikut saya sebentar ada yang ingin saya sampaikan"
Bian menuntun Dimas ke ruangannya untuk menjelaskan kondisi Fani Lebih Detail.
...-...
...-...
"jadi begini Pak Dimas.
bahaya air ketuban keruh bagi janin yang tercampur dengan mekonium adalah sindrom aspirasi mekonium. Pada kondisi tersebut, mekonium bisa saja tertelan oleh janin dan dapat menyebabkan aspirasi atau tersedak.
Mekonium yang masuk ke saluran pernapasan bisa menyebabkan sumbatan sehingga terjadi masalah pernapasan, infeksi, hingga kematian pada bayi.
Saya memang akan berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk pasian saya.
Tapi saya juga tidak bisa berjanji sebab kondisi ini sangat berbahaya. apabila dipertahankan akan ada kemungkinan mengancam nyawa janin dan juga ibu nya.
Sebenarnya saya juga berat menyampaikan ini kepada bapak,saya mengerti betul Bapak mengharapkan anak-anak Bapak lahir dengan selamat.
Saya akan terus berusaha, kalau sampai minggu depan kondisi rahim ibu Fani tidak membaik,maka saya sarankan kita mengaborsi anak bapak.
karena kalau dibiarkan bisa-bisa nyawa Ibu Fani terancam juga."
tutur Bian panjang lebar Ia juga menunjukkan hasil pemeriksaan CT-scan dan juga hasil USG nya kepada Dimas.
Kaki dan tangan Dimas langsung bergetar mendengar itu,bagaimana tidak.
ia tidak menyangka kondisi istrinya separah ini
"Apa tidak ada jalan lain dokter?"
mata Dimas langsung berkaca-kaca saat membayangkan hal buruk yang akan terjadi pada anak anak dan istri nya.
"masih ada harapan Pak ini hanya kemungkinan,tapi walaupun kecil saya tidak memberitahukan Ibu Fani dulu karena masih ada harapan untuk mengatasi ini,jika memberitahukannya langsung saya takut Ibu Fani malah kepikiran Dan makin memperburuk keadaan nya.
maka dari itu saya memberitahukan bapak, dan saya meminta bapak untuk tidak membicarakan ini dulu kepada bu Fani."
Jantung Dimas serasa berhenti sesaat.
"bagaimana jika dalam seminggu tidak ada perubahan? apakah kita tidak bisa meneruskan melahirkan anak kami?"
"bisa saja Pak,tapi karena kondisi ini,saat persalinan nanti si Ibu bisa terancam.
kita juga tidak bisa memastikan anak bapak lahir dengan selamat jadi untuk mengantisipasi itu saya memberitahukan seumpama nanti dalam seminggu tidak ada perubahan saya sarankan kita mengaborsi janin anak bapak"
itu lah jalan terbaik agar Fani tidak dalam bahaya,kalau mempertahankam rahim nya belum tentu kedua janin yang sedang di kandung Fani bisa selamat. jika sampai minggu depan kondisi Fani membaik,dan janin tidak terinfeksi maka bisa melanjutkan kehamilan nya,tapi jika janin nya terinfeksi maka kecil kemungkinan untuk mempertahankan nya.
Dimas benar benar seperti kehilangan nyawa nya saat mendengar kabar buruk itu.
walaupun Bian mengatakan masih ada harapan,tapi tetap lebih besar kemungkinan buruk nya.
...********...
__ADS_1