
Bunga itu bertebaran di antara mereka,di satu sisi Nurul dengan gaun pastel nya,di sisi kanan Vino dengan wajah masa bodo nya karena tak percaya mitos itu dan tetap cuek sambil tetap mengantri ke meja makanan selanjut nya.
di sisi kiri orang yang tak asing bagi Nurul yang tak lain adalah dokter Bian yang juga hadir sebagai tamu undangan. ntah lewat jalur mana dia mengenal keluarga Riko.
Melihat buket itu berserak,Bian pun berinisiatif memungut nya lalu memberikan pada Nurul.
"bunga cantik untuk orang cantik.."
ujar nya menyodorkan bunga itu untuk Nurul.
"ohh! pak..pak dokter??"
Nurul baru menyadari bahwa dia adalah orang yang mengantarnya malam itu.
Di sisi lain otak Vino pun baru konek kalau lelaki itu adalah Bian dan orang yang di sebelah nya adalah Nurul.tiba tiba ia teringat tentang mitos buket pengantin tadi.
"berikan pada ku.."
Vino mengambil paksa buket itu dari tangan Bian.
"maaf,tapi saya yang memungut tadi jadi ini punya saya" sahut Bian tersenyum ramah,ia menarik lagi bunga itu dari tangan Vino lalu memberikan pada Nurul.
"tapi jatuh nya kan ke arah saya tadi.."
belum sempat Nurul menerima Vino menarik bunga itu lagi,ia pun memberikan nya pada Nurul.
"hhhffffff......" Nurul menghela nafas.
ia memerima buket itu,tapi bukan nya mengambil nya ia malah membagi dua buket itu lalu memberikan nya kepada Vino dan Bian.
"nah.. impaskan masing masing dapet..
selamat yaa.." ia tersenyum lebar lalu pergi meninggalkan dua lelaki itu.
Sepergi nya Nurul,Vino dan Bian saling bertatapan,yang satu tatapan berbinar yang satunya tatapan mencekam.
"cieeee....." ledek beberapa orang di sana karena mereka berdua memegang bunga pengantin.
"heh!! saya masih normal!"
tukas Vino tak terima.
Sedangkan Bian hanya tersenyum lalu pergi dari sana, pandangan nya mengedar ke segala penjuru ruangan mencari Nurul,namun karena ramai nya orang ia pun kehilangan jejak.
"yahh.. padahal aku ingin mengembalikan ini.." ia memasukkan kembali gelang Nurul yang kemarin terlepas saat tangan nya di tarik tarik pemuda berandalan itu.
Nurul kembali ke meja keluarga nya dengan wajah bingung.
"kaya nya ada yang ganjel tapi apa ya..
ssshhh.. masa bodo lah.."
gumam nya,ya dia lupa mengucapkan terimakasih pada Bian untuk malam itu.
...-...
...-...
"Ayo kita salami mereka terus pulang.." Rianti berdiri di ikuti yang lain nya.
"iya yuk, semakin ramai orang nya biar gantian tempat sama mereka yang baru datang"
ucap Dimas menyetujui,karena memang tamu dari kedua belah pihak tak main main banyak nya.
bagaimana tidak,orang tua mereka semua adalah orang terhormat. seluruh karyawan di kantor Dimas saja sudah hampir memenuhi gedung tersebut.
Di depan mereka para antek antek Mila sudah siap siaga memberikam selamat.
"cie..cie... yang dulu ngatain amit amit...
__ADS_1
selamat ya Bu.."
"inget jangan berantem.."
"tapi kalau berantem nya di atas kasur sih kita dukung.."
ledek mereka setengah berbisik kepada Mila.
"hehehe.. pikirkan saja proposal AX3.
kalau sampai saya selesai cuti belum rampung juga,awas kalian ya"
Mila sengaja melarikan topik agar mereka diam.
"siapp bos.. udah jangan dipikirin biar kita aja yang handle.."
"ibu selesaikan aja proyek malam ini sama Pak Riko" ledek mereka lagi sambil terkekeh.
"hishhh... awas kalian ya.."
Mila tambah kesal dengan ledekan mereka.
Dimas dan keluarga Besar nya pun naik dan menyalami mereka.
Adit: "selamat ya.."
(terimakasih Pak.."
Fani: "selamat Bu Mila.."
"iyaa,makasih ya bumil"
"selamat bro.. masih ingetkan ajaran ku"
Dimas mengkode Riko dengan alis nya.
"awas kalau ku coba nggak berhasil.."
"ehh.. itu pak dokter" Nurul tiba tiba melihat Bian di kejauhan menuju pintu keluar.
"hei.. maju lah,saya juga mau menyalami mereka"
Vino menyadarkan Nurul dari lamunan nya.
"eh..iya Pak.."
Nurul pun maju dan menyalami kedua mempelai.
di situ mata Vino baru menyadari kalau Nurul tidak memakai gelang couple mereka.
Setelah turun dari altar, Vino pun bertanya.
"gelang kamu kemana?"
"gelang??" Nurul mengernyitkan alis nya lalu memeriksa lengan nya.
"eh iya.. kemana ya??"
ia mencoba mengingat kemana gelang itu, perasaan Nurul tak pernah melepaskan nya.
...-...
...-...
Di sisi lain Bian yang sudah di dalam mobil terus memandangi gelang nya Nurul.
"kaya pernah lihat tapi di mana ya.."
ia mencoba mengingat dimana pernah melihat gelang itu.
__ADS_1
"pakai aja deh,dari pada aku lupa nyimpen. ntar kalau jumpa lagi baru kembalikan"
Pria berusia 27 tahun itu tersenyum saat mengingat wajah menggemaskan nya Nurul.
sebenar nya bisa saja dia menanyakan pada Duma tentang Nurul,tapi seperti nya tak sopan jika harus menanyakan hal yang tidak penting pada senior nya.
...~~~~...
"iya.. minta semua data dan berkas kasus nya,
dan hubungi pengacara yang pernah menangani kasus itu. ini bisa kita gunakan untuk menjatuhi Sean hukuman berat." Dimas berbicara kepada seseorang di dalam telepon nya.
beberapa menit kemudian Fani masuk ke mobil setelah berpamitan pada adik adik dan kedua mertua nya.
"ayo Mas.."
"les go baby..." Dimas mengeluarkan nada sensual hingga membuat Fani tertawa.
...-...
...-...
Karena Rianti dan Adit hendak mampir dulu ke mall membelikan perlengkapan sekolah Ayu.
Nurul dan Dika nebeng di mobil Vino agar bisa langsung pulang.
"dek.. Arka titip salam kemarin.."
ujar Dika,mereka berdua duduk di belakang sementara Vino menyetir.
"titip kok salam, jajan kek"
sahut Nurul bercanda.
"kakak rasa ya,dia suka sama kamu,soal nya setiap ketemu pasti nanyain kamu terus"
"yeee.. apaan sih kak.
Sumianto tu nyariin kakak hahahhaa.."
Sumianto adalah perempuan yang terkena gangguan jiwa di lingkungan lama mereka,Dika dan teman teman nya dulu sering di kejar kejar kadang sampai kencing di celana.
"aahhh.. itu mah saudara kamu"
balas Dika.
"iya saudara ipar Hahahah😆"
Nurul semakin cekikikan,meledek sang kakak merupakan kebahagiaan tersendiri bagi nya.
"tapi beneran loh dek,Arka minta nomor telepon kamu kemarin"
"Khmmm!! khhmm..." Vino merasakan sesuatu mengganjal di tenggorokan nya.
"hah.. Nur nggak mau ya pacar pacaran,masih bau kencur kak"
"iya bener itu" celetuk Vino.
"iya kan Pak.." Nurul setuju dengan Vino.
"lah emang kakak bilang pacaran? kan cuma jadi temen gak apa apa.
dia itu baik banget dek,pinter lagi.
kata ibuk kan kita harus temenan sama orang baik biar ketularan baik nya,jangan temenan sama orang nggak bener kalau nggak mau ikutan eror.
ya kan Pak" Dika dan Nurul benar benar memperlakukan Vino seperti bapak nya saat itu sambil tertawa kecil. ia ingat betul pesan sang ibu yang sampai sekarang di jadikan patokan memilih teman.
Jlebbb🔪🔪
__ADS_1
"iya.. iya bener itu" sahut Vino gugup,di singgung secara langsung memang lah epic pikir Vino. mendengar itu merasa tertampar, tertonjok sampe ke pembuluh darah nya.
...*********...