
Bian dan mama nya sedang sarapan bersama,
mereka hanya tinggal berlima di rumah besar itu bersama 2 art dan seorang supir.
"mama sudah mengatur janji nya, besok sore jam setengah lima. kamu free kan?"
ujar mama nya membuka percakapan.
"hmm.." sahut Bian singkat. ia sudah terlanjur memberitahu mama nya kalau besok hari libur nya. ia pun memutar otak untuk mencari alasan agar tidak datang ke pertemuan itu.
"kalau bisa jangan terlalu lama lagi nak..
kamu itu sudah sangat dewasa, lagi pula kamu udah berjanji sama Viona akan melamar nya tahun ini" tutur sang mama sambil menyantap roti panggang nya.
"hhff... iya iya maa... tenang saja, Bas nggak lupa kok" senyum datar di sigarkan Bian agar sang mama tidak banyak bertanya lagi.
Viona adalah sahabat kecil Bian, keluarga mereka memang dekat sedari dulu. Viona juga seorang dokter di kota lain, orang tua mereka sudah sepakat sejak tahun lalu bahwa mereka akan menjodohlan Bian dan Viona. demi menuruti mama nya tersayang, Bian setuju saja.
lagi pula ia tak pernah jatuh cinta pada wanita manapun, jadi lebih baik kan jika dia menikahi Viona yang merupakan sahabat nya.
namun itu dulu sebelum Nurul hadir di hidup nya, kini Bian malah bimbang dan bingung karena getaran cinta di hati nya malah tertuju kepada Nurul.
...~~~~...
Kita balik dulu ke malam minggu kemarin, setelah hujan sedikit reda, Riko membawa Mila ke rumah sakit.
"bagaimana dokter? apa istri saya hamil?"
tanya Riko.
"belum kelihatan pak.." ujar dokter yang melakukan pemeriksaan USG.
ya karena terhitung Mila pun belum telat datang bulan, jadi belum bisa di ketahui.
"tapi coba nanti kalau sudah lewat tanggal datang bulan kesini lagi kita USG, siapa tau memang hamil tapi belum kelihatan. soal nya asam lambung aman, alergi makanan juga tidak ada"
terang sang dokter.
"baik pak, tapi keadaan istri saya tidak kenapa kenapa kan pak?"
"tidak apa apa pak.."
"syukurlah..." sahut Mila.
"oh iya satu lagi, karena kemungkinan sedang hamil, kalau berhubungan nanti pelan pelan dulu ya pak, dan kalau bisa keluarin di luar soal nya sp*rma bisa memicu kontraksi dan bisa bahaya untuk janin yang masih sangat muda"
"tu dengerin.. kamu kalau main ganas.."
ucap Mila.
"eh.. jangan bilang di sini dong.." bisik Riko, ia merasa malu tapi juga senang karena pertama kali nya Mila memanggil dengan sebutan kamu.
si Dokter hanya senyum senyum tipis melihat interaksi Riko dan Mila.
...~~~~...
Vino bangun dengan wajah pucat dan sedikit menggigil, tampak nya aligator rawa rawa itu sedang turun imun waktu kehujanan kemarin maka nya demam. ia menuruni tangga perlahan seperti kakek kakek karena seluruh tubuh nya menggigil.
Saat tinggal 3 anak tangga lagi menuju lantai, Fani yang hendak naik malah kepeleset, reflek lah Vino menahan tubuh Fani agar tak jatuh. tapi karena lemas, bukan nya berhasil mereka berdua malah jatuh dengan posisi Fani menduduki perut nya. bayangin aja tuh si Vino kegencet makbun dengan perut besar nya.
"heeekkk!!!" Vino menggerang seperti sedang ketiban gajah.
__ADS_1
"aduh Vin.. maaf, makasih.. maaf aduh..."
Fani kebingungan melihat Vino sesak nafas begitu.
"hiya iya.." sahut Vino sambil ngeden.
"loh.. kenapa sayang?"
tanya Dimas yang juga baru bangun.
"kenapa Vin? Fan?" Rianti juga berlari dari dapur mendengar suara Vino.
"ini Mas,, ma.. Vino nolongin Fani malah ketiban Fani tadi"
"hahahhaa... aduh.. ya udah bantu berdiri buruan" ucap Rianti pada Dimas sambil tertawa geli.
"huuuhhh....
lemah banget sih coy" ledek Dimas. ia menarik lengan Vino dan memapah nya.
"ehh.. kau demam?" Dimas merasakan suhu tubuh Vino yang panas tinggi.
"banyak omong ya.. buruan anter aku ke meja makan, laper ni.." cetus Vino sambil meringis.
"tu lengan mu kenapa?" Dimas gagal fokus pada bekas gigitan di lengan Vino yang sedikit membiru.
"di cip*k kupu kupu" ujarnya masih sempat tertawa smirk.
"hah? emang kupu kupu ada gigi nya?" timpal Fani terheran.
"kupu kupu peliharaan Vino beda sayang..
"udah udah.. yuk sarapan dulu.." ajak Rianti.
"Ran mana?" tanya Vino.
"dia pergi ke sama temen temen nya tadi pagi pagi banget karena mau cari bahan buat tugas sekolah" sahut Fani.
"ohh.."
imun di tubuh Vino semakin berkurang karena pagi ini belum melihat sumber vitamin nya.
...~~~~...
Sore hari....
Di bandara internasional, Zey sedang menunggu pesawat nya. seharus nya ia sudah pergi, tapi karena malam itu ia mabuk jadi nya kesiangan dan ketinggalan jadwal penerbangan.
"dua milyar.. di tambah.. di tambah..
astaga, aaahhhh uang ku cukup banyak..
harus kah aku membeli mobil merk terbaru saat tiba di sana? atau rumah? aaahhh aku tidak sabar berbelanja dengan bebas di sana.."
Zey jingkrak jingkrak kegirangan saat membayangkan kebebasan nya saat di luar Negeri nanti.
Namun seketika senyum nya pudar saat melihat semua orang di sana sedang berpamitan dengan keluarga nya masing masing, ada yang menangis, ada yang berpelukan, ada pula yang saling mencium sebagai ucapan selamat jalan.
"aku benar benar sendiri sampai akhir.." ucap nya lirih dengan mata berkaca kaca.
ia memandangi sekeliling dengan senyum terharu.
__ADS_1
"hhhfff... baik lah, aku akan berpamitan dalam hati pada negara ini.." ucap nya menghibur diri.
lalu ia mengambil koper nya dan berjalan menuju ruang keberangkatan.
Braakkk!!!
baru saja melangkah beberapa detik, seorang pria menabrak nya hingga tas ransel yang di tenteng nya jatuh, tas itu berisi pasport dan surat surat penting lain nya.
"maaf, maaf.." ucap pria itu terburu buru.
tas nya juga terjatuh, namun karena bentuk nya hampir sama pria itu malah mengambil tas nya Zey lalu pergi begitu saja.
Zey juga tak menyadari nya, ia mengambil tas yang tertukar itu lalu melanjutkan kembali langkah nya.
...---...
Saat tiba di ruang pemeriksaan, Zey kelabakan ketika mengetahui tas itu bukan milik nya.
"astagaaa!!!!" rutuk nya kesal, kenapa kesialan terus saja terjadi saat situasi terjepit seperti ini.
"siapa pria tadi? aku bahkan tidak melihat wajah nya? bahkan di sini tidak ada nomor atau alamat nya aaaaaakkkkk!!!! sial! sial! sial!" pekik nya sambil merengek.
"cctv!!" ia langsung bangkit dan menghampiri salah satu staff.
Zey menanyakan apakah bisa memeriksa rekaman cctv, staff bandara itu menjawab bisa. namun akan membutuhkan waktu agak lama sementara penerbangan tinggal 15 menit lagi.
Zey tak keberatan jika harus terlambat kali ini, yang penting uang ber em em nya aman sentosa.
masalah penerbangan bisa lah di tunda besok lagi, yang penting duit number one.
...~~~~...
Matahari sudah hampir terbenam kala itu, dan Nurul baru pulang dari kegiatan nya bersama teman teman yang lain.
ia masuk kerumah lalu melepaskan sepatu nya dan mengganti dengan sendal jepit berbulu nya.
"dari mana saja kamu?!" ucap Vino tiba tiba.
"astaga..! kaget tau pak!"
"dari mana?!" nada Vino mulai ketus.
"apaan sih pak! mama aja nggak heboh nanya nanya" sahut Nurul jutek.
"saya kan bukan mama, saya bertanya sama kamu jadi kami harus jawab.." ucap Vino lebih dekat lagi dengan wajah Nurul.
"hishh.. bapak nggak gosok gigi ya?
bau banget rrrggh..!" Nurul pergi sambil bergidik.
"apa??" Vino membelalakkan mata nya.
"HAHH.. HAHHH.. HWAHH!
oh iya.. bau banget aishh!!!" beehh malu nya sampe ke ujung daki bun.
Saat menuju kamar nya, Nurul mendengar suara debat dari kamar Fani, ia pun memperlambat langkah nya dan berusaha mendengar apa yang di ributkan mereka sampai Fani terisak isak.
...*******...
Jangan lupa like, komen dan hadiah nya ya beb๐ biar semangat gitu otor nya.. yaaa๐๐๐๐โบ๏ธ
__ADS_1