Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
S2 episode 15: Piknik bersama


__ADS_3

Pagi hari...


"bina.. bunda..." panggil trio bucil sambil menggoyang goyang kaki Nurul.


"ayo bunda.. mandi.."


"bina...ayo kata nya mau piknik.."


"hhhhoooahhhhhmmmm......"


Nurul menggeliat dan menguap lebar.


"ya ampun kalian... masih pagi loh.."


ucap Nurul, ia terduduk masih setengah terpejam.


...~~~~...


Tiga mobil mewah dan gagah sampai


di pinggiran bukit yang menjadi tujuan mereka.


mobil pertama. berisi Dimas, Fani dan si kembar


mobil kedua, Vino dan tentu saja Nurul yang


tak boleh jauh dari El.


mobil ketiga, Duma, Rianti dan Ayu yang di kemudikan oleh Dika.


Kali ini bukannya trio bocil yang jingkrak


jingkrak. tapi malah Dimas dan Vino yang berlari


melihat pemandangan gunung yang amat jelas


di sertai air terjun. kemarin di sana lumayan berkabut jadi gunung dan pemandangan lainnya tidak terlalu jelas. beruntung hari ini cerah jadi


mereka bisa melihat semua nya.


"WWWWUUUHHHHH!!!!


segar sekali pemandangan nya.."


Dimas sangat takjub.


"Dimas.. lihat.. air terjun nya memancarkan warna pelangi.." sahut Vino.


"waoww... gila..


hampir 40 tahun aku hidup kok baru ini


ke tempat sebagus ini.."


ujar Dimas berdecak kagum.


mereka berdua malah keliling melihat sekitaran sungai berbatu yang ada di sana tanpa


menghiraukan anak dan istri nya.


"waduh.. itu bapak bapak dua lupa umur


kaya nya." ucap Fani geleng kepala.


"hai semua.. hai dek.."


sapa Bian yang baru saja datang.


"Bian..??"


"abang? kata nya mau istirahat..?"


Nurul terkejut, dia memang pamit semalam


kalau mau piknik keluarga. tapi siapa yang sangka kalau Bian akan datang.


"waduh Bian.. kamu habis tugas malam ya,?


duduk sini sini.. minum kopi dulu."


Rianti langsung menggandeng calon


menantunya itu duduk.


Mata sembab dan menghitam menjelaskan kepada semua orang kalau Bian belum tidur


sama sekali.


"wahh.. adik ipar idaman datang.."


ujar Dimas, ia langsung berlari menghampiri


Bian.


"chh..! jadi suram pemandangan nya."


rutuk Vino lalu menyusul ke sana juga.


"bunda.. bisa benerin ini?" El menunjukkan


mainan parasut nya yang tersangkut di dahan pohon tadi.


"ee.." Nurul bingung karena tak pernah melihat mainan itu.


"sini om bisa.."


Bian tersenyum lalu memperbaiki mainan El.


"Ran.. minum saya tadi mana?"


"bentar pak..,


abang mau jus?"


"iya sayang.." sahut Bian juga menekan kalimatnya untuk menyaingi panggilan


spesial Vino.


Vino duduk di samping Bian, ia mengambil


mainan anak nya yang tak bisa di betulkan.


"begini cara nya.." ketus Vino dengan tatapan menusuk.


"chh. wajar jika aku tak tau, karena aku belum punya anak." Bian membalas sinis tatapan Vino.


"nah.." Nurul memberikan sebotol

__ADS_1


jus untuk Vino.


"ini bang.." untuk Bian, ia tersenyum lembut.


"terimakasih Ran.." ucap Vino.


"terimakasih sayang.." Bian pun tak mau kalah.


"kau pikir panggilan Ran itu spesial?"


bisik Bian sewot.


"kenapa? memang apa spesial nya panggilan sayang?" sahut Vino dengan wajah smirk.


"sangat spesial.. karena hanya aku yang berhak memanggil nya begitu."


"sayang..." Bian memanggil Nurul untuk


memberikan bukti, bahwa dengan panggilan itu bisa membuat Nurul berbunga bunga.


benar saja, senyum manis langsung di berikan Nurul pada Bian.


"chh..


Bunda..." panggil Vino manja ala El.


lalu ia melirik ke arah Bian seakan mengatakan


bahwa tak ada yang lebih spesial dari panggilan itu.


Tentu saja Bian meradang, kalau El yang memanggil, masih bisa di maafkan.


lah kalau bapak nya yang manggil, sudah pasti ada udang di balik wajan kan?


"ishh!!


orang tua itu! " Nurul melotot ke arah Vino mengisyaratkan untuk tak memanggil nya bunda di depan orang orang terutama Bian.


"bunda.. di panggil ayah tu."


El mengingatkan karena Nurul tak menyahut.


Nurul hanya tersenyum kecut ke arah El.


"apa lagi pak?" sahut Nurul sewot.


"nge-tes aja.. ternyata kalau saya yang


manggil bunda kamu nyahut juga."


"nggak bakal Nur sahutin lagi!"


ketus nya kesal, kirain ada apa eh ternyata


cuma main main.


"bunda..." panggil Vino lagi dengan jahil nya.


Namun Nurul malah reflek menoleh lagi.


Vino tersenyum puas sambil mengedipkan sebelah mata nya.


"hissshhh!!!"


Nurul semakin kesal bahkan pada diri nya


"hei.. jaga sikap mu!


berani berani nya kau menggoda dia di depan ku!"


rutuk Bian pada Vino.


Vino hanya tertawa, ya memang bisa di bilang


ia sedikit tak tau diri.


"mm.. lalu aku harus menggoda nya di belakang mu begitu?"


Bian mengambil botol jus yang di berikan Nurul tadi dari Vino, saking cemburu nya bahkan


ia tak rela kalau Vino memegang botol


yang ada jejak tangan Nurul.


"ku sumpahin kau jadi duda seumur hidup


kalau menggoda nya di belakang ku!!"


"eh.. itu minum ku!"


"orang tua tak boleh minum manis manis!"


Bian mengganti dengan air mineral.


"chh.. tua kau bilang? umur kita sama.


cuma beda nya kau masih bujang lapuk


sedangkan aku sudah sering 'berkelana'."


ucap Vino bangga entah mempermalukan


diri sendiri.


"hh!! sama? big NO!!


umur ku 4 tahun lebih muda dari mu."


"ck.. tetap saja kau juga kepala 3 kan?"


"tapi tetap aku lebih unggul dari mu.


aku masih muda, masih fresh, dan tentu lebih


kuat." ucap Bian menyombongkan diri dengan


nada halus.


"hh.. " Vino kehabisan kata kata untuk itu.


karena memang benar semua sih yang di


katakan Bian.


"ku peringatkan sekali lagi!


jangan menggoda pacar ku, karena

__ADS_1


seratus persen hati dan tubuh nya milik ku!"


tegas Bian.


"pernah kah kau mencium nya?"


tanya Vino.


Enteng Bian menjawab.


"belum.." ada rasa bangga tersendiri pula


karena ia merasa menjaga Nurul dengan baik.


"hahha..berarti bibir nya milik ku.."


batin Vino tersenyum smirk.


"sial...kenapa kau menanyakan privasi kami?"


"lalu kenapa kau menjawab nya?"


"haiss! kenapa kalian berdebat terus hah?!!"


ujar Dimas kesal karena kuping nya panas


mendengar mereka berdebat dari tadi.


...~~~~...


Siang pun berganti malam, sehabis piknik,


Bian langsung pulang lalu kembali menjemput


Nurul untuk kencan yang tertunda.


"tante, om.. pergi dulu ya.."


pamit Bian kepada orang tua Nurul.


"iya iya.. hati hati ya.."


sahut mereka.


"ayo Dika.."


Bian juga menyapa. calon kakak ipar nya?


murid jadi kakak ipar ceritanya.


"iya pak.." sahut Dika yang sedang makan


malam di depan tv. ia tersenyum kepada


calon...adik ipar yang juga mantan dosen nya.


ribet ya bun๐Ÿ˜…


...-...


...-...


Berselang setengah jam Nurul pergi,


Gaby datang berniat menjemput Nurul


untuk jalan malam mingguan. sepertinya


Nurul lupa memberi tahu Gaby bahwa kencan


nya malam ini tak jadi di batalkan.


"Kiranaa....." panggil nya saat masuk ke rumah.


ia sudah sering kesana jadi lumayan akrab


dengan keluarga Nurul.


"pergi.." sahut Dika nongol dari dapur.


"hhhhhhhhhh...!!!" syok lah Gaby karena


beratus kali ke rumah Nurul baru ini ia ketemu


babang dokter idola nya.


"khmm..


pergi kemana kak?" tanya Gaby basa basi.


"sama pacar nya.." sahut Dika datar.


"ya ampun.. dari dekat lebih tamvan cuy..


ayo Gaby putar otak mu.. cari topik semenarik mungkin biar bisa ngobrol.." batin Gaby sambil terpesona.


"kamu mau nunggu Kirana pulang?"


tanya Dika.


"e. ya nggak.. kak.."


"terus ngapain masih di sini?"


"eh. iya juga ya.. ya sudah saya pamit ya kak."


Gaby langsung berlari keluar. tentu saja ia sangat malu, ternyata Dika tak seperti yang ada di bayangan nya. Nurul selalu bercerita bahwa Dika itu usil, resek, pokok nya seru. eh tapi kok


tadi adem bener kaya es kutub.


"tunggu!!" seru Dika.


Gaby yang masih di teras pun berbalik


dengan jantung dag dig dug..


"iya kak?"


Dika melemparkan payung lipat ke arah Gaby.


dan Gaby pun tangkas menangkap itu.


"gerimis.." ucap Dika lalu berbalik meninggalkan Gaby di sana.


"makasih kak.." sahut Gaby dengan pipi


merah merona. kini tak hanya dag dig dug lagi jantung nya melainkan sudah jedar jederr jedorr.

__ADS_1


...********...


__ADS_2