Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
Bonus chapter II


__ADS_3

Seorang wanita dengan perut besar datang ke kantor sambil menenteng kotak berisi makan siang. wanita cantik,elegan dan berkaki jenjang itu sedang mengandung usia 6 bulan.


"sayang... ini makan siang mu.." ucap nya saat memasuki kantor sang suami.


"hei, sudah ku bilang kamu tidak perlu ke sini..


kamu seharus nya banyak banyak istirahat.."


sang suami membelai lembut rambut si istri.


"aku butuh melihat mu untuk tambahan vitamin"


ucap Mila tersipu malu.


"sini.. aku cium.. biar dapat vitamin double"


kecupan hangat pun di layangkan.


Dari luar ruangan, para karyawan melihat adegan mesra itu sambil gigit jari.


"waahh.. lihat ratu gosip kita.."


"sumpah demi hantu,kalau pun tinggal dia lelaki di dunia ini aku akan lebih memilih pindah ke planet lain dari pada harus dengan nya. cuiihh...


sekarang jadi bucin banget sama manusia kulkas itu ck..ck..ck.." ucap salah satu teman dekat Mila sambil geleng kepala.


"Bu Mila menggantikan Bu Fani sebagai istri teladan. kita lihat siapa lagi besok yang bakalan menikah dari kantor ini lagi" sahut yang lain nya.


sungguh pagi hari yang membuat iri bagi mereka kaum jones.


"guys.. Pak Dimas datang..." salah satu karyawan berlari kelabakan, karena jika Dimas datang pertanda ada masalah genting di kantor.


"kalian siapkan rincian data analisa bulan ini!


pak Dimas meminta penyesuaian nya satu jam lagi. dan Pak Dimas meminta Desain untuk Tower X51." ucap sekertaris Dimas yang bernama Rey itu. dia merupakan karyawan lama dari perusahaan cabang yang di mutasi untuk menggantikan posisi Vino.


Para karyawan langsung bubar barisan sibuk mengecek lembaran kertas nya masing masing.


ada yang sibuk mengotak atik komputer nya,


ada yang sibuk belajar menyampaikan materi nya.


ada pula yang santai saja, karyawan satu itu memang di kenal sangat santai dan tenang.


...~~~~...


"udah.. mama turun sendiri saja..


kamu lanjut gih, kata nya mau ke museum"


ujar mama nya Bian, ia baru saja selesai mengantar mama nya belanja kebutuhan dapur.


"baik lah ma, Bas pamit dulu ya.."


Bian segera memutar mobil nya dan menjemput Nurul.


...~~~~...


Sesampai nya di Museum, mereka asik membahas fosil tulang hewan hewan purba.


"kalau ini masih hidup asik ya pak, kita bisa pelihara atau jadikan kendaraan lucu deh" ujar Nurul sembari memotret fosil titanoboa yang merupakan ular terbesar yang pernah hidup di dunia.


"aahh.. imajenasi kamu lurus banget dek, kalau dia hidup sudah pasti kita jadi makanan favoritnya"

__ADS_1


"hahahha.. pemandangan langka pasti nya"


sahut Nurul tertawa renyah.


"kaya gitu.. langka" Bian memutar tubuh Nurul dan menghadapkan nya ke cermin besar.


"apa nya yang langka pak?"


"senyum kamu, sekarang mulai langka.."


ucap Bian dengan mata teduh nya.


Nurul menatap lurus ke arah cermin.


"nggak apa apa.. ntar kalau udah mau punah Nur jual ke Museum juga biar jadi peninggalan sejarah hahahhahah......"


"dek ular nya hidup!!"


"hahh?! mana pak!!" ia terkejut dan bersembunyi di balik tubuh Bian.


"ini.." Bian mengacungkan jari telunjuknya pada Nurul sambil tertawa.


"hihh.. bapak nih! hampir pingsan Nur tau?"


"kamu pingsan?


hahahha impossible.." Bian tak yakin, sebab beberapa kali Bian menakuti Nurul dari mulai kostum hantu, ulat, bahkan organ manusia Nurul selalu tak bergeming. bahkan ia ketagihan untuk melihat hal hal extreem itu lagi.


"kok impossible.. nggak percaya bapak ni"


"oh yaa?? memang nya apa yang bisa bikin kamu pingsan?"


Nurul memikirkan hal yang pernah membuat nya pingsan, dan itu adalah Vino.


"eee...." Nurul meraba kalung pemberian Vino, dan seketika jantung nya mulai berdebar kencang lagi.


"aku merindukan nya.." batinnya terharu.


"apa yang buat kamu pingsan?" tanya Bian lagi.


"mmm.. setan"


"yaahh, setan sama hantu kan sama. kemarin kamu nggak takut waktu saya kasih boneka pocong itu.."


"beda pak.. setan dari huruf S, sedangkan hantu huruf H."


Bian: "wujud nya kan sama.."


Nurul: "beda.."


Bian: "sama dek.."


Nurul: "beda pak.."


"iya beda.." ujar Bian tersenyum manis.


penjelajahan Museum mereka pun di lanjutkan,


sedekali mereka tertawa keras saat melihat lukisan tanpa busana yang di pamerkan oleh seniman asal Perancis.


Bian sampai menutupi mata Nurul dengan tangan nya saat melewati lorong dengan pajangan lukisan tanpa busana itu.


...~~~~...

__ADS_1


Swiss...


Di sebuah kota kecil dekat pegunungan, Vino sedang tertidur pulas.


"Vin.. bangun.." panggil Zey dengan perut besar nya, ia membangunkan Vino untuk sarapan bersama.


Setelah menemukan Zey, Vino meminta agar mereka menikah saja. namun Zey menolak, ia tak mau Vino menghabiskan sisa hidup nya bersama perempuan yang tidak ia cintai.


Mereka memutuskan untuk tinggal serumah, tanpa ada ikatan, tanpa cinta. bahkan Vino tak pernah menyentuh Zey sekalipun hanya perut nya.


ia hanya mengajak bicara sang jabang bayi dari jarak setengah meter.


Zey mengatakan, jika setelah tinggal bersama Vino bisa mencintai nya. maka Zey bersedia menikah. namun nyata nya sampai sekarang tanda tanda cinta itu tak kunjung datang dari Vino. bahkan sampai sekarang ia sering menyebut nama Ran saat sedang mengigau.


Tapi bagi Zey itu saja sudah cukup, dengan Vino berada di sisi nya setiap hari. dengan Vino mau menerima sang buah hati, itu sudah sangat membahagiakan untuk Zey.


"ayo sarapan.. aku memasak bubur gandum untukmu" Zey membuka gorden jendela agar Vino bangun.


Vino langsung duduk dengan raut wajah seperti biasa nya, yaitu kesal.


"sampai kapan kau akan begini hm?


menikahlah dengan ku, agar kita menjadi keluarga seutuh nya." ucap Vino datar.


"kau sudah mencintai ku?"


Vino terdiam, ia merasa bersalah telah membuat Zey berada di situasi pahit ini.


"sudah berapakali ku bilang, aku tidak mau menikah jika kau tidak mencintai ku"


Vino berdiri dan menghampiri Zey.


"tapi kita punya anak, itu lebih besar dari cinta yang kau inginkan. anak itu butuh keluarga yang utuh, bukan seperti kita sekarang"


"dan aku butuh cinta mu.."


Zey tersenyum pahit.


"kita menikah saja dulu, aku yakin lambat laun aku akan mencintai mu sebagai istri ku"


"7 bulan 2 minggu, kita sudah tinggal bersama selama itu, anak kita sebentar lagi akan lahir.


sudah kah kau merasa cinta kepadaku?


7 bulan itu bukan waktu yang singkat Vin, lalu berapa lama lambat laun yang kau maksut?


setahun? dua tahun? sepuluh tahun?"


mata Zey mulai berkaca kaca.


"untuk apa kita menikah kalau tidak saling mencintai? aku tak mau pernikahan yang berujung perceraian."


"lalu bagaimana anak kita? apa kau tega membiarkan nya besar di antara kita tanpa ada ikatan?"


"maka mulailah mencintai ku jika kau memikirkan anak kita." Zey menepis tangan Vino dari bahu nya lalu keluar dari kamar itu.


Yang ada di pikiran Zey tidak lah salah, ia tak ingin kalau ujung ujung nya mereka bercerai karena tak saling cinta. percuma jika mereka menikah kalau pada akhirnya sang anak menjadi korban perceraian.


Sementara Vino, ia ingin bertanggung jawab penuh atas apa yang sudah ia lakukan pada Zey.


ia ingin anak nya tumbuh dengan kasih sayang lengkap orang tua nya. ia berpikir lambat laun pasti cinta nya akan tumbuh untuk Zey,walaupun sampai sekarang ia masih sangat mencintai Nurul. rasa itu masih terukir kokoh di hati nya.


...*******...

__ADS_1


Jangan lupa like,komen biar otor punya semangat untuk ke season 2😘😘😘😍


__ADS_2