
Dika, Gaby, Vino dan juga Nurul
menuju lift untuk pulang.
kebetulan sift Dika sudah selesai,
jadi ia juga ikut pulang bersama dengan
Nurul.
Jam menunjukkan pukul 12:30
dimana para pekerja rumah sakit sedang
beristirahat untuk makan siang mereka.
semua lift penuh membuat mereka
harus berdesakan dengan orang orang
lainnya.
Mereka masuk lalu dan berdiri di bagian
paling belakang, dalam sekejap lift itu
penuh hingga membuat mereka semua
hampir berhimpitan.
"sini.."
Dika menggeser Gaby ke belakang nya
agar tidak terhimpit oleh orang orang
di depan nya.
"makasih kak.."
pipi Gaby bersemu merah saat itu juga.
Sedangkan Vino, ia memberikan
lengan kekar nya sebagai tameng agar
Nurul tidak tersentuh oleh manusia
manusia di sana.
Kepala nya terasa panas, mata nya hampir
keluar dan gigi nya menggerat erat.
bukan, bukan karena suasana padat di sana.
melainkan karena Bian yang juga berdiri tepat
di hadapan nya.
"hei.. tidak bisakah kau berbalik badan?
kenapa kau menghadap ke sini?π"
ucap Vino kesal.
"aku ingin melihat nya..."
tatapan Bian yang teduh menembus
kalbu Nurul dan membuat nya
teringat akan segala ketulusan Bian.
Vino bergeser agar Bian tak bisa melihat
Nurul, namun Bian malah ikut bergeser.
"berani sekali kau mengatakan itu
di depan ku hah?"
Bian tersenyum tipis.
"kau juga berani mencium nya di depanku
waktu itu."
"dek.. apa kabar?"
"ba...baik bang.."
sahut Nurul gugup.
Bak pedang samurai, sorot mata Vino
langsung menusuk ke arah Nurul
karena menjawab sapaan Bian.
"diam.." bisik nya ketus.
Sementara Bian terus memandangi
__ADS_1
wajah Nurul yang sedang menunduk
ketakutan.
"heh..heh..! jaga mata mu ya.."
ketus Vino.
"kenapa? keindahan di cipatakan
memang untuk di nikmati kan?"
sahut Bian santai.
"tapi keindahan ini milikku,
jadi kau tidak berhak memandangi nya."
"selama nama kalian belum tercatat
di buku nikah. maka keindahan nya
masih milik kita bersama."
"wahh.. kau anggap dia apa?
barang?" Vino tampak semakin kesal.
Bian: "tidak. dia sangat spesial bagi ku."
Vino: "hhh..
tapi kau tidak punya tempat di hati nya."
Bian: "tapi aku pernah bertahta di hati nya."
Vino: "chh.. kau memang sempat mengisi
hati nya, tapi yang bertahta di hati nya
hanya AKU..!π dari dulu, sekarang,
dan selama nya.."
"selama nya?? kau yakin umur mu
sepanjang itu?" ledek Bian.
"weyy?! umur muda juga tidak menjamin
umur yang panjang." bantah Vino.
Orang orang di dalam lift itu sampai
mereka yang melibihi debat capres.
Sementara itu suster dan dokter wanita
di hadapan Bian terus saja berbisik bisik.
"kamu saja yang minta.."
"kamu saja.."
bisik mereka berniat meminta
nomor pribadi Dika.
iya nomor pribadi, soal nya nomor
yang tertera di rumah sakit kan
nomor untuk kerja.
"hehehe...
Pak.., mau minta nomor handphone
boleh?" si suster tersenyum malu malu.
"saya sudah menikah.."
sahut Dika datar tanpa menatap
suster berparas cantik itu.
ting.....
Pintu lift terbuka.
"benarkah?? bukan nya anda masih lajang?"
Dika menggelengkan kepala nya.
namun suster itu ternyata cukup kepo
karena Dika selalu mengatakan sudah
menikah, padahal mereka semua tak
pernah mendengar kabar pernikahan
itu secara resmi.
__ADS_1
Saat Dika dan yang lainnya hendak
melangkah keluar, suster itu dengan
berani memegang lengan Dika.
"tunggu....
saya,, sudah lama menyukai anda Pak.
dan saya tau Bapak belum menikah.."
"saya sudah menikah..
kalau kamu kesepian, kejar saja Pak Bian.
dia juga butuh teman hidup..."
Dika menepis tangan suster itu lalu
melanjutkan langkah nya.
"hei? dia barusan mengasihaniku
atau menghinaku?"
Bian tampak tak bisa menerima
perlakuan Dika barusan.
"ck..
cari lah teman hidup mu.."
gumam Vino sambil melewati Bian.
"aku sudah mendapatkan nya..
tapi kau mencuri nya dari ku."
lirih Bian sambil memandangi langkah
kaki Nurul yang mengikuti Vino.
Sambil berjalan menuju parkiran,
Gaby terus saja memandangi Dika
dengan raut wajah penasaran.
"kenapa kamu.?"
Dika menaikkan sebelah alis nya.
"kenapa kakak bilang sudah nikah tadi?
kalau kakak nggak suka kan bisa
menolak dengan hal yang lebih masuk akal.
semua orang tau kali kakak belum
menikah." Gaby betul betul tak habis
pikir dengan pola pikir Dika.
"itu bukan omong kosong."
jawab Dika.
"siapa? dengan siapa kakak nikah?
Kirana nggak pernah cerita tuh??"
"hhhh..."
tanpa menatap Gaby, Dika hanya
tersenyum tipis.
...~...
Beb.. maaf banget ya ilang2 an otor UP nyaπ
sebelah rumah otor ada yg nikahan jadi dua hari full ini rewang terus.. πtau rewang kan ya?π
dan besok hari ha nya...
seharian full rewang bahkan gk sempet
pegang hp walau 5 menit.
jadi mungkin sampai tanggal 16 besok otor
masih tenggelam, ini otor usahain UP
walaupun dikit biar kalian nggak pada lupa
sama otor.π
mohon maaf ya bebπ
maaf banget πππ
__ADS_1