
Malam ini semua orang bingung karena Adit/papa nya Dimas memanggil semua keluarga untuk kumpul setelah jam makan malam.
perkumpulan dadakan ini terjadi atas usulan Rianti, Dimas dan Fani selaku orang yang kebingungan atas pernyataan Vino,dan hubungan Nurul dengan Bian.
"karena semua nya sudah kumpul, saya
akan memulai pertanyaan khusus untuk
Nurul dan Vino." ucap Adit serius.
Nurul menelan ludah gugup, hal serius apa yang akan di tanyakan papa nya?
apa dia membuat masalah?
apa tentang tidur bersama waktu itu?
pertanyaan pertanyaan itu berkecamuk di pikiran nya.
"Vino.. apa kamu serius dengan ucapan mu kemarin kalau kamu mencintai Nurul?"
tanya Adit tanpa basa basi.
"serius Om.."
sahut Vino yakin.
"lalu, bagaimana dengan kamu nak?
apa kamu juga sama?
terus Bian? apa kalian masih berpacaran?"
tanya Rianti tak kalah spontan.
"Nur dan bang Bian masih pacaran ma.."
jawab nya sambil memainkan kedua ibu jari nya di bawah meja.
"oooohhh.. jadi ceritanya cinta bertepuk
sebelah tangan ini?"
timpal Dimas dan Fani berbarengan.
"dia juga mencintai ku, tapi tak tega mencampakkan Bian.
jadi dia pacaran dengannya, tapi mencintaiku." lagi lagi Vino bicara loss tanpa filter.
"tunggu.. gimana maksut nya?
jadi kalian cuma saling mengungkapkan
untuk sekedar memberitahu saja?
tidak ingin menjalin hubungan?"
imbuh Dika kebingungan, sayang sekali
karena mereka berdua saling cinta tapi tak
bisa bersama.
"chhh..
kau tau betapa kejamnya adik mu ini?
malam dia mengatakan cinta, keesokannya
ia langsung menendangku ke laut."
"wahh dek..
sayang loh tambang uang ini kamu sia siakan." goda Dika.
"dih.. kalau masalah uang pak Bian juga
nggak kalah lah.. "
imbuh Ayu membela Bian.
Mereka saja yang hanya melihat bingung, apalagi Nurul yang menjalani nya.
isi kepala sampai ruwet karena memikirkan
apakah keputusannya ini benar atau tidak.
"ini bukan soal tampang atau uang.
ini soal ketulusan nya, bang Bian itu nggak pernah neko neko. nggak pernah macam macam. jadi Nur nggak bisa menemukan kejelekannya yang bisa di jadikan alasan untuk putus."
"kamu tidak mencintai nya..
bukankah itu cukup jelas untukmu mengakhiri hubungan dengannya?"
timpal Dimas sebagai tim oleng yang
terus berpindah haluan.
"Nur.. dengarkan papa, dengan kamu
melanjutkan hubunganmu. kamu tidak hanya menyakiti Bian,kamu menyakiti dirimu sendiri
juga karena memaksa bertahan dengan
orang yang sama sekali tidak kamu cintai.."
Semakin tak gentar dong Vino melihat
situasi berpihak padanya, merebut Nurul
tentu bukan hal sulit lagi kini karena seluruh
keluarga menginginkan Nurul bahagia bersama orang yang di cintai nya yakni Vino.
"oma.. opa...
udah belum ngomong pentingnya?
kami sudah nggak sabar mau main bareng
Om Dika.." seru ketiga bocil dari lantai atas.
"iya iya..." sahut Adit.
"ya sudah.. bubar bubar..
kalau sampai mereka dengar bisa gawat ini.
tau sendiri mereka gimana kan.."
Rianti berdiri dan membereskan minuman
mereka.
Memang gawat kalau sampai mereka ikut nimbrung karena si Ica, ia akan terus menyelidiki, kenapa bisa begini?kenapa begitu?
kok nggak begini? pokok nya ia akan menjadi detektif dadakan kalau rasa penasarannya tak terjawab.
Keenan, ia akan menjadi penengah dan
menyahut apapun yang di katakan.
sedangkan El, ia akan memberi nasihat
__ADS_1
sesuai imajenasi nya walau kadang
tak bisa di lakukan oleh orang dewasa.
...~~~~ ...
Saat bersiap ke kampus, Nurul di kagetkan
Vino yang sudah menunggu di depan
pintu kamar nya.
"nyari El? dia lagi sarapan di bawah pak."
Nurul sedikit grogi menatap mata Vino.
Vino tak menjawab, ia menjatuhkan tas
Nurul dari bahu nya.
"bolos satu kali tak masalahkan?
ikut saya.."
"k..kemana pak?"
"jalan jalan.."
"hah! bapak sehat?
nyuruh saya bolos cuma untuk jalan jalan?"
"saya cuma ingin menghabiskan satu hari penuh bersama mu, tapi kalau kamu tidak mau jalan jalan, saya tak keberatan jika kita menghabiskan hari ini di dalam kamar"
ia menatap nakal Nurul membuat nya semakin salah tingkah.
jbretttt...
Nurul langsung menutup pintu kamar nya
dari luar.
"jalan jalan kemana pak?
nggak apa apa deh sesekali bolos.."
"melihat laut.."
ujar Vino, tentu saja dia mempunyai rencana saat ini.
"hah?" random banget sih,batin Nurul.
...~~~~...
Hari ini Dika sangat gugup karena seluruh
dokter dengan posisi penting
sengaja di kumpulkan untuk menyambut
pemilik rumah sakit. karena si pemilik
menyukai sesuatu yang santai,
pimpinan pun menyarankan mereka
mengadakan pertemuan di cafe, lalu
berkeliling sejenak mengecek perkembangan rumah sakit nya.
Untuk menghilangkan kegugupannya,
Dika bermeditasi sejenak di taman depan.
celana pendek serta kaos oblong mendukung ketampanan nya semakin naik level dan
bisa berkedip.
"dua menit,17 detik..
sampai kapan kamu mau berdiri di sana?"
Gaby langsung panik dan tersadar dari
imajenasi nya.
"khmm.. aku, ini kak mau jemput
Kirana.." walau gugup, Gaby masih bingung mengamati Dika. bagaimana bisa?
mata nya terpejam dari menyadari kehadirannya.
"dia tidak kuliah hari ini.."
"oh.. baiklah, permisi.."
ujar Gaby terbata.
"mana payung nya?"
"apa??"
"kamu nggak berniat kembalikan
payung nya?" tanya Dika masih dengan
mata terpejam.
"oh..
besok ya kak, besok.."
Gaby langsung kabur dari sana.
...~~~~...
Vino mengajak Nurul duduk di sebuah cafe
yang berhadapan dengan laut lepas.
sudah dua malam ini ia susah tidur, jadi
Vino memutuskam untuk menenangkan
pikiran bersama Nurul di sana.
Pemandangannya sangat indah, asri dan
juga segar karena di iringi hembusan angin
sepoi sepoi membuat Vino terasa mengantuk.
"menyenangkan bukan??"
tanya Vino.
"mm..
tapi nggak nyaman.."
sahut Nurul gelisah.
"kenapa?"
__ADS_1
"karena Nur punya pacar, tapi malah
duduk di sini sama bapak."
"rileks..
anggap saja kita sedang berselingkuh
hahahha..."
"ya itu yang bikin nggak nyaman.
gimana kalau bang Bian lihat?"
"jadi...kamu mau kita di ruang tertutup?
hotel sepertinya pas untuk saat ini."
Vino menggerakkan mata nya memindai
tubuh Nurul dari atas ke bawah dengan
senyum nakal nya.
Jadi semakin gugup lah Nurul.
"nggak..
di sini aja, lagian bang Bian nggak suka
tempat tempat begini."
"terus lah berusaha mencintai nya..
saya tidak keberatan. tapi jangan panggil saya Vino kalau tidak bisa membuat kamu
jatuh cinta sama saya sebelum matahari
terbenam."
"Nur sudah jatuh cinta sama bapak."
"ah.. iya benar.."
kepercayaan diri yang tadi membumbung
tinggi seketika jatuh berserakan.
wiiing..... plukkk💩
sesendok kotoran merpati mendarat bebas
di kepala Vino.
"Hahahhahahahah.....
yekk!! jorok ihh.."
Nurul terbahak bahak menyaksikan Vino
tertimpa rejeki dari merpati.
"aargh!!
burung sialan! aish!! seharus nya kita
di dalam saja tadi."
"hahahhaha..
ayo ke toilet, Nur bantu bersihkan."
Nurul membawa Vino ke wastafel yang bisa di pakai laki laki dan perempuan.
"nunduk sini.."
"kepala saya mau di guyur??"
sudah dandan ganteng, rambut waduhai
masa iya mau di guyur.
"terus ngilangin eek nya pake apa?
bapak mau Nur gesekin kepala nya di pasir
biar nggak basah?" tukas Nurul sedikit kesal.
Dengan sangat terpaksa, Vino pun menuruti
Nurul untuk membasuh rambut nya.
walau dalam hati nya ngedumel mencaci maki
si burung merpati yang tak sengaja
buang air di sana.
Setelah kotorannya hilang, Nurul memberikan sedikit sabun cair agar bau nya hilang.
"gosok sendiri!"
ucap nya jutek.
"gosokin..."
pinta Vino manja.
"males ah.. sendiri kan bisa. tuh sambil ngaca." tunjuknya ke cermin di depan.
"bisa.. tapi mau nya di gosokin sama
bunda.." ia semakin manja persis seperti El.
Nurul sampai heran,kok bisa mereka sama
persis kalau sedang manja.
Vino mengambil telapak tangan Nurul,
kemudian meletakkan sedikit sabun cair lalu
ia meletakkan tangan Nurul di atas kepala nya.
"gosok pelan pelan ya.."
bisik nya tepat di depan wajah Nurul.
"ke bawah sedikit.."
pinta Nurul gugup, ya tangan mungil nya
kesulitan menggapai kepala Vino karena
tinggi badannya.
Vino membungkuk hingga tinggi mereka
setara. "seperti ini..?"
Nurul mengangguk, ia menggosok pelan
rambut Vino namun mata nya tak berani
__ADS_1
menatap wajah Vino.
...********...