Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
S2 episode 26 :


__ADS_3

Malam ini semua orang bingung karena Adit/papa nya Dimas memanggil semua keluarga untuk kumpul setelah jam makan malam.


perkumpulan dadakan ini terjadi atas usulan Rianti, Dimas dan Fani selaku orang yang kebingungan atas pernyataan Vino,dan hubungan Nurul dengan Bian.


"karena semua nya sudah kumpul, saya


akan memulai pertanyaan khusus untuk


Nurul dan Vino." ucap Adit serius.


Nurul menelan ludah gugup, hal serius apa yang akan di tanyakan papa nya?


apa dia membuat masalah?


apa tentang tidur bersama waktu itu?


pertanyaan pertanyaan itu berkecamuk di pikiran nya.


"Vino.. apa kamu serius dengan ucapan mu kemarin kalau kamu mencintai Nurul?"


tanya Adit tanpa basa basi.


"serius Om.."


sahut Vino yakin.


"lalu, bagaimana dengan kamu nak?


apa kamu juga sama?


terus Bian? apa kalian masih berpacaran?"


tanya Rianti tak kalah spontan.


"Nur dan bang Bian masih pacaran ma.."


jawab nya sambil memainkan kedua ibu jari nya di bawah meja.


"oooohhh.. jadi ceritanya cinta bertepuk


sebelah tangan ini?"


timpal Dimas dan Fani berbarengan.


"dia juga mencintai ku, tapi tak tega mencampakkan Bian.


jadi dia pacaran dengannya, tapi mencintaiku." lagi lagi Vino bicara loss tanpa filter.


"tunggu.. gimana maksut nya?


jadi kalian cuma saling mengungkapkan


untuk sekedar memberitahu saja?


tidak ingin menjalin hubungan?"


imbuh Dika kebingungan, sayang sekali


karena mereka berdua saling cinta tapi tak


bisa bersama.


"chhh..


kau tau betapa kejamnya adik mu ini?


malam dia mengatakan cinta, keesokannya


ia langsung menendangku ke laut."


"wahh dek..


sayang loh tambang uang ini kamu sia siakan." goda Dika.


"dih.. kalau masalah uang pak Bian juga


nggak kalah lah.. "


imbuh Ayu membela Bian.


Mereka saja yang hanya melihat bingung, apalagi Nurul yang menjalani nya.


isi kepala sampai ruwet karena memikirkan


apakah keputusannya ini benar atau tidak.


"ini bukan soal tampang atau uang.


ini soal ketulusan nya, bang Bian itu nggak pernah neko neko. nggak pernah macam macam. jadi Nur nggak bisa menemukan kejelekannya yang bisa di jadikan alasan untuk putus."


"kamu tidak mencintai nya..


bukankah itu cukup jelas untukmu mengakhiri hubungan dengannya?"


timpal Dimas sebagai tim oleng yang


terus berpindah haluan.


"Nur.. dengarkan papa, dengan kamu


melanjutkan hubunganmu. kamu tidak hanya menyakiti Bian,kamu menyakiti dirimu sendiri


juga karena memaksa bertahan dengan


orang yang sama sekali tidak kamu cintai.."


Semakin tak gentar dong Vino melihat


situasi berpihak padanya, merebut Nurul


tentu bukan hal sulit lagi kini karena seluruh


keluarga menginginkan Nurul bahagia bersama orang yang di cintai nya yakni Vino.


"oma.. opa...


udah belum ngomong pentingnya?


kami sudah nggak sabar mau main bareng


Om Dika.." seru ketiga bocil dari lantai atas.


"iya iya..." sahut Adit.


"ya sudah.. bubar bubar..


kalau sampai mereka dengar bisa gawat ini.


tau sendiri mereka gimana kan.."


Rianti berdiri dan membereskan minuman


mereka.


Memang gawat kalau sampai mereka ikut nimbrung karena si Ica, ia akan terus menyelidiki, kenapa bisa begini?kenapa begitu?


kok nggak begini? pokok nya ia akan menjadi detektif dadakan kalau rasa penasarannya tak terjawab.


Keenan, ia akan menjadi penengah dan


menyahut apapun yang di katakan.


sedangkan El, ia akan memberi nasihat

__ADS_1


sesuai imajenasi nya walau kadang


tak bisa di lakukan oleh orang dewasa.


...~~~~ ...


Saat bersiap ke kampus, Nurul di kagetkan


Vino yang sudah menunggu di depan


pintu kamar nya.


"nyari El? dia lagi sarapan di bawah pak."


Nurul sedikit grogi menatap mata Vino.


Vino tak menjawab, ia menjatuhkan tas


Nurul dari bahu nya.


"bolos satu kali tak masalahkan?


ikut saya.."


"k..kemana pak?"


"jalan jalan.."


"hah! bapak sehat?


nyuruh saya bolos cuma untuk jalan jalan?"


"saya cuma ingin menghabiskan satu hari penuh bersama mu, tapi kalau kamu tidak mau jalan jalan, saya tak keberatan jika kita menghabiskan hari ini di dalam kamar"


ia menatap nakal Nurul membuat nya semakin salah tingkah.


jbretttt...


Nurul langsung menutup pintu kamar nya


dari luar.


"jalan jalan kemana pak?


nggak apa apa deh sesekali bolos.."


"melihat laut.."


ujar Vino, tentu saja dia mempunyai rencana saat ini.


"hah?" random banget sih,batin Nurul.


...~~~~...


Hari ini Dika sangat gugup karena seluruh


dokter dengan posisi penting


sengaja di kumpulkan untuk menyambut


pemilik rumah sakit. karena si pemilik


menyukai sesuatu yang santai,


pimpinan pun menyarankan mereka


mengadakan pertemuan di cafe, lalu


berkeliling sejenak mengecek perkembangan rumah sakit nya.


Untuk menghilangkan kegugupannya,


Dika bermeditasi sejenak di taman depan.


celana pendek serta kaos oblong mendukung ketampanan nya semakin naik level dan


bisa berkedip.


"dua menit,17 detik..


sampai kapan kamu mau berdiri di sana?"


Gaby langsung panik dan tersadar dari


imajenasi nya.


"khmm.. aku, ini kak mau jemput


Kirana.." walau gugup, Gaby masih bingung mengamati Dika. bagaimana bisa?


mata nya terpejam dari menyadari kehadirannya.


"dia tidak kuliah hari ini.."


"oh.. baiklah, permisi.."


ujar Gaby terbata.


"mana payung nya?"


"apa??"


"kamu nggak berniat kembalikan


payung nya?" tanya Dika masih dengan


mata terpejam.


"oh..


besok ya kak, besok.."


Gaby langsung kabur dari sana.


...~~~~...


Vino mengajak Nurul duduk di sebuah cafe


yang berhadapan dengan laut lepas.


sudah dua malam ini ia susah tidur, jadi


Vino memutuskam untuk menenangkan


pikiran bersama Nurul di sana.


Pemandangannya sangat indah, asri dan


juga segar karena di iringi hembusan angin


sepoi sepoi membuat Vino terasa mengantuk.


"menyenangkan bukan??"


tanya Vino.


"mm..


tapi nggak nyaman.."


sahut Nurul gelisah.


"kenapa?"

__ADS_1


"karena Nur punya pacar, tapi malah


duduk di sini sama bapak."


"rileks..


anggap saja kita sedang berselingkuh


hahahha..."


"ya itu yang bikin nggak nyaman.


gimana kalau bang Bian lihat?"


"jadi...kamu mau kita di ruang tertutup?


hotel sepertinya pas untuk saat ini."


Vino menggerakkan mata nya memindai


tubuh Nurul dari atas ke bawah dengan


senyum nakal nya.


Jadi semakin gugup lah Nurul.


"nggak..


di sini aja, lagian bang Bian nggak suka


tempat tempat begini."


"terus lah berusaha mencintai nya..


saya tidak keberatan. tapi jangan panggil saya Vino kalau tidak bisa membuat kamu


jatuh cinta sama saya sebelum matahari


terbenam."


"Nur sudah jatuh cinta sama bapak."


"ah.. iya benar.."


kepercayaan diri yang tadi membumbung


tinggi seketika jatuh berserakan.


wiiing..... plukkk💩


sesendok kotoran merpati mendarat bebas


di kepala Vino.


"Hahahhahahahah.....


yekk!! jorok ihh.."


Nurul terbahak bahak menyaksikan Vino


tertimpa rejeki dari merpati.


"aargh!!


burung sialan! aish!! seharus nya kita


di dalam saja tadi."


"hahahhaha..


ayo ke toilet, Nur bantu bersihkan."


Nurul membawa Vino ke wastafel yang bisa di pakai laki laki dan perempuan.


"nunduk sini.."


"kepala saya mau di guyur??"


sudah dandan ganteng, rambut waduhai


masa iya mau di guyur.


"terus ngilangin eek nya pake apa?


bapak mau Nur gesekin kepala nya di pasir


biar nggak basah?" tukas Nurul sedikit kesal.


Dengan sangat terpaksa, Vino pun menuruti


Nurul untuk membasuh rambut nya.


walau dalam hati nya ngedumel mencaci maki


si burung merpati yang tak sengaja


buang air di sana.


Setelah kotorannya hilang, Nurul memberikan sedikit sabun cair agar bau nya hilang.


"gosok sendiri!"


ucap nya jutek.


"gosokin..."


pinta Vino manja.


"males ah.. sendiri kan bisa. tuh sambil ngaca." tunjuknya ke cermin di depan.


"bisa.. tapi mau nya di gosokin sama


bunda.." ia semakin manja persis seperti El.


Nurul sampai heran,kok bisa mereka sama


persis kalau sedang manja.


Vino mengambil telapak tangan Nurul,


kemudian meletakkan sedikit sabun cair lalu


ia meletakkan tangan Nurul di atas kepala nya.


"gosok pelan pelan ya.."


bisik nya tepat di depan wajah Nurul.


"ke bawah sedikit.."


pinta Nurul gugup, ya tangan mungil nya


kesulitan menggapai kepala Vino karena


tinggi badannya.


Vino membungkuk hingga tinggi mereka


setara. "seperti ini..?"


Nurul mengangguk, ia menggosok pelan


rambut Vino namun mata nya tak berani

__ADS_1


menatap wajah Vino.


...********...


__ADS_2