Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
S2 episode 33: El.. Ayah, Bunda.


__ADS_3

"bang.. Nur minggu depan mau


tunangan sama pak Vino."


Di hapus....


"bang.. minggu depan datang ya.."


Di hapus lagi...


"ummm.. gimana ya bilang nya,


apa nggak usah di undang aja?


tapi.. dia kan guru ku, juga rekan kerja


kak Dika."


basa basi, pasti tak enak karena mereka


baru saja putus. mau to the point,


bukankah terlalu klise?


Lagi bingung bingung nya, tiba tiba


pesan masuk dari Bian menyambut.


"dek.. selamat ya..


maaf sebelum nya, mungkin saya tidak


bisa datang karena ada urusan.


semoga lancar san langgeng sampai..."


"ehh.. eh.. aduh... langsung centang biru


pula.. aishh..."


karena mengetik sambil nangis membuat


pandangan Bian sedikit rabun dan alhasil


text terkirim saat ia belum selesai dengan


kalimat nya.


Sementara di seberang sana Nurul


mengernyitkan alis nya.


"sampai apa??


sampai maut memisahkan kali ya..


biasanya kan gitu. balas aja deh.."


"iya nggak apa apa bang ^_^


terimakasih untuk doa nya ya..."


"sama sama..."


singkat, namun membuat batin Nurul


sangat merasa bersalah pada Bian.


"bundaa.....!"


panggil El dan Vino serempak.


hampir saja ponsel Nurul melayang


ke tanah karena di kejutkan mereka.


"ngapain kamu di sini?


mau lompat? karena tanggal pernikahan


kita sudah di tentukan?"


ledek Vino, posisi mereka di balkon puncak


sekarang. ya,balkon tempat mereka


terkunci waktu itu.


"nanti kalau ayah sama bunda sudah menikah.


tunjukkin El ya cara bikin dedek nya 😁"


pinta El polos.. yang ia pikirkan bikin dedek


bayi pakai adonan seperti yang


di bicarakan orang orang.


"ehh?? nggak lah El.."


Nurul memilih duduk karena lutut nya


lemas saat membayangkan proses itu.


"hahah.. kamu ini El, lihat tuh wajah bunda


sampai merah.."


"karena panas.."


sewot Nurul padahal memang karena


salah tingkah.


"karena panas apa karena mmmm..."


lirikan Vino menjelaskan segala yang


ada di pikiran Nurul.


"ngeres banget sih ini balkon nya..


belum di sapu kali ya.."


"ngeres ngeres sedikit tidak apa apa


Ran, enak malah.."


"ayah.. tadi foto untuk apa?"


tiba tiba El menanyakan kegiatan foto shoot


yang mereka lalukan untuk acara lamaran


nanti nya.


"untuk di.. undangan, juga di album..


dan untuk di jadikan kenangan saat


ayah dan bunda sudah tua nanti.."


jawab Vino.


"kok, Ayah dengan Mama tidak ada foto


kenangan nya??"


Vino bingung harus menjawab apa,


mau bilang kawin lari? tidak mungkin.

__ADS_1


mau bilang foto nya kebakar? malah


akan tambah banyak pertanyaan.


mau bilang kalau mereka tidak menikah?


malah ribet nanti urusan nya.


"apa sewaktu ayah dan mama menikah


belum ada kamera?" tanya El lagi.


"iya.. itu dia, belum ada kamera waktu itu."


langsung saja Vino mengiyakan.


"karena waktu itu Ayah kamu sudah


gol duluan El.. jadi susah mau foto foto.."


sindir Nurul kesal saat mengingat Vino


itu gampang kepancing.


"jadi ayah nikah nya sambil main bola bunda?"


"iya.. mana bilang nya nggak suka bola..


eh tau tau ayah kamu main bola hebat banget..


maka nya langsung gol.."


"wah.. berarti bunda sama ayah sudah kenal


lama ya? kenapa tidak dari dulu saja


ayah menikahi bunda?"


"dulu bunda kamu masih kecil El..


sekecil biji ketumbar heheheh.."


sahut nya sambil melirik ke arah buah


ketumbar yang kini sudah bertansformasi


menjadi buah apel yang menggiurkan.


"isshh...


mending ketumbar tapi tersegel, daripada


batangan tapi pindah pindah lapak."


keadaan seperti nya semakin memanas.


"Ran... kamu kalau tidak suka, keluarin


langsung unek unek nya, jangan nyicil nyicil


gitu. mendingan ledakin sekarang sekalian."


tukas Vino tak terima.


"suka kok.. suka banget malah..


oke kalau bapak minta di keluarin semua..


Nur tau ya, bapak dulu pernah suka juga


sama kak Fani kan?


terus juga pernah nembak bu Mila


tapi nggak di terima, terus..mmm..!!"


Vino membungkam mulut Nurul


dengan tangan kekar nya.


bahaya kamu ini.."


tentu ia tak mau anak nya mengetahui


masa masa lajang sang ayah yang sangat


buas melebihi singa itu.


"ihhh!!! bau ketiak pak..


weekk.. ciih...!!" Nurul sampai mau


muntah karena aroma sedap itu menembus


sampai ke paru paru nya.


"iya saya habis garuk garuk tadi..


lupa pakai deodorant pula.. hahahahha.."


"terus bapak pernahkan..mmm!!!!!"


mulut Nurul kembali di bungkam lagi.


"eeh.. kok masih lanjut, kamu mau


saya ketekin hah?"


"ayah... bunda nya jangan di jahatin dong..


di sayang.." celah El yang sedari tadi tersenyum


riang karena berada di tengah mereka.


sesekali Nurul juga menjadikan tubuh


mungil El sebagai tameng nya.


"ohh.. iya... ayah lupa..


nih di sayang nih.. mwwuuahh😘"


kecupan hangat hendak ia lesatkan ke pipi,


namun karena Nurul mengelak malah


mendarat tepat di bibir nya.


"upss..." ucap El menutup mata sambil


tersenyum gemas.


krik..krik...🦗


"khmm....!"


mereka berdua serempak berdeham karena


tak enak telah mempertontonkan adegan


itu di depan El.


"zzzfffff.....


iya.. ketiak saya kecut ya.."


ucap Vino gugup sambil menghirup


aroma ketiak yang masih menempel di


tangan nya.

__ADS_1


"iya.. lain kali pakai deodorant pak.."


sahut Nurul juga mengalihkan wajah nya.


"mm.. yang memiliki anti noda seperti nya


bagus, baju saya banyak yang besar


soal nya.." ujar nya terbata.


"hm? apa.. hubungannya..pak?"


"eh, maksut saya cerah, baju saya banyak


yang cerah.." tiba tiba wajah nya berkeringat


padahal angin berhembus sepoi sepoi.


"sayang El juga dong..


ayah sebelah sini.. bunda sini.."


pinta El menunjuk kedua sisi pipi nya.


"iya.. sini.."


saat Vino dan Nurul hendak mengecup,


tiba tiba El berlari hingga tabrakan bibir


di antara mereka hampir saja terjadi.


"El di panggil Oma Ayah...


bye.." ia berlari tanpa melihat kebelakang


seolah ingin ayah dan bundanya menikmati


waktu bersama.


"hhh... anak nakal itu.."


rutuk Nurul sambil mengusap hidung nya.


"mwwaacchh.."


terlanjur di start, ya gass aja lah pikir Vino.


Wajah Nurul langsung bersemu merah


seketika saat kecupan kembut Vino


mendarat pipi nya.


...~...


Di kantor Dimas....


"Pak.. ini berkas nya.."


"hm.. terimakasih.."


sahut Dimas.


"tunggu, kau sudah menemukan alamat


nya?"


"sudah pak.. dan saya baru dapat info


beberapa hari yang lalu bahwa desa itu


searah dengan lokasi studi tour nya adik ipar


bapak si Anu.."


ucap Rey.


"heh.. sudah berapa kali saya bilang


nama nya Ayu, bukan Anu.


kenapa kau selalu memanggil nya Anu?"


"karena dia memang tidak Ayu.


saya permisi.." sahut Rey santai dan datar


lalu melenggang keluar.


"ck..ck.. sikap nya kombinasi Riko dan Vino.


hhff.. omong omong aku merindukan mereka,


apa ku terima saja Vino di sini?


tapi perusahaan nya? akhh..


aku merindukan suasana seperti di season


satu. bagaimana ini.."


Ya, semenjak bubar nya pasukan sableng


di kantor nya. hidup nya sangat hampa.


kalau tidak ada Riko dan Mila di sana


sudah pasti suasana kantor sangat suram


seperti kuburan.


"permisi pak...


saya membawakan data pekerja magang


yang akan mulai interview minggu depan."


ucap salah satu staff nya Dimas.


"hmm.. letakkan saja di sana..


terimakasih.."


"Papa...." panggil dua malaikat kecil


Dimas sangat riang di ikuti sang


permaisuri dari belakang dengan bekal


makan siang nya.


Dimas langsung berdiri penuh energi


menghampiri mereka.


"hai... ummmmm...


papa baru saja merindukan kalian..


galau banget papa 4 jam belum


bertemu sama kalian."


"ayo kita makan siang Mass.."


Plakk!!!!!!


kotak bekal yang di bawa Fani terjatuh


kelantai karena tersenggol salah satu

__ADS_1


pekerja bersih bersih di sana.


...*********...


__ADS_2