
"bang.. Nur minggu depan mau
tunangan sama pak Vino."
Di hapus....
"bang.. minggu depan datang ya.."
Di hapus lagi...
"ummm.. gimana ya bilang nya,
apa nggak usah di undang aja?
tapi.. dia kan guru ku, juga rekan kerja
kak Dika."
basa basi, pasti tak enak karena mereka
baru saja putus. mau to the point,
bukankah terlalu klise?
Lagi bingung bingung nya, tiba tiba
pesan masuk dari Bian menyambut.
"dek.. selamat ya..
maaf sebelum nya, mungkin saya tidak
bisa datang karena ada urusan.
semoga lancar san langgeng sampai..."
"ehh.. eh.. aduh... langsung centang biru
pula.. aishh..."
karena mengetik sambil nangis membuat
pandangan Bian sedikit rabun dan alhasil
text terkirim saat ia belum selesai dengan
kalimat nya.
Sementara di seberang sana Nurul
mengernyitkan alis nya.
"sampai apa??
sampai maut memisahkan kali ya..
biasanya kan gitu. balas aja deh.."
"iya nggak apa apa bang ^_^
terimakasih untuk doa nya ya..."
"sama sama..."
singkat, namun membuat batin Nurul
sangat merasa bersalah pada Bian.
"bundaa.....!"
panggil El dan Vino serempak.
hampir saja ponsel Nurul melayang
ke tanah karena di kejutkan mereka.
"ngapain kamu di sini?
mau lompat? karena tanggal pernikahan
kita sudah di tentukan?"
ledek Vino, posisi mereka di balkon puncak
sekarang. ya,balkon tempat mereka
terkunci waktu itu.
"nanti kalau ayah sama bunda sudah menikah.
tunjukkin El ya cara bikin dedek nya 😁"
pinta El polos.. yang ia pikirkan bikin dedek
bayi pakai adonan seperti yang
di bicarakan orang orang.
"ehh?? nggak lah El.."
Nurul memilih duduk karena lutut nya
lemas saat membayangkan proses itu.
"hahah.. kamu ini El, lihat tuh wajah bunda
sampai merah.."
"karena panas.."
sewot Nurul padahal memang karena
salah tingkah.
"karena panas apa karena mmmm..."
lirikan Vino menjelaskan segala yang
ada di pikiran Nurul.
"ngeres banget sih ini balkon nya..
belum di sapu kali ya.."
"ngeres ngeres sedikit tidak apa apa
Ran, enak malah.."
"ayah.. tadi foto untuk apa?"
tiba tiba El menanyakan kegiatan foto shoot
yang mereka lalukan untuk acara lamaran
nanti nya.
"untuk di.. undangan, juga di album..
dan untuk di jadikan kenangan saat
ayah dan bunda sudah tua nanti.."
jawab Vino.
"kok, Ayah dengan Mama tidak ada foto
kenangan nya??"
Vino bingung harus menjawab apa,
mau bilang kawin lari? tidak mungkin.
__ADS_1
mau bilang foto nya kebakar? malah
akan tambah banyak pertanyaan.
mau bilang kalau mereka tidak menikah?
malah ribet nanti urusan nya.
"apa sewaktu ayah dan mama menikah
belum ada kamera?" tanya El lagi.
"iya.. itu dia, belum ada kamera waktu itu."
langsung saja Vino mengiyakan.
"karena waktu itu Ayah kamu sudah
gol duluan El.. jadi susah mau foto foto.."
sindir Nurul kesal saat mengingat Vino
itu gampang kepancing.
"jadi ayah nikah nya sambil main bola bunda?"
"iya.. mana bilang nya nggak suka bola..
eh tau tau ayah kamu main bola hebat banget..
maka nya langsung gol.."
"wah.. berarti bunda sama ayah sudah kenal
lama ya? kenapa tidak dari dulu saja
ayah menikahi bunda?"
"dulu bunda kamu masih kecil El..
sekecil biji ketumbar heheheh.."
sahut nya sambil melirik ke arah buah
ketumbar yang kini sudah bertansformasi
menjadi buah apel yang menggiurkan.
"isshh...
mending ketumbar tapi tersegel, daripada
batangan tapi pindah pindah lapak."
keadaan seperti nya semakin memanas.
"Ran... kamu kalau tidak suka, keluarin
langsung unek unek nya, jangan nyicil nyicil
gitu. mendingan ledakin sekarang sekalian."
tukas Vino tak terima.
"suka kok.. suka banget malah..
oke kalau bapak minta di keluarin semua..
Nur tau ya, bapak dulu pernah suka juga
sama kak Fani kan?
terus juga pernah nembak bu Mila
tapi nggak di terima, terus..mmm..!!"
Vino membungkam mulut Nurul
dengan tangan kekar nya.
bahaya kamu ini.."
tentu ia tak mau anak nya mengetahui
masa masa lajang sang ayah yang sangat
buas melebihi singa itu.
"ihhh!!! bau ketiak pak..
weekk.. ciih...!!" Nurul sampai mau
muntah karena aroma sedap itu menembus
sampai ke paru paru nya.
"iya saya habis garuk garuk tadi..
lupa pakai deodorant pula.. hahahahha.."
"terus bapak pernahkan..mmm!!!!!"
mulut Nurul kembali di bungkam lagi.
"eeh.. kok masih lanjut, kamu mau
saya ketekin hah?"
"ayah... bunda nya jangan di jahatin dong..
di sayang.." celah El yang sedari tadi tersenyum
riang karena berada di tengah mereka.
sesekali Nurul juga menjadikan tubuh
mungil El sebagai tameng nya.
"ohh.. iya... ayah lupa..
nih di sayang nih.. mwwuuahh😘"
kecupan hangat hendak ia lesatkan ke pipi,
namun karena Nurul mengelak malah
mendarat tepat di bibir nya.
"upss..." ucap El menutup mata sambil
tersenyum gemas.
krik..krik...🦗
"khmm....!"
mereka berdua serempak berdeham karena
tak enak telah mempertontonkan adegan
itu di depan El.
"zzzfffff.....
iya.. ketiak saya kecut ya.."
ucap Vino gugup sambil menghirup
aroma ketiak yang masih menempel di
tangan nya.
__ADS_1
"iya.. lain kali pakai deodorant pak.."
sahut Nurul juga mengalihkan wajah nya.
"mm.. yang memiliki anti noda seperti nya
bagus, baju saya banyak yang besar
soal nya.." ujar nya terbata.
"hm? apa.. hubungannya..pak?"
"eh, maksut saya cerah, baju saya banyak
yang cerah.." tiba tiba wajah nya berkeringat
padahal angin berhembus sepoi sepoi.
"sayang El juga dong..
ayah sebelah sini.. bunda sini.."
pinta El menunjuk kedua sisi pipi nya.
"iya.. sini.."
saat Vino dan Nurul hendak mengecup,
tiba tiba El berlari hingga tabrakan bibir
di antara mereka hampir saja terjadi.
"El di panggil Oma Ayah...
bye.." ia berlari tanpa melihat kebelakang
seolah ingin ayah dan bundanya menikmati
waktu bersama.
"hhh... anak nakal itu.."
rutuk Nurul sambil mengusap hidung nya.
"mwwaacchh.."
terlanjur di start, ya gass aja lah pikir Vino.
Wajah Nurul langsung bersemu merah
seketika saat kecupan kembut Vino
mendarat pipi nya.
...~...
Di kantor Dimas....
"Pak.. ini berkas nya.."
"hm.. terimakasih.."
sahut Dimas.
"tunggu, kau sudah menemukan alamat
nya?"
"sudah pak.. dan saya baru dapat info
beberapa hari yang lalu bahwa desa itu
searah dengan lokasi studi tour nya adik ipar
bapak si Anu.."
ucap Rey.
"heh.. sudah berapa kali saya bilang
nama nya Ayu, bukan Anu.
kenapa kau selalu memanggil nya Anu?"
"karena dia memang tidak Ayu.
saya permisi.." sahut Rey santai dan datar
lalu melenggang keluar.
"ck..ck.. sikap nya kombinasi Riko dan Vino.
hhff.. omong omong aku merindukan mereka,
apa ku terima saja Vino di sini?
tapi perusahaan nya? akhh..
aku merindukan suasana seperti di season
satu. bagaimana ini.."
Ya, semenjak bubar nya pasukan sableng
di kantor nya. hidup nya sangat hampa.
kalau tidak ada Riko dan Mila di sana
sudah pasti suasana kantor sangat suram
seperti kuburan.
"permisi pak...
saya membawakan data pekerja magang
yang akan mulai interview minggu depan."
ucap salah satu staff nya Dimas.
"hmm.. letakkan saja di sana..
terimakasih.."
"Papa...." panggil dua malaikat kecil
Dimas sangat riang di ikuti sang
permaisuri dari belakang dengan bekal
makan siang nya.
Dimas langsung berdiri penuh energi
menghampiri mereka.
"hai... ummmmm...
papa baru saja merindukan kalian..
galau banget papa 4 jam belum
bertemu sama kalian."
"ayo kita makan siang Mass.."
Plakk!!!!!!
kotak bekal yang di bawa Fani terjatuh
kelantai karena tersenggol salah satu
__ADS_1
pekerja bersih bersih di sana.
...*********...