Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
S2 episode 82: Syok


__ADS_3

Di hari sabtu yang cerah, embun pagi yang membasahi dedaunan seakan menyuruh semua orang enggan beranjak dari kasurnya.


ddrrttt....drrtt.. dering ponsel di atas meja membuat Rey terbangun. ia berpikir hari ini hari kerja, makanya ia langsung membuka pesan tersebut.


"sabtu? aaarghh! siapa yang mengangguku di weekend yang cerah ini." gerutunya saat melihat pojok kanan layar ponsel.


Di tariknya layar ponsel kebawah, terpampang lah pesan dari Vino "keluar! aku di depan rumahmu!"


"dia di sini? sepagi ini??" ucap Rey tersenyum sumringah sambil menghentakkan kaki kegirangan.


Tanpa mencuci muka lebih dulu, Rey langsung beranjak dari kamarnya.


"ada apa?" tanya Rey dari balik pintu.


Vino menunjukkan foto ikat rambut beserta kancing baju milik istrinya "apa yang kalian lakukan sampai benda ini berserak di mobil mu?" suara Vino terdengar berat, mata nya pun menatap sinis Rey.


Rey tersenyum tipis "kau kesini..sepagi ini, hanya untuk menanyakan itu?"


"jawab saja pertanyaan ku!" tukas Vino kesal.


"kenapa kau tidak tanya langsung pada istrimu?"


Vino maju satu langkah kehadapan Rey "aku sudah menanyakan nya."


"chh.. lalu kau kesini menanyaiku? kau tidak percaya pada istri mu?"


"aku mempercayainya, tapi aku juga ingin mendengar pihak kedua, apakah jawaban kalian sama atau tidak!"


Rey menggandeng tangan Vino dan mengajaknya ke garasi "kurasa jawabanku tidak akan menghilangkan kecurigaan mu"


"hei! kau gila?! lepaskan tanganku atau ku patahkan lenganmu!"


"ya.. aku memang gila, kau tau itukan?" sahut Rey tak menggubris ancaman Vino.


Rey membuka mobilnya, lalu mengambil kartu memori dari kamera dashboard "aku menjemputnya pukul 16 lewat 10 menit, kau bisa langsung lihat apa saja yang kami lakukan kemarin."


"bisa saja kau merekayasa ini, aku tau kau sangat pintar dalam merencanakan sesuatu." ujar Vino masih tak percaya sembari menudingkan kartu memori tersebut di depan wajah Rey.


Rey menarik nafas berat, ia tersenyum manis namun tatapan matanya tampak kesal. "aku tau kau cemburu pada ku. tapi ketahuilah, yang ku sukai itu dirimu.. hanya dirimu.." lirihnya tulus sambil meletakkan tangannya di dada Vino.

__ADS_1


GUBRAKK!! tempat sampah di dekat pagar terjatuh akibat tak kuasa menahan tubuh Nurul yang hampir tersungkur. ia berusaha berdiri tegak sambil menepuk-nepuk kedua telinganya untuk memastikan pendengarannya tak salah.


Dua jantan yang tengah menyatakan cinta tadi pun sontak menoleh kearah Nurul dengan mata terbelalak.


"Ran??" "Nur?!" ucap mereka serempak.


Nurul mendekati mereka "heh kalian! Nur dengar JELAS BANGET tadi! cepet jelasin sejak kapan kalian ssshsh!! menjijikkan!!" rutuknya bergidik merinding.


"hei, sayang.. jangan salah paham. cuma dia kok yang stres Saya nggak! ini cinta bertepuk sebelah tangan sumpah!" tutur Vino kelabakan, malu banget pastinya kepergok istri bersama jablay garangan.


Plakk! satu tabokan pedas melayang di bahu Vino hingga membuatnya meringis kesakitan.


"Cinta bertepuk sebelah tangan?! masih bisa Mas bilang kalau ini cinta?! ini bukan cinta Mas!"


"jangan kasar bisa?!" tegas Rey dengan tatapan tajam ke arah Nurul.


"hhh!!" dengus Nurul kesal "wahh! bener bener error ni orang" rutuknya syok saat melihat Rey tampak tak terima.


"heh! berani kau membentak istriku?!" hardik Vino tak terima sambil mencengkram leher baju Rey.


"mana bisa aku diam melihatmu di aniaya. sebelah mana yang sakit? apa di sini?" Rey meraba punggung Vino namun langsung di tepis kasar oleh Vino.


Sementara Nurul terduduk sambil meremas kuat kepala nya "AAAAAK!!" teriakan kuat ia pecahkan untuk menyadarkan bahwa kegilaan ini tak nyata.


"jangan pegang!!! JANGAAAN!" pekiknya meronta.


Vino pun langsung berdiri menjauhi Nurul. "ini semua gara-gara kau!" gerutu Vino melempar tatapan bengis. sementara Rey hanya tersenyum kecil dan menaikkan kedua bahunya.


...~~~~...


Di kamar, lebih tepatnya di samping kasur Nurul menyandarkan badan di dipan sambil melamun.


"Pak Rey suka sama Mas Vino.. dan Mas Vino tau itu, lalu mereka tetap dekat meskipun tau laki-laki itu nggak bener. apa jangan-jangan Mas Vino..... tunggu! beberapa hari ini aku di cuekin gara-gara ini? apa Mas Vino juga punya rasa sama dia? lalu tentang Ayu?.."


"Ran.." panggil Vino mengejutkan Nurul.


Bukannya menyahut, Nurul malah memandangi Vino perlahan dari ujung kepala hingga ujung rambut dengan tatapan mencurigakan.


"wah.. padahal tadinya Saya kesana karena mencurigai kalian. tapi sekarang malah kamu yang mencurigai Saya."

__ADS_1


"Ngaku! udah ngapain aja kalian?!"


"ASTAGA sayang... Saya normal ya ampun. masa suami mu yang gagah perkasa ini kamu curigai penyuka batang-batangan."


"buktinya akhir-akhir ini Mas cuek sama Nur! pasti Mas mikirin dia terus kan?" tuduh Nurul lagi dengan kecepatan suara melebihi knalpot racing.


Vino meremas wajahnya sambil mendengus berat "iya memang Saya mikirin dia. tapi Saya mikir gimana caranya itu lelaki kardus biar nggak ngejar-ngejar Saya. sumpah demi apapun Saya juga sama terkejut bahkan depresi waktu tau semua ini Ran. kamu bayangin coba seorang Vino yang tampan gagah menawan, yang banyak di kejar wanita wanita cantik dari belahan dunia tiba-tiba di sukai sama lelaki abal-abal. bayangin Ran. tertampar banget Saya aarrghhh!!!!" ocehnya panjang lebar meluapkan seluruh unek-unek.


Melihat raut wajah suaminya, Nurul turut prihatin walaupun belum sepenuhnya yakin. barulah ia sadar kalau ternyata sikap dingin Vino beberapa hari ini bukan karena dirinya belum siap mempunyai momongan, melainkan karena hadirnya orang ketiga yang tak di undang dan tak di duga.


"Ayu tau?" tiba-tiba ia mengkhawatirkan adiknya.


"Papa Adit, Dimas dan Ayu, mereka semua tau."


"dia bilang mau mendekati Ayu, ternyata bohong. segitu terobsesinya dia sama Mas. kalau dia nekat rebut Mas dari Nur gimana?" tatapan Nurul seakan menggambarkan kekhawatiran yang amat sangat.


Bukannya menenangkan sang istri, Vino malah tertawa lepas "hahahahahha... nggak lah. nggak mungkin Saya ninggalin istri yang paling cantik ini. apalagi demi laki-laki abal-abal itu, nggak akan sayang..." ia mengusap perlahan pipi Nurul sambil tersenyum gemas. tatapannya pun sangat dalam seolah hendak menagih ucapan Nurul kemarin.


"ya siapa tau.. dulu katanya nggak suka sama tante Zey, tapi di sosor malah nyosor balik." sewot Nurul kesal.


Vino langsung gugup mendengar itu, "k..kapan? nggak pernah kok."


"waktu di mobil.. sehabis nganter tante Zey konsul ke psikolog."


"bukannya kamu tidur waktu itu?"


"cuma pura-pura. benerkan berarti? pake acara ngelak segala." ketus Nurul, malah ia yang berkeringat dinging saat mengingat kejadian itu.


"kok kamu masih ingat sih Sayang. udah lama banget loh itu."


"inget lah, itu pertama kali nya mata Nur ternodai. ck..! nggak nyangka laki-laki mesum didepan anak bawah umur itu sekarang jadi suami ku." rutuknya membuang muka.


Melihat keadaan kurang kondusif, Vino berpikir keras mengalihkan percakapan itu sebelum Nurul semakin mengorek semua kejadian itu lebih dalam lagi.


"kamu nggak lagi cari gara-gara kan? biar kita berdebat, terus kamu mau lupain ucapan kamu kemarin." senyum licik dan buas seketika merekah di wajah Vino.


"hah? u..ucapan apa?" tanya Nurul tak mengerti.


Vino melonggarkan dasinya sambil berjalan ke arah Nurul "satu..dua.. atau tiga.. sepertinya Saya sudah memikirkan mau berapa.."

__ADS_1


*g*lekk.. keringat di dahi Nurul menetes melewati pelipisnya yang tengah panas dingin.


...**********...


__ADS_2