Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
S2 episode 25: Resah


__ADS_3

baaghh!!


Kaki jenjang Vino melayangkan jurus seribu bayangan nya tepat di batang leher Bian. dan dalam hitungan detik Bian tumbang


di tempat tak sadarkan diri.


"bang Bian...!!


ya ampun pak Vino..


kok di tendang sih?"


yang pingsan kekasih nya, pelaku nya


orang yang dicintai nya. bingung lah Nurul


mau marah pun tak bisa sebab dua dua


nya terluka.


"kenapa??


aarghh.. harus nya ku kubur saja langsung."


Vino masih sempoyongan karena habis


mengeluarkan separuh tenaga nya.


"pak..bantuin buruan!


kita ke rumah sakit.."


"tidak mau..!"


Nurul melengos kesal ke Vino, ia berusaha


memapah tubuh Bian sendirian.


tentu saja Vino cemburu melihat itu,


terpaksa ia pun membantu Nurul.


"chh..


dasar lemah..


baru di senggol pingsan."


gumam nya jengkel.


"senggol?


bapak tendang loh ini..


kaki bapak aja segede gajah!"


"tetap saja lemah!!"


Berdebat lah mereka sambil menyeret Bian


ke dalam mobil. di sisi lain Nurul bingung,


kok bisa bisa nya Vino mengikuti sampai


kesini. sementara Vino ngempet jengkel


karena merasa di PHP in dong sama Nurul.


kata nya cinta eh malah balikan sama Bian.


...~~~~...


Di rumah sakit...


"ia mengalami cedera ringan di tulang leher,


walau ringan, dia harus beristirahat total


selama dua minggu.


kenapa bisa sampai begini? jatuh?"


tanya dokter sambil memasang alat


peyanggah leher.


"iya.. iya jatuh dok."


sahut Nurul cepat.


"bagaimana posisi jatuh nya?"


tentu saja dokter penasaran, kalau kepeleset,


kok bahu nya tidak cedera.


"saya nggak tau dok, soal nya pas ketemu


udah pingsan begini."


Nurul terpaksa berbohong demi kebaikan


bersama.


...-...


...-...


Setengah jam kemudian, Bian tersadar dari pingsan nya. tatapan nya langsung terpaku


penuh dendam kepada Vino.


"bang..? abang udah sadar?"


Nurul langsung mendekat khawatir.


"udah melek ya berarti sudah sadar!"


celetuk Vino sewot.


"hei! kenapa kau menendang ku?!"


ucap Bian menekan suara nya.


"kau yang memulai duluan.!"


"tapi aku memukul mu pakai tangan.


kenapa kau pakai kaki?!"


"bersyukurlah nyawa mu masih menempel.


biasa nya korban kaki ku langsung berpindah alam." sahut Vino sewot.


"kemari lah!! kemari kau!!"


Bian berusaha menendang Vino dari atas ranjang nya.


"fffftt!!!!

__ADS_1


kalian bisa diam nggak? atau Nur tendang


nih satu satu!"


"Ran../ dek.."


panggil mereka bersamaan.


"kamu lebih memilih dia di banding saya?


laki laki lemah ini?"


tanya Vino menatap remeh Bian.


"tentu saja.. aku kekasih nya.


dek, kamu sudah berjanji kan sama saya


untuk mencintai saya seutuh nya seperti


dulu lagi."


"Nur akan berusaha bang.."


"tuh.. dengar!"


Bian sangat bangga mendengar jawaban Nurul.


"lima tahun berlalu, dan cinta mu tetap untuk saya. berapa lama lagi kamu ingin


memaksakan diri untuk mencintai dia


hmm?" Vino memegang bahu Nurul


sengaja untuk membuat Bian panas.


"Pak... tolong.."


Nurul menepis tangan Vino dan geleng kepala mengisyaratkan agar Vino tak membahas bahas itu.


"baik lah... jika kamu memutuskan untuk bersama nya. saya membiarkan kamu menjadi milik nya, tapi ingat. saat di rumah


kamu akan menjadi milik saya."


bisik Vino tajam lalu pergi dari sana


dengan rasa kesal.


"apa yang dia katakan?"


Bian berusaha menguping tadi, tapi tetap tak dengar.


"sampai jumpa kata nya.."


sahut Nurul berbohong.


"apa kalian masih tinggal satu rumah?


kenapa dia tak kembali ke rumah nya?"


"El, dia nggak mau jauh dari Nur bang.


dan dia juga nggak bisa jauh dari ayah nya.


jadi ya..."


Bian tak habis pikir dengan keadaan ini.


ia menganggap kepulangan Vino


mengacaukan segalanya.


kini diaharus khawatir sebab saingannya orangdalam. ternyata melepaskan orang


yang sangat di cintai tak semudah yang ia bayangkan.


padahal kemarin ia dan Viona sudah


membahas ini, tapi ternyata sulit untuk


menerima kenyataan cinta yang


bertepuk sebelah tanga.


...~~~~...


Setelah mengantar Bian pulang,


Nurul kembali ke rumah nya dengan


perasaan bimbang.


"benarkah keputusan yang ku ambil ini?


aku dan pak Vino saling mencintai,


tapi aku tak mau menyakiti bang Bian.


bisakah aku mencintai bang Bian seperti aku mencintai pak Vino?


kalau ternyata nggak bisa? bukankah lebih menyakitkan lagi bagi bang Bian.


aaaaaaaakkk!!!!


menyebalkan! kenapa aku mencintai


orang tua itu!"


"kalau yang saya maksut kamu,


terimakasih untuk cinta nya, tapi tua???!


saya masih cukup muda untuk memantaskan


diri menjadi pendamping mu."


suara Vino membuat Nurul terkejut.


Nurul langsung menyalakan lampu kamar nya dan sangat terkejut lah dia kala melihat El dan Vino tidur menguasai ranjang nya.


"kenapa kalian tidur di sini?"


"El... bunda pulang tu.."


panggil Vino.


El dengan kebiasaan ajaib nya langsung


terbangun saat Vino menyebut kata bunda.


"bunda..


kenapa lama banget pergi nya..?


El rindu sekali.."


ia langsung berlari menghampiri Nurul


walau seluruh nyawa nya belum kumpul.

__ADS_1


"maaf ya El.. tadi bunda ada urusan penting banget..."


"El seharian tidak bertemu bunda..


memang nya bunda tidak merindukan El?"


"rindu banget.. bunda rindu sama El,


sebagai ganti nya, malam ini El boleh deh tidur sama bunda.."


Nurul mengecup pipi gembul bocah mungil itu berkali kali untuk melepaskan kerinduannya.


"dengan ayah juga??"


tanya El berbinar.


"ng.. nggak El, kita berdua aja ya.."


sahut Nurul tersenyum masam.


sedangkan Vino tersenyum penuh arti di atas ranjang Nurul dengan posisi telungkup.


"ayo.. sini, ajak bunda nya naik.."


lambaian tangan Vino untuk El benar benar menggoda seakan akan mengajak berumah tangga di mata Nurul.


"yeeayy....!! tidur sama ayah bunda lagi..


horee..." El melompat lompat kegirangan.


Setelah bersih bersih,cuci muka dan


skincare-an. Nurul naik ke atas ranjang dan mengelus ngelus punggung El.


hanya dalam hitungan menit, El sudah kembali tertidur pulas dengan senyuman bahagia membingkai wajah nya.


Sementara Vino, dari mulai Nurul masuk


kamar hingga sekarang. pandangannya tak pernah lepas mengikuti Nurul.


tentu saja Nurul menjadi canggung dan salah tingkah.


"Pak.. El sudah tidur, silahkan keluar."


pinta Nurul tanpa melihat Vino.


"apa yang ada di pikiran kamu?"


tanya Vino spontan.


"hah??"


"ck..


saya mencoba memahami apa yang ada


di pikiran kamu, tapi tetap tidak bisa


masuk di akal."


"ngomong aja langsung pak.


jangan berbelit belit."


"dengan tatapan rapuh dan putus asa kamu mengungkapkan cinta untuk saya.


tapi dalam sekejap kamu menghempaskan itu, kamu kembali dengan kehidupan mu.


sementara saya? saya bingung, kenapa


kamu mengungkapkan cinta kalau akhirnya memutuskan untuk melanjutkan hubungan


dengan Bian.


nyaman kah bagimu situasi kita ini?


kita saling mencintai, tapi kamu berpacaran dengan orang lain.


kita tidak bisa bersama tapi kita satu rumah.


apa cuma saya yang bingung disini?"


tutur Vino, ia menatap dalam ke arah Nurul seperti membidik langsung ke jantung.


"nggak cuma bapak yang bingung,


Nur juga bingung pak.


kenapa Nur mengambil keputusan bodoh, mencintai dua lelaki sekaligus.


hhh.. seandai nya bisa, Nur ingin menjadikan kalian berdua pendamping hidup biar nggak ada yang tersakiti."


"wahh.. kamu sangat serakah..


jangan berpikir saya akan tinggal diam.


saya akan menempuh jalan terbaik untuk


menjadi satu satu nya lelaki di hidup mu"


"bang Bian itu baik pak..


selama bapak pergi, dia yang selalu ada


untuk Nur. dia yang berjuang membuat Nur tersenyum di saat saat sulit.


Nur nggak siap kalau harus kehilangan


dia pak."


Vino pindah posisi mendekati Nurul.


"Ran.. sesuatu yang berharga memang


sangat sulit untuk di tinggalkan.


tapi percayalah, alasanmu bertahan


dengannya cuma karena tak tega dan


kasihan jika dia harus menderita.


maka dari itu, jujur lah dari sekarang


sebelum saya nekat dan pasti akan lebih


sakit jika dia tau semua nya sia sia."


ia keluar dari kamar Nurul sambil memainkan korek api nya.


Nurul terpaku di tempat, sekujur tubuh nya merinding saat tatapan tajam Vino menusuk sampai ke dalam jiwa nya.


"benar..


cepat atau lambat, bang Bian tetap


akan sakit hati jika aku tak bisa berhenti


mencintai pak Vino.

__ADS_1


...**********...


__ADS_2