Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
episode 36 : Belanja


__ADS_3

Saat mandi Dimas kembali teringat akan perkataan Sean. seketika kepala nya menjadi sakit karena perkataan Sean membuat Dimas seperti merasakan kembali masalalu nya yang kelam.


"aaaaggggrrr.!!!!!" Dimas memukul dinding kaca di kamar mandi saking kesal nya.


rasa trauma akan kegagalan nya membina rumah tangga kini kembali menghantui nya.


sudah bersusah payah ia melupakan nya,tapi Sean tiba tiba muncul dan mengungkit masa kelam itu lagi.


Selesai mandi Dimas menuju ruang pakaian nya dan ia mendapati Fani sedang berdiri di depan lemari sambil menata baju yang berantakan.


"hhh.. besok aku harus bangun lebih cepat dari Mas, biar baju nya nggak berserakan kaya gini."


gumam Fani terkekeh. ia tak menyadari kalau suami nya sedang memandangi nya dari belakang.


"baju yang mana ya buat Mas.. yang ini.. atau ini.. ah,,ini saja deh." ia terlihat bingung memilih baju yang akan di kenakan Dimas.


Sedang asik menata kembali baju nya,tiba tiba Dimas memeluk nya dari belakang. tentu saja Fani seketika terkejut dan membeku di buat nya.


"Mas...pake baju dulu.." ujar Fani gugup,ia bisa merasakan kulit Dimas yang terasa dingin karena saat itu ia hanya menggunakan handuk sebatas pinggang.


"sebentar aja..." pinta Dimas manja.


Fani pun hanya menganggukkan kepala nya perlahan.


" tenang kan diri mu Fani.. dia suami mu.. dia berhak atas diri mu." batin Fani sambil berusaha menahan detak jantung nya yang hampir meledak.


"lihat.. wajah mu merah.." Dimas memutar tubuh mereka kearah cermin besar yang berada di sisi kanan ruangan.


Fani hanya tersenyum kaku ke arah cermin melihat diri nya yang sedang di dekap Dimas.


rasa merinding pun merayap di sekujur tubuh nya kala melihat Dimas yang telanjang dada.


kruuuukkk


Perut Dimas seperti nya tidak bisa di ajak kerja sama kali ini.


"tuh Mas.. ayo makan dulu,nanti keburu sakit lagi kaya kemarin." Fani langsung melepaskan diri nya kemudian meninggalkan Dimas agar segera memakai baju nya.


"bahkan perutku sendiri tidak mendukung.."


rutuk Dimas dengan wajah lesu.


Malam pun berlalu seperti biasa, mereka berdua masih saja kaku. baik Fani maupun Dimas sama sama diam sambil menatap langit langit kamar nya.


tangan Dimas sudah akan bergerak meraih tangan Fani, namun ia kembali teringat akan janji nya bahwa dia akan menunggu Fani siap menjadi istri nya seutuh nya.


...~~~~...


Sabtu...


Seperti biasa,sabtu dan minggu adalah hari libur bagi seluruh pekerja termasuk juga Dimas.


kali ini Dimas ingin menemani Fani belanja ke supermarket untuk membeli kebutuhan dapur,sekalian mampir kerumah orang tua.


"sini biar Mas aja yang bawa tas kamu."

__ADS_1


"eh nggak apa apa Mas??" Fani terlihat sungkan.


"nggak apa apa sayang.. biar kamu nggak capek." sahut Dimas dengan senyuman lembut nya yang mempesona.


Para wanita di sana pun kagum mekihat Dimas yang mendorog troli sambil membawakan tas Fani. sungguh laki laki idaman. begitu kira kira gumam mereka semua.


"apa dia istri nya??"


"tidak mungkin.. usia mereka terlihat beda jauh."


"mungkin itu adik atau keponakan nya."


"iya nggak mungkin laki laki tampan dan matang itu mau menikahi anak kecil seperti dia."


gumam mereka bergantian sambil memandangi Fani dengan tatapan sinis.


Dimas yang mendengar ocehan ibu ibu rempong itu pun tak tahan.


"sayang.. kita beli ini yaa..."


ujar Dimas sambil merangkul mesra Fani dengan buah apel di tangan kanan nya.


"iya mas.." Fani menjawab dengan senyuman manis nya.


"wahhh...ternyata beneran istri nya loo.."


ujar wanita rempong tadi terheran.


"Fani kesana dulu ya mas...mau cari sayuran."


Fani pun memilih milih sayuran yang ia sukai,saat akan berpindah tempat tiba tiba seorang lelaki dengan sengaja menabrak Fani hingga membuat keranjang yang di bawa Fani jatuh.


"maaf.. saya tidak sengaja." ujar laki laki setengah bule itu sembari membantu Fani membereskan sayuran nya.


"iya nggak apa apa.." sahut Fani tanpa melihat lelaki itu.


"cantik juga istri nya Dimas." gumam lelaki itu yang tak lain adalah Sean. ia sengaja mengikuti mereka berdua dari tadi.


"sekali lagi maaf ya... saya bener bener nggak sengaja." ujar Sean sambil menatap Fani dengan pandangan aneh.


Fani hanya mengangguk dan tersenyum tipis.


" kenapa sayang??" tanya Dimas sambil menghampiri nya. dan betapa terkejut nya ia melihat Sean di sana.


"wahh.. ternyata kamu istri nya Dimas. perkenalkan saya Sean,teman Dimas saat di luar Negeri." Sean berpura pura ramah pada Fani.


"Setan??" Fani terheran,bagaimana bisa nama orang Setan. begitu batin nya.


keadaan di sana memang cukup ramai jadi Fani tak bisa mendengar Sean dengan jelas.


"fffftt.." Dimas berpura pura tertawa agar tak terbawa suasana.


"Sean.. S-E-A-N. bukan setan." ujar Sean sedikit geli karena baru kali ini ada orang yang salah mendengar nama nya. ia juga mengulurkan tangannya ke arah Fani.


namun Fani tak menjabat tangan Sean.

__ADS_1


"saya Fani." ujar nya datar.


"ayo mas kita pergi.. Fani udah selesai di sini."


Fani segera menarik Dimas dari sana,karena ia sangat risih dengan tatapan aneh nya Sean.


Sementara Dimas meninggalkan Sean dengan tatapan bak anak panah yang siap melesat.


"nggak mungkin baj*ngan itu kebetulan di sini."


rutuk Dimas kesal.


"sayang.. kalau lain kali ketemu sama dia menghindar saja ya."


"Mas juga ngerasa dia aneh kan?? berarti nggak cuma perasaan Fani aja."


"dia itu satu satu nya orang yang mau menghancurkan hidup Mas."


"haahh?? kata nya tadi kalian berteman.?"


Fani terheran mendengar penuturan Dimas.


"yaa begitulah.. musuh yang sebenarnya tidak lebih menakutkan di banding musuh yang menyamar menjadi teman."


"Berani dia menganggu Mas akan Fani hajar.!!"


Fani terlihat sangat percaya diri.


"hhhh.. memang nya kamu bisa apa dengan tubuh kecil mu ini." ujar Dimas terkekeh.


"Mas..." Fani menepuk bahu Dimas dengan manja. mereka pun tertawa riang bersama sambil terus membahas hal hal receh.


Dari kejauhan Sean yang memperhatikan mereka terlihat jengkel melihat kebahagiaan Dimas.


"kau bisa tertawa sekarang Dimas. kita lihat saja nanti, aku akan membuat mu menangis darah lagi.!"


...~~~~...


Setelah berkunjung cukup lama di rumah orang tua,kini mereka kembali kerumah dengan langit yang sudah gelap.


"kamu mandi gih.. biar Mas aja yang bawa belanjaan nya."


"nanti aja bareng mandi nya.."


sahut Fani sambil menyusul Dimas ke bagasi berniat untuk membantu Dimas membawa belanjaan.


"mandi bareng??" wajah Dimas langsung berbinar mendengar kalimat itu.


Fani menggigit bibir bawah nya karena menyadari sudah salah bicara.wajah nya juga merona seketika melihat ekpresi Dimas seperti itu.


"biar Mas aja yang gigit sini.." ujar Dimas sambil memegang bibir Fani dengan ibu jari nya.


"eh..Fani mandi duluan deh kalau gitu Mas. gerah soal nya.." ujar Fani terbata sambil meninggalkan Dimas di sana.


"sshhh... bibir mungil itu seperti sedang memanggil ku." Dimas terus tersenyum sambil memandangi Fani yang berlari masuk.

__ADS_1


...*********...


__ADS_2