Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
S2 episode 71: Rem atau Gas?


__ADS_3

Gaess ayo yg masih setia mana suara nyaaaa๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ๐Ÿ’ƒ jangan lupa like komen dan suport otor supaya... supaya anu lah pokok nya๐Ÿ™‰


happy reading beb kuhhhโค๏ธโค๏ธโค๏ธ


...๐Ÿ˜Š...


...๐Ÿ˜Š...


...๐Ÿ˜Š...


Rey mendorong perlahan tubuh Nurul yang masih kelihatan syok dan takut. "kamu tidak apa apa?" tanya Rey memastikan.


Nurul mengangguk "ya.. aku tidak apa apa,tapi dia.. tolong adikku." pinta Nurul sembari memegangi pelipis nya. sepertinya ia sedikit pusing akibat guncangan kilat tadi.


Rey berjongkok tepat di hadapan Ayu lalu bertanya "kamu tidak apa apa?"


Ayu tak menjawab, ia hanya memandangi Rey dengan tatapan curiga. bukan nya iri karena Rey lebih memilih menolong Nurul, tetapi Ayu curiga kalau Rey ada niat terselubung kepada kakak nya.


"hei.. kamu tidak apa apa?" Rey mengulangi pertanyaan nya sambil sedikit mendekatkan wajah.


Rey mengamati tatapan Ayu kepada nya, dan ia bisa langsung menebak apa yang ada di pikiran Ayu. "apa menolong seseorang sangat mencurigakan untuk mu?"


Terlihat Ayu sedikit terkejut mendengar pertanyaan Rey barusan. "a..apa?"


"Saya nanya.. kamu tidak apa apa?"


"nggak.. Ayu nggak apa apa kok." sahut nya terbata, namun ia sedikit kesal "nggak lihat apa tangan ku terkilir gini? masih di tanya lagi!" dengus nya kesal dalam hati.


...-...


...-...


Sambil menunggu makanan mereka tiba, Nurul pergi ke toilet sebentar untuk mencuci muka nya. guncangan di lift tadi benar benar membuat nya pusing hingga mual. mungkin di picu keadaan dia telat makan tadi, jadi semakin terasa lah enek nya di ulu hati.


Sambil mengusap wajah nya dengan air, Nurul terus terheran dengan perlakuan Rey kepada nya. "kenapa dia hanya menolong ku? dia kan bisa memegang Ayu agar nggak jatuh juga. apa dia... suka dengan ku? ahh! nggak nggak! jangan mikir yang aneh aneh deh kamu Nur!" bisik nya bertengkar dengan pikiran sendiri.


...-...


...-...

__ADS_1


Sedang asik menikmati minuman dingin nya, Ayu di buat kaget oleh Rey yang tiba tiba duduk di sebelah nya. ia membawa kotak PK3 beserta krim untuk meringankan gejala terkilir.


"chh.. bisa bisa nya kamu santai padahal tanganmu bengkak begitu." ujar nya datar namun di penuhi tatapan kekhawatiran.


"hiss... bisa nggak jangan buat orang kaget!" rutuk Ayu kesal.


Tanpa meminta izin Ayu, ia membersihkan luka lecet di tangan Ayu lalu mengoleskan krim sambil memijatnya perlahan. "kan ada besi pegangan di sisi lift tadi. kenapa kamu tidak pegangan itu?"


"sshh.. pelan pelan pak..! nama nya panik mana kepikiran. lagian kalau Bapak megang Ayu juga pasti Ayu nggak bakal jatuh tadi." sewot Ayu.


"kamu berharap di pegang sama Saya?" tiba-tiba tatapan Rey yang tadi nya perhatian berubah menjadi tatapan jijik.


"DALAM ARTI PERTOLONGAN!! bukan pegang yang gimana gimana." sahut Ayu semakin kesal.


"lagian bisa kali Bapak tuh pegang kakak, terus pegang Ayu juga. nggak harus nempel nempel kaya gitu tadi. modus aja! awas loh kalau sampai punya rasa atau apa sama kak Nurul! Ayu bilangin ke Pak Vino biar di hajar abis Bapak!" ancam nya sembari menudingkan jari ke arah wajah Rey.


Mendengar itu Rey hanya tersenyum jengah. "bisa diam? susah nih benerin urat nya kalau kamu gerak terus."


"gimana gimana? apa yang di hajar habis? dan siapa yang punya rasa sama istri ku?" celetuk Vino tiba tiba membuat mereka langsung terdiam.


Dari tatapannya, sepertinya ia sudah tau siapa dan apa maksut perkataan Ayu tadi. namun ia pura pura tak tahu karena tak ingin terbakar oleh kesalahpahaman.


ucap Rey gamblang.


"idihhh.. malah di bilang! belum tau apa dia kalau Pak Vino punya jiwa detektif." batin Ayu sambil mengerjapkan mata.


Tentu saja itu membuat Vino merasa kalau saingannya bertambah satu orang lagi. yang membuatnya tidak mempertimbangkan pengakuan Rey barusan karena ia tau Ayu adalah orang yang tak pernah asal asalan menuduh orang. jika Ayu berkata begitu, berarti ada sesuatu yang ia rasa tidak beres mengenai Rey. itu sebab nya Vino tak menganggap perkataan Rey barusan hanyalah candaan semata.


"lalu.. apa tanggapan mu mengenai pemikirannya?" tanya Vino menatap tajam mata Rey.


Rey tersenyum tipis, ia membalas tatapan Vino dengan tatapan kagum.


"tidak ada.. karena memang aku tidak menyimpan perasaan seperti itu kepada istri mu."


...~...


Di sebuah kos kosan mungil, tampak seorang wanita paruh baya tengah bertengkar dengan anak nya yang tak lain adalah Mei.


"Mei!! sadar kamu! ibuk ini udah nggak ada yang carikan uang. dari pada kamu menghabiskan hidup cuma-cuma di sini mendingan kamu pulang cari kerjaan untuk bantu ibuk. nggak ada guna nya kamu kejar beasiswa titel dan lain lain kalau hidup kita aja masih miskin seperti ini! kamu mikir dong, gimana coba nanti kamu bayar kos, uang makan dan lain lain. ibuk udah nggak punya uang sama sekali Mei.!"

__ADS_1


Mei menghela nafas panjang, mata nya pun berkaca kaca seperti ingin menumpahkan kegelisahan serta kesedihannya. namun ia menahan itu semua agar tak terlihat lemah di depan Ibu nya.


"Buk.. Mei kuliah juga nggak cuma untuk bergaya kok. Mei sadar kita miskin, Mei sadar itu! justru karena kita miskin maka nya Mei bertekad untuk jadi orang sukses. untuk nyenengin ibuk juga.."


nada biacaranya terdengar emosi dan juga bergetar karena menahan tangis.


"Ibuk melarang dengan alasan nggak punya uang untuk biayai kehidupan Mei di sini. ibuk sadar nggak sih. sepeserpun ibuk nggak pernah ngeluarin uang selama Mei kuliah. semua yang ngebiayain itu mendiang Bapak!!" kali ini Mei tak kalah emosi nya, tampak dari raut wajah yang semakin tegang.


"nggak pernah kamu bilang?! ibuk berusaha mencukupi semua kebutuhan mu tapi kamu nolak SEMUANYA!!"


"karena uang yang ibuk dapat itu hasil dari meras SUAMI ORANG!" air mata yang ia bendung terurai deras saat mengucapkan kehinaan ibu nya itu.


PLAK!!! satu tamparan keras membuat Mei langsung tersungkur ke lantai.


Api kemarahan tersulut jelas di bola mata Evi.


"anak nggak tau diri kamu! begitu cara mu ngomong sama ibuk? anak kurang ajar kayak kamu jangan mimpi jadi orang sukses! nggak akan pernah! dasar ******!!"


Evi meludahi tanah tempat nya berpijak seakan-akan mengutuk Mei dengan perkataan nya barusan lalu pergi dari sana.


Pedih? jangan di tanya lagi. sakit pun sudah pasti Mei rasakan seperti beribu tombak yang menancap di relung hati nya kala sang ibu menyebutnya dengan kata kata tak pantas.


...~~~~...


Makan tak nyenyak, tidur tak enak. begitu kira-kira kata yang pas untuk menggambarkan kondisi Vino malam ini. setelah apa yang ia dengar dari percakapan Ayu dan Rey tadi ia semakin was was, takut apabila Nurul berpaling ke lain hati.


Di satu sisi ada Bian yang pernah menjadi cinta nya selama dua tahun, mana belum move on lagi sampai sekarang. di sisi lain ada Rey yang bau-bau nya sudah mulai mencurigakan. di tambah si Rey ini tak kalah muda dan ganteng dari saingan pertama yakni Bian.


"gawat.. gawat... nggak bisa di biarkan ini." gerutu nya sambil menggigit kuku ibu jari dan mondar mandir di balkon kamar.


"harus cepat cepat kasih investasi nih ke Ran, biar dia ada jaminan." tambahnya, investasi yang di maksud adalah anak. kalau Nurul sudah mengandung anak dari nya, otomatis pasti berpikir seratus kali dong kalau mau pindah ke lain hati.


"ck.. tapi dia belum siap, lagi pula dia masih kuliah. kasihan juga nanti kalau sampai dia cuti kuliah gara gara hamil. tapi... apa aku diam-diam aja ya, bilang aja nanti kebablasan."


Ia berpikir ini adalah ide briliant. namun sesaat kemudian ia bimbang kembali kala membayangkan bagaimana kalau Nurul tak menerima anak itu? atau bagaimana kalau nantinya Nurul malah stress?


"apa yang kebablasan Mas?" tanya Nurul tiba-tiba. ia baru saja keluar dari kamar mandi menggunakan handuk seksi berwarna merah muda, kulit nya yang putih bersih jadi tampak ranum di balut handuk itu.


glek.... pemandangan menggiurkan itu langsung meluluhlantakkan batin Vino yang tengah berkecamuk.

__ADS_1


...********...


__ADS_2