Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
apisode 49 : Kebun kelapa


__ADS_3

Terlihat Sean dan Zey sedang mengobrol seirus di sebuah klub malam. Sean ingin memastikan kalau Zey melakukan tugas nya dengan baik.


tapi Zey yang notabene nya masih punya nurani,ia tak sampai hati jika harus menghancurkan kebahagiaan Fani,ya walaupun sejujur nya ia sangat iri dengan keberuntungan Fani.


Sean: "kau sudah melakukan apa yang ku suruh kan?"


"hmm.." jawan Zey malas dan setengah mabuk.


"ingatlah Zey.. kau harus merayu Dimas agar dia berpaling dari istri nya. aku yakin,dia akan terpancing oleh mu."


"sabarlah.. butuh waktu untuk mendekati seseorang,tidak mungkin aku langsung mengatakan suka pada nya sementara kami tidak kenal." Zey mengelak sebisa mungkin agar Sean tak mendesak nya.


"cchh.. jangan harap aku akan menuruti mu kali ini! kau lihat saja siapa yang lebih bodoh di sini!"


gumam Zey kesal dalam hati.


"tidak mungkin dia lupa pada mu,dia itu tipe orang yang sangat mudah terbawa perasaan.aku yakin dia tidak lupa dengan mu karena kau cinta pertama nya." lagi lagi Sean merasa sangat percaya diri. ia sudah tidak sabar menantikan Dimas hancur dalam segala hal.


"apa yang membuat mu sangat membenci nya?"


tanya Zey sambil terhuyung mabuk.


"ck.. jangan ikut campur dan kerjakan saja tugas mu!!" sahut Sean. ia melempar kan barang haram yang habis di hisap nya lalu pergi dari sana dengan kepercayaan diri penuh bahwa tak lama lagi Dimas akan merasakan apa yang ia rasakan dulu.


...~~~~...


Kembali ke RS...


"maa... Ayu ngantuk.." rengek si bungsu kepada Rianti,kelopak mata nya seakan sudah enggan untuk terbuka lebih lama lagi.


"bentar lagi ya nak.. kita tunggu kak Nurul kembali" bujuk Rianti sambil mengusap punggung si bungsu agar merasa nyaman.


"mama pulang aja duluan pakai mobil Dimas,nanti biar Nurul pulang sama Vino. kasihan si Ayu udah ngantuk banget." imbuh Dimas sembari tetap fokus pada layar laptop dan tumpukan berkas nya.


Rianti pun menyetuji saran Dimas,ia pun sudah mengantuk juga lelah karena sudah dari tadi siang ia di sana.kalau menunggu Nurul dan Vino yang akan memakan waktu minimal 2 jam bolak balik keburu lengket mata nya.


Orang tua Dimas pun berpamitan dari sana tanpa membangunkan Fani.


karena Fani masih tertidur pulas sambil sesekali menelan liur nya yang mencair karena sudah kepinginnnnn banget makan rujak mang udin.


sampe terbawa mimpi kaya nya😅


...~~~~...


...-...


...-...


...-...


Vino dan Nurul sudah hampir tiba di tujuan, mereka sudah memasuki kawasan ramai pemukiman pinggiran kota di mana rumah lama Nurul dulu berada. hanya tinggal separuh perjalanan lagi,tapi jalan yang hendak mereka lewati malah terhadang oleh warga yang sedang mengadakam acara pernikahan.


maklum lah,kawasan sempit begitu memang biasa di blokade dengan acara nikahan.


"loh.. terus kita lewat mana?" Vino tampak heran,karena baru kali pertama ia melihat jalan di blokade oleh acara kawinan.


"jalan pintas ada sih sebelah sana pak, tapi mobil nggak bisa masuk karena jalan nya kecil."


"ya udah kita jalan kaki aja.." Vino segera mengambil ancang ancang untuk memarkirkan mobil nya di sana.


"aduh jangan pak.. jauh bisa bisa pagi baru sampai kita di rumah sakit" ujar Nurul,karena memang perjalanan masih setengah lagi. jadi akan lebih lama kalau mereka jalan kaki.


"terus gimana?? kita tunggu sampai kawinan nya selesai?" Vino menatap Nurul heran.


"tenang.. ada jalan lain kok pak."


sahut Nurul santai, ya memang ada jalan lain yang menuju ke rujak mang udin. tapi jalan itu merupakan jalan perkebunan kelapa dan sangat sepi bila malam hari.


"ya udah gass lah.." Vino menekan pedal gas nya dan keluar dari gang senggol itu.

__ADS_1


"aneh aneh aja.. terus kalo orang dari dalam yang punya mobil mau keluar nggak bisa dong?"


"Pak.. ini kawasan orang orang seperti 'kami' jadi nggak ada orang yang punya mobil di sana. punya motor saja seada nya itu pun hasil kredit.


ya begitu lah memang kehidupan orang pinggiran seperti kami.


"glek.." Vino langsung tercekat kala mendemgar penuturan Nurul. ia merasa tidak enak sudah mengatakan hal itu kepada nya."


Setelah 40 menit melewati jalan perkebunan,akhir nya mereka sampai ke tempat tujuan mereka.


"huhhh... syukur lah mang udin masih jualan."


Nurul sangat lega,tadi nya ia takut kalau mang udin sudah pulang.


"Bapak mau rujak nya??"


"boleh.." sahut Vino.


Sembari menunggu pesanan nya di buat,Nurul tampak memgobrol asik dengan mang udin.


ya mereka memang akrab karena dari kecil Nurul dan yang lain nya sering mampir ke sana saat pulang sekolah.


Vino yang tetap di mobil terus memperhatikan wajah ceria nan ramah nya Nurul. sekali lagi ia terpukau akan wajah Nurul yang manis 11 12 lah sama kakak nya.


Vino belike: nggak dapet kakak.adik pun jadi😎


Seketika ia seperti tersambar geledek saat mengingat dulu pernah mengejek Dimas yang sudah tua tapi menyukai Fani yang 15 tahun lebih muda.


"apa ini karma??" gumam Vino sambil melongo.


"ayo Pak.." ucap Nurul yang tanpa di sadari sudah duduk di dalam mobil dengan 4 mika rujak di tangan nya.


"ohh.. iya.." Vino pun langsung menyalakan mobil dan berlalu dari sana.


...~~~...


2 jam kemudian...


"Mas.. kok Nurul belum sampe ya.."


"mungkin kejebak macet sayang.. sabar ya"


Dimas mengelus lembut perut Fani sembari tersenyum hangat.


"Fani gerah Mas.. pengen mandi..." ujar Fani lagi, ia merasa tubuh nya sangat lengket dan gerah karena dari pagi tidak mandi.


"Jangan dong sayang.. nggak baik mandi malem malem gini"


"hhhmmm... tapi gerah mas.." rengek Fani lagi.


"Mas lap pakai handuk aja ya, biar ilang gerah nya." bujuk Dimas.


Fani pun menuruti anjuran Dimas.


Dimas segera ke toilet untuk mengambil segayung air hangat beserta handuk kecil yang tersedia di sana.tak lupa Dimas meneteskan sedikit sabun mandi agar Fani merasa lebih fresh.


Setelah membantu Fani melepas pakaian nya,Dimas dengan telaten mengusap pelan seluruh tubuh Fani dengan handuk yang sudah di celup kan ke air hangat tadi.


"kamu udah maafin Mas?"


tanya Dimas penuh harap.


"hmmm..." Fani masih kesal jika membahas hal itu.


"Maafin Mas ya sayang.. muuach"


Dimas mengecup lembut kening Fani.


ia sangat resah karena Fani belum memaafkan nya, ia juga bingung harus dengan cara apa mengambil hati Fani kembali.

__ADS_1


Tapi ada yang lebih meresahkan lagi, yaitu keinginan nya yang sangat memuncak untuk baku hantam kala melihat tubuh polosan Fani di atas ranjang. rasa nya melewati 3 hari tanpa bercocok tanam membuat jiwa agresif Dimas memberontak untuk segera di lepaskan.


...~~~~...


"kaya nya kita salah jalan deh pak.."


ujar Nurul ragu.. pasal nya jalanan yang mereka lalui ini terasa beda dari yang pertama.


"lahh.. jadi puter balik nih?" tanya Vino sedikit tak yakin.


Nurul mengangguk sambil cengengesan di kursi nya.


"awas nyasar lagi.. saya tinggal kamu di sini."


tukas Vino sambil melirik Smirk ke arah Nurul.


Mereka pun tiba di simpang 4 awal,dan Vino langsung mengambil arah kiri.


"bukan ke sini pak." ujar Nurul yakin.


"tadi kan kita lewat sini masuk nya.."


Vino pun terlihat sangat yakin.


"bukan pak.. yang sana tuh ada tanda nya pohon kelapa bengkok"


"kamu bandel ni di bilangin orang tua."


"beneran pak.. percaya deh."


"hhhffff.... awas aja salah lagi.beneran saya turunin kamu di sini" sahut Vino dengan wajah terpaksa,ia memutar lagi mobil nya ke arah yang di maksut Nurul.


Dan benar saja, jalan yang di tebak Nurul pun akhir nya benar. setelah 30 menit berputar putar di kebun kelapa akhir nya mereka bisa keluar dari sana.


"aahhhh...akhir nyaa aaahhhoooammm..."


Vino menguap lebar saat mereka tiba di jalan raya.


"nih makan dulu Pak,biar melek mata nya."


Nurul menyodorkan rujak pedas yang sedari tadi ia kunyah sudah sampir setengah porsi.


"nggak usah.." tolak Vino,karena ia tidak bisa fokus jika menyetir sambil makan.


"yakin pak.. enak loh.. pedes seger,,langsung melek mata di buat nya." ujar Nurul sambil mengecapkan bibir nya hingga membuat Vino menelan ludah.


"nggak.." ujar Vino pendek.


sebenarnya ia juga ingin,apalagi saat membayangkan sensasi asam pedas segar manis jadi satu,membuat liur Vino semakin mencair.


"pingin sih, tapi aku nggak bisa nyendok sambil menyetir. ya kali minta suapin,yang ada di cap ganjen aku sama ni bocil." Vino hanya membatin sambil berusaha menelan ludah nya.


Sementara di samping Vino Nurul asik mengunyah rujak segar itu sambil merem melek karena rasa asam plus pedas sedang menjajah isi mulut nya.


"sssrrrppp... mmmmm... hhhaaahhh terbaik emang mang udin"


oceh nya tak jelas sambil terus mengunyah.


Vino hanya bisa memfokuskan otak nya yang di penuhi rujak melayang untuk tetap menyetir agar cepat sampai ke rumah sakit.


...*******...


Visual Nurul..



Nama lahir: Alisha Kirana


umur: 16 tahun kelas 3 SMP

__ADS_1


sifat: rajin,ceria,kreatif dan penurut.


__ADS_2