
Sesuai janji nya, Dimas memberikan sejumlah uang kepada Zey karena telah berhasil membantu nya membekuk Sean. tak tanggung tanggung Dimas membuatkan rekening atas nama Zey dengan saldo sebanyak 2 milyar rupiah.
Rekening itu ada di tangan Vino sekarang, Dimas meminta nya mengantarkan kepada Zey.
"kalau aku kesana.. takut melenceng lagi..
mau nyuruh orang, tapi ragu.. iya kalau orang nya bisa di percaya.."
Vino terus saja membolak balik kartu itu di balkon rumah Dimas, ya karena Nurul sekarang ia lebih sering di rumah Dimas ketimbang di rumah nya sendiri.
Saat sedang bingung, tiba tiba Nurul keluar mengantarkan Bian yang habis mengontrol keadaan Fani. ide mengajak Nurul pun muncul di kepala nya. ia segera turun dan menghampiri Nurul.
"jangan lupa ingatkan kakak mu untuk minum obat ya..." ucap Bian.
"iya pak.. hati hati ya pulang nya.." balas Nurul. semakin berbunga bunga lah hati Bian mendengar perhatian kecil Nurul.
"kamu juga.. jangan lupa makan, jangan bergadang..." Bian menepuk kepala Nurul lalu pergi.
"Ran.. ikut saya yuk.." ujar Vino tiba tiba.
Bian yang mendengar itu langsung berbalik arah lagi. "mau kemana?"
"saya nggak ngajak kamu.." ketus Vino.
"iya.. tapi saya bertanya sama kamu.." sahut Bian
"temani saya ke rumah tante Zey, mau kan?"
bisik Vino agar tak di dengar Bian.
"nggak mau ah.." ya kali, yang ada ntar jadi saksi bisu lagi, pikir Nurul.
"pliss... sekalian saya mau buktikan kalau kami nggak pacaran" bujuk Vino masih berbisik.
"nggak mau! Nur nggak butuh bukti juga!"
ketus nya lalu berbalik badan masuk kerumah.
"sayang....." suara Vino menggema di rumah itu.
sontak Nurul langsung berlari lagi ke arah Vino.
"ihhhh..!" Nurul panik, kalau di dengar keluarga nya kan bisa di sangka yang nggak nggak.
Bian membuka Jas kerja nya dan juga ingin ikut.
"saya juga ikut..."
"saya nggak ngajak kamu!" ucap Vino.
"kalau pak Bian nggak boleh ikut Nur juga nggak mau"
"hhhhffff.... iya iya.. ayo cepatlah, keburu malam" Vino pun setuju, semakin ramai akan semakin membuatnya terhindar dari hal yang tidak tidak kan.
Akhir nya berangkat lah mereka menggunakan mobil Vino, walaupun awal nya berdebat dulu karena Nurul memilih duduk di belakang bersama Bian.
"jangan banyak mau deh pak, atau Nur turun nih"
ancam nya dengan mata membulat.
Vino pun pasrah saja, selama perjalanan mata nya tak henti henti melirik ke belakang memastikan tak ada yang terjadi antara Nurul dan Bian.
...~~~~...
Di rumah nya, Mila dan Riko sedang menikmati makan malam berdua. namun bukan nya bersebalahan mereka malah duduk sejauh mungkin. awal nya mereka dekat, tapi karena Riko membahas masalah kerjaan itu Mila jadi badmood dan menjauh.
"Mila.. sini dong.. aku mau lihat wajah cantik mu"
__ADS_1
Riko mencoba merayu sebisa nya.
"lihat saja berkas itu! di otak mu cuma ada kerjaan dan kerjaan" ketus Mila.
"iyaa aku minta maaf ya..."
"nggak!"
"Mila ku..." Riko memasang wajah gemas, setelah sekian abad baru kali ini ia bertingkah konyol begitu.
Mila berusaha kuat menahan senyum nya, gengsi lah ya. tapi wajah manis Riko membuat Mila tak bisa menahan senyum nya.
"kau merayuku??" ujar nya sok jutek padahal tersipu manjah.
"Mila ku.. istri ku tersayang.."
ucap Riko lagi sambil mendekat.
"habiskan makan mu.."
"tentu saja aku akan menghabiskan masakan istri ku.." Sekali lagi Riko berhasil menaklukan Mila, ia baru sadar bahwa yang di katakan orang orang memang benar kalau wanita suka di perlakukan hangat dan lembut.
...~~~~...
Bian dan Nurul dengan wajah terpaksa nya mengikuti Vino sampai ke depan pintu Zey.
tttt....tttt..
tak lama setelah Vino menekan bell, Zey membuka nya.
"astaga!" Bian langsung membalikkan badan saat melihat Zey hanya menggunakan handuk.
"ada apa?" Zey heran karena kali ini Vino datang membawa orang.
"aku mengantarkan ini.." Vino memberikan kartu atm beserta buku rekening nya dengan ekpresi datar, ya wajar toh dia udah tah Zey sedalam dalam nya.
"mau masuk dulu? kebetulan aku ingin merayakan perpisahan dengan kota ini" tawar Zey.
"masuk lah. akan ku ceritakan..
ayo,,ahh siapa nama gadis manis ini.. masuk yuk." mereka bertiga pun akhir nya masuk.
...---...
Zey menyiapkan camilan dan Wine untuk Vino dan Bian, sedangkan untuk Nurul Zey memberikan nya susu rasa strawberry.
"tadi nya aku ingin merayakan sendiri, tapi aku senang karena kebetulan kalian datang jadi aku tidak sendirian merayakan perpisahan ini"
tutur Zey sedikit terharu.
"memang nya tante mau pindah kemana?"
tanya Nurul.
"kembali ke rumah orang tuaku, di London.
kau ini sudah ku bilang berapakali jangan memanggilku tante"
"ahh.. aku ingat nama mu, Ran kan?" ucap nya lagi.
"dan siapa nama mu?" Zey menunjuk Bian.
"Bian.."
Mereka pun mengobrol sambil menghabiskan makanan yang sudah di suguhkan Zey.
Zey juga menceritakan bagaimana kisah kelam nya dari dulu hingga sekarang.
__ADS_1
"tapi aku beruntung Vino menolongku..
terimakasih pak Vino.." oceh nya setengah mabuk sambil menundukkan kepala.
Tampak Vino juga mulai mabuk dan mengoceh tidak jelas, hanya tuhan yang tau apa yang sedang ia katakan.
"Bapak nggak minum?" tanya Nurul pada Bian.
"saya minta susu kamu aja..
kalau saya mabuk juga siapa yang nyetir nanti"
"jangann!!! susu Ran punya saya.." pekik Vino membuat Nurul terkejut.
"ck..ck..ck.." Nurul tak habis pikir Vino akan semakin konslet jika sedang mabuk.
"mau duduk di luar?" Bian merasa ruangan itu di penuhi aroma minuman beralkohol yang mengganggu.
"yuk..."
mereka pun bangkit dan memilih duduk santai di balkon. mengobrol dan bercerita seperti biasa, sambil menikmati segelas susu berdua.
"dek.. saya ini sebenernya suka sama kamu.."
krik..krik..krik..krik..
suasana tiba tiba hening saat Bian mengatakan itu.
"s..suka yang gimana pak?" Nurul ingin melurus lagi kemana arah nya.
"suka sebagai perempuan.."
tatapan sendu Bian membuat Nurul ingin tersenyum tapi malu, hingga wajah nya merah merona karena di tatap begitu.
"tapi Nur kan masih kecil pak, belum mau pacaran juga heheh"
"iya.. maka itu saya ngomong dari sekarang, dan kalau kamu sudah siap, saya minta kamu mempertimbangkan saya dulu"
"kalau ternyata pas Nur udah siap tapi nggak suka sama bapak gimana?"
"ya itu hak kamu dek...."
yang penting Bian sudah menyampaikan, selebih nya ya pasrahkan saja.
"kenapa orang tua semua sih yang begini.. "
batin Nurul, kan rumit kalau gini urusan nya.
Gubrakkk!!!
Vino yang hendak menyusul mereka di balkon malah menabrak pintu kaca hingga membuat Nurul dan Bian terkejut.
Nurul langsung menarik lengan Vino membantu nya untuk berdiri.
"tolong.. tolong aku.. dia mengajakku untuk berset*buh lagi..." racau Vino.
Bruukk!!!
Nurul langsung menjatuhkan Vino lagi saat mendengar itu. ia merasa jengkel karena Vino mengatakan 'lagi' itu berarti sebelum nya mereka pernah melakukan nya kan.
"ayo lah Vino... sekali saja, ini terakhir kali aku di sini.." Zey menyeret kaki Vino seperti Zombie yang kelaparan.
Melihat situasi sedikit kacau, Bian memisahkan Zey dari Vino lalu memberikan nya air putih.
namun Bian mendapati Zey ini sedikit aneh.
"kau sedang hamil?" Bian memperhatikan gestur tubuh Zey yang biasa ia lihat pada ibu hamil.
__ADS_1
"hamil..?" Zey mengulangi perkataan Bian sambil mengerjapkan mata nya.
...*******...