
Selamat malam para readers tercintakuhhh❤️ adakah disini yang masih setia sama cerita otor🙂 keknya nggak ada deh hiksss😢 banyak kesibukan otor di dunia nyata mengharuskan otor berhenti ngehalu. maafkeun karena ilang timbul kaya upil basah yang susah di congkel😪
Turun level. pemasukan ilang😭 para bebebku pun terombang ambing karena ketidak mampuanku menghandle dunia perhaluan.
emang kenapa sih tor?
nggak kenapa2.. suwer otor nggak apa2.. cuma lelah aja🙃 capekkkk bebbb😪 ini otor kasib sedikit obat rindu buat kalian yang masih nunggu cerita ini. walaupun mungkin tinggal dua ekor yg menanti...🤸 otor lanjutin pasti.. otoe gk pindah lapak kok.
Maaf mengecewakan kalian🖕 eh salah🙏🙏🙏tujuan otor balik malam ini karena kangen bercanda sama kalian di komentar🙂 seru tau.. berasa punya banyak temen hehe..
Yang udah lupa alurnya.. sok atuh baca epsd sebelumnya❤️❤️❤️
...❤️...
...❤️...
...❤️...
HAPPY READING.....❤️
"uwooooo.... mau nya aku marah.. eh aku bingung sendiri..." Ayu masih melanjutkan aksi menyanyi nya sambil meletakkan kembali botol minuman ke dalam kulkas.
"ch! suara nya merusak pendengaranku!" rutuk Rey sembari menyeringai sinis.
Dari pintu belakang, Dika memasuki rumah dengan boxer dan handuk di bahu nya. ia baru saja selesai berenang untuk merilekskan otot-otot nya.
Ketika ia melihat Rey menatap Ayu dari ruang tengah, Dika langsung berjalan cepat ke arah Ayu dan melilitkan handuk ke pinggang Ayu.
"dek! kalau ada orang lain jangan gitu dong celana nya. hati-hati loh kamu, jangan mengundang imajenasi liar laki laki." ucap Dika terdengar tegas.
Ayu tersenyum lalu melepaskan handuk yang ada di pinggang nya. "mending kakak deh yang hati-hati. soalnya aurat kakak lebih menggoda di mata dia" bisik nya melirik ke arah Rey dan mengembalikan handuk itu kepada Dika.
"hah??" tentu saja Dika tidak paham dengan jawaban Ayu.
"he is gay..." bisik Ayu.
"WHAT?!" Dika langsung terbelalak di iringi biji mata hampir keluar dari sarangnya. ia pun sontak melilitkan handuk itu ke pinggang nya kemudian beranjak dari sana.
Ia berjalan menuju kamar dengan ekpresi panik, sementara Rey tampak mengikuti langkah Dika dengan tatapan tajamnya sambil tersenyum kecil.
"ganteng ya?" tanya Ayu sedikit bernada meledek. ia duduk di sofa bersebelahan dengan Rey lalu menyalakan TV.
Sedangkan Rey menatap tidak senang sambil mendengus risih "kamu sengaja ya mau buka buka aib saya?"
__ADS_1
"hah? aib gimana?" tanya Ayu tak mengerti.
"barusan kamu bilang ke dia kalau Saya... shh! kamu sengaja mau kasih tau ke semua orang kalau Saya tidak normal?" ketus Rey tampak kesal.
Melihat ekspresi Rey, Ayu sedikit takut karena ia sungguh tidak berniat menyebarkan aib Rey.
"ng..nggak gitu Pak. salah paham Bapak mah.." sahut Ayu gugup lalu berdiri perlahan meninggalkan Rey di sana.
...~~~~...
Di kamar, Vino yang baru selesai mandi melamun di depan lemari. bukan bingung hendak memakai baju apa, tapi ia masih terbayang-bayang wajah Rey hingga membuat perutnya mual.
"Mas..." lirih Nurul sembari menepuk pelan punggung Vino.
"jangan menyentuhku!" Vino terlonjak kaget dan berbalik badan "eh, maaf sayang.. Saya kira siapa tadi."
"siapa emang?" tanya Nurul curiga, terbesit kata-kata Fani tadi siang yang membuatnya sedikit tak enak hati.
"maksudnya?" Vino malah bertanya balik.
"Mas ngira Nur siapa emang nya? sampe kaget banget gitu." raut wajah nya terlihat sewot tanpa menatap Vino.
"ya nggak tau, Saya kaget aja tadi." semenjak pengakuan Rey, Vino jadi sedikit trauma. apalagi saat melihat Nurul, ia jadi geli seakan-akan Nurul itu Rey.
Yang biasanya Vino selalu heboh menanyakan sudah makan? sudah mandi? bagaimana kuliah hari ini? bahkan Vino sering mengeluarkan rayuan yang membuat Nurul berkembang kembang. kali ini Vino benar-benar masih syok seperti orang linglung hingga ia mengabaikan Nurul.
"ini minyak rambutnya Mas.."
"nggak usah. Saya begini aja" tukas Vino, ia sengaja membiarkan penampilannya berantakan agar Rey tak meliriknya saat makan bersama nanti.
Setelah selesai mengenakan pakaian, Vino keluar kamar tanpa mengajak Nurul. bertambah retaklah batin Nurul melihat perlakuan Vino yang sangat acuh itu.
Ia terduduk di ranjang dan menghela nafas panjang "hhhh... Mas Vino kenapa sih..." lirihnya menahan buliran air mata.
...-...
...-...
Sambil menuruni anak tangga, Vino terus berbisik dalam hati nya "mudah-mudahan baj!ngan itu sudah pulang."
Namun hampir saja ia pingsan saat melihat Rey duduk manis di antara keluarganya. tak lupa tatapan penuh cinta di hunuskan Rey sembari memainkan garpu di hadapannya.
Tiba lah Rianti dengan tampilan anggun nan elegan. ia tampak sumringah melihat seluruh anak-anak nya merayakan anniversary kali ini.
__ADS_1
Tapi ada yang mengganjal di penglihatannya, yakni Dimas, Vino, Dika dan Adit yang berpakaian lusuh serta wajah kusam seperti keset pintu belakang.
"penampilan kalian ini kenapa? kompak banget lusuh kaya gitu. kalian nggak niat ya mau ngerayain anniversary nya Mama?" keluh Rianti, padahal ia sudah merencanakan akan berfoto nantinya. tapi kalau penampilan mereka begitu ya jadi hilang selera, jangankan foto. mau tiup lilin saja Rianti jadi tak bersemangat.
Ke empat lelaki yang di masud Rianti itu langsung nyengir, mereka serempak menatap ke arah Rey. ya, mungkin alasan penampilan mereka malam ini supaya tidak kelihatan 'tampan' di mata Rey.
"iya nih, pada kenapa sih? ganti baju sana, minimal cuci muka lah.. nggak enak banget ngelihat nya. mana kita udah cantik cantik gini lagi." celetuk Fani juga tak kalah kesal dari Rianti.
"mmm.. gini sayang, seperti nya kami sepakat tadi memakai konsep Pria biasa dan Putri raja, maka nya kami memakai pakaian begini hehe.." tawa Dimas terdengar garing di iringi alasan yang tak masuk akal pula.
"tapi El tetap pakai pakaian bagus, jadi El termasuk golongan yang mana? apa El jadi putri Raja juga?" imbuh El yang baru tiba bersama si kembar.
"karena yang dia suka lelaki dewasa El, bukan anak ingusan kaya kamu hh..." lirih Ayu tersenyum tipis.
Seketika Rey langsung menatap sinis Ayu seperti mengisyaratkan kalau dia tak suka pemandangan indahnya di ganggu.
"upss.." gumam Ayu di sengaja.
"jadi kapan mau mulai makan nya? aku sudah lapar." rutuk Vino frustasi.
Baru saja Adit hendak membuka mulut untuk merangkai kata pembuka, tiba tiba mereka di kejutkan dengan Nurul yang melangkahkan kaki nya amat keras hingga membuat mereka semua tercengang, kecuali Vino yang tampak depresi sembari memainkan tangkai buah apel.
CTAK!! CTAK!! CTAK! CTAK!
Sandal Nurul yang di hentakkan ke lantai memantulkam suara gema di langit-langit rumah megah itu.
Saat tiba di ujung anak tangga, ia menatap Vino penuh keputusasaan. namun lepuhan bara api semakin ia rasakan di dada kaa melihat ekpresi Vino yang tetap acuh pada nya.
"Mas! kamu kenapa hah!" intonasi suara Nurul terdengar tinggi namun bergetar karena menahan tangis.
Vino terkejut mendengar suara lantang itu, ia menoleh gugup dan menatap heran ke arah istrinya itu "Saya?? k..kenapa? Saya kenapa emang nya? kamu kenapa?"
Vino tampak kelabakan seperti orang linglung. perasaan mereka sedang baik-baik saja.
Nurul melangkah mendekati Vino, tak di pedulikannya semua mata keluarga sedang menatapnya bingung.
"berapa?! berapa yang Mas mau? satu? dua? atau lima sekaligus? berapa Mas?!"
Menyadari ada yang tidak beres dengan rumah tangga anaknya, Rianti hendak berdiri untuk menenangkan Nurul. namun Adit menahannya sambil menggelengkan kepala perlahan.
"Sa..sayang... kenapa? kenapa kamu hm? apa yang satu dua tiga? Saya nggak paham." pertanyaan itu terdengar seperti bujukan untuk menenangkan Nurul.
"anak.. Mas pingin punya anak kan dari Nur. berapa yang Mas mau? Nur akan program hari ini juga! laki-laki atau perempuan? Nur bisa kasih Mas anak sekarang. bilang Mas mau yang gimana bilang!! jangan diemin Nur! capek tau Mas seharian overthinking karena Mas cuek sama Nur!" keluh nya panjang lebar dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
uuhuukk!!huk!! hampir saja Vino keselek gigitan apel mendengar pernyataan istrinya itu. ia spontan berdiri hingga kursinga jatuh terjengkang.
...************...