
Vino segera meletakkan El di atas ranjang.
bukan nya senang, El malah menunduk
sedih.
"bunda... kenapa sih bunda tidak
mau tidur bersama El.
kan bunda sudah jadi bunda nya El."
Cobaan apalagi ini ya tuhan..
kesedihan nya karena kehilangan
Ayah saja belum usai, kini ia malah
membuat El bersedih seperti itu.
Nurul menunduk dan menatap El
dengan mata berkaca-kaca.
"El.. sayang..
bukan nya bunda nggak mau tidur
sama El. bunda dan ayah kamu itu
orang dewasa nak..
kalau tidur bareng sebelum menikah
takut terjadi hal yang tidak di inginkan."
"hal seperti apa Bunda??"
"mmm..."
Nurul jadi bertambah bingung.
"hal seperti ini...
muuach..." Vino mengecup pipi Nurul di
depan mata El.
"Ayah tidak bisa menahan diri
untuk terus mencium bunda..
kamu lihat kan tuh.. bunda jadi malu malu."
Sorot mata El kini menjadi lebih ceria
melihat ekpresi Ayah Bunda nya.
entah kenapa, melihat kematian
Rudi suasana hati El menjadi sangat
sedih, risau dan berantakan.
walaupun ia tidak pernah melihat
mama nya, rasa takut akan kehilangan
seseorang menyelimuti kalbu nya.
"Ayah... Bunda...
berjanjilah kalian akan terus bersama.
jangan pernah tinggalkan El.."
ia mengacungkan kedua jari kelingking nya.
Nurul mengangguk sambil tersenyum.
"mm.. El jangan khawatir, Bunda
nggak akan pernah tinggalkan El,
dan Ayah..."
"Ayah juga berjanji, akan selalu
bersama kalian.. selama nya.."
"janji ya.."
tegas El.
"janji..."
sahut Vino dan Nurul serempak.
...-...
...-...
Setelah El tertidur, Vino beranjak
menuju balkon untuk melihat
pemandangan kota Paris.
lampu gemerlapan dari menara Eiffel
memancar jelas bak kembang api
yang menghangatkan suasana musim dingin.
"Ayah.. kopi??"
Nurul membawakan dua cangkir
kopi matcha kesukaan Vino.
Vino langsung melirik salah tingkah
ke arah Nurul.
"A.. Ayah??" ia tersenyum tipis.
"iya.. Ayah nya anak anak kita.."
ujar Nurul sambil menatap penuh cinta.
Semakin terbang melayang layang Vino
di buat Nurul hanya dengan kata kata itu.
"terimakasih kopi nya Bunda..."
"hahhahahahah... aneh ya."
Nurul malah terbahak bahak.
"loh? kok aneh? aneh nya di mana?"
"aneh aja... kok bisa sih Nur cinta
sama bapak."
"chh.. mana ada di dunia ini wanita
yang sanggup menolak ketampanan
seorang Vino."
ucap nya sangat percaya diri.
"hilihh... tampan tampan..
bekasan orang aja bangga."
ledek Nurul seketika membuat
__ADS_1
jiwa Vino down.
Vino merangkul bahu Nurul sambil
mengangkat sebelah alis nya.
"bangga lah.. walau bekasan dapet nya
segelan. gimana nggak bangga coba."
"kok bapak mau sih gituan sama
banyak ciwi ciwi?"
sok penasaran, padahal dalam hati nya
blubuk blubuk kepanasan.
"enak.."
jawab Vino yakin dengan tatapan
nakal nya.
Bola mata Nurul semakin membulat
mendengar jawaban itu.
namun bibir nya tetap tersenyum penuh
keaslian.
"bapak yakin anak bapak cuma El doang?"
"yakin lah..
saya selalu pakai pengaman kok."
"ihhhhh!!! bisa nggak jawaban nya
jangan begitu!"
Nurul mulai kesal.
"hahahahah....
kamu sudah tau saya bejat, masih juga
tanya tanya begitu."
Tiba tiba Nurul hening,ia mengarahkan
pandangan kosong ke langit lepas
sambil meneteskan air mata.
"Ran..? kenapa??
kata kaya saya menyinggung kamu?"
tanya Vino lembut.
Kelopak mata Nurul perlahan turun
di iringi aliran air mata yang semakin
deras.
"entah lah.. Nur merasa hancur sekarang."
Ia melebarkan telapak tangan nya.
"tangan ini...
menghilangkan nyawa seseorang yang
paling berharga.. dan paling di benci."
Vino tertegun sejenak melihat
keputusasaan Nurul.
"Ran.. hei??
Namun Nurul tak mendengarkan nya.
"kenapa harus seperti ini akhir nya..
kenapa harus Nur yang menjadi
sebab kematian nya?"
lirih nya terisak.
Jari jenjang Vino mengangkat dagu
Nurul agar menatap mata nya.
"Ran...."
Sambil menyeka pipi nya, Vino tersenyum
lembut untuk menenangkan Nurul.
"kamu ingat pertama kali kita bertemu?"
"rujak..?"
sahut Nurul.
"bukan..
saya pertama kali melihatmu di hari
pemakaman Ibu mu.
waktu itu saya melihat kamu menangis
sesenggukan sambil menaburkan bunga.
tapi keindahan bunga bunga itu tak
ada apa apa nya dengan kecantikan mu."
Plakkl!! pukulan mendarat di lengan Vino.
"ih.. masa Nur di samain sama bunga
kuburan!" tukas nya manyun.
Vino tersenyum tipis.
"kamu lebih cantik dari bunga edelweis.
tapi waktu itu kamu sangat rapuh.
saat itu saya berucap dalam hati,
bersabar lah nak.. kelak akan ada
malaikat yang mengobati semua luka mu.
saya cuma bisa menatap kamu dari
jauh saat itu.
tapi siapa yang menyangka?
sekarang saya bisa mengatakan itu tepat
di depan mu.
kamu ingat? seberapa keras kita berusaha
menutupi perasaan kita, seberapa keras
takdir memisahkan kita.
pada akhirnya kita tetap bersama.
__ADS_1
pada akhir nya apa yang telah di tentukan
takkan bisa kita ubah, kita ganti.
entah itu kemalangan, ataupun kebahagiaan."
Nurul termangu, rasa bersalah akan
kematian Ayah nya sedikit memudar
walau belum jelas di rasa.
"meletakkan kematian nya di tangan Nur,
apa itu juga bagian dari takdir?"
"tidak ada satu hal pun yang terjadi
atas kehendak Tuhan di dunia ini."
"waahhhh.. apa ini benar benar pak Vino?"
"wah.. baru saja kamu nangis dan sekarang
meledek saya?"
"ayo bubuk..."
Nurul menarik tangan Vino masuk.
"kalau ada yang terjadi jangan salahkan saya.
saya sudah mengingatkan loh ya.."
...~~~~...
Siang hari nya, sementara Dimas dan Rey
melakukan kunjungan.
mereka semua berjalan jalan di sekitar
Eiffel tower sambil memburu cinderamata.
yang membuat mereka kagum bukanlah
lokasi ataupun barang barang yang di jual,
melainkan karena rata rata penjual
keliling di sana paham dan bisa berbahasa
indonesia.
"maju mundur maju mundur cantikk..
ayoh selahkan uleh uleh nya kakak.."
tawar seorang pria berkulit hitam dengan
senyuman manis dengan aksen blepotan.
"wahhh.. cantik nya..
berapa satu?"
tanya Nurul.
"satho ini dua ratus ribo..
kalau ambil dua saya kasih diskon boleh.."
sahut si pedagang dengan ramah nya.
Nurul mengambil dua miniatur menara Eiffel
itu, satu untuk nya, dan satu lagi untuk
Gaby.
"kenapa anda bisa bahasa Indonesia?"
tanya Nurul penasaran.
"untuk menarik pembeli tentu nya..
karena kebanyakan turis dari Indonesia
gemar belanja uleh uleh ..."
jawab pedagang.
"oh iya.. bisa ajarkan saya satu kata lain?
yang bisa monyentuh hati pembeli?"
pinta pedagang itu, ya. dia mempelajari
kata demi kata dari beberapa pembeli
juga.
"hahah baiklah...
anda tau 'aku sayang kamu?'"
"thidak...apa ito?"
"it's kind of I Love you..."
ujar Nurul.
"ahh.. baik lah.. ajarkan aku
menguchapkannya.."
Nurul pun mengatakan kata demi kata
agar si penjual paham.
"Aku... sayang... kamu..."
"Asu kayang kamu..."
si pedagang dengan bangga nya
mengatakan itu sambil meringis lebar.
"HAHAHHAHAHAHA🤣🤣"
Nurul tertawa terbahak bahak
sampai tak sanggup berdiri.
"bukan.. bukan begitu...
Hahahahhahaha......"
Melihat tawa riang Nurul, pedagang pun
ikut tertawa renyah hingga mencuri
perhatian Vino yang sedang mengantri
gulali di seberang jalan.
"hahhahahah??"
Vino menirukan suara tawa Nurul
sambil membelokkan bibir nya.
"ma.. titip El sebentar ya.."
ia langsung cabut antrian karena
merasa panas melihat Nurul.
"okey..."
__ADS_1
sahut Duma.
...*********...