Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
S2 Episode 46: Aku sayang kamu


__ADS_3

Vino segera meletakkan El di atas ranjang.


bukan nya senang, El malah menunduk


sedih.


"bunda... kenapa sih bunda tidak


mau tidur bersama El.


kan bunda sudah jadi bunda nya El."


Cobaan apalagi ini ya tuhan..


kesedihan nya karena kehilangan


Ayah saja belum usai, kini ia malah


membuat El bersedih seperti itu.


Nurul menunduk dan menatap El


dengan mata berkaca-kaca.


"El.. sayang..


bukan nya bunda nggak mau tidur


sama El. bunda dan ayah kamu itu


orang dewasa nak..


kalau tidur bareng sebelum menikah


takut terjadi hal yang tidak di inginkan."


"hal seperti apa Bunda??"


"mmm..."


Nurul jadi bertambah bingung.


"hal seperti ini...


muuach..." Vino mengecup pipi Nurul di


depan mata El.


"Ayah tidak bisa menahan diri


untuk terus mencium bunda..


kamu lihat kan tuh.. bunda jadi malu malu."


Sorot mata El kini menjadi lebih ceria


melihat ekpresi Ayah Bunda nya.


entah kenapa, melihat kematian


Rudi suasana hati El menjadi sangat


sedih, risau dan berantakan.


walaupun ia tidak pernah melihat


mama nya, rasa takut akan kehilangan


seseorang menyelimuti kalbu nya.


"Ayah... Bunda...


berjanjilah kalian akan terus bersama.


jangan pernah tinggalkan El.."


ia mengacungkan kedua jari kelingking nya.


Nurul mengangguk sambil tersenyum.


"mm.. El jangan khawatir, Bunda


nggak akan pernah tinggalkan El,


dan Ayah..."


"Ayah juga berjanji, akan selalu


bersama kalian.. selama nya.."


"janji ya.."


tegas El.


"janji..."


sahut Vino dan Nurul serempak.


...-...


...-...


Setelah El tertidur, Vino beranjak


menuju balkon untuk melihat


pemandangan kota Paris.


lampu gemerlapan dari menara Eiffel


memancar jelas bak kembang api


yang menghangatkan suasana musim dingin.


"Ayah.. kopi??"


Nurul membawakan dua cangkir


kopi matcha kesukaan Vino.


Vino langsung melirik salah tingkah


ke arah Nurul.


"A.. Ayah??" ia tersenyum tipis.


"iya.. Ayah nya anak anak kita.."


ujar Nurul sambil menatap penuh cinta.


Semakin terbang melayang layang Vino


di buat Nurul hanya dengan kata kata itu.


"terimakasih kopi nya Bunda..."


"hahhahahahah... aneh ya."


Nurul malah terbahak bahak.


"loh? kok aneh? aneh nya di mana?"


"aneh aja... kok bisa sih Nur cinta


sama bapak."


"chh.. mana ada di dunia ini wanita


yang sanggup menolak ketampanan


seorang Vino."


ucap nya sangat percaya diri.


"hilihh... tampan tampan..


bekasan orang aja bangga."


ledek Nurul seketika membuat

__ADS_1


jiwa Vino down.


Vino merangkul bahu Nurul sambil


mengangkat sebelah alis nya.


"bangga lah.. walau bekasan dapet nya


segelan. gimana nggak bangga coba."


"kok bapak mau sih gituan sama


banyak ciwi ciwi?"


sok penasaran, padahal dalam hati nya


blubuk blubuk kepanasan.


"enak.."


jawab Vino yakin dengan tatapan


nakal nya.


Bola mata Nurul semakin membulat


mendengar jawaban itu.


namun bibir nya tetap tersenyum penuh


keaslian.


"bapak yakin anak bapak cuma El doang?"


"yakin lah..


saya selalu pakai pengaman kok."


"ihhhhh!!! bisa nggak jawaban nya


jangan begitu!"


Nurul mulai kesal.


"hahahahah....


kamu sudah tau saya bejat, masih juga


tanya tanya begitu."


Tiba tiba Nurul hening,ia mengarahkan


pandangan kosong ke langit lepas


sambil meneteskan air mata.


"Ran..? kenapa??


kata kaya saya menyinggung kamu?"


tanya Vino lembut.


Kelopak mata Nurul perlahan turun


di iringi aliran air mata yang semakin


deras.


"entah lah.. Nur merasa hancur sekarang."


Ia melebarkan telapak tangan nya.


"tangan ini...


menghilangkan nyawa seseorang yang


paling berharga.. dan paling di benci."


Vino tertegun sejenak melihat


keputusasaan Nurul.


"Ran.. hei??


Namun Nurul tak mendengarkan nya.


"kenapa harus seperti ini akhir nya..


kenapa harus Nur yang menjadi


sebab kematian nya?"


lirih nya terisak.


Jari jenjang Vino mengangkat dagu


Nurul agar menatap mata nya.


"Ran...."


Sambil menyeka pipi nya, Vino tersenyum


lembut untuk menenangkan Nurul.


"kamu ingat pertama kali kita bertemu?"


"rujak..?"


sahut Nurul.


"bukan..


saya pertama kali melihatmu di hari


pemakaman Ibu mu.


waktu itu saya melihat kamu menangis


sesenggukan sambil menaburkan bunga.


tapi keindahan bunga bunga itu tak


ada apa apa nya dengan kecantikan mu."


Plakkl!! pukulan mendarat di lengan Vino.


"ih.. masa Nur di samain sama bunga


kuburan!" tukas nya manyun.


Vino tersenyum tipis.


"kamu lebih cantik dari bunga edelweis.


tapi waktu itu kamu sangat rapuh.


saat itu saya berucap dalam hati,


bersabar lah nak.. kelak akan ada


malaikat yang mengobati semua luka mu.


saya cuma bisa menatap kamu dari


jauh saat itu.


tapi siapa yang menyangka?


sekarang saya bisa mengatakan itu tepat


di depan mu.


kamu ingat? seberapa keras kita berusaha


menutupi perasaan kita, seberapa keras


takdir memisahkan kita.


pada akhirnya kita tetap bersama.

__ADS_1


pada akhir nya apa yang telah di tentukan


takkan bisa kita ubah, kita ganti.


entah itu kemalangan, ataupun kebahagiaan."


Nurul termangu, rasa bersalah akan


kematian Ayah nya sedikit memudar


walau belum jelas di rasa.


"meletakkan kematian nya di tangan Nur,


apa itu juga bagian dari takdir?"


"tidak ada satu hal pun yang terjadi


atas kehendak Tuhan di dunia ini."


"waahhhh.. apa ini benar benar pak Vino?"


"wah.. baru saja kamu nangis dan sekarang


meledek saya?"


"ayo bubuk..."


Nurul menarik tangan Vino masuk.


"kalau ada yang terjadi jangan salahkan saya.


saya sudah mengingatkan loh ya.."


...~~~~...


Siang hari nya, sementara Dimas dan Rey


melakukan kunjungan.


mereka semua berjalan jalan di sekitar


Eiffel tower sambil memburu cinderamata.


yang membuat mereka kagum bukanlah


lokasi ataupun barang barang yang di jual,


melainkan karena rata rata penjual


keliling di sana paham dan bisa berbahasa


indonesia.


"maju mundur maju mundur cantikk..


ayoh selahkan uleh uleh nya kakak.."


tawar seorang pria berkulit hitam dengan


senyuman manis dengan aksen blepotan.


"wahhh.. cantik nya..


berapa satu?"


tanya Nurul.


"satho ini dua ratus ribo..


kalau ambil dua saya kasih diskon boleh.."


sahut si pedagang dengan ramah nya.


Nurul mengambil dua miniatur menara Eiffel


itu, satu untuk nya, dan satu lagi untuk


Gaby.


"kenapa anda bisa bahasa Indonesia?"


tanya Nurul penasaran.


"untuk menarik pembeli tentu nya..


karena kebanyakan turis dari Indonesia


gemar belanja uleh uleh ..."


jawab pedagang.


"oh iya.. bisa ajarkan saya satu kata lain?


yang bisa monyentuh hati pembeli?"


pinta pedagang itu, ya. dia mempelajari


kata demi kata dari beberapa pembeli


juga.


"hahah baiklah...


anda tau 'aku sayang kamu?'"


"thidak...apa ito?"


"it's kind of I Love you..."


ujar Nurul.


"ahh.. baik lah.. ajarkan aku


menguchapkannya.."


Nurul pun mengatakan kata demi kata


agar si penjual paham.


"Aku... sayang... kamu..."


"Asu kayang kamu..."


si pedagang dengan bangga nya


mengatakan itu sambil meringis lebar.


"HAHAHHAHAHAHA🤣🤣"


Nurul tertawa terbahak bahak


sampai tak sanggup berdiri.


"bukan.. bukan begitu...


Hahahahhahaha......"


Melihat tawa riang Nurul, pedagang pun


ikut tertawa renyah hingga mencuri


perhatian Vino yang sedang mengantri


gulali di seberang jalan.


"hahhahahah??"


Vino menirukan suara tawa Nurul


sambil membelokkan bibir nya.


"ma.. titip El sebentar ya.."


ia langsung cabut antrian karena


merasa panas melihat Nurul.


"okey..."

__ADS_1


sahut Duma.


...*********...


__ADS_2