Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
episode 105: Bapak


__ADS_3

Cj,Dimas dan Vino kembali bertemu untuk menyusun langkah awal mereka.


mereka tengah menyelidiki kasus ulang tiga orang gadis berusia di bawah 20 an yang pernah menjadi korban pemerkosaan Sean.


dua orang dari mereka sampai sekarang lumpuh total akibat trauma dan kebrutalan Sean bersama rekan rekan nya. sementara 1 orang lain nya sudah meninggal karena bunuh diri akibat depresi.


Karena keluarga para korban dari kalangan orang tidak mampu,maka mereka kalah melawan kasus ini dan harus menerima kenyataan bahwa Sean di bebaskan.


"ini.. aku mendapatkan gratis, gunakan untuk membuka kasus ini" CJ memberikan koper hitam berisikan uang penuh.


"aku tidak kekurangan uang" ujar Dimas menolak.


"bukan karena aku memandang anda tidak mampu, anggap saja ini sebagai belasungkawa ku kepada para korban" ucap Cj.


"baiklah.. aku akan menerima ini, pastikan kau melaporkan semua nya pada kami"


Dimas mengambil uang itu,lalu ia dan Vino pun pergi.


...~~~~...


Malam hari....


"syukur lah semakin ada peningkatan.."


ucap Bian saat selesai memeriksa kondisi rahim Fani.


"tapi saya sering merasakan ulu hati saya sesak dokter,apa itu normal?" tanya Fani.


"normal Bu, karena ukuran janin semakin membesar,di tambah mereka berdua di dalam"


Bian kembali memberikan antibiotik kepada Fani untuk mencegah infeksi nya.


Dimas tak berekspresi sama sekali,karena bisa saja Bian membacakan hasil palsu untuk Fani demi menjaga perasaan nya.


Dimas pun mengkode Bian untuk keluar sebentar.


"bagaimana hasil nya?"


tanya Dimas penuh harap.


"seperti yang saya katakan tadi Pak"


jawab Bian.


"ja..jadi hasil nya sungguh menunjukkan peningkatan?" raut wajah Dimas menunjukkan betapa senang nya dia.


"iya Pak.. sudah mendekati 40 persen, dan saya akan berusaha menjadi kan nya 100 persen secepat nya" Bian turut bahagia karena berhasil memberikan harapan kepada pasien nya.


"terimaksih dokter.. terimakasih.."


terlampau senang nya Dimas sampai memeluk Bian sambil berputar putar seperti anak anak.


"ahahha...


sama sama pak, ini sudah tugas saya"


Di tengah pelukan hangat mereka,Nurul di pojok lorong ternyata tengah mengintai.


" Mas Dimas peluk peluk pak Bian?


ihhh.. kok aneh ya lihat laki laki pelukan gitu"


"lihat apa sih.."


Vino tiba tiba muncul,kali ini tampilan nya tampak beda. ya ia tidak mengenakan jas nya dan hanya memakai kaos oblong.


Karena masih terbayang bayang Vino mencium pipi nya kemarin,ekpresi terkejut dan reflek seakan menghilang dari jiwa Nurul.


"tenang Nur.. jangan berlebihan, mungkin dia anggap kamu adik nya. atau anak nya. atau..


tapi kenapa dia bilang cemburu? masa iya pak Vino suka.... aaaahhhhhrr"


batin Nurul berkecamuk bingung.


Tanpa merespon Vino,Nurul pergi dan masuk kedalam ruangan Fani.


"gimana kata pak dokter Mas?"


Nurul sengaja mencari topik baru,padahal Vino sedari tadi mengajak nya ngobrol tapi malah di anggap tak kasat mata oleh Nurul.


"udah lumayan, keponakan kamu kaya nya kuat banget di dalam" ucap Dimas senang.


"Dimas.. Fani... kalian bisa dengar aku?"


ujar Vino.


"ya bisa lah.. emang kita budek apa"


sahut Fani.


"kenapa sih Vin? kaya cacing kepanasan dari tadi?" risih Dimas.


"kalian bisa denger aku, tapi kok ni bocah diam aja dari tadi ku ajak bicara"


Vino semakin usil kepada Nurul,ia mengacak acak rambut nya Nurul sampai amburadul.


namun Nurul tetap tak merespon.


"Nurul..." panggil Dimas.

__ADS_1


"iya mas."


"tindakan mu..tepat!" Dimas mengacungkan kedua ibu jari nya kepada Nurul.


"oh iya.. besok Nurul mungkin nggak bisa nunggu kakak, soal nya sudah mulai masuk sekolah"


"waahh.. iya,adek kakak udah SMA, maaf ya gara gara kakak kamu jadi nggak fokus" ujar Fani tersenyum lebar.


"iya kak..


Nur mau berangkat dari sini rencana,soal nya kejauhan kalau balik dulu kerumah"


"iya nggak apa apa.. nanti Mas minta supir jemput kamu" timpal Dimas menyemangati adik ipar nya.


"sama saya juga nggak apa apa Ran.." Vino menawarkan diri nya.


Namun Nurul tetap diam dan tak menggubris Vino. dan datang lah Bian membawakan catatan terbaru Fani.


"loh rambut kamu kenapa dek?" tanya Bian.


"di cakar beruk pak.." jawab Nurul cepat.


"waduh.. ganas beruk nya ya.."


timpal Bian.


ekpresi Vino saat mendengar itu tak usah di tanya, mulut nya sudah miring kanan kiri mengumpat si Bian.


Setelah menyerahkan catatan itu pada Dimas,


Bian berencana mengajak Nurul makan bersama di kantin.


"makan yuk dek,belum makan kan?"


"boleh deh.. kebetulan Nur lapar"


Nurul pun berdiri dan berjalan melewati Vino.


"saya rapikan rambut nya boleh?"


tanya Bian.


Nurul hanya mengangguk,mereka jalan keluar ruangan sambil mengobrol dan Bian merapikan rambut Nurul.


"Ran...!kirana.. Alisha Kirana..!!"


pekik Vino kesal,mendidih rasa dada nya melihat Bian menyentuh rambut nya Nurul.


"hhh... aku di bilang beruk?? wahh benar benar adik kamu Fan..." Vino tampak sangat depresi karena di anggap tak kasat mata oleh Nurul.


Fani hanya geleng geleng kepala melihat tingkah Vino yang kebakaran jenggot itu.


"aku cuma.. eh cuma ini salah bicara kok"


tiba tiba saja Vino gugup karena melihat tatapan Dimas yang amat tajam.


"awas kau apa apain adik ku..


ku tendang kau sampai ke laut atlantik,di makan paus sekalian" ucap Dimas menodongkan tatapan nya.


"hishhhh!!! dasar bocah itu" Vino menggerutu kesal. tampak nya ia hendak menyusul Bian dan Nurul.


Dimas menerka nerka apa yang sebenar nya terjadi.


"perasaan Mas nggak enak sayang..


pasti Vino kelewatan ini sampai Nurul begitu"


"biarin Mas.." sahut Fani santai.


"kamu ni,biarin..biarin. nanti adik kita kenapa kenapa gimana? Vino itu BUAYA sayang.. Buaya"


"halah... beda beda tipis nya sama Mas.."


ledek Fani sambil terkekeh.


"tapi Vino.. Mas takut Nurul nanti di jadikan korban"


"ya udah,kalau Vino ketauan punya niat yang nggak nggak,nanti kita tendang dia bareng bareng" sahut Fani terkekeh,ia sangat bersyukur melihat tingkah Dimas yang over protektif terhadap Nurul.


dari dulu sampai sekarang dia memang selalu memperlakukan Fani dan adik adik nya bak anak sendiri.


...-...


...-...


"adek makan apa?" Bian menyodorkan buku menu kepada Nurul.


"wih.. nama nya kok aneh aneh pak, Nur ikut bapak aja deh"


"oke.. ayam Mozarella ya.." ucap Bian.


"sipp.." sahut Nurul.


Bian pun menyebutkan pesanan mereka ke mbak mbak kantin.


Bian: "saya boleh tanya nggak?"


"boleh pak.."

__ADS_1


"maaf tapi,kalau terlalu mengganggu privasi kamu, kamu adik ipar nya Pak Dimas,tapi kenapa mama nya Pak Dimas jadi mama kamu?"


"ohh.. cerita nya panjang pak..


sebenar nya Nur ini orang kampung,susah,pokok nya serba susah. dan kami sudah lama kenal Mas Dimas,terus di hari menjelang kak Fani dan Mas Dimas nikah. ibu kandung kami meninggal jadi mama Rianti mengadopsi kami semua sebagai anak nya. begitu singkat nya"


"mm.. berati kekuarga pak Dimas baik banget ya"


"iya pak.. lihat aja kemarin mama Rianti bawain segala macam makanan dan keperluan kak Fani.


mertua idaman banget" Nurul sampai berbinar binar membicarakan Rianti.


"kalau ayah kamu? maaf sekali lagi."


Bian bernar benar segan karena mengorek privasi Nurul,tapi mau bagaimana lagi. ia penasaran di mana dan seperti apa orang tua gadis cantik ini.


prrrakkkkk!!!!


sepiring nasi yang di bawa seorang lelaki paruh baya jatuh hampir mengenai Nurul.


"maaf non, maaf. bapak nggak sengaja"


ujar nya sambil menundukkan badan.


"iya pak.. nggak apa apa kok.."


karena iba Nurul membantu si bapak membersihkan makanan yang terserak ke lantai.


Bian juga ikut membantu Nurul.


"kamu nggak apa apa dek?"


Bian memastikan Nurul tak terluka sebab makanan itu masih sangat panas.


"nggak apa apa kok pak.."


"bapak!!


di tungguin dari tadi lama banget sih!


sampai kena marah ibuk aku!" ujar anak gadis bapak itu dengan nada tinggi.


"kak.. jangan di marah dong bapak nya,kasihan lagi sakit juga" ucap Nurul pelan.


"nggak usah ikut campur ya..!"


balas di gadis sembari menarik paksa tangan bapak nya.


"eh.. jangan kasar gitu,bisa terkilir"


Bian pun tak tega melihat orang tua itu.


"ihhh!! pada berisik banget sih!


ayo pak buruan! nomor antrian kita udah deket loh! nanti kelewatan lagi kaya kemarin.


capek tau bolak balik kerumah sakit cuma buat chek up doang! cuma meriang gitu aja lebay banget!!"


si anak terus saja menggerutu sambil menarik bapak nya agar cepat berjalan.


"iya sebentar Mei.. kaki bapak ngilu ini"


ujar si bapak merintih kesakitan karena asam urat nya kambuh.


"hhhiksss...." tiba tiba Nurul menangis,mata nya tak lepas dari pria tua itu.


"kenapa dek? ada yang sakit??" tanya Bian.


"nggak pak.. hiks..hiks.."


ia terisak dan air mata nya mengalir pelan.


"jadi kenapa? saya menyinggung kamu kah?"


"nggak pak..


Nur sedih aja lihat bapak tadi di marahi anak nya. anak nya nggak bersyukur banget sih,malah bapak nya di bentak bentak.


dia nggak tau apa rasa nya nggak punya bapak,


dia nggak tau kaya nya rasa nya nggak inget sama wajah bapak sendiri" Nurul berjongkok dan melepaskan tangis sejadi jadi nya.


"sstt... jangan nangis dong, kamu yang kuat"


Bian berlutut mengusap kepala Nurul agar tenang. tak terasa air mata nya ikut menetes,ia juga tau betul bagaimana rasa nya tak punya orang tua. ia juga merasa bersalah karena tadi menanyakan soal keluarga nya Nurul.


"jangan nangis ya.. nanti manis nya hilang kalau nangis" Bian menyeka air mata Nurul perlahan.


"ih.. bapak malah bercanda" Nurul tersenyum namun tetap terisak isak.


kkkkrrrrrrtttt...


jari jemari Vino mengepal sangat erat saat melihat Nurul dan Bian saling menyandar seperti orang berpelukan.


"nguji mental banget sih bocil, udah ku bilang aku cemburu malah lebih dekat..


hhffttt...sabar Vin.. rumah sakit ini.. jangan cari ribut.." gumam nya sambil mengatur nafas.


...*********...

__ADS_1


__ADS_2