Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
S2 episode 73: Penawaran


__ADS_3

Dalam perjalanan membawa Gaby ke ruangannya, emosi membabi buta Dika terhadap Mei perlahan meredam. baru lah ia berpikir, apa sikap nya barusan benar benar keterlaluan? bukan soal latar belakang Mei, namun soal profesi nya. apakah pantas seorang Dokter malah menyuruh pasiennya untuk melakukan tindakan bunuh diri?


"bagaimana kalau dia benar benar lompat dan mati?" batin Dika sedikit khawatir.


Tapi sedetik kemudian ia berubah lagi, entah kenapa ia belum bisa melupakan apa yang Ibunya Mei lakukan terhadap keluarganya.


"akh.. biarlah, dunia juga tidak butuh orang seperti dia!"


Mei di pindahkan ke ruang rawat yang berbeda, karena ruangan yang sebelumnya sudah hancur lebur karena ulahnya dan juga Dika.


Kini ia sudah lebih tenang setelah di berikan pencerahan oleh Dokter senior. sekarang ia hanya termenung sambil menatap langit-langit dari ranjangnya.


"hhhh... apa yang ku lakukan barusan?" ia teringat akan kekacauan yang ia timbulkan.


"kenapa aku harus mengakhiri hidup?" lirihnya lagi sembari memandangi pergelangan tangan yang hampir menjadi jalan keluar nyawanya.


Hati siapa sih yang tidak hancur jika sedari kecil sudah menerima perlakuan buruk dari Ibunya. namun Mei tetap bertahan sampai detik ini demi ingin menjadi orang yang bisa mengangkat derajat keluarga nya.


Walaupun ia sempat salah pergaulan saat SMA, walaupun sekujur tubuhnya kini di penuhi bekas luka dari sayatan kaca. dan walaupun Ibu kandungnya sendiri menyebut diri nya sebagai wanita jal@ng, ia harus tetap kuat berdiri di atas kakinya sendiri demi cita-cita, demi adik, dan demi merubah garis rendah yang bertahun-tahun tersemat di nama keluarganya.


"ch.. menyebalkan, kenapa seorang Dokter malah menyuruh pasiennya untuk melompat." dengus Mei, ia berpura-pura tersenyum sinis untuk menutupi kesedihan yang terurai dari air matanya.


...~~~~...


Kembali kepada pagi hari di rumah Rianti. Saat mendengar Papanya membahas soal perlakuan Rey kemarin, Ayu jadi sedikit takut. bagaimana kalau Rey mengira ia yang mengadukannya? padahalkan Ayu tidak bilang apa apa pada Papanya. ia hanya cerita ke Nurul, itu pun ia sudah meminta Nurul untuk merahasiakannya.


Tampak di ruang tengah Adit sedang berdiri sambil memutar-mutar Arloji nya, ada Dimas juga yang duduk di sofa dengan tampilan lusuh karena baru pulang dari luar kota. sementara Rey, ia duduk di sebelah Dimas sambil menatap lurus ke arah Adit.


Sedangkan para ibu ibu dan bocil di rumah itu tengah menguping dari ruang keluarga. mereka semua juga sama penasarannya saat mendengar Adit memanggil Rey datang kesana.


"jadi kamu menurunkan anak Saya di tengah jalan begitu?" tanya Adit memastikan.


"bukan menurunkan, waktu itu Saya mampir sebentar ke rumah Pak. lalu ada beberapa hal yang terjadi dan dia pergi begitu saja." pungkas Rey membela diri nya. ia juga heran dari mulut siapa fitnah itu berasal.


"memangnya apa yang terjadi?" imbuh Dimas juga tak kalah penasaran. ia mencoba berpikir positif kepada Rey walaupun otaknya traveling memikirkan kalau Rey macam macam kepada Ayu.


"jangan bilang kamu melakukan hal senonoh pada anak Saya!" gretak Adit. namun Rey tampak tetap tenang.


"mendingan Bapak tanya sendiri ke anak nya." sahut Rey sambil melempar pandangan ke Ayu yang berjalan diam diam untuk keluar rumah.

__ADS_1


Adit berbalik badan mengikuti tatapan Rey "Yu..! sini sebentar nak."


Ayu pun terpaksa menghentikan langkahnya. "hisshhh... padahal udah jalan pelan-pelan, kok bisa tau sih mereka.


"kasih tau Papa, apa sebab kamu terlantar di jalan sampai tidak sekolah kemarin. apa dia mencoba melakukan hal aneh-aneh sama kamu?"


Ayu terkejut, kok bisa bisa nya Papanya berpikir begitu. "hh?.. nggak Pa.."


"terus? kenapa?" tanya Dimas sedikit menahan kantuk dan emosi.


"Ayu cuma.. agak kesinggung aja dikiitt waktu Pak Rey ngusir Ayu." sahut Ayu sambil menggoyangkan ujung kaki nya pertanda grogi dan malu.


"hh? apa? ngusir? kapan Saya ngusir kamu?" bantah Rey.


"kemarin..." sahut Ayu tersenyum canggung.


"ASTAGA! kapan? kapan Saya ngusir kamu hah? kamu yang langsung pergi begitu saja padahal Saya sudah bilang untuk menunggu."


"what?! menunggu? nunggu apaan? orang Bapak marah-marah, terus langsung masuk lagi ke kamar!"


"right.. Saya langsung masuk kan? Saya tidak ada mengatakan apapun dan Saya tidak menyuruhmu pergi."


"kenapa kamu bilang Saya mengusirmu padahal tidak!" Rey balas ngotot sambil membulatkan mata nya.


Sepersekian detik mereka saling melempar tatapan panas tanpa memperdulikan Adit dan Dimas yang melongo melihat tingkah mereka.


"ssstt!! udah udah! malah ribut! oke Saya paham kalian cuma terlibat salah paham. tapi bisa di jelaskan? kenapa kamu, marah ke Ayu sampai kalian terlihat kesalahpahaman ini." bukannya dapat pencerahan, Adit malah di buat pusing dengan sidang yang ia gelar.


"nggak tau tuh Pa, padahal Ayu cuma masuk ke rumah nya karena dia lama banget di dalem. tapi begitu dia lihat Ayu dia langsung dorong Ayu terus marah banget." sahut Ayu menambah nada drama karena terlanjur terbawa suasana.


"dia dorong kamu?!" tak terimalah Adit mendengar pengaduan anak bontotnya.


"kau mendorongnya?" tanya Dimas juga agak kesal.


Rey menundukkan pandangan lalu menjawab


"hm.. iya.."


"kenapa?!" tanya Adit dan Dimas berbarengan.

__ADS_1


Di tengah persidangan itu, Vino dan Nurul menyela persengketaan mereka sambil bertanya "ada apa sih? kok heboh banget?"


Rey mengangkat pandangannya dan menatap penuh rasa ke arah Vino. kemudian ia menjawab pertanyaan Dimas dan Adit tadi "karena Saya tidak suka dia menerobos masuk ke rumah Saya" ucap nya sambil menaikkan sebelah Alis dan tersenyum tipis.


"oh.. masalah ini, udah sih. saling minta maaf aja kalian berdua, menurut Saya kalian juga sama sama salah." imbuh Nurul menengahi mereka.


Rey berdiri tegak sambil merapikan jas nya "maaf" ujarnya tersenyum kecut dan mengulurkan tangan kepada Ayu.


"hm..." sahut Ayu,namun ia enggan menjabat tangan Rey karena gengsi.


"kamu baik baik saja?" tanya Rey.


Ayu baru hendak membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan itu, namun ia terhenti saat melihat tatapan Rey bukan ke arahnya, melainkan kepada Nurul yang hendak beranjak dari sana.


"a..apa? aku?" tentu saja Nurul bingung, kenapa Rey malah menanyakan keadaannya?


Melihat itu, Vino langsung berdiri tepat di hadapan Rey. "dia baik baik saja! bagaimana denganmu hah?" ia menepuk bahu Rey sambil tersenyum smirk.


Rey tak membalas pertanyaan Vino, ia hanya tersenyum puas lalu menyingkirkan tangan Vino dari bahu nya.


Lalu Rey keluar rumah setelah berpamitan dengan Adit. di susul Ayu yang juga berpamitan hendak berangkat ke sekolahnya.


...-...


...-...


Sesampai nya di halaman depan, tiba tiba Rey menarik Ayu untuk masuk ke mobil nya.


"ihh.. apa lagi sih!" gerutu Ayu malas meladeni tingkah nya Rey.


Setelah memasukkan Ayu ke dalam mobil, Rey menutup pintu dan menguncinya lalu masuk dari pintu sebelah kanan.


"hhhff..mau apa sih Pak?!" tanya Ayu geregetan.


"Saya ingin membuat kesepakatan." ucap Rey sambil tersenyum kecil.


"a..apa?" Ayu benar benar tak tau apa rencana Rey kali ini.


"mulai hari ini, Saya yang akan mengantar dan menjemput mu ." ucap Rey dengan tatapan legam di pupil nya.

__ADS_1


...*********...


__ADS_2