
Fani sedang terbaring di sofa yang terletak di sebelah ranjang rumah sakit, ia terus memandangi tubuh ibu nya yang terbaring lemas. air mata nya menetes ketika membayangkan apa yang akan terjadi bila ibu nya tiba-tiba tiada nanti? Apakah ia sanggup menjalani kehidupan yang keras ini tanpa sosok ibu yang sangat hebat.
Pikiran nya kalut tak menentu, bagaimana ia bisa melunasi hutang ibu nya kepada Rentenir kemarin. Belum lagi hutang kepada Dimas yang sudah membayarkan biaya rumah sakit ibu nya.
Fani sudah meminta agar ibu nya di rawat di ruangan kelas bawah saja,agar biaya nya tidak terlalu besar. Namun Dimas tidak mau dan malah menempatkan Nita di ruangan VIP demi kenyamanan dan proses pemulihan nya.
"Andai saja ayah tidak meninggalkan kami.." batin Fani, air mata nya kini tak bisa di bendung lagi. Dada nya terasa sangat sesak karena berusaha menahan suara tangis.
Di saat mengalami masa sulit, Fani selalu teringat akan kenangan masa kecil nya, dimana keluarga mereka sangat harmonis. Saat Fani kecil,ia merupakan orang yang paling dekat dan paling di sayang oleh ayahnya. Rasa cinta Fani terhadap ayahnya sangat tak terukur.
Selama 10 tahun, Fani mengalami patah hati yang amat sangat menyakitian bagi nya. Ayahnya adalah cinta pertama bagi Fani,tapi di usia nya yang baru menginjak 9 tahun ia harus menerima kenyataan bahwa sang ayah berselingkuh dengan wanita lain, dan meninggalkan mereka tanpa kabar selama bertahun-tahun.
Sejak saat itu kehidupan mereka hancur.
Setiap menjelang tidur Fani selalu menangis meratapi kehidupannya yang pahit.
Ia sangat merindukan ayahnya, ia sangat berharap sang ayah kembali pada mereka. Tapi di sisi lain ia sangat membenci pria bergelar ayah itu, karena dia telah menghianati mereka, dan yang lebih membuat Fani iri dan cemburu adalah ayah mereka menikahi janda anak tiga. Ya, ayahnya tidak menafkahi lahir dan batin mereka anak kandungnya, tapi malah merawat dan membesarkan anak yang bukan darah dagingnya.
...~~~~...
Pagi tiba...
Setelah mengantar adik bungsunya ke sekolah, Dika datang kerumah sakit untuk bergantian menjaga ibunya. Ia juga menyuruh Fani untuk pulang dan beristirahat, karena kebetulan Dika sedang tidak ada kelas.
Setelah sarapan dan mandi, Fani sudah terlihat mengenakan setelan formal. Setelah semalaman berpikir panjang lebar, ia memberanikan diri untuk bekerja di perusahaan Dimas. Tidak ada salahnya juga dia mencoba, siapa tahu rejeki nya ada di sana.
Ia tidak bisa berharap lebih lama lagi. Perusahaan, dan juga toko-toko yang dikiriminya lamaran tak kunjung memanggil untuk bekerja. Karena saat ini keluarga nya benar benar terhimpit ekonomi, jadi dia mengesampingkan dulu rasa segan, canggung dan khawatir berlebih terhadap sosok Dimas.
__ADS_1
Beruntung bulan ini sedang ada perekrutan besar-besaran, jadi mereka yang ingin mendaftar tinggal langsung membawa formulir dan langsung mengantri untuk di wawancara.
"wahhh... 0m Dimas benar benar hebat."
Gumam Fani, ia tercengang di depan gedung pencakar langit yang sangat megah dan mewah itu, sesaat ia merasa minder karena melihat banyak nya orang yang akan mendaftar di perusahaan raksasa tersebut. Apalagi ia hanya lulusan SMA, tentu saja saingan nya tidak sepadan dengan mereka yang kebanyakan anak kuliahan.
Fani segera masuk dan mengisi data terlebih dulu, baru mengambil nomor antrian. Walaupun Fani datang sangat awal, ramai nya orang yang juga mendaftar membuat dirinya mendapatkan nomor antrian ke 370.
"Apa aku pulang saja yaa..." gumam nya, ia takut ini semua akan sia-sia saja.
"Tidak..tidak... Kau harus mencoba.! " Tukasnya menyemangati diri sendiri.
...4 jam berlalu........
Penampilan Fani sudah berantakan, di tambah mulutnya yang tak bisa berhenti menguap membuat wajah nya semakin terlihat lesu.
Perekrutan ini di tangani langsung oleh presdir perusahaan yang tak lain adalah Dimas, ia juga di dampingi oleh Manajer dan Direktur yang sudah andal dalam mengenali potensi seseorang.
Tujuan perekrutan massal ini adalah memberikan peluang bagi mereka yang kesulitan mencari pekerjaan, oleh karena itu mereka tidak mengecualikan lulusan SMA/sederajat.
Dimas mengangkat kepala nya, dan betapa terkejut nya dia ketika melihat Fani sudah duduk di depan nya. Ia langsung berdiri dan menghampiri Fani.
"Ikut saya sebentar.." ujarnya setengah berbisik kepada Fani. Dengan wajah kaku Fani pun menuruti perintah Dimas.
Dimas mengajak Fani berbicara di luar. Tentunya di lorong sepi, agar tak dilihat banyak orang.
"Kenapa kamu kesini?"
__ADS_1
"Mau ngelamar kerja om...eh Pak."
Fani sangat gugup saat itu. Bukankah kemarin Dimas yang menyarankan agar ia bekerja disana, lalu kenapa malah bertanya dengan wajah bingung.
"Iyaa om tahu, maksud om kenapa nggak kabarin om dulu, biar kamu nggak usah ikut wawancara. om pasti langsung menerima kamu."
"Fani nggak mau kaya gitu...Pak. Kesannya jadi nggak adil sama mereka yang juga udah berusaha kesini." Balas Fani dengan wajah polos nya. Namun segelintirpun ia tak berani mengangkat pandangan kepada pria itu.
" huffft... Ya sudah kalau itu mau kamu, tapi om pasti akan bantu sebisa mungkin." Ucap Dimas pasrah, dengan keputusan yang di buat Fani.
"Terimakasih om..eh." Lagi-lagi Fani merasa kikuk, saat harus memanggil Dimas.
"Panggil senyaman kamu aja "
Dimas tersenyum manis. Senyum itu dulu tal berarti apa-apa untuk Fani, namun sekarang, kenapa senyuman itu terasa sangat berbeda.
"Aku harus meloloskan nya. Dengan begitu aku bisa melihatnya setiap hari." Gumam Dimas, selain berniat untuk membantu keluarga Fani, ia juga memiliki niat terselubung, yakni untuk melihat keponakan cantiknya itu setiap hari.
Proses wawancara pun berlangsung.
Manajer dan Dimas selaku presdir telah menanyakan beberapa hal mendasar mengenai efektivitas menangani konsumen dan hal lain nya.
Dua peserta lain nya begitu mudah menjawab pertanyaan tersebut, karena mereka merupakan lulusan Universitas. Sementara Fani hanya diam, ia tidak mengerti sama sekali mengenai pertanyaan tersebut. Dalam tiga tahun ini, ia tak pernah mendengar hal-hal mengenal evaluasi bisnis. Ia hanyalah mantan pekerja retail yang buta ilmu bisnis.
Tapi kembali lagi, perekrutan ini bukan tentang siapa yang paling hebat dalam hal pendidikan. Namun mereka yang akan di terima adalah yang juga punya etika dan simpati serta memiliki potensi kinerja yang bagus. Konsistensi pekerjanya adalah yang palinh utama bagi Perusahaan BRAM'S property, itulah yang ditanamkan Adit, selaku pendiri perusahaan tersebut.
...********...
__ADS_1