Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
Episode 18: Minta Izin


__ADS_3

Klung..klung...


Ponsel Fani berdering menandakan pesan masuk, dengan mata setengah sadar Fani meraba ponselnya dan membuka pesan yang masuk.


"yeay.....!"


Fani langsung jingkrak-jingkrak kegirangan saat melihat pesan itu adalah slip gaji pertama nya di perusahaan,dan yang membuat Fani senang adalah gajinya 2 kali lipat dari gaji saat masih menjadi karyawan retail.


Fani langsung berlari keluar kamar untuk menghampiri ibu nya di warung. Dengan


gumpalan kotoran yang masih menempel di ujung mata nya.


"Ibu...! Fani udah gajian.. kita bisa nyicil hutang sama rentenir itu." Fani melompat-lompat kegirangan sembari menggoyangkan tangan Nita. Ia tidak menyadari kalau ada Dimas di sana.


"Hutang kita sudah dibayarkan nak.." Jawab Nita sambil tersenyum lembut.


Fani tak percaya dengan jawaban ibu nya.


"hah..? kapan bu? siapa yang bayar? kita kan nggak punya uang sebanyak itu."


Nita mengarah kan matanya ke arah Dimas yang sudah duduk manis di belakang Fani. Dengan kemeja coklat muda yang semakin memancarkan aura ketampanannya.


Fani tercengang memandangi Dimas, untuk apa pria itu datang kesana di pagi hari yang indah ini?


"Okm Dimas? Ngapain om pagi-pagi sudah di sini?"


"Saya mau ajak kalian main, mumpung hari libur." Ujar Dimas berdiri menghampiri Fani.


"Seperti nya tidur mu nyenyak,mata kamu sampai bertelur nih." Dimas mengusap kotoran mata Fani dengan ibu jarinya.


"ihhhh... jorok om Dimas !" Fani langsung membersihkan ibu jari Dimas dengan baju kedodorannya yang ia tarik.


"Iya, makanya di bersihkan biar tidak jorok."


"aisss...bisa-bisa nya aku langsung keluar kamar tanpa cuci muka.!" gerutu Fani dalam hati. Ia pun berlari ke dalam rumahnya karena malu. Sebaiknya memang dia mandi dulu.


Nita hanya tertawa melihat tingkah putri sulungnya itu. Raut wajah riang Fani amat menyejukkan batinnya.


"Ayo nak, kita sarapan dulu." Ucap Nita sambil menyuguhkan menu Favorit Dimas, dan mengajaknya makan bersama.


"Bu.." Panggil Dimas ragu-ragu, ia bingung harus bagaimana karena ia tidak pandai basa-basi. Wajahnya pun berubah menjadi sangat serius. Ia bertekad memberitahu Nita, bahwa ia jatuh hati kepasa si sulung.


"Iya..?" Sahut Nita mendongakkan pandangan.


"Saya tahu mungkin ini terdengar lancang dan tidak pantas. Saya juga terima kalau ibu mau marah sama Saya."


Dimas menarik nafas nya dalam dalam, sungguh ia sangat gugup untuk membicarakan hal ini.

__ADS_1


Sementara Nita mendengarkan Dimas dengan serius. Kedua alisnya pun melipat, karena penasaran dengan raut wajah Dimas yang tampak tegang.


"Kenapa nak..?"


Jantung Dimas berdetak hebat karena melihat tatapan Nita yang sangat serius.


Dimas mengumpulkan keberaniannya,dan dia juga sudah memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi.


"Saya jatuh cinta pada Fani..,bu. Saya tahu saya tidak pantas untuk Fani karena usia saya. Dan saya terima kalau ibu marah, karena saya sudah lancang." Tutur Dimas sambil mengepalkan kedua tangannya di atas paha. Peluh halus pun terasa merembes di balik tengkuknya.


Nita menghela nafas panjang sambil tersenyum lembut. Ia mengira ada apa tadi.


"Jatuh cinta itu bukan kesalahan nak, dan kamu sama Fani juga nggak ada ikatan darah. Jadi ya ibuk pikir sah-sah saja kalau kamu mencintai Fani."


Mendapat jawaban itu, Dimas sangat terkejut. Kedua bola matanya melebar, seolah tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.


"Sungguh ibu mengizinkan saya mencintai Fani?"


Nita menganggukkan kepalanya pelan, dengan senyuman terpancar di wajah nya. Kalau anak-anak nya bahagia kenapa tidak? Kebahagiaan anak-anaknya adalah kebahagiaan juga untuk Nita.


"Gimana dengan Fani? Apa dia juga sama?" Telusur Nita dengan tatapannya, apakah Fani telah jatuh hati juga?


Dimas menggelengkan kepala nya. "Sepertinya dia tidak ada perasaan untuk saya bu,tapi saya akan sabar dan tidak akan memaksa Fani untuk membalas perasaan saya."


Ya, Dimas memang bertekad menjalin hubungan serius. Bukan hubungan main-main seperti anak remaja. Karena ia sadar usianya tak lagi muda. Untuk itu ia membicarakan langsung hal ini dengan Nita.


"Lucu ya bu..." Dimas terkekeh pelan.


"Membicarakan hal seperti ini. Saya tidak nyangka akan jatuh cinta kepada Fani, yang dulu sering saya ajak main."


Dimas tampak canggung karena membahas hal yang seperti nya tak pantas ini.


"Ibu sudah menyangka, sejak pertama kalian bertemu dan nyuci piring bersama malam itu." Nita menggoda Dimas, karena ia selalu memperhatikan gestur Dimas saat memandang Fani.


"Om Dimas. Ayo kita berangkat...!" Seru Nurul dan Ayu dengan sangat antusias, mereka juga memegangi kedua tangan Fani dan memaksa nya untuk ikut.


Tadinya Fani tidak ingin ikut dengan mereka, tapi Nurul dan Ayu memaksa, begitu juga dengan Dika yang menginginkan kakaknya pergi dengan mereka.


Seketika ingatan Dimas kembali pada waktu 10 tahun lalu, saat mereka semua masih kecil.


Dimas masih ingat betul saat dulu ia memakaikan sabuk pengaman kepada mereka satu persatu, dan sekarang mereka semua sudah tumbuh menjadi anak-anak yang sangat pintar dan periang.


"Kalian siap...?" Tanya Dimas memastikan.


"Siap om... berangkatt....!" Seru Nurul, Dika dan Ayu berbarengan.


...~~~~...

__ADS_1


Mereka sepakat akan ke mall sambil nostalgia dengan masa kecil nya, Ayu yang belum pernah kesana berdecak kagum sampai terperangah melihat megahnya mall tersebut, di tambah ada Snow world yang sudah lama ia bayang-bayangkan dari film frozen.


"Kakak, ayo kita main salju." Pinta Ayu sambil menarik-narik tangan Fani.


Fani dengan senang hati menuruti permintaan si bungsu. Ia dan kedua adiknya pun bermain salju sambil tertawa riang. Fani merasa sangat senang bisa melihat adiknya tertawa bahagia seperti ini.


Dika yang tidak tertarik untuk bermain salju, hanya duduk menikmati minuman bersama Dimas. Dika juga mengamati sedari tadi kalau om nya tak henti-henti memandangi sang kakak, bahkan ia juga memdapati Dimas senyum-senyum sendiri.


"Kak Fani cantik ya om." Celetuk Dika.


"Iya..." jawab Dimas sambil tersenyum.


"ehh.. " Dimas langsung tersadar dan menatap Dika.


"Dek, Nurul sama Ayu minta naik rollercoaster kamu yang temanin ya. kakak nggak berani." Ujar Fani dengan nafas tersengal-sengal karena habis bermain lari-larian.


"Oke siap.." Dika menurut dan segera bergegas dari sana.


Fani duduk di kursi nya Dika sembari mengipasi wajah nya yang terasa panas. Lalu ia menyeruput es kopi milik Dika dengan amat ganas


Tak sedikitpun pandangan Dimas teralih dari wajah Fani. Duda satu ini tampaknya tergila-gila oleh sosok Fani.


"Tadi saya sudah cerita sama ibu.."


bbffrrrrttt....!


Spontan kopi di mulut Fani menyembur keluar dan mendarat di kemeja Dimas.


"Apa..?! Terus gimana ibu? Dia pasti memarahi om Dimas kan? Sudah Fani bilang, itu tidak pantas..."


"Ibumu tidak keberatan, jadi kamu tidak perlu takut untuk membuka hati, dan menerima perasaan saya." Dimas memasang wajah percaya diri.


"Dih... Fani nggak ada bilang ya kalau ibu setuju, Fani bakalan balas perasaan om." Fani mengalihkan pandangannya dari wajah Dimas.


"hahahaha.. iya... Saya kan juga sudah bilang tidak akan mendesakmu."


Walaupun Fani belum bisa menerima perasaannya, Dimas sudah sangat senang karena Nita sudah memberikan lampu hijau.


"Ayo kita cari wastafel.." Fani beranjak, mengajak Dimas mencari sumber air.


"Untuk apa?" Dimas mengernyitkan dahi.


"Itu..." Tunjuk Fani pada kemeja Dimas yang terlumuri kopi.


Dimas baru sadar kalau kemejanya kotor karena ulah Fani, dan ia pun bangkit dari kursi nya mengikuti Fani mencari wastafel. Jatuh cinta benar-benar membuatnya lupa akan segala hal. Itu lah Dimas. Tak salah jika mantan istrinya mempermainkan perasaan tulus Dimas, karena ia sangat mudah teralihkan.


...***********...

__ADS_1


__ADS_2