
"Fani nya ada Pak?" tanya si wanita.
Dimas: "dia sedang tidak di rumah. ada apa?"
"kami ingin mengantarkan barang kak Fani yang tertinggal di hotel kemarin.. sekalian mau mengucapkan terimakasih banyak karena sudah menolong saya kemarin." ujar si wanita sambil menyerahkan kantong tas bertuliskan RS Medica.
"tertinggal?? menolong?.. ada apa sebenar nya?" tanya Dimas tak mengerti.
"Jadi kemarin saya ............"
Pasangan suami istri itu pun menceritakan kejadian yang sebenar nya secara panjang lebar.
mereka juga banyak sekali mengucapkan terimakasih untuk Fani karena bersedia menolong nya. di antara ribuan orang yang sedang terjebak macet kemarin,hanya Fani yang mau bergerak dan menolong si wanita dan mengantarkan nya ke hotel.
"Jadi??.. kau suami nya?" tanya Dimas tak percaya kepada si lelaki.
"iya pak.. tolong sampaikan ucapan terimakasih kami ya pak." sahut si lelaki sambil memberikan parsel buah sebagai buah tangan dan ucapan
terimakasih.
setelah itu mereka pun berpamitan dari sana.
Setelah mereka pergi Dimas menangis sejadi jadi nya. ia menyadari betapa bodoh diri nya karena tidak percaya kepada Fani,bahkan sampai menyuruh nya pergi.
" kau bodoh sekali Dimas!!! istri mu sudah berkata jujur tapi kau tidak percaya!!"
Dimas menangis sambil menjambak rambut nya sendiri.
Lalu mata nya terpaku pada kantong dari rumah sakit di atas meja. ia meraihnya dan melihat apa isi di dalam nya.
"6 minggu?.. Positif.."
Mata Dimas terus memindahi tulisan itu dari atas kebawah berkali kali untuk memastikan bahwa ia tak salah lihat.
"kamu hamil sayang??.." gumam nya. ekspresi wajah nya kini bercampur aduk antara senang dan merasa sangat bodoh akan sifat nya yang sudah keterlaluan karena sudah menyakiti dua orang sekaligus.
Dimas melamun sejenak untuk menetralkan otak nya yang konslet sejak kemarin.
"bau badan? bau mulut? dan Sushi? bahkan tingkah nya yang sangat manja itu karena dia sedang mengandung anak ku??" tangan Dimas menjadi bergetar hebat saat menyadari betapa bodoh nya dia sudah menuduh Fani begitu saja.
"kenapa aku sangat bodoh!!!!" Dimas kembali menangis dan mencengkram kuat kertas itu.
ia membayangkan betapa hancur nya hati Fani karena ulah nya.
Dimas segera mengambil kunci mobil nya dan pergi ke rumah mama nya. ya,ia berpikir bahwa Fani pasti di sana.
......~~~~......
"Mama....." panggil Dimas yang baru saja sampai di rumah Rianti.
"eh.. kamu nak?? ada apa tumben pagi pagi sudah kesini?" sahut Rianti.
"loh Fani nggak ikut?" imbuh nya lagi.
"hah?? Fani?" Dimas mengulangi perkataan Rianti.
" iyaa.. mana menantu mama, kok nggak di ajak"
Dimas langsung bungkam,dari perkataan Rianti ia sudah bisa menebak kalau Fani sedang tidak di sana.
Ia pun langsung melangkah pergi dari sana karena ia tak mau Mama nya tau kalau dia sudah membuat Fani pergi dari rumah.
"loh... kenapa tu anak?" ujar Rianti keheranan.
"perasaan tadi ada suara Mas Dimas ma, mana orang nya?" tanya Dika yang baru saja hendak pergi kuliah.
"pergi lagi tuu.." Rianti menunjuk mobil Dimas yang sudah melaju kencang keluar dari halaman rumah mereka.
"lah... kirain mau main ke sini."
ucap Dika.
__ADS_1
"Dika berangkat dulu deh ma..." imbuh nya lagi sambil mencium punggung tangan Rianti.
"iya nak.. hati hati ya.. bejalar yang rajin" sahut Rianti dengan senyum lebar nya.
"siapp ma...." ujar Dika sambil meletakkan tangan nya di kepala seperti seorang komandan.
Rianti pun melambaikan tangan nya sambil tersenyum lebar ke arah Dika.
...~~~~...
Sementara itu Dimas sedang kebingungan dan gelisah di dalam mobil.
"kemana kamu sayang?" ujar nya lirih.
ia sungguh khawatir kemana dan tidur dimana Fani tadi malam.
ia juga tak tau harus mencari Fani kemana,karena setau nya Fani tidak memiliki teman di sini.
Dimas pun memutuskan untuk ke kantor dulu karena ia berpikir mungkin Fani di sana.
Sesampainya di kantor semua mata langsung tertuju pada Dimas karena ini kali pertama mereka melihat Dimas tidak rapi seperti biasa nya.
di tambah dengan wajah kusut kucel dan mata hitam,membuat para karyawan yang ada di sana hampir tak mengenali nya.
Dimas menanyakan kepada petugas keamanan. namun mereka tak ada yang melihat Fani di sana.
di saat yang bersamaan Dimas terpikirkan Mila,karena setau dia Mila lah yang paling dekat dengan Fani. siapa tau Fani cerita kepada Mila di mana dia sekarang.
"Dimana Mila?" tanya Dimas kepada salah satu karyawan perancangan.
"lagi ngantar berkas ke kantor Pak Riko Pak..." jawab karyawan itu sambil menatap heran ke arah Dimas.
bllakkk!..
Dimas membuka pintu kantor Riko secepat kilat hingga membuat Mila terkejut.
"Mila apa kau tau Fani di mana?" tanya Dimas tanpa basa basi.
"istri mu ada di rumah nya." celetuk Riko.
"apa?? kau tidak bohong kan? di mana rumah mu Mila?" Dimas terlihat sangat antusias.
"Tidak! saya tidak tau dia dimana Pak!" tukas Mila semakin kesal.
"Ivy tower kamar 1178 kode sandi 7656" jawab Riko datar dan cepat tanpa ekspresi.
Dimas langsung pergi secepat kilat dari sana setelah mendengar jawaban Riko.
ia benar benar lega mendengar itu,namun ia juga bingung bagaimana cara nya meminta maaf kepada Fani.
"kenapa bapak kasih tau?!! Fani bilang dia mau tenangin diri dulu!dan dari mana bapak tau kode rumah saya?!!" Mila melebarkan mata nya ke arah Riko.
Riko menatap Mila dengan mata elang nya.
"lebih cepat selesai akan lebih baik untuk mereka"
"tapi Pak Dimas keterlaluan.. nuduh istri nya yang nggak nggak." bantah Mila masih tak terima.
"pergi lah!! kau terlalu berisik" Riko menyerahkan berkas yang sudah di tanda tangani nya pada Mila dengan wajah songong.
Mila pun mengambil berkas itu lalu segera beranjak dari sana.
...~~~~...
Di rumah Mila....
Fani sedang mencuci piring bekas nya makan, ia merasa sedikit meriang panas dingin karena kelelahan dan menangis terus semalaman. di tambah mual dan pusing bawaan hamil nya semakin terasa membuat seluruh tubuh nya menjadi lemas.
tit,tit,tit,tit..
Terdengar seseorang sedang menekan kode pengunci pintu,Fani mengira itu pastilah Mila.
__ADS_1
ia tetap melanjut kan mencuci piring nya tanpa menoleh ke belakanh dengan sedikit sempoyongan.
Orang itu tak lain adalah Dimas,ia langsung melihat Fani yang sedang berdiri di depan wastafel dapur. dengan mata berkaca kaca ia langsung memeluk Fani dari belakang hingga membuat Fani terkejut dan..
PAAANGGG!!!
Fani menghantam kan panci berbahan granit yang habis ia pakai merebus sup dengan sangat keras hingga Dimas terhuyung. tentu saja ia terkejut saat melihat tangan lelaki melingkar di tubuh nya karena ia pikir Mila yang masuk tadi.
"Mas?!!!" Fani terkejut saat melihat Dimas yang ia hantam. dan ia lebih terkejut lagi kenapa Dimas bisa tau dia di sini.
"aahh.. nggak apa apa.." rintih Dimas sambil memegangi kepala nya yang terasa pengar.
Sebenar nya Fani kasihan,ingin sekali dia mengelus kepala suami nya yang sedang kesakitan itu. namun ia menahan diri dan pura pura cuek saat teringat betapa sakit hati nya karena ulah Dimas.
Setelah mengumpulkan kembali kesadaran,pikiran,dan otak nya yang terasa melayang karena habis di pukul. Dimas memegang tangan Fani dengan wajah memelas.
"sayang.. maafin Mas ya.
Fani tak menjawab dan memalingkan wajahnya yang sedang kesal dan marah.
"maaf karena Mas nggak percaya sama kamu.."
"maaf Mas nggak mendengarkan penjelasan kamu" ujar Dimas dengan wajah penuh penyesalan.
"Maaf sudah menyakiti mu... dan anak kita.."
ujar Dimas lagi seraya memegang perut Fani.
Fani langsung melihat ke arah Dimas.
"Mas udah tau??"
"iya sayang.. perempuan yang kamu tolong tadi datang kerumah bersama suami nya. mereka mengantar hasil tes mu yang ketinggalan di hotel,dan mereka menceritakan semua nya.
Mas bener bener minta maaf ya.. Mas siap kalau kamu mau marah atau pukul Mas,Mas siap. apapun itu asal kamu mau maafin Mas bakal Mas terima.." Dimas berlutut di depan Fani sambil menundukkan kepala nya.
"hhhh.. kenapa Mas baru percaya saat orang lain yang menjelaskan dari pada istri sendiri" sahut Fani ketus.
"Maaf Sayang.. maaf karena Mas nggak percaya sama kamu.
sayang,,maafin papa ya nak..."
Dimas memeluk dan menciumi perut Fani,rasa nya bercampur aduk antara senang,sedih,dan penyesalan yang amat sangat besar
Sebenar nya Fani mengerti kenapa Dimas sampai bersikap keterlaluan, ia juga paham rasa trauma yang melanda pikiran suami nya itu. tapi tetap saja dia kesal karena Dimas tak mempercayai nya.
"Kamu mau menghukum Mas dengan cara apapun Mas terima sayang.. asal kamu mau maafin Mas.." Dimas memohon lagi,kali ini air mata nya menetes pelan hingga menembus baju membasahi perut Fani.
Namun Fani tak mendengarkan nya karena tiba tiba diri nya merasa mual dan ingin muntah.
"hwwoeekkkkk.... sorrrr...." Fani memuntahkan semua sup dan nasi yang ia makan tadi di atas kepala Dimas. rambut Dimas pun seketika penuh terlumuri muntahan Fani.
"aaaahhhw.. maaf Mas" ujar Fani sambil meringis lemas karena tenaga nya seperti terkuras habis saat muntah barusan.
"hmm.. i,,iya nggak apa apa. ini bahkan nggak sebanding dengan perlakuan Mas ke kamu,Mas rasa ini hukuman dari anak kita." ujar Dimas sambil mengusap wajah nya yang juga terkena muntahan Fani,ia juga berusaha tetap tersenyum karena ia merasa pantas menerima itu.
Sementara itu Fani langsung terduduk lemas dan berkeringat dingin.mata nya juga sedikit berkunang kunang dan mulai gelap.
ia beberapa kali mengerjapkan mata nya,hingga akhir nya ia tak sadarkan diri di pelukan Dimas.
Dimas pun langsung panik bukan main.
"sayang??!! kamu kenapa??"
melihat Fani tak merespon,Dimas langsung mengangkat tubuh Fani dan membawa nya ke rumah sakit agar segera mendapatkan penanganan medis.
...**********...
***Selamat hari raya Idul Adha 1442 hijriah untuk umat muslim dan muslimah.๐๐๐
mohon maaf lahir batin jika otor membuat kalian jengkel atau pun kurang nyaman dengan karya otorโบ๏ธ๐๐
__ADS_1
Terimakasih juga buat suport para readers setia nya T15T.โบ๏ธ semoga kita semua di berikan kesehatan dan keberkahan selama nya๐ค***