
Setelah acara makan malam selesai,Dimas dan Fani berpamitan pulang. padahal Rianti menyuruh mereka untuk menginap malam ini,tapi Dimas menolak.
Setelah hampir 1 jam di perjalanan Dimas pun sampai ke rumah nya.
"jangan.. biar Mas yang bukain"
ucap Dimas saat melihat Fani hendak membuka pintu mobil.
Dimas pun segera turun lalu membuka kan pintunya.
"silahkan kanjeng ratu.."
"hahaha.. apaan sih Mas,Fani bisa kali buka pintu sendiri" perut nya dirasa menggelitik saat melihat lakukan Dimas.
"Mas cari aman aja.. nanti lepas juga pintu mobil Mas kan kacau sayang.."
"ohh jadi cuma karena sayang sama pintu mobil nya maka nya Fani di bukain pintu.."
"kan memang Mas selalu bukain pintu buat kamu sayang" Dimas mulai ketar ketir lagi,seperti nya ia salah bicara.
"iya santai aja dong Mas,kok jadi tegang gitu muka nya" Fani semakin terkekeh melihat ekpresi Dimas.
Mereka masuk kedalam rumah sambil menghela nafas panjang.
"hhhhffff.... memang rumah sendiri paling nyaman" ujar Dimas sambil memeluk Fani dari belakang.
"Mas jangan di situ peluk nya,tangan Mas berat loh nanti anak kita ketindihan" Fani menyingkirkan lengan Dimas yang melingkar di perut nya.
"terus di mana? di sini..."
Dimas menaikkan tangan nya ke bukit himalaya nya Fani.
"eh,, kok semakin besar sayang??"
ia terkejut karena Volume di sana kelihatan nya sedikit meningkat.
"perasaan Mas aja tu.." sahut Fani.
"apa iya? atau karena sudah lima hari nggak megang jadi terasa beda.."
bibir dan tangan Dimas kini sama sama aktiv berpatroli menjelajahi tubuh Fani.
"lima hari? baru kemarin Mas pegang pegang lima hari dari mana??" Fani sengaja mengarang cerita ,kira kira seperti apa reaksi Dimas.
"hah?!! kemarin kapan Fani?!! sudah lima hari Mas nggak kamu kasih jatah. hayo keceplosan ya kamu?? siapa yang kemarin hm??"
"hahahahha... masa lupa Mas?"
Fani tak sanggup lagi menahan tawa nya.
"ihh kamu.. Mas nggak suka ya bercanda kaya gini" wajah nya langsung murung.
"tapi Fani suka Mas,gimana dong.."
ia merayu Dimas dengan senyuman yang memabukkan.
"Fani..!!" Dimas menekan suara nya.
"iya sayang...." sahut Fani lembut dan manja.
"sshh.. kamu ya, sini nggak Mas gigit bibir kamu"
"nahhh..." Fani malah berlari sambil menjulurkan lidah nya ke arah Dimas.
mereka pun kejar kejaran mengelilingi sofa sambil tertawa lepas.
"awas ya kalau dapat nggak bakal Mas kasih ampun"
"masaaa..." ledek Fani lagi.
"hahhhh...." akhir nya Dimas menangkap tubuh Fani yang sedang lengah.
ia lalu membaringkan nya di atas sofa sambil menggelitik telapak kaki Fani.
"ahahahaha... ampun Mas ampun.."
"maka nya jangan bikin Mas gemes"
"iya iya.. ampun, janji nggak lagi.. ahahahahhah ampun.."
Dimas pun melepaskan kaki Fani. tapi Fani yang belum puas menjahili Dimas malah merencakan niat terselubung lagi.
__ADS_1
"Mas sini deh.. Fani punya cerita rahasia"
"apa?? ngomong aja sayang.. nggak ada orang kok di sini"
"ihh sini Fani bisikin, ini rahasia banget..."
ujar nya dengan wajah sangat meyakinkan.
Dimas pun menuruti,ia mendekatkan kepala nya ke arah Fani.
"AAAAAAAAAKKKKKKKKKK"
Fani berteriak sangat keras hingga Dimas langsung terlonjak dari duduk nya.
ia pun langsung melarikan diri ke lantai atas sambil tertawa terbahak bahak.
"hhuhhh....awas ya kamu..."
Dimas menyusul Fani sambil mengusap usap telinga nya.
...~~~~...
Di tempat lain, tampak seorang pria paruh baya yang tak lain adalah ayah nya Fani sedang terbaring di atas ranjang nya yang kumuh,ia sudah 3 hari demam dan tak bisa bekerja.
Keadaan rumah nya pun sangat memprihatinkan,hanya berdinding bata merah yang sudah tua dan lantai nya masih di lapisi oleh tanah.
dulu saat meninggalkan keluarga nya Rudi membawa semua tabungan yang ada,mereka sempat membeli rumah yang lumayan mewah. tapi perlahan uang mereka habis begitu saja karena untuk berfoya foya seperti liburan,belanja serta membeli hal hal yang tidak perlu.
hingga pada suatu hari ia di phk dari pekerjaan nya dan keuangan nya mulai berantakan.
"Mei.. liat liat bapak mu ya, mamak mau ke pasar sebentar.." pinta si istri kepada anak sulung nya.
"iyaa iya!" sahut Mei ketus. entah kenapa ia sangat malas merawat Rudi,padahal sejak umur 7 tahun Rudi lah yang membesarkan nya dan kedua adik nya. tapi ia sering sekali melawan kepada kedua orang tua nya itu.
Rudi menikahi istri nya yang seorang janda beranak 3, umur mereka 17 tahun,14 tahun,dan yang bungsu 12 tahun. ya usia nya sama dengan anak kandungnya yang di tinggalkan saat masih di kandungan yaitu Ayu.
dari pernikahan ini Rudi tak memiliki anak.
"Mei.. ambilkan bapak minum nak.." pinta Rudi lirih.
"ihh.. bapak! ambil sendiri kenapa! nggak liat apa Aku lagi ngerjain tugas sekolah" tukas Mei dengan wajah cemberut.
"aku lagi nonton tv kak!! tanggung ni!!" sahut Cindy si anak kedua.
"ihhh...!! pasti aku terus jadi nya yang ngerawat bapak!!" ujar si bungsu Sarla sambil mendengus kesal karena tak mau di ganggu,dia tengah sibuk dengan aktivitas nya berjoget ria di depan kamera untuk di unggah ke tikt*k.
Begitu lah kelakuan anak anak tiri nya Rudi,tak hanya pada Rudi. mereka juga melawan kepada ibu nya, entah didikan macam apa yang mereka dapatkan hingga mereka tumbuh menjadi anak seperti itu.
Sementara Rudi hanya bisa meneteskan air mata menahan rasa haus, di saat diri nya sakit tak ada satu pun anak tiri nya yang perduli.
ia hanya termenung menatapi langit langit rumah nya yang di penuhi sarang laba laba sambil memikirkan anak kandung nya yang dulu ia tinggalkan.
"bagaimana keadaan anak anak ku ya.. apa Nita bisa membesarkan mereka dengan baik?" batin nya. dada nya terasa sesak saat mengingat betapa bodoh nya dia dulu karena telah meninggalkan anak anak nya. dan yang lebih menyakitkan adalah prilaku anak tiri nya yang sudah ia besarkan mati matian,dan kini seperti itu kelakuan mereka.
...~~~~...
Kembali pada Dimas dan Fani,mereka baru selesai berganti pakaian.
kemarin Dimas telah mengganti pintu lemari nya dengan yang model di geser untuk mengurangi resiko penumbalan lagi.
"Mas,ini nutup nya gimana kok nggak bisa??"
"di seger sayang.."
Fani pun menggeser nya ke samping.
"oohh gini..."
" iya...
duh baju kamu seksi banget sayang,, bikin tentara Mas jedag jedug" Dimas menabrakkan spakbor depan nya ke bumper Fani.
"emang bisa jedag jedug??"
Fani bingung mendengar itu.
"bisa dong.. mau lihat nggak??"
darah di tubuh Dimas mulai berdesir hebat menandakan siap untuk bertempur.
ia pun menggendong tubuh Fani ke atas ranjang.
__ADS_1
"berat kan Mas??" ujar Fani minder,karena akhir akhir ini ia memang merasakan tubuh nya mengembang dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"wajar dong sayang.. kan di tambah dimdim di perut kamu"
Dimas langsung menurunkan tali baju di bahu Fani. sedang memuncak nya gairah Dimas,tiba tiba ponsel nya berdering.
Ia melihat nomor penelpon dan langsung bisa menebak siapa yang menelpon,ya Riko.
Dimas pun mengangkat nya,karena kalau Riko menelpon berarti ada hal penting yang ingin di sampaikan.
"hallo..??"
sejenak tak ada jawaban,hanya suara krasak krusuk yang terdengar.
"ada apa?" tanya Dimas.
bukan nya jawaban,malah terdengar suara dari dalam telepon.
Mila: "sshhh.. awhh.. jangan kenceng kenceng dong.. sakit nih, shh huuuhhh.."
Riko: "ini udah pelan pelan,di tahan dong.. baru ujung nya juga."
Dimas dan Fani langsung bertatapan dengan biji mata hampir keluar.
"matiin Mas.. matiin" bisik Fani panik.
Dimas pun langsung memutuskan sambungan telepon nya.
"aishh!! dasar gila. ngapain dia menelpon ke sini kalau sedang ....,"
"mungkin kepencet Mas.." otak Fani langsung traveling membayangkan yang sedang di lakukan Mila dan Riko.
Dimas sudah masa bodoh dengan itu, ia melanjutkan pendakian nya di bukit himalaya yang tadi terganggu karena Riko.
...*********...
*Ni otor masukin foto buat penambah bahan halu nya 🤩
Istana rumah tangga Dimas dan Fani*
ruang tamu
ruang keluarga
ring baku hantam🤣
ruang pakaian
tempat kejadian perkara waktu ketiban duren🙈
dapur..( iya tau dapur,yakali parkiran)
makan meja
bukan lautan tapi kolam susu.
(lah tor,perasaan kemaren bukan ini rumah nya?)
iya emang karena otor ganti😌biar lebih estetik dikit🤣
Seneng banget kalo suruh ngehalu begini😴
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
__ADS_1