Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
episode 118: Calon istri


__ADS_3

"Mas.. bagus bagus kan.."


Fani menunjukkan pakaian bayi dari aplikasi belanja online di ponsel nya.


"Fani mau beli ya.. ini bagus banget tuh, lucu lucu..." rengek Fani saat melihat gambar pakian bayi.


"kita beli nanti ya.. kalau kamu sudah bisa keluar.


Mas ragu kalau beli nya online begitu nanti nggak sesuai lagi, apalagi kita nggak tau bahan nya panas atau nggak"


"review nya bagus bagus kok Mas.. bintang nya juga bagus. Mas... boleh ya, Fani suka yang ini.."


"hhhmmm... ya udah iya... beli lah sayang.."


Dimas akhir nya mengalah.


Tak tanggung-tanggung Fani juga membeli kasur beserta selimut bayi yang ada di sana.


maklum lah jiwa emak emak, pantang lihat barang diskonan.


Dimas hanya geleng geleng kepala melihat Fani seperti itu, padahal masih ada dua bulan lebih menuju persalinan. tapi Fani sudah sangat antusias sekali.


Masuk keranjang masuk keranjang, pas chek out tau tau total nya hampir 25 juta, memang online shop itu menjual barang barang yang berkualitas jadi tak heran harga perlembar pakaian mencapai 200 ribuan. senyum Fani langsung memudar melihat angka di total chek out nya.


"loh kenapa sayang? nggak jadi beli?"


tanya Dimas.


"hehe... nggak lah Mas, di pasar aja besok"


"loh kenapa..? kata nya suka?"


"hehehe...."


Fani menunjukkan total belanjaan nya.


Dimas tak paham, apa ada gangguan? atau barang nya habis? atau apa? Dimas benar benar tak mengerti, padahal yang di maksut Fani total nya. tapi seperti nya mata Dimas sama sekali tak terganggu dengan angka itu.


"kenapa sih sayang?? ada yang eror?"


"ma..hal Mas.." sahut Fani menyeringai.


"ma.. mahal?? kamu ini sayang.. sayang..


sadar dong suami kamu ini siapa..


Adimas bramasta.. segitu doang mah kecil"


ujar nya membusungkan dada ala ala pahlawan kemalaman.


Dimas menyebutkan nomor rekening nya.


"60 112xxxxxxx"


"apa itu Mas?"


"pilih pembayaran debit, dan tulis nomor nya"


ujar Dimas sambil terus menertawakan Fani yang lupa jati diri kalau sudah jadi istri sultan.


"tuan Dimas.. makan malam sudah siap"


panggil bibik art mengetuk kamar mereka.


"iya bik.." sahut Dimas.


"ayo sayang... kita makan dulu"


mereka berdua pun keluar menuju ruang makan.

__ADS_1


...~~~~...


Nurul yang juga hendak turun langsung balik lagi saat sampai di tengah anak tangga.


ia melihat Vino dan mama nya sudah duduk ready di meja makan sambil ketawa ketiwi.


"aaahhh.. pak Vino lagi, pak Vino lagi.


heran deh, tiap hari kesini. memang nya dia nggak punya rumah apa? tante Duma aja yang adik kandung mama jarang jarang kesini" gerutu Nurul.


"loh kamu nggak makan dek?" tanya Dika yang juga hendak turun.


"nggak kak.. masih kenyang"


"ihh jangan gitu, nggak baik loh nunda makan, ntar kena magh tau rasa"


"nggak apa apa deh kena magh kak, dari pada kena serangan jantung" ucap Nurul, ia cepat naik lagi menuju kamar nya.


"maaa... Nurul nggak mau makan kata nya"


seru Dika dari atas tangga.


"Nur.. makan ayo. mama nggak mau ya ada yang melewatkan jam makan" pekik Rianti sambil menata lauk pauk di atas meja.


"kakk!!! ihh dasar pacar nya sumianto ni!"


mau tak mau Nurul terpaksa turun, padahal niat hati mau menghindar.


"hehehe.." Dika malah cengengesan melihat adik nya. begitu lah si kembar jarak beda tahun ini, kalau nggak adu tanduk nggak lega rasa nya.


"hehehe.." Nurul menirukan Dika sambil memutar bola mata nya.


"Arka titip salam dek.. "


"kak! bisa nggak jangan bahas bahas laki laki di sini, nanti mama salah paham loh" bisik Nurul geregetan.


"apa sih nak? kalian berdua ini kompak bener kalau suruh bikin rusuh" Rianti tersenyum lebar menikmati suasana ramai rumah nya.


"temen Dika ada yang naksir sama Nurul"


"tu.. kak Dika yang mulai rusuh ma.."


"cieee...." Dika malah menggesek suasana, tak di pikirkan nya bujang tua di seberang meja mengeluarkan asap dari telinga nya.


"hihh kakak ini!!


ma.. cubit sih mulut kak Dika, rusuh banget"


Belum selesai Nurul bicara, Fani datang dan mencubit daun telinga Dika.


"aaakhhh!!" Dika meringis pedih.


"mau makan jangan berisik.." ucap Fani.


"iya kak.. iya.. maaf"


Dika langsung duduk di kursi nya.


"wekkk.. emang enak" ejek Nurul menertawakan Dika.


"ada ada aja anak anak ini.. maklum ya Bu dokter.." ujar Rianti pada Duma.


"halah.. biasa mbak, dulu Dimas sama Vino gimana coba. lebih bengis malah" sahut Duma terkekeh.


"sekarang malah sepi di rumah, Vino di suruh nikah malah ntar ntar.. biar mama ada temen nya juga." imbuh Duma lagi.


Vino malah memandang kearah Nurul sambil menaikkan sebelah alis nya dan tersenyum tipis.


sementara Nurul menatap sinis ke arah nya.

__ADS_1


"apasih orang tua itu! emak nya ngomong bukan di dengerin" rutuk nya dalam hati.


"buruan Vin.. biar mama kamu cepet punya cucu kaya tante, siapa tau kembar juga.." goda Rianti pada Vino.


"iya.. lagi di usahakan cari gen yang sama biar dapet kembar juga" sahut Vino tersenyum nakal.


Dimas dan Fani yang mendengar itu langsung bisa menangkap maksut perkataan Vino.


mereka hanya tersenyum sambil melirik kearah Vino.


"waahh.. berarti sudah ada calon nya Vin?"


tanya Duma.


"jadi kapan makan enak nya kita.."


imbuh Rianti.


"mmmm....


3 tahun lagi mungkin..." ujar Vino terbata.


"waahh.. kenalin ke mama dong.."


"iya nih.. kenalin kita dong.." ucap Rianti lagi.


"kalian semua kenal kok.." ucap Vino dengan enteng nya sambil menatap Nurul.


sontak saja ia langsung tersedak dan panik.


Seisi ruangan langsung diam saling melemparkan tanya, siapakah gerangan wanita yang berhasil menaklukan buaya purba itu.


"kok pada diam? lanjut lah makan nya" ujar Vino dengan santai nya.


Sementara Nurul bergetar sekujur badan mendengar perkataan Vino tadi.


"nggak.. nggak mungkin aku kan yang di maksut pak Vino, apa iya aku? apa maksut nya tiga tahun nunggu aku lulus? nggak.. nggak mungkin nggak mungkin" Batin Nurul sambil menggigiti sendok nya.


...~~~~...


Keesokan pagi nya..


setelah cuti panjang, pasangan pengantin baru Mi-ko kembali bekerja. penampilan Riko setelah menikah sungguh berubah drastis, yang biasa wajah nya kaku bak kanebo kering.


kini wajah nya cerah ceria bagai potongan kaca di ujung lampu.


"semangat ya kerja nya.." Riko mengelus kepala Mila lalu masuk ke kantor nya.


Mila yang masih malu malu hanya tersenyum kecil.


"cieee..." sorak para rekan rekan nya Mila.


"ssstt!! berisik.." gretak Mila.


Para karyawan langsung berbisik bisik ria.


"kok bisa akur ya..?"


"padahal sebelum nya kaya kucing dan anjing"


"bener kan kata ku, yang begitu gitu pasti akhirnya jodoh"


"hahah.. Bu Mila udah kena rudal nya pak Riko tuh, maka nya takluk" ujar salah seorang yang di kenal paling ngeres otak nya.


"aku bisa mendengar kalian..." ujar Mila.


seketika semua nya langsung diam dan kembali ke posisi masing masing, sementara Mila hanya senyum senyum kecil membayangkan perlakuan Riko yang seperti gula batu, keras tapi manis.


...*********...

__ADS_1


__ADS_2