Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
S2 episode 36: Tambang berlian


__ADS_3

Celetukkan El yang tak tahu menahu


tentang dunia percetakan,ternyata


di dengar oleh Vino.


"tenang saja El.. ayah bisa kok


sesuaikan sama jadwal bunda.."


ucap Vino sambil menuruni anak tangga.


"hahaha..


memang nya El berani tidur sendiri


setelah ayah dan bunda menikah nanti?"


imbuh Rianti.


"loh kok tidur sendiri Oma??


kan El mau nya tidur sama Ayah Bunda.."


Rianti, Vino dan Nurul langsung saling


menatap bingung. penjelasan apa yang


kira kira masuk di akal El?


"kalau El tidur sama Ayah dan Bunda


nanti kami tidak sempat bikin dede bayi nya."


jawab Vino lempeng bak tiang antena tahun


90 an.


Mendengar jawaban Vino, rasa empati


El terhadap orang tua nya pun semakin


tinggi.


"ya maka itu Ayah..


El akan bantuin bikin dede nya kalau


Ayah tidak sempat."


"ehh.. sstt..ssstt!!!


udah ya udah.. jangan bahas bahas


itu lagi." tukas Nurul menghentikan


percakapan berbahaya itu.


Nurul tersenyum kecut ke arah El.


"El.. Bunda sama Ayah belum menikah,


jadi nanti aja ya bahas nya.. hehe.."


"dan Bapak..


Bapak janji kan izinin Nur kuliah!


jadi jangan bahas ke situ dulu."


tukas nya membulatkan mata sembari


berbisik kepada Vino.


"memang.. tapi mahasiswi tetap boleh


lanjut kuliah kan walaupun sedang hamil."


balas Vino tersenyum nakal membuat


Nurul terkejut.


Ya.. memang dari awal mereka belum


membuat kesepakatan untuk memiliki


anak lebih cepat atau lambat.


namun keinginan Nurul tentu saja


lulus dulu, baru punya anak.


Tapi sepertinya tidak dengan Vino dan


El yang bahkan sudah mengharap harapkan


kehadiran pasukan baru di keluarga mereka.


...~~~~...


Walaupun acara lamaran Nurul dan Vino


di gelar seprivate mungkin, tetap saja


kabar itu menyebar luas di kampus hanya


dalam waktu kurang dari 24 jam.


"cie... calon istri pak duda..."


ledek salah satu siswi dengan gaya


menor nya.


"sstt.. mama ku bilang sih ganteng..


maka nya dia rela ninggalin pak Bian


demi si duda.."


sahut yang lainnya sambil terus


mengikuti langkah Nurul dari belakang.


"gilak nggak tuh, ternyata diam diam


dia selingkuhin pak Bian, padahal


Pak Bian tu baik banget...


eh di campakkan begitu saja..


hahahahah...."


"selera kampungan memang beda ya.."


Nurul berpura-pura menutup telinganya


dari bibir busuk mereka.


pagi yang indah ini rasa nya sayang


jika harus di awali dengan mengotori


bibir nya untuk melawan cewek cewek


syirik itu.


Namun mulut nyinyir tetaplah nyinyir.


mereka tak puas puas nya menjelek jelekkan


Vino sebagai calon suami Nurul.


"btw.. aku dapet info sih duda tua itu


mantan 'pemain' guys..


bayangin nggak tuh, dia ninggalin berlian


demi rongsokan yang sudah berkarat..


iuuuhhh...."


Kali ini kepala Nurul benar benar mendidih


mendengar perkataan mereka.


ia berbalik badan dan menatap tajam

__ADS_1


ke arah mereka semua.


"Ran....!"


seru seorang duda macho dari ujung


gerbang, siapa lagi kalau bukan Vino.


Bibir Nurul yang hendak membalas


perkataan mereka pun jadi terhenti.


"Pak Vino..?"


Bagai anak kucing yang memandangi


ekor induk nya, begitu lah ke empat


gadis julid tadi. mereka memutar kepala


nya mengikuti Nurul sambil tercengang


melihat kegagahan, ketampanan,


kemewahan, keseksian, dan keAnuan nya


Vino yang tampak sangat menawan.


"laptop mu ketinggalan sayang..."


ujar Vino dengan senyum manis khas nya


membuat mereka semua mleyot seketika.


Pipi Nurul pun langsung merah merona


mendengar panggilan itu.


"hhmm?"


"laptop..


kata nya ada presentasi kan hari ini?"


sahut Vino menatap lembut wajah mungil


Nurul.


"iya.. ma..makasih Pak.."


kebanyakan dapat suplemen dari tatapan


Vino, jantung Nurul jadi jedag jedug disko


saking awwww....😍


Vino tersenyum lagi kemudian pamit.


"ya sudah, saya pulang dulu ya..


semangat belajar nya.."


ia mengusap pucuk kepala Nurul


lalu beranjak sambil melayangkan flying


kiss dengan satu kedipan mata.


"manis nya..."


gumam Nurul sambil membalas dengan


lambaian tangan.


"ehh?? sejak kapan aku bisa alay begini?"


rutuk Nurul dalam hati memarahi diri nya.


"se...serius Na,,? itu calon suami mu?"


tanya salah seorang dari grup julid.


"hmm.. kenapa?


kaget? karena ternyata kita sama sama


kampungan..?" sahut Nurul tersenyum sinis


"wahh.. ini sih konsep nya


tinggalkan berlian, dekati tambang nya."


ujar yang lainnya sambil menggigit jari


melihat mobil mewah Vino melesat dengan


elegan.


...~~~~...


Di sebuah kota kecil yang tak jauh dari


perdesaan. Rudi dan Evi tengah membeli


perlengkapan material untuk merenovasi


rumah mereka.


di sini lah watak asli mereka terlihat, begitu


mempunyai uang langsung di habiskan


sehabis habis nya bahkan untuk membeli


barang yang bisa di bilang tidak di perlukan.


bukankah setidak nya mereka sedikit


berhemat untuk keperluan lainnya?


seperti persiapan dana untuk kesehatan


misalnya.


"Pak.. kalau di hitung hitung dari pada


semen, mending kita langsung beli keramik


aja nggak sih."


ujar Evi sambil melihat lihat motif


keramik yang terpajang.


"iya juga buk.. mumpung ada uang nya


biar cantik rumah kita.."


"kamar mandi nya juga di rombak dong pak..


anak anak juga udah lama banget ngeluh


karena kamar mandi kita begitu.."


"bener buk.. kita harus buat rumah kita


senyaman mungkin agar anak anak


betah di rumah.."


Rudi dengan mantap nya mengiyakan


permintaan sang istri.


Total,total total...


belanjaan mereka hanya 10 juta sekian,


dan tentu saja sisa uang yang masih terbilang


banyak itu mereka gunakan untuk


membeli barang barang lainnya.


"Pak.. kita beli itu yuk.."


Evi menunjuk toko pizza yang terpampang


di pinggir jalan.

__ADS_1


"apa itu buk..?"


tentu saja itu sangat asing bagi Rudi.


"itu pizza loh pak..


Sarla dari dulu pengen banget makan


itu tapi belum kesampaian."


Rudi pun mengiyakan permintaan istri nya.


saat hendak menyebrang jalan, seorang


pria berusia tiga puluhan lewat dengan


sepeda ontel dan anak perempuan di belakang.


Anak itu sekitar berumur 7 tahun, rambut


lebat, pipi chubby dengan kaki terikat


di batangan tempat duduk agar kaki nya


tak masuk ke dalam jari jari sepeda.


mereka tampak tertawa bahagia sambil


menyanyikan lagu khas daerah sana.


Pemandangan itu membuat Rudi teringat


akan masa lalu nya, saat ia mengantarkan


Fani ke sekolah untuk pertama kali nya.


"anakku juga belum pernah makan pizza.."


gumam nya sambil meneteskan air mata.


"kenapa pak..?"


"eh.. nggak buk, ayo..."


...~~~~...


BRAM'S PROPERTY...


Jam istirahat makan siang tiba.


jika dulu zaman nya Fani dan Mila


sedang hangat hangat nya membangun


chimestry. kini mereka punya meja khusus


untuk makan siang bersama sekaligus


ngerumpi yang tentu saja itu di pimpin


oleh Mila.


Ayu yang kebetulan ada di sana hanya


bisa tutup telinga dan mata batin


mendengar percakapan Mila dan Fani.


ya, kalau tidak sekolah Ayu memang


sering merangkap jadi baby sister nya


si kembar, karena Fani tak begitu


percaya jika anak nya di awasi oleh


orang asing.


Jreng.. jrenggg.. jreng..


arena gosip di mulai...😎


"Fan.. kamu tau tidak?


si Luwak ternyata memang pacaran


dengan si barbie.." bisik Mila agar tak


di dengar karyawan lainnya.


"hah.. serius buk?


bukan nya mereka sepupu?


ibuk tau dari mana??"


sahut Fani tak kalah antusias.


"dari mata kepala ku sendiri Fan...


asli.! tadi waktu aku nunggu lift,


aku lihat mereka c!pokan bibir.


pas mereka sadar itu pintu lift terbuka


mereka kaget dong.. sampe kopi si barbie


tumpah kena baju nya si Luwak."


Mila sampai mempraktekkan posisi mereka


dengan amat detail.


"wahh..wah.. gawat berarti gawat..


jangan jangan mereka sengaja


menyembunyikan status karena


perusahaan ini kan melarang


si barbie untuk pacaran (magang)."


Detik demi menit terlewati, bukan nya


berhenti Mila malah memanggil seluruh


squad gosip nya untuk berkumpul.


"kak, Ayu jemput si kembar dulu ya.."


pamit nya menyadari jam istirahat sebentar


lagi selesai.


"iya dek.. sekalian sampaikan sama Mas mu


kalau kakak mau langsung pulang.."


sahut Fani.


"oke..." Ayu tersenyum lebar.


sebenar nya sih dia malas berkeliaran


di kantor itu, tapi ini lebih baik dari pada


mendengar gosip yang membuat telinganya


panas.


...-...


...-...


Krieettt....


Ayu membuka pintu kantor Dimas.


"Mas kata kak Fani....AAAAAAAK!!!"


JDARRR!!!!!


pintu kantor Dimas hampir lepas di buat Ayu.


dinding nya pun hampir runtuh karena getaran


yang di hasilkan dari kepanikannya.

__ADS_1


...**********...


__ADS_2