
Celetukkan El yang tak tahu menahu
tentang dunia percetakan,ternyata
di dengar oleh Vino.
"tenang saja El.. ayah bisa kok
sesuaikan sama jadwal bunda.."
ucap Vino sambil menuruni anak tangga.
"hahaha..
memang nya El berani tidur sendiri
setelah ayah dan bunda menikah nanti?"
imbuh Rianti.
"loh kok tidur sendiri Oma??
kan El mau nya tidur sama Ayah Bunda.."
Rianti, Vino dan Nurul langsung saling
menatap bingung. penjelasan apa yang
kira kira masuk di akal El?
"kalau El tidur sama Ayah dan Bunda
nanti kami tidak sempat bikin dede bayi nya."
jawab Vino lempeng bak tiang antena tahun
90 an.
Mendengar jawaban Vino, rasa empati
El terhadap orang tua nya pun semakin
tinggi.
"ya maka itu Ayah..
El akan bantuin bikin dede nya kalau
Ayah tidak sempat."
"ehh.. sstt..ssstt!!!
udah ya udah.. jangan bahas bahas
itu lagi." tukas Nurul menghentikan
percakapan berbahaya itu.
Nurul tersenyum kecut ke arah El.
"El.. Bunda sama Ayah belum menikah,
jadi nanti aja ya bahas nya.. hehe.."
"dan Bapak..
Bapak janji kan izinin Nur kuliah!
jadi jangan bahas ke situ dulu."
tukas nya membulatkan mata sembari
berbisik kepada Vino.
"memang.. tapi mahasiswi tetap boleh
lanjut kuliah kan walaupun sedang hamil."
balas Vino tersenyum nakal membuat
Nurul terkejut.
Ya.. memang dari awal mereka belum
membuat kesepakatan untuk memiliki
anak lebih cepat atau lambat.
namun keinginan Nurul tentu saja
lulus dulu, baru punya anak.
Tapi sepertinya tidak dengan Vino dan
El yang bahkan sudah mengharap harapkan
kehadiran pasukan baru di keluarga mereka.
...~~~~...
Walaupun acara lamaran Nurul dan Vino
di gelar seprivate mungkin, tetap saja
kabar itu menyebar luas di kampus hanya
dalam waktu kurang dari 24 jam.
"cie... calon istri pak duda..."
ledek salah satu siswi dengan gaya
menor nya.
"sstt.. mama ku bilang sih ganteng..
maka nya dia rela ninggalin pak Bian
demi si duda.."
sahut yang lainnya sambil terus
mengikuti langkah Nurul dari belakang.
"gilak nggak tuh, ternyata diam diam
dia selingkuhin pak Bian, padahal
Pak Bian tu baik banget...
eh di campakkan begitu saja..
hahahahah...."
"selera kampungan memang beda ya.."
Nurul berpura-pura menutup telinganya
dari bibir busuk mereka.
pagi yang indah ini rasa nya sayang
jika harus di awali dengan mengotori
bibir nya untuk melawan cewek cewek
syirik itu.
Namun mulut nyinyir tetaplah nyinyir.
mereka tak puas puas nya menjelek jelekkan
Vino sebagai calon suami Nurul.
"btw.. aku dapet info sih duda tua itu
mantan 'pemain' guys..
bayangin nggak tuh, dia ninggalin berlian
demi rongsokan yang sudah berkarat..
iuuuhhh...."
Kali ini kepala Nurul benar benar mendidih
mendengar perkataan mereka.
ia berbalik badan dan menatap tajam
__ADS_1
ke arah mereka semua.
"Ran....!"
seru seorang duda macho dari ujung
gerbang, siapa lagi kalau bukan Vino.
Bibir Nurul yang hendak membalas
perkataan mereka pun jadi terhenti.
"Pak Vino..?"
Bagai anak kucing yang memandangi
ekor induk nya, begitu lah ke empat
gadis julid tadi. mereka memutar kepala
nya mengikuti Nurul sambil tercengang
melihat kegagahan, ketampanan,
kemewahan, keseksian, dan keAnuan nya
Vino yang tampak sangat menawan.
"laptop mu ketinggalan sayang..."
ujar Vino dengan senyum manis khas nya
membuat mereka semua mleyot seketika.
Pipi Nurul pun langsung merah merona
mendengar panggilan itu.
"hhmm?"
"laptop..
kata nya ada presentasi kan hari ini?"
sahut Vino menatap lembut wajah mungil
Nurul.
"iya.. ma..makasih Pak.."
kebanyakan dapat suplemen dari tatapan
Vino, jantung Nurul jadi jedag jedug disko
saking awwww....π
Vino tersenyum lagi kemudian pamit.
"ya sudah, saya pulang dulu ya..
semangat belajar nya.."
ia mengusap pucuk kepala Nurul
lalu beranjak sambil melayangkan flying
kiss dengan satu kedipan mata.
"manis nya..."
gumam Nurul sambil membalas dengan
lambaian tangan.
"ehh?? sejak kapan aku bisa alay begini?"
rutuk Nurul dalam hati memarahi diri nya.
"se...serius Na,,? itu calon suami mu?"
tanya salah seorang dari grup julid.
"hmm.. kenapa?
kaget? karena ternyata kita sama sama
kampungan..?" sahut Nurul tersenyum sinis
"wahh.. ini sih konsep nya
tinggalkan berlian, dekati tambang nya."
ujar yang lainnya sambil menggigit jari
melihat mobil mewah Vino melesat dengan
elegan.
...~~~~...
Di sebuah kota kecil yang tak jauh dari
perdesaan. Rudi dan Evi tengah membeli
perlengkapan material untuk merenovasi
rumah mereka.
di sini lah watak asli mereka terlihat, begitu
mempunyai uang langsung di habiskan
sehabis habis nya bahkan untuk membeli
barang yang bisa di bilang tidak di perlukan.
bukankah setidak nya mereka sedikit
berhemat untuk keperluan lainnya?
seperti persiapan dana untuk kesehatan
misalnya.
"Pak.. kalau di hitung hitung dari pada
semen, mending kita langsung beli keramik
aja nggak sih."
ujar Evi sambil melihat lihat motif
keramik yang terpajang.
"iya juga buk.. mumpung ada uang nya
biar cantik rumah kita.."
"kamar mandi nya juga di rombak dong pak..
anak anak juga udah lama banget ngeluh
karena kamar mandi kita begitu.."
"bener buk.. kita harus buat rumah kita
senyaman mungkin agar anak anak
betah di rumah.."
Rudi dengan mantap nya mengiyakan
permintaan sang istri.
Total,total total...
belanjaan mereka hanya 10 juta sekian,
dan tentu saja sisa uang yang masih terbilang
banyak itu mereka gunakan untuk
membeli barang barang lainnya.
"Pak.. kita beli itu yuk.."
Evi menunjuk toko pizza yang terpampang
di pinggir jalan.
__ADS_1
"apa itu buk..?"
tentu saja itu sangat asing bagi Rudi.
"itu pizza loh pak..
Sarla dari dulu pengen banget makan
itu tapi belum kesampaian."
Rudi pun mengiyakan permintaan istri nya.
saat hendak menyebrang jalan, seorang
pria berusia tiga puluhan lewat dengan
sepeda ontel dan anak perempuan di belakang.
Anak itu sekitar berumur 7 tahun, rambut
lebat, pipi chubby dengan kaki terikat
di batangan tempat duduk agar kaki nya
tak masuk ke dalam jari jari sepeda.
mereka tampak tertawa bahagia sambil
menyanyikan lagu khas daerah sana.
Pemandangan itu membuat Rudi teringat
akan masa lalu nya, saat ia mengantarkan
Fani ke sekolah untuk pertama kali nya.
"anakku juga belum pernah makan pizza.."
gumam nya sambil meneteskan air mata.
"kenapa pak..?"
"eh.. nggak buk, ayo..."
...~~~~...
BRAM'S PROPERTY...
Jam istirahat makan siang tiba.
jika dulu zaman nya Fani dan Mila
sedang hangat hangat nya membangun
chimestry. kini mereka punya meja khusus
untuk makan siang bersama sekaligus
ngerumpi yang tentu saja itu di pimpin
oleh Mila.
Ayu yang kebetulan ada di sana hanya
bisa tutup telinga dan mata batin
mendengar percakapan Mila dan Fani.
ya, kalau tidak sekolah Ayu memang
sering merangkap jadi baby sister nya
si kembar, karena Fani tak begitu
percaya jika anak nya di awasi oleh
orang asing.
Jreng.. jrenggg.. jreng..
arena gosip di mulai...π
"Fan.. kamu tau tidak?
si Luwak ternyata memang pacaran
dengan si barbie.." bisik Mila agar tak
di dengar karyawan lainnya.
"hah.. serius buk?
bukan nya mereka sepupu?
ibuk tau dari mana??"
sahut Fani tak kalah antusias.
"dari mata kepala ku sendiri Fan...
asli.! tadi waktu aku nunggu lift,
aku lihat mereka c!pokan bibir.
pas mereka sadar itu pintu lift terbuka
mereka kaget dong.. sampe kopi si barbie
tumpah kena baju nya si Luwak."
Mila sampai mempraktekkan posisi mereka
dengan amat detail.
"wahh..wah.. gawat berarti gawat..
jangan jangan mereka sengaja
menyembunyikan status karena
perusahaan ini kan melarang
si barbie untuk pacaran (magang)."
Detik demi menit terlewati, bukan nya
berhenti Mila malah memanggil seluruh
squad gosip nya untuk berkumpul.
"kak, Ayu jemput si kembar dulu ya.."
pamit nya menyadari jam istirahat sebentar
lagi selesai.
"iya dek.. sekalian sampaikan sama Mas mu
kalau kakak mau langsung pulang.."
sahut Fani.
"oke..." Ayu tersenyum lebar.
sebenar nya sih dia malas berkeliaran
di kantor itu, tapi ini lebih baik dari pada
mendengar gosip yang membuat telinganya
panas.
...-...
...-...
Krieettt....
Ayu membuka pintu kantor Dimas.
"Mas kata kak Fani....AAAAAAAK!!!"
JDARRR!!!!!
pintu kantor Dimas hampir lepas di buat Ayu.
dinding nya pun hampir runtuh karena getaran
yang di hasilkan dari kepanikannya.
__ADS_1
...**********...