
Di rumah sakit...
"bawa rangkuman medis pasien
dari dokter sebelum nya, saya
akan segera menjadwalkan operasi
pengangkatan tumor nya."
pinta Dika kepada suster pendamping nya.
"Baik Pak...
oh iya, ada yang menunggu di ruangan
bapak."
"siapa?saya sudah bilang sama kamu kan
kalau jam tugas saya sudah selesai."
"sudah Pak..
tapi,, dia bukan pasien.
kata nya dia ingin menyampaikan
hal pribadi kepada Bapak."
Tentu saja Dika bingung, siapa yang
di maksut suster itu. keluarga nya?
tidak mungkin, kan mereka semua
sedang ke luar Negeri.
"apa Gaby??"
gumam nya, ya hanya dia yang terlintas
di benak Dika.
Dika pun menuju ke ruangan nya
sambil bertanya tanya. ada apa?
kenapa? apa dia ingin aku meminta
maaf atas kejadian kemarin?
batin Dika tak henti henti menduga.
Namun saat memasuki ruangan nya
ekpresi Dika langsung berubah
karena yang sedang menunggu ternyata
orang tak di kenal.
"siapa?"
tanya Dika datar bahkan tanpa
intonasi formal.
"selamat siang Dokter.
maaf menggangu waktu anda.."
"langsung saja.. ada perlu apa?"
potong Dika mencela basa basi wanita itu.
"sebelum nya perkenalkan saya Mei..
saudara tiri anda...."
ucap Mei ragu ragu.
"ahh.. pantas saja wajah mu terasa
familiar. ada apa? katakan saja."
tukas Dika sedikit kesal.
"saya...."
"ingin meminta tanggung jawab?
atau ingin kami menanggung biaya kalian?"
potong Dika lagi.
Mei menunduk dengan mata berkaca-kaca.
"tidak.. bukan itu..
justru saya ke sini ingin minta maaf
karena perlakuan Ibu saya.
anda tenang saja, saya cukup sadar
untuk tau di mana posisi kami sebenar nya."
"baiklah kalau begitu.
kamu pun jangan khawatir karena
kami takkan menuntut apa apa
dari perlakuan Ibu mu."
kecam nya dingin lalu pergi meninggalkan
Mei di sana.
Bertanggung jawab atas mereka?
justru seperti nya mereka sangat berhak
untuk membalas perbuatan Rudi
kepada mereka selama ini.
Mei menatap kesal ke arah punggung
Dika lalu menggerutu.
"ch.. dingin sekali dia?
bukankah setidak nya mengucapkan
belasungkawa?
eh, tidak juga. yang meninggalkan
Ayah kandung nya. bukankah seharusnya
kami yang mengucapkan itu?
tapi tetap saja. setidak nya dia menghargai
niat baikku untuk meminta maaf."
...~~~~...
Setelah perjalanan yang amat panjang.
tiba lah keluarga Dimas dan Riko
di tempat tujuan yakni Paris.
mereka menginap di dalam satu Villa
milik anak perusahaan BRAM's.
"Pa... bawa koper nya masuk ya.."
ucap Mila sambil ngeloyor masuk.
"heh.. ini Sam aku yang gendong,
__ADS_1
koper juga aku yang bawa.
gimana sih?" gerutu Riko kesal.
"gantian lah.. dulu kan aku sembilan bulan
bawa Sam kemana mana.
biar kamu ngerasain hahahah...."
"shhh!! aku lebih suka saat dia hamil.
begitu lembut dan perhatian..
Sam, sepertinya papa harus lembur
malam ini." bisik nya tersenyum licik.
...-...
...-...
Di saat yang lain turun dengan riang
gembira. Ayu malah seperti Zombie yang
baru bangkit dari kuburan.
di bantu Rianti, ia tertatih tatih melangkah
menuju ke kamar nya.
Sementara itu, Nurul malah di buat
terkejut karena El meminta mereka
tidur bersama lagi malam ini.
"El, tidur sama Ayah aja ya.."
ucap nya sambil tersenyum.
"tapi El mau tidur sama bunda juga.."
lirik El tersenyum manja.
Nurul menunduk memberi pengertian
untuk El.
"iya.. El boleh, tapi Ayah jangan."
"kenapa bunda??"
"Ayah sama Bunda belum boleh tidur
bareng El.." imbuh Vino datar.
tampak nya ia kelelahan setelah
lebih dari 7 jam mengudara sebagai
Ko-Pilot.
"tapi waktu itu boleh.
yang kita tidur di ruang tamu."
Skakmat!
Nurul dan Vino langsung saling
melemparkan tatapan bingung.
"waktu itu...kan... Ayah belum.."
Nurul berusaha menjelaskan walau terbata.
Bibir El langsung manyun karena
tak dapat alasan yang masuk di hati nya.
"ya sudah deh kalau nggak mau tidur
ia pergi meninggalkan Vino dan Nurul
sambil berlari.
"aaggrhhh!! pasti ngambek tu bocah."
rutuk Vino sambil mengejar El.
Tinggallah Nurul di sana kebingungan.
"lah.. ini koper nya?"
...-...
...-...
"mama...... hiks.. hiks..."
panggil El di depan pintu kamar
Dimas dan Fani.
Mereka yang tengah berberes pun kaget
melihat El menangis tersedu sedu.
"loh? El? kenapa nak?
sini sayang..."
El langsung berlari ke pelukan Fani.
sementara Fani dan Dimas hanya saling
menatap heran sambil menaikkan
bahu mereka.
"El kenapa? di marah sama Ayah hmm?"
tanya Dimas sambil mengelus kepala nya.
"El kenapa? El mabuk juga?"
tanya Ica dan Keenan terheran.
"huuuaaaaaaa....aaaššš
El mau tidur sama Ayah bunda
tapi mereka tidak mau... hhhhhhhuuuš"
tangisan El semakin banjir saat mengungkap
kesedihan nya.
Fani dan Dimas hampir saja tertawa
mendengar curahan isi hati El.
namun mereka menahan nya untuk
menjaga perasaan El.
"El.. gimana kalau El tidur di sini aja
sama mama, papa Dimas. juga Keenan
dan Ica. gimana? mau?"
bujuk Fani lembut.
"sayang...?"
bisik Dimas takut rencana nya
untuk baku hantam malam ini gagal.
mereka sudah menyusun rencana
bahwa Ica dan Keenan akan tidur dengan
__ADS_1
Rianti malam ini.
"El.. ayo balik ke kamar."
ajak Vino kesal. udah capek capek
menerbangkan pesawat, eh malah
di buat jengkel dengan ulah El.
"Vin.. jangan di bentak dong.."
bisik Fani.
"El..!"
Vino malah semakin menaikkan
suara nya karena El tak menyahut.
El langsung terkejut dan takut, ia spontan
mengeratkan pelukannya pada Fani.
"hiks..hiks....tidak mau!
Ayah jahat!!" lirih nya sambil terisak.
"Vin.. hei.. tenangkan diri mu.
kau akan membuat nya semakin takut."
ucap Dimas menasihati Vino.
"zzzz!! tau kah kau apa yang dia minta?"
tanya Vino kesal.
"aku tau, jadi bicaralah pelan pelan
pada nya."
Vino menghela nafas nya.
"El... ayo kita istirahat nak.."
"tidak mau.. Ayah jahat!
El cuma mau minta tidur sama Ayah
Bunda, kenapa Ayah marah marahšš"
"maka nya, El nurut kata Ayah."
Vino mengambil paksa El dari pangkuan
Fani.
Semakin jadi lah El menangis tantrum
sambil memukul mukul bahu Vino.
namun Vino tak memperdulikan nya
dan tetap membawa El pergi dari sana.
"mama.. kasian El.."
ucap Ica ikut menangis.
"Vino keras banget sih sama anak nya.."
ucap Dimas turut kasihan.
"biarin aja lah Mas.. setiap orang tua kan
punya cara beda beda untuk mendidik
anak nya."
...-...
...-...
Sesampainya di kamar Vino malah
semakin kesal karena El tak mau berhenti
menangis.
"El.. Ayah capek loh. kamu jangan
begitu dong. bikin Ayah tambah pusing."
"El mau tidur sama bunda..
huuuaaaaašš"
"hfffff...
kita tidur sama Oma aja yuk.
Oma pasti senang tidur bareng El."
bujuk Vino sambil tersenyum kecut.
"El mau nya Bunda!!"
tegas El tak jelas karena isak tangis nya.
"hihhhhh!!!!
kalau bukan anakku sudah ku
jadikan ayam geprek kamu!"
batin Vino jengkel.
"ya sudah ayo... Ayah antar ke Bunda."
"nggak!!! mau nya Ayah sama Bunda!"
"iya.. iya..
Ayah tidur juga sama Bunda..ayo."
baru lah El tenang dan mau di gendong.
"kalau begini ceritanya besok gimana
aku mau unboxing. bisa kacau nih.."
gerutu Vino dalam hati nya.
...-...
...-...
"Ran..."
panggil Vino dari luar kamar.
Nurul membuka pintu nya.
"kenapa Pak..?"
"kita tidur bareng ya.. plisss..
El nangis terus dari tadi."
Tadi nya Nurul ingin menolak, namun
ia mengurungkan niatnya setelah melihat
mata sembab El.
"eh.. tapi.."
"terimakasih..."
Vino langsung saja menerobos
masuk sambil menggendong El.
...**********...
__ADS_1