Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
S2 episode 45: Tantrum


__ADS_3

Di rumah sakit...


"bawa rangkuman medis pasien


dari dokter sebelum nya, saya


akan segera menjadwalkan operasi


pengangkatan tumor nya."


pinta Dika kepada suster pendamping nya.


"Baik Pak...


oh iya, ada yang menunggu di ruangan


bapak."


"siapa?saya sudah bilang sama kamu kan


kalau jam tugas saya sudah selesai."


"sudah Pak..


tapi,, dia bukan pasien.


kata nya dia ingin menyampaikan


hal pribadi kepada Bapak."


Tentu saja Dika bingung, siapa yang


di maksut suster itu. keluarga nya?


tidak mungkin, kan mereka semua


sedang ke luar Negeri.


"apa Gaby??"


gumam nya, ya hanya dia yang terlintas


di benak Dika.


Dika pun menuju ke ruangan nya


sambil bertanya tanya. ada apa?


kenapa? apa dia ingin aku meminta


maaf atas kejadian kemarin?


batin Dika tak henti henti menduga.


Namun saat memasuki ruangan nya


ekpresi Dika langsung berubah


karena yang sedang menunggu ternyata


orang tak di kenal.


"siapa?"


tanya Dika datar bahkan tanpa


intonasi formal.


"selamat siang Dokter.


maaf menggangu waktu anda.."


"langsung saja.. ada perlu apa?"


potong Dika mencela basa basi wanita itu.


"sebelum nya perkenalkan saya Mei..


saudara tiri anda...."


ucap Mei ragu ragu.


"ahh.. pantas saja wajah mu terasa


familiar. ada apa? katakan saja."


tukas Dika sedikit kesal.


"saya...."


"ingin meminta tanggung jawab?


atau ingin kami menanggung biaya kalian?"


potong Dika lagi.


Mei menunduk dengan mata berkaca-kaca.


"tidak.. bukan itu..


justru saya ke sini ingin minta maaf


karena perlakuan Ibu saya.


anda tenang saja, saya cukup sadar


untuk tau di mana posisi kami sebenar nya."


"baiklah kalau begitu.


kamu pun jangan khawatir karena


kami takkan menuntut apa apa


dari perlakuan Ibu mu."


kecam nya dingin lalu pergi meninggalkan


Mei di sana.


Bertanggung jawab atas mereka?


justru seperti nya mereka sangat berhak


untuk membalas perbuatan Rudi


kepada mereka selama ini.


Mei menatap kesal ke arah punggung


Dika lalu menggerutu.


"ch.. dingin sekali dia?


bukankah setidak nya mengucapkan


belasungkawa?


eh, tidak juga. yang meninggalkan


Ayah kandung nya. bukankah seharusnya


kami yang mengucapkan itu?


tapi tetap saja. setidak nya dia menghargai


niat baikku untuk meminta maaf."


...~~~~...


Setelah perjalanan yang amat panjang.


tiba lah keluarga Dimas dan Riko


di tempat tujuan yakni Paris.


mereka menginap di dalam satu Villa


milik anak perusahaan BRAM's.


"Pa... bawa koper nya masuk ya.."


ucap Mila sambil ngeloyor masuk.


"heh.. ini Sam aku yang gendong,

__ADS_1


koper juga aku yang bawa.


gimana sih?" gerutu Riko kesal.


"gantian lah.. dulu kan aku sembilan bulan


bawa Sam kemana mana.


biar kamu ngerasain hahahah...."


"shhh!! aku lebih suka saat dia hamil.


begitu lembut dan perhatian..


Sam, sepertinya papa harus lembur


malam ini." bisik nya tersenyum licik.


...-...


...-...


Di saat yang lain turun dengan riang


gembira. Ayu malah seperti Zombie yang


baru bangkit dari kuburan.


di bantu Rianti, ia tertatih tatih melangkah


menuju ke kamar nya.


Sementara itu, Nurul malah di buat


terkejut karena El meminta mereka


tidur bersama lagi malam ini.


"El, tidur sama Ayah aja ya.."


ucap nya sambil tersenyum.


"tapi El mau tidur sama bunda juga.."


lirik El tersenyum manja.


Nurul menunduk memberi pengertian


untuk El.


"iya.. El boleh, tapi Ayah jangan."


"kenapa bunda??"


"Ayah sama Bunda belum boleh tidur


bareng El.." imbuh Vino datar.


tampak nya ia kelelahan setelah


lebih dari 7 jam mengudara sebagai


Ko-Pilot.


"tapi waktu itu boleh.


yang kita tidur di ruang tamu."


Skakmat!


Nurul dan Vino langsung saling


melemparkan tatapan bingung.


"waktu itu...kan... Ayah belum.."


Nurul berusaha menjelaskan walau terbata.


Bibir El langsung manyun karena


tak dapat alasan yang masuk di hati nya.


"ya sudah deh kalau nggak mau tidur


ia pergi meninggalkan Vino dan Nurul


sambil berlari.


"aaggrhhh!! pasti ngambek tu bocah."


rutuk Vino sambil mengejar El.


Tinggallah Nurul di sana kebingungan.


"lah.. ini koper nya?"


...-...


...-...


"mama...... hiks.. hiks..."


panggil El di depan pintu kamar


Dimas dan Fani.


Mereka yang tengah berberes pun kaget


melihat El menangis tersedu sedu.


"loh? El? kenapa nak?


sini sayang..."


El langsung berlari ke pelukan Fani.


sementara Fani dan Dimas hanya saling


menatap heran sambil menaikkan


bahu mereka.


"El kenapa? di marah sama Ayah hmm?"


tanya Dimas sambil mengelus kepala nya.


"El kenapa? El mabuk juga?"


tanya Ica dan Keenan terheran.


"huuuaaaaaaa....aaa😭😭😭


El mau tidur sama Ayah bunda


tapi mereka tidak mau... hhhhhhhuuu😭"


tangisan El semakin banjir saat mengungkap


kesedihan nya.


Fani dan Dimas hampir saja tertawa


mendengar curahan isi hati El.


namun mereka menahan nya untuk


menjaga perasaan El.


"El.. gimana kalau El tidur di sini aja


sama mama, papa Dimas. juga Keenan


dan Ica. gimana? mau?"


bujuk Fani lembut.


"sayang...?"


bisik Dimas takut rencana nya


untuk baku hantam malam ini gagal.


mereka sudah menyusun rencana


bahwa Ica dan Keenan akan tidur dengan

__ADS_1


Rianti malam ini.


"El.. ayo balik ke kamar."


ajak Vino kesal. udah capek capek


menerbangkan pesawat, eh malah


di buat jengkel dengan ulah El.


"Vin.. jangan di bentak dong.."


bisik Fani.


"El..!"


Vino malah semakin menaikkan


suara nya karena El tak menyahut.


El langsung terkejut dan takut, ia spontan


mengeratkan pelukannya pada Fani.


"hiks..hiks....tidak mau!


Ayah jahat!!" lirih nya sambil terisak.


"Vin.. hei.. tenangkan diri mu.


kau akan membuat nya semakin takut."


ucap Dimas menasihati Vino.


"zzzz!! tau kah kau apa yang dia minta?"


tanya Vino kesal.


"aku tau, jadi bicaralah pelan pelan


pada nya."


Vino menghela nafas nya.


"El... ayo kita istirahat nak.."


"tidak mau.. Ayah jahat!


El cuma mau minta tidur sama Ayah


Bunda, kenapa Ayah marah marah😭😭"


"maka nya, El nurut kata Ayah."


Vino mengambil paksa El dari pangkuan


Fani.


Semakin jadi lah El menangis tantrum


sambil memukul mukul bahu Vino.


namun Vino tak memperdulikan nya


dan tetap membawa El pergi dari sana.


"mama.. kasian El.."


ucap Ica ikut menangis.


"Vino keras banget sih sama anak nya.."


ucap Dimas turut kasihan.


"biarin aja lah Mas.. setiap orang tua kan


punya cara beda beda untuk mendidik


anak nya."


...-...


...-...


Sesampainya di kamar Vino malah


semakin kesal karena El tak mau berhenti


menangis.


"El.. Ayah capek loh. kamu jangan


begitu dong. bikin Ayah tambah pusing."


"El mau tidur sama bunda..


huuuaaaaa😭😭"


"hfffff...


kita tidur sama Oma aja yuk.


Oma pasti senang tidur bareng El."


bujuk Vino sambil tersenyum kecut.


"El mau nya Bunda!!"


tegas El tak jelas karena isak tangis nya.


"hihhhhh!!!!


kalau bukan anakku sudah ku


jadikan ayam geprek kamu!"


batin Vino jengkel.


"ya sudah ayo... Ayah antar ke Bunda."


"nggak!!! mau nya Ayah sama Bunda!"


"iya.. iya..


Ayah tidur juga sama Bunda..ayo."


baru lah El tenang dan mau di gendong.


"kalau begini ceritanya besok gimana


aku mau unboxing. bisa kacau nih.."


gerutu Vino dalam hati nya.


...-...


...-...


"Ran..."


panggil Vino dari luar kamar.


Nurul membuka pintu nya.


"kenapa Pak..?"


"kita tidur bareng ya.. plisss..


El nangis terus dari tadi."


Tadi nya Nurul ingin menolak, namun


ia mengurungkan niatnya setelah melihat


mata sembab El.


"eh.. tapi.."


"terimakasih..."


Vino langsung saja menerobos


masuk sambil menggendong El.


...**********...

__ADS_1


__ADS_2