
Vino menghentikan mobil nya tepat
di samping Mei.
Nurul pun langsung turun menghampiri
Mei yang tampak pucat dan hampir
basah kuyup.
"hei.. apa yang kamu lakukan?!"
tanya Nurul khawatir.
"aku??
kamu sendiri ngapain? kenapa kamu
kesini? kenapa kamu perduli aku melakukan
apa?? kenapa??!!"
Mei malah berteriak membuat Nurul
terkejut.
Saat ini, bukan hanya Nurul saja yang
terluka. Mei pun sama frustasi nya mengingat
apa yang telah ia lakukan hingga membuat
kehidupannya sendiri hancur.
dan yang paling sakit, tak ada satu
orang pun keluarga nya yang perduli
akan hal itu.
"bukan kah aku udah bilang..
hidup lah dengan baik.
kenapa kamu malah seperti ini??"
selain raut sedih Mei, ada lagi yang
membuat Nurul merasa kasihan.
yaitu luka yang belum kering di tubuh Mei
tampak meradang karena terkena air hujan.
Sementara di dalam mobil Vino hanya
menghela nafas. ia heran kepada Nurul.
sebenar nya dia itu benci atau kasihan
pada Mei.
"Ran.. masuk saja, biarkan dia mau
kemana terserah."
ucap Vino tanpa sedikitpun intonasi
ramah.
Namun Nurul tak mendengarkan Vino.
ia tak tega jika harus membiarkan
Mei di jalanan dengan keadaan seperti
itu.
"kamu mau kemana?
biar kami antarkan.."
tawar Nurul.
Mei tak menjawab, ia malah menangis
sesenggukan sambil memeluk erat
tas ransel nya.
...~~~~...
Sementara itu di rumah Rianti
para keluarga sedang sibuk menyiapkan
undangan dan juga souvernir yang berisikan
parfume dan logam emas seberat 3,5 gram.
Si kembar dan El pun sibuk menyusun
bunga bunga untuk mainan mereka.
dan yang menjadi korban adalah Dika
yang hanya bisa pasrah kepala nya
di ubek ubek si bocil.
"wiihhh...Om Dika cantik deh..
kaya mermaid." ucap Ica tertawa.
"bukan mermaid, tapi Tinkerbell
hahahhaha...."
imbuh Keenan tak kalah usil.
"ih.. kalian jangan jahat sama Om Dika.
nanti Om Dika nangis loh.."
ujar El kasihan melihat Dika hanya bisa
pasrah.
"aduh.. jangan yang itu, yang kecil aja.."
Dika menolak saat Ica hendak memasangkan
bunga besar ke atas rambut nya.
"ihh.. ini cantik loh Om.."
"jangan Ica.. jelek itu."
tolak Dika.
"ya udah yang ini aja ya.."
El malah menyodorkan bunga
mawar merah kepada Ica.
"lah.. kamu gimana sih El..
tadi kasihan sama Om, sekarang
malah mendukung mereka."
"hehehe.. tapi itu cantik.."
__ADS_1
El menyeringai lebar.
Akhir nya kepala Dika di penuhi
bunga bungaan. bahkan Ica mengoleskan
lipstik Fani ke bibir Dika agar penampilan
nya semakin mendukung.
"Siang semuaaa......"
sapa Gaby yang baru saja datang.
ia berniat membantu sekaigus menikmati
hari hari terakhir masa lajang nya Nurul.
"ehh.. Gaby, masuk sini.."
sambut Duma dan Rianti ramah.
"hehehehe.. maaf ya tante,
gara gara hujan, jadi nggak berani ngebut."
Rianti: "iya nggak apa apa..
sudah makan.? si Nur lagi ke makam
Ibu nya, paling bentar lagi pulang."
"oh iya tante..
mana, ada yang bisa Gaby bantu?"
"ambilkan kantong begini nya lagi ya..
di sana tuh, minta aja sama bibik."
Rianti menunjuk ke arah ruang tengah,
di mana Dika sedang di jadikan korban
oleh anak anak.
Gaby pun segera menuju kesana
sambil mata nya beredar mencari
keberadaan sang babang idola.
"eh.. onti Gaby??"
ucap Ica berbinar, ia memang sangat
akrab dengan Gaby.
"Gaby??!"
Dika langsung melepaskan
semua sampah yang ada di kepala nya.
fffftttt....🤭
Gaby tersenyum kecil melihat
wajah Dika bak ondel ondel.
"hai kak.."
sapa Gaby tersenyum kecil.
"hmm.."
balas Dika datar.
duduk sini cepat.. kami dandanin
jugak.." Ica menarik tangan Gaby.
"eh...onti di suruh ngambil
tas souvenir sama Oma.."
"biar Kei yang ambil kan.
onti duduk situ ya.. biar Om Dika
ada ratu nya.."
Keenan langsung ngibrit mengambilkan
barang tersebut.
Dika: "udah ya..main nya sama onti Gaby aja.
Om mau ke.."
El langsung menghadang Dika.
"eits..! Om sini aja.. kita kan mau main
raja dan ratu."
Kepala Dika langsung panas dingin.
mau di tolak pasti anak anak maksa,
di ladenin malu..
Sementara Gaby hanya tersenyum
sambil menatap Dika yang sedang
panik.
"udah lah kak..
sini aja.. sekali kali mainan.
jangan kerja terus, ntar stress loh."
udah tau Dika salah tingkah, Gaby malah
semakin senang menggoda.
Akhir nya Dika pun duduk lagi.
dengan kepala di penuhi bunga
seperti badut, ia terpaksa sok cool
demi menjaga citra nya sebagai
lelaki tamvan.
"hai semua......"
Nurul tiba sambil membawa seseorang
yang tentu saja membuat suasana
rumah menjadi panas.
"ayahhh.......
bunda..."
ujar El kegirangan sambil
berlari ke arah mereka.
__ADS_1
Rianti langsung berdiri dengn wajah
jengah.
"Nur?? ngapain kamu bawa dia
ke sini??"
"ma.. boleh dia menginap di sini
untuk beberapa hari?
sampai luka nya sembuh."
pinta Nurul.
Melihat kemarahan Rianti,Mei tak
berani berkutik. ia hanya menunduk
di belakang Nurul.
"nggak!!
ngapain sih? emang nya dia nggak
punya keluarga?"
ketus Rianti menaikkan suara nya.
"iya ngapain sih dek kamu bawa dia?"
imbuh Fani juga sedikit jengkel.
"begini Ma.. kak..
kita semua tau kan seperti apa sifat
ibu nya dia kemarin.
semenjak kepergian orang itu,
Mei selalu menjadi sasaran kemarahan
Bu Evi Ma..
jadi Mei nggak bisa pulang ke rumah
karena pasti Ibu nya akan bertambah
menyalahkan diri nya.
jadi,, boleh ya Ma.. dia di sini
sampai lula nya membaik."
Ya, semua perlakuan yang Mei terima
tak lepas dari persoalan uang.
semenjak kepergian Rudi, Mei selalu
di salahkan karena tak mau menuntut
apapun dari keluarga Nurul.
ya karena memang Mei tau mereka
tak pantas melakukan itu.
"berapa hari yang kau butuhkan?
dua hari? tiga hari? satu minggu?"
tanya Rianti jengah sambil melempar
tatapan panas.
Menyaksikan itu, amarah di kepala Dika
semakin memuncak.
"ini.. carilah penginapan!"
ketus nya sambil memberikan
sejumlah uang kepada Mei.
"kak.. ini bukan masalah uang.
kalau ke hotel atau kemana Nur juga
bisa bayar. masalah nya dia ini lagi sakit
kak, kakak tau kan seberapa lama dia
istirahat biar kesehatan nya pulih.
kalau ada apa apa sama dia gimana
coba?"
"kenapa kamu jadi perhatian sama dia?!
kamu nggak ingat apa yang telah dia
lakukan ke keluarga kita?!"
"itu kesalahan ibu nya!
bukan kesalahan dia."
Yang ada di pikiran Nurul adalah
Mei anak tiri Ayah nya.
karena membesarkan Mei lah Ayah nya
harus bekerja keras.
untuk membesarkan nya lah
sang Ayah mati matian mencari uang.
bukankah setidak nya kehidupan Mei
harus baik agar usaha Ayah nya tidak
sia sia.
"kalau begitu kembali lah
kerumah sakit agar ada yang merawat!"
ketus Dika dengan tatapan tajam.
"atau tidur di rumah ku saja.."
Gaby unjuk diri, ia juga merasa
kasihan kepada Mei. terlepas apa
yang di lakukan Mei kepada Nurul.
mereka tetap pernah menjadi teman
dekat, satu geng pula.
jadi ia merasa iba kepada nasib malang
Mei.
...*********...
__ADS_1