Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
episode 116: Jam tangan


__ADS_3

"kemeja mewah ini yang anda maksut?"


Jaksa mengangkat sepotong kemeja yang di bungkus plastik, barang itu sudah lama tertimbun di kantor polisi. itu adalah kemeja yang di pakai Sean saat melakukan kejahatan nya waktu itu, kemeja itu terekam jelas di cctv tapi sayang seseorang sengaja menghilangkan barang bukti itu.


Sean langsung terdiam kaku melihat kemeja itu ada di sana, tanpa ia sadari pernyataan itu adalah jebakan dari jaksa dan juga pihak korban.


Hakim langsung menyuruh pengacara korban untuk menayangkan bukti dari rekaman cctv waktu itu. kini pihak Sean tak lagi bisa berkata kata dan di pastikanlah bahwa Sean terbukti bersalah.


Hanya Sean yang di sidang? tentu tidak.


justru teman teman Sean yang dulu juga melakukan pemerkosaan itu sudah di penjara tak lama setelah kejadian itu. hanya Sean yang berhasil lolos dengan uang milyaran yang ia gunakan untuk menyuap pengacara keluarga korban.


"pengacara terdakwa, apa anda punya pembelaan?" tanya Hakim ketua.


pengacara dan Sean hanya diam tak berkutik.


"dengan kuat nya bukti dan saksi pada saudara Sean. saya memberikan hukuman sesuai yang di ajukan jaksa penuntut yakni di jatuhi hukuman kebiri dan kurungan seumur hidup!"


tok..tok..tok


ketukan palu Hakim ketua menggema di ruangan itu, polisi langsung membawa Sean keluar menuju sel tahanan kelas berat.


Kedua keluarga korban saling berpelukan dan menangis sejadi jadi nya menyaksikan keadilan yang sudah lama mereka nantikan, kini mereka bisa hidup nyaman dan damai tanpa rasa takut dan dendam.


Keluarga korban juga mengucapkan terimakasih banyak kepada Dimas karena dengan suka rela membuka kasus ini kembali.


bukan suka rela sih, ini hanya jalan pintas Dimas untuk menghukum Sean karena telah berani mengusik keluarga nya.


Sambil di geret polisi keluar dari ruang pengadilan, Sean terus menatap Zey penuh dendam sambil mengumpat di dalam hati nya.


"dasar kau wanita ******!! penghianat!!


wanita sampah!!"


Sedangkan Zey menatap Sean sambil tersenyum sinis dan melambaikan tangan nya.


"byee...." ucap nya puas karena duri dalam hidup nya benar benar sudah menghilang.


...~~~~...


Di sekolah....


Bel istirahat berbunyi, para siswa dan siswi langsung keluar kelas. semua orang tampak memiliki teman berbincang kecuali Nurul, ia hanya sendiri dan tak satu pun orang berniat menyapa atau mengajak nya ke kantin.


Tapi saat Nurul ke kantin semua mata tertuju pada Nurul sambil berbisik bisik karena salah fokus pada jam tangan yang ia kenakan, itu adalah jam tangan edisi terbaru merk BVLGARI yang di taksir memiliki harga di atas 300 juta.



"itu.. serius?gilak dari mana dia dapat jam tangan itu?" bisik salah satu siswi pada yang lain nya.


Nurul yang tak tau kalau jam tangan nya berharga fantastis dengan santai nya cuek dan mengabaikan mereka, jam itu adalah kado dari orang tua nya saat ulang tahun.


ya dia pikir harga nya cuma cepe'an lah...


"jangan jangan dia anak orang kaya lagi..


gaya nya aja yang sederhana.."


"iya juga.. kalau nggak mana mungkin dia bisa sekolah di sini, padahal pinter juga nggak"

__ADS_1


para calon induk induk rempong itu terus saja menggunjingi Nurul.


Geng senior yang di kenal cetar membahana pun langsung menghampiri Nurul dan menanyakan itu.


"hai...." sapa ketua geng bernama Gaby itu.


"dari mana kau dapat jam tangan itu?" ujar Meilinda selaku anggota geng itu.


"nyuri.." ketus Nurul kesal, pasal nya Meilinda ini selalu jadi kompor untuk julid kepada Nurul.


karena kejadian di rumah sakit itu dia jadi kesal pada Nurul.


"serius dong!" ujar Mei dan Gaby.


"haduh.. ngapain sih kalian heboh? memang nya kenapa sama jam tangan ku? kampungan? ya nggak apa apa dong kan cocok sama aku yang kampungan" Nurul memandang malas ke arah mereka lalu kembali ke kelas dengan camilan nya.


"waahh.. fix dia orang kaya! BVLGARI di bilang kampungan? apa kabar jam tangan ku yang cuma 4 juta ini.." ucap salah satu dari mereka sambil geleng geleng kepala.


"kita harus buat dia masuk geng ini, biar geng kita makin perfect..." ujar Gaby.


"jangan dong.. males banget satu geng sama anak kampungan begitu.." timpal Mei.


"hello.. bodo amat kampungan yang penting dia kaya say.. bukti nya kamu kampungan tapi tetep kita terima di geng ini" sahut salah satu dari mereka, ya image Meilinda di mata mereka adalah anak orang kaya yang juga pintar hingga mendapat beasiswa. mempunyai rumah bagus, dan memiliki ayah yang seorang pengusaha adalah omong kosong Mei terhadap teman teman nya.


...~~~~...


Sepulang sekolah Nurul sedang menunggu jemputan, tapi tiba tiba ia di kejutkan dengan dua mobil yang Familiar berhenti secara bersamaan di hadapan nya. ya siapa lagi kalau bukan Bian dan Vino.


Dengan gagah nya mereka berdua turun dari mobil sehingga membuat para ciwi ciwi di sana terperangah.


"busyet.. ganteng banget tu om om"


ujar mereka terpesona dengan ketampanan dua bujang lapuk itu.


Gagah dan keren, tapi saat mereka saling memandang, kedua nya segera menyadari adanya persaingan ketat. mereka pun langsung berlari untuk berebut siapa dulu yang akan mengantar Nurul pulang.


"dek.. ayo pulang../ Ran ayo saya antar"


ucap mereka berbarengan sambil tersengal sengal.


"Bapak bapak sekalian...


memang nya nggak pada kerja? Nur mau nunggu pak supir aja.. jadi mendingan kalian balik kerja" ujar nya tersengum kecut, ia menyadari seluruh murid sedang memperhatikan nya.


"saya free..." ucap Vino.


"sift saya sudah selesai.." sahut Bian tak kalah cepat.


"khm.. biar adil kita suit aja." ucap Bian.


Vino pun setuju.


"ehh.. apaan? adil gimana? tanya dulu dong Nur mau apa nggak" tukas Nurul kesal.


namun mereka berdua tetap suit tidak mendengarkan Nurul.


"yess..." ujar Bian girang, ia mengalahkan Vino dan akan mengantar Nurul pulang.


Nurul pun lega karena itu Bian, kalau sempat Vino yang menang habis lah sepanjang perjalanan ia spot jantung.

__ADS_1


"sial!" rutuk Vino.


Bian membuka pintu mobil nya untuk Nurul sambil tersenyum manis. Nurul yang di senyumin, eh satu sekolah yang ambyar.


"kan.. benar kata ku.. yakin deh pasti Kirana itu anak orang kaya" ujar salah satu anggota geng Violet itu.


"guys.. dari pada tebak tebakan gini mending kita ikutin aja dia.. gimana setuju nggak?"


"setuju...." sahut mereka.


geng beranggotakan 5 orang itu pun langsung masuk kemobil Gaby dan membuntuti mobil Bian.


"hhh.. sudah pasti orang miskin sih, kelihatan dari tampang nya" sinis Mei dalam hati.


...-...


...-...


"mau makan siang dulu nggak dek?"


"mmm.. boleh deh, kebetulan Nur laper"


"makan apa?"


"sate kambing enak kaya nya pak.."


Bian langsung belok ke salah satu Mall yang lengkap dengan jenis makanan khas indonesia.


bagaimana? tipe idaman bukan si Nurul. karena di tanyain makan apa nggak jawab terserah.


Sampai lah mereka di salah satu Mall yang cukup megah. sebelum turun dari mobil, Bian ingin memastikan sesuatu pada Nurul.


"tapi kamu nggak lagi darah tinggi kan dek? bahaya soal nya kalau punya darah tinggi"


"kita cek dulu gimana? soal nya Nur juga nggak tau" ujar nya sambil melirik ke arah tas Bian yang membawa peratalan kedokteran nya.


Bian pun mengeluarkan alat tensi darah,


tiba tiba Vino menelpon Nurul hingga membuat mereka berdua terkejut karena dering ponsel Nurul terlalu keras.


Nurul berniat mengabaikan nya, namun karena tak memperhatikan ia malah menekan tombol angkat lalu membalikkan layar ponsel nya.


"sini masukin tangan kamu.." Bian mengodorkan atal tensi itu agar Nurul memasukkan lengan nya ke sana.


"kurang keatas dek.." ujar Bian membetulkan posisi tangan nya.


"begini pak?"


"iya.. tahan ya.. soal nya ini sedikit mencengkram.."


"kok kurang terasa pak.."


"iya sabar, emang awal nya pelan pelan dulu"


Di sebrang telepon ekpresi Vino jangan di tanya bagaimana, sudah pasti pikiran nya traveling bukan main.


"anak ini benar benar menantang ku! sudah kubilang jangan membuat ku cemburu!"


ia langsung memutar mobil nya dan mengikuti GPS dari ponsel Nurul.

__ADS_1


...********...


__ADS_2