Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
S2 episode 11: Bangau kertas


__ADS_3

Sehabis mandi, Vino celingukan mencari handuk


di sekeliling kamar mandi. ia lupa membawa handuk besar. dan karena hanya ada handuk kecil, ia pun memakai itu saja.


"jadi lah, dari pada tak pakai handuk."


lagi pula kan hanya ada El dan Keenan di kamar, pikir nya.


Selesai melilitkan handuk di pinggang, Vino mencukur jenggot nya sebentar.


"hissh..


El, ayahmu seksi banget, seperti member blackpink.awww..du..du.du..dudududu..


aye aye.." ia berjoget ala blackpink sambil memainkan pisau cukur nya.


Lima menit kemudian, ia selesai mencukur bulu nya dan langsung membuka pintu kamar mandi


yang amat luas itu.


Tadaaaaa.......๐Ÿ˜ฌ


glekk......


ia menelan ludah yang tersangkut karena


terkejut saat melihat Nurul di sana.


Mata Nurul terbelalak hampir keluar melihat penampakan itu. secepat kilat ia kemudian membuang muka nya.


"Nur nggak lihat pak, beneran.!"


"sa..saya belum tanya.."


sahut Vino, ekpresi nya pura pura santai


padahal ketar ketir malu banget. mana tinggi handuk nya nggak sampai setengah meter lagi.


"khm.. El, ambilkan baju ganti ayah di atas


kasur itu nak."


"iya ayah.." El langsung membawakan satu set pakaian ganti ayah nya.


saat melewati Nurul, El tersandung karpet


dan tersungkur.


beruntung ia tak apa apa, tapi apes nya baju


yang di bawakan El terjatuh ke arah Nurul dan yang lebih apes lagi, ****** ***** Vino


mendarat bebas di bahu Nurul.


"ups.." ucap El terperanjat.


"iishhhh..." Nurul menepis dalaman Vino.


"kalian ayah dan anak benar benar


menyebalkan!"


rutuk Nurul sambil berjalan pergi dari sana.


ketiban uang mendingan. lah ini ketiban jeroan.


mana nggak bisa marah lagi karena pelakunya makhluk mungil seperti El.


"ayah.. El takut bunda marah.." El menunduk sedih membayangkan raut wajah Nurul tadi.


"tidak sayang.. bunda itu baik, jadi dia tidak mungkin marah hanya karena El tak sengaja"


ucap Vino menenangkan putra nya.


"iya El, tenang aja. bina baik kok, nanti biar Keenan bantuin minta maaf ya.." timpal nya sambil menggandeng tangan El.


...-...


...-...


Malam tiba...


El datang ke kamar Nurul sambil membawa 20 bangau kertas di dalam toples kecil berbahan kaca. "bunda.. El boleh masuk?"


panggil nya sambil mengetuk pintu.


"iya.." sahut Nurul, ia melepaskan shetmask


nya lalu membukakan pintu.


Nurul berjongkok menyamakan tinggi nya


dengan El. "kenapa El?"


"El buatin bangau kertas untuk permintaan maaf


ke bunda, tapi El cuma sanggup buat segini.

__ADS_1


bunda mau ya maafin El.."


Nurul menatap haru wajah El yang tampak sangat mengantuk, ia sengaja tidak tidur demi membuat bangau kertas itu untuk Nurul.


"minta maaf untuk apa sayang?"


"karena kecerobohan El tadi sore."


Nurul tersenyum lembut, ia menerima se toples bangau itu lalu memeluk erat El.


"tante yang minta maaf ya sayang..


pasti kata kata tante tadi sore menyinggung


kamu ya?"


"iya.. El sedih dan takut karena bunda bilang


El dan ayah menyebalkan." ucap El sambil meneteskan air mata.


Nurul mengusap rintikkan air mata El.


"tante maafin El kok, El mau kan maafin tante juga?"


"mau, tapi ada syaratnya.." El menatap Nurul penuh harap.


"apa itu?" perasaan Nurul mulai tak enak, bisa bisa nya ni bocil meminta kesepakatan, dan kok bisa dia malah membalikkan keadaan padahal


kan tadi nya dia yang merasa bersalah.


"bunda jangan sebut tante untuk El.


bilang bunda untuk El, yaa.."


mata sedih El seolah mengutarakan betapa


pedih hati nya saat ia memanggil Nurul bunda, namun Nurul malah menyebut diri nya tante di hadapan El.


"hhhmm.. iya tante, eh bunda setuju deh.."


Nurul mengusap lembut kepala El, ia pikir


El akan meminta hal aneh atau macam macam.


ternyata hanya kata bunda dari mulut Nurul


yang di inginkan nya. bukan kah terlalu kejam


jika Nurul tak mengabulkan permintaan


kecil dari El.


tanya Vino yang baru saja naik dengan segelas susu untuk El.


"El mau tidur sama ayah..." pinta El.


"ya sudah, ayo kita ke kamar sana.."


Vino geleng geleng kepala melihat perubahan mood anak nya. tadi bersikeras yakin kalau mau tidur sama Keenan, sekarang malah berubah.


"sama bunda juga.." tambah El lagi.


"hahh??"


Nurul kaget bukan main mendengar itu.


"pilih salah satu, mau tidur sama ayah atau bunda?" tanya Vino.


"tidak jadi deh kalau gitu.."


El menunduk sedih.


"ssshh... sini." Vino menggendong El lalu


menarik tangan Nurul menuruni tangga.


"eh.. mau kemana pak?"


"tidur bareng.."


"hah?? nggak mau pak.." tegas Nurul setengah berbisik. ia takut akan menyinggung perasaan El lagi.


Vino tak menggubris Nurul, sedangkan El tersenyum bahagia. kalau untuk El, Vino


memang tak pernah bisa menolak.


Sesampainya di ruang keluarga, Vino menurunkan El lalu menyetel sofa ke mode ranjang. setelah nya, ia mengambil selimut


yang ada di sofa itu dan berbaring.


"ayo sini. kata nya mau tidur bareng ayah bunda.


sini suruh bunda tidur di sini juga.." Vino menepuk nepuk sofa di sebelahnya.


Nurul membuang nafas dan menaikkan alis nya.


ia sudah berpikiran kemana mana tadi.

__ADS_1


"ayo bunda.." El menggenggam tangan Nurul


lalu menyuruh nya berbaring juga.


Rasa canggung antara Vino dan Nurul tak bisa di elakkan lagi, Nurul hanya mematung sambil menatap langit langit sedangkan Vino menutupi wajah nya dengan lengan.


Lain dengan El, ia malah berbalik ke kanan


dan kiri sambil tersenyum bahagia.


di balik selimut, wajah mungil nya tampak


sangat berbinar ceria lain dari biasa nya.


"El.. kenapa sih kisruh banget, kata nya mau tidur?" tanya Vino.


"El senang ayah.. El balik ke kanan ada ayah, balik kekiri ada bunda. ternyata begini ya


rasa nya tidur sama kedua orang tua."


sahut El tersenyum lebar.


Vino tertegun mendengar pernyataan


anak nya itu, "sebahagia ini kamu nak?"


lirih Vino dalam benak nya.


Nurul pun tersentuh mendengar itu.


ternyata hal yang ia anggap sepele


sangat berarti bagi El.


hal yang ia anggap sangat tak nyaman ini ternyata kebahagiaan yang sudah lama di dambakan oleh El.


"ayah, bunda kasih selimut nya dong.."


El menarik selimut lalu menutupi kaki Nurul.


"nggak usah sayang, nanti bunda ambil selimut sendiri." tentu saja akan bertambah canggung jika ia satu selimut dengan Vino.


"beneran bunda nggak mau selimut?"


"nggak El, untuk El sama ayah aja ya.."


"bunda??" Vino tersenyum saat mendengar


Nurul menyebut diri nya bunda.


"ayah...kenapa kita tidak tidur di kamar saja?


kan lebih nyaman.."


"kalau kita di kamar bisa bisa kamu punya adik baru nanti." celetuk Vino tersenyum usil ke arah Nurul.


"sshh aahw!!" dalam sekejap senyum nya berubah menjadi nyengir kesakitan karena Nurul mencubit betis Vino menggunakan jari kaki.


"jangan ngomong aneh aneh di depan


anak kecil!"


bisik Nurul dengan mata melotot.


"saya cuma kasih alasan yang valid.


bukan aneh aneh." sahut Vino juga berbisik.


"valid apa nya. kalau dia tanya lagi gimana?"


"ya tinggal jawab saja Ran.."


"ckk.! dasar otak mesum!"


rutuk Nurul masih berbisik.


"ei. jaga kata kata mu, ada anak kecil di sini."


"apa? bapak boleh bicara sembarangan,


kenapa aku nggak!"


"wahh.. kamu bilang 'aku' barusan?


itu tidak seperti diri mu."


Mereka terus saja berdebat sambil berbisik,


sepertinya mereka melupakan si mungil di balik selimut nya. di tengah antara mereka, El tersenyum mendengar perdebatan antara ayah dan bunda nya.bahagia rasa nya bisa mendengar percakapan orang tua sebelum tidur


walau ia tak tau jelas apa isi perdebatan itu.


ini persis seperti yang ia lihat di film anak anak. dimana kedua orang tua akan mengobrol sambil menunggu anak nya tertidur.


dan benar saja, lambat laun El mulai


mengantuk lalu memejamkan mata nya sambil tersenyum kecil.

__ADS_1


...********...


__ADS_2