
Di sebuah taman dekat pegunungan, Fani,Rianti dan Vino sedang mengobrol asik sambil melihat tiga bocil bermain baling baling yang mereka buat dari rumput ilalang.
"Keenan dan El, benar benar mirip kamu dan Dimas waktu kecil Vin. jadi kangen masa masa itu.." ujar Rianti, mata nya menatap sendu ke arah cucu cucu nya itu.
"hahah iya tante, beda nya Keenan dan El tidak pernah adu jotos seperti aku dan Dimas hahah.."
sahut Vino di iringi gelak tawa.
"hhhmm.. nggak kerasa anak ku udah besar besar,, bentar lagi mereka sekolah, tau tau
udah remaja nanti mereka.." lirih Fani, ia membayangkan betapa cepat nya waktu berjalan.
"sudah saat nya merencanakan bikin adik untuk si kembar ni Fan..." imbuh Vino dengan tawa jahil nya. namun ia juga mbatin karena tau tau udah punya anak.
"kurang seru ya ma,, Mas nggak ikut. adek adek juga nggak ikut. coba kalau ikut semua pasti seru banget nih." ucap Fani.
"iya.. Minggu besok kita ke sini lagi yuk,
kan adek kamu pada libur tuh, Dika juga
Of kata nya.pasti seru.. ya kan Vin.."
"ajak Nurul juga ya tante.."
"pasti dong.. kalau Bian libur nanti tante ajak sekalian." pasti nya, calon mantu kebanggaan gitu loh.
Mendengar nama Bian, senyum Vino langsung masam. Fani menyadari perubahan raut wajah Vino itu, ia juga bisa menebak bahwa Vino masih ada rasa kepada adik nya.
"ayo bucil... makan dulu sini..." panggil Rianti.
ketiga bocil itu langsung berlarian menghampiri tikar mereka.
Rianti menyiapkan minuman untuk mereka,
Fani membantu membukakan bekal si kembar. sementara Vino malah diam melamun menatap awan teduh yang menyelimuti langit.
El yang sudah terbiasa mandiri menyiapkan
sendiri kotak bekal nya. ia juga memasang sapu tangan di leher agar makanan nya tidak mengotori baju.
Melihat itu ,Fani sigap membantu saat
menyadari El mempersiapkan makanan nya sendiri.
"aduh.. sini mama bantu buka bekal nya.."
"Vin.. kamu gimana sih. malah ngelamun bukan bantuin anaknya.." tukas Fani sembari memukul lutut Vino menggunakan sendok.
"aduh.. sakit buk.. " Vino meringis sambil mengelus lutut nya yang seperti kesetrum.
"ayah.. kok nasi goreng nya beda?"
ucap El terheran.
"hah.. masa iya?" Vino langsung menarik kotak nasi El yang berisi 7 kepal bola nasi beserta sayuran nya, sebenar nya ada 8, tapi El sudah mengunyah satu.
"eh.. ini nasi siapa??" tanya Vino pada yang lainnya.
"tapi enak yah.. lebih enak dari nasi goreng ayah malah.." oceh El sambil mengunyah bola nasi ayam itu.
Tentu saja Rianti tau, karena ia lihat sendiri tadi Nurul mengepalkan nasi itu.
"loh...ini mah bekal nya Nurul Vin..
kamu salah bawa pasti."
"jadi dia bawa nasi goreng buatan mu dong."
tambah Rianti lagi. kotak nasi mereka memang satu set dari dapur Rianti, hanya berbeda ukuran nya sedikit. jadi tak mustahil itu tertukar.
Pipi Vino langsung merona di iringi senyum
manis nya.
"hhh.. berarti dia memakan nasi goreng buatan ku?"
"ck.. iya kalau di makan, kalau di buang?"
celetuk Fani.
"pasti di makan lah.. kan nasgor buatan ku enak."
sahut Vino percaya diri.
__ADS_1
"tidak.. enakan nasi bola nya bunda.
nasi goreng ayah asin." ucap El.
"ohh.. gitu ya, dapat yang lebih enak masakan ayah di bilang tidak enak. kalau tidak enak kenapa El makan coba? hmm? hmm?"
Vino menggelitik El sambil menciumi kepala nya.
"karena ada cinta nya ayah..
kan ayah yang bilang nasi goreng untuk
El selalu di buat penuh cinta. jadi rasa nya enak."
"berarti bunda makan nasi goreng cinta buatan ayah dong.." imbuh El lagi.
Vino semakin sumringah mendengar ucapan itu, kecerdasan El memang selalu membuat nya bangga dari segala aspek.
...~~~~...
Lanjut ke Nurul dan Bian yang masih di bawah pohon.
"duh.. telinga Nur dari tadi pagi gatel mulu ya..
pasti ada yang ngomongin nih.."
"hahah.. mitos itu dek, dari mana hubungan nya coba omongan orang bisa buat telinga gatal."
"jangan salah bang, justru yang nggak berhubungan itu yang bahaya."
"contoh nya??"
"mmm.. santet mungkin.. HAHAHAHA.."
"habis juga nasi goreng asin nya.." ucap Bian saat memberikan suapan terakhir pada Nurul.
"iya bang.. ada udang nya sih, coba kalau nggak.
males banget Nur makannya."
"ini yang di namakan, jika sesuatu yang buruk di dampingi kesempurnaan. maka keburukan nya bisa di atasi."
"ck..ck..ck..memang ya pak dosen, bermodal nasi goreng sama udang aja udah bisa bikin kata mutiara."
"berlian? waahh ternyata berlian beneran ada. Nur kira cuma mitos hahahha..." ujar Nurul bercanda.
Namun sikap Bian yang sangat kebapak'an
sering kali menanggapi candaan Nurul
dengan serius.
"ya ada lah dek.. itu yang kamu pakai berlian."
Bian menunjuk kalung di leher Nurul, kalung
yang di berikan seseorang saat hari ulang tahunnya yang ke tujuh belas.
"iya tau.. ih abang nggak bisa bercanda deh."
"abang memang suka yang seriusan, jadi kamu jangan main main ya.." jari telunjuk Bian mencolek hidung Nurul. tatapan nya yang mempesona membuat wajah Nurul merah merona.
"tuh..tuh.. salting lagi, ciee...
baru di colek juga.."
"ih.. bang.."
Nurul hanya tersenyum malu malu saat Bian semakin menggoda nya dengan tatapan itu.
di tambah senyum manis Bian yang bikin melting
membuat Nurul tak bisa berhenti tersipu malu.
...~~~~...
Sore hari nya, setelah pulang dari taman Vino, Keenan dan El sedang mengganti pakaian
di kamar rumah Rianti.
mereka berempat menghabiskan waktu satu jam
di dalam kolam renang tadi.
__ADS_1
sedangkan Ica, ia sekarang mandi dengan oma nya.
"pada bisa kan pakai baju nya??
ayah mau mandi dulu oke.."
"oke.. ayah../ oke om.." sahut mereka serempak.
...-...
...-...
Nurul baru selesai mandi, masih dengan handuk di kepala nya. ia mengambil camilan di kulkas lalu duduk santai di meja makan. biasa nya ia tidak mandi se sore ini, tapi karena pulang kuliah terasa gerah maka nya ia langsung mandi.
"dek.. mama mana?" ia bertanya kepada Ayu.
"lagi di kamar makein Ica baju kak." sahut Ayu
yang sedang mengerjakan PR di ruang tengah.
"loh, emang kembar di sini dek?"
"iya kak, ada El juga. mereka kan habis piknik
tadi sama mama."
"terus Keenan sama El mana?"
"lagi mandi tuh di kamar atas,
habis berenang tadi mereka."
"duh.. emang nya Keenan sama El bisa mandi sendiri?" Nurul langsung bangkit dan menyusul mereka di lantai atas. membayangkan dua bocil mandi sendiri sungguh mengerikan, bagaimana jika mereka kepleset, atau mainan di bathtub lalu
tenggelam. Nurul semakin ngeri membayangkan nya.
Nurul membuka pintu kamar Keenan dan mendapati mereka berdua sedang menyisir rambut berdiri lurus ala ala anak punk.
"bina..." ucap Keenan Girang.
ia dan El sama sama berbalik badan
menghadap Nurul.
"ffttt.." Nurul tertawa geli saat melihat kancing
baju Keenan tidak sinkron. berbeda dengan El yang sangat piawai dan terbiasa memakai baju sendiri.
"ya ampun.. kancing baju kamu,
sini bina benerin.."
"kancing kemeja El sudah benar kan bunda?"
tanya El, ia sudah tau itu benar. ia bertanya
hanya untuk mendapatkan perhatian Nurul juga.
Sambil membenarkan baju Keenan, Nurul menatap El sambil tersenyum.
"iya udah rapi kok sayang..
oh iya, El bisa nggak panggil tante bina aja biar sama kaya Keenan."
"bisa.. tapi El tidak mau."
El tersenyum usil persis seperti ayah nya.
"sssh.. kamu persis sekali dengan nya."
gumam Nurul tersenyum tipis.
ceklek..
pintu kamar mandi terbuka, Nurul langsung menoleh dan betapa terkejut nya ia kala melihat
Vino bertelanjang dada dengan handuk mini yang hanya menutupi pusat perkembang biakan nya.
...******...
Jangan lupa like dan komen nya ya..
biar otor remahan ini tetep semangat dan dan biar cerita nya di unggah gitu di beranda.
__ADS_1
biar mark views nya oyyy๐ญ๐