
Tim medis tiba di rumah sakit membawa Vino yang sudah tak sadarkan diri.
kepala nya mengalami luka di beberapa tempat di sebabkan pecahan kaca yang menghantam hampir sebagian wajah nya.
leher nya juga di pasang alat penyanggah karena di duga mengalami cedera yang cukup serius.
"periksa identitas nya lalu segera beritahu wali nya"
ucap Dokter yang ada di ruang UGD itu.
"mari kita lakukan pemeriksaan X-ray terlebih dahulu" imbuh nya lagi.
Setelah mendapatkan hasilnya, dokter bersiap untuk segera melakukan oprasi kecil karena terdapat gumpalan darah yang membeku di bagian dada nya akibat benturan keras.
...~~~~...
Menjelang sore...
Nurul yang baru saja pulang sekolah terheran karena mendapati keadaan rumah nya sepi.
"maa..." panggil nya mengelilingi dapur dan ruang tamu.
Lalu ia kebelakang dan hanya menemukan bibik yang sedang membersihkan kolam renang.
"bik.. orang orang pada kemana? kok sepi banget?"
"pada ke rumah sakit non.." sahut si bibik.
"siapa yang sakit? kak Fani??" Nurul tampak terkejut.
"itu tuan Vino kecelakaan tadi pagi non.."
deg....
Darah di tubuh Nurul seakan berhenti mengalir seketika. "pak Vino...?" ucap nya lirih dengan mata berkaca kaca.
Tanpa mengganti seragam nya, ia langsung berlari ke depan dan meminta supir mengantar nya ke rumah sakit.
...~~~~...
Sesampai nya di rumah sakit Nurul tercengang kala melihat kondisi Vino saat itu, ia tak memikirkan kalau akan separah ini. masih dengan rasa tak percaya ia mendekati Vino yang sedang terbaring tak sadarkan diri dengan perban melilit di kepala serta dada nya.
"pak Vino.." lirih nya. mata nya mulai berkaca kaca saat memikirkan bagaimana jika Vino tak bangun lagi?
"dek.. kakak sama Mas mu pulang duluan ya.." ujar Fani berpamitan, sebab mereka sudah dari tadi pagi di sana. lagi pula kondisi Fani yang sudah menginjak trimester ketiga membuat nya gampang lelah.
"iya kak.." sahut Nurul mengangguk.
"mama juga mau pulang nak, kamu nggak ikut pulang saja?" ajak Rianti, melihat Nurul masih memakai seragam sekolah nya sudah pasti dia belum makan dan istirahat.
"iya sayang.. kamu pulang gih..
biar tante aja yang di sini" imbuh Duma mengelus kepala Nurul.
"nggak mau.. Nur kan baru sampai ma, tante, setidak nya Nur mau memastikan pak Vino siuman" pinta nya kepada Duma dan Rianti.
Mereka pun mengiyakan permintaan Nurul, Rianti dan yang lain nya berpamitan pulang dan meninggalkan Nurul di sana bersama Duma.
"kata dokter gimana tante? pak Vino bisa sembuh kan?"
"mm.. kondisi nya lumayan parah karena patah tulang leher, tadi juga sempat di oprasi karena ada gumpalan di bagian dada.
tapi mudah mudahan Vino bisa cepat pulih.." ujar Duma berusaha tetap tenang.
"oh iya.. kamu di sini dulu ya, tante mau urus administrasi sebentar ke bawah.."
tambah nya lagi. Nurul mengangguk pelan sambil menahan air mata nya.
Setelah Duma keluar, baru lah ia menumpahkan tangis nya.
"hiks..hiks..hiks... pak Vino...
__ADS_1
andai bapak nggak maksa nganter Nur sekolah, pasti bapak nggak akan begini.."
ia menangis sambil membenamkan wajah nya di ranjang.
"hhh.." Vino tersenyum tipis tanpa sepengetahuan Nurul. ternyata ia sudah sadar dari tadi, namun saat hendak membuka mata nya ia mendengar Nurul baru datang dan ia pun tak jadi membuka mata untuk melihat reaksi Nurul.
hhhzzzz.....
Nurul menarik dalam dalam ingus nya.
"hiks.. tapi enak sih, nggak ada yang usilin aku.." ucap nya masih dengan nafas terisak.
Vino langsung meradang mendengar itu.
ia spontan membuka mata nya lalu berbicara
"apa kata mu?"
"ehh.. kok bapak udah bangun?!" Nurul pun sontak terkejut dan berdiri karena Vino tiba tiba membuka mata nya.
"kamu mau nya saya nggak bisa bangun selama nya gitu??"
"ribet banget pak.. tinggal bilang mati aja kok susah" sahut Nurul sambil mengusap air mata.
"jadi kamu benar benar ingin saya mati gitu?"
"ya nggak pak.. maksut Nur bapak ngomong nya ribet"
"sssh!!! begini cara kamu merawat orang yang kecelakaan sehabis mengantar mu sekolah?"
"merawat? siapa yang merawat? aku kesini kan cuma menjenguk, dan.. aku nggak minta di antar sekolah.. sendiri nya aja yang maksa maksa" batin Nurul dengan mata melotot.
"ambilkan saya air.." pinta Vino.
"hmmm.." Nurul mendengus kesal.
"suapin.." ucap Vino lagi.
"sakit ya pak?" ia meraba lengan Vino yang di jahit di beberapa tempat.
"tadi iya, sakit banget.. tapi kalau ada kamu sakit nya hilang"
"dih.. ngarang.." tukas Nurul sembari memutar bola mata nya.
...~~~~...
tok..tok..tok..
Bian tampak mengetuk pintu rumah Zey.
tak lama kemudian, pintu terbuka.
"hhha? Bi..? aduh lupa..
ada apa?"
"ini tas mu.. kembalikan tas ku.."
ucap Bian datar namun gurih di dengar.
Zey mengambil tas nya lalu segera masuk ke dalam.
"jadi dia yang menabrakku di bandara. kembalikan kata nya? memang nya aku mencuri?" gumam nya sambil memeriksa semua isi tas nya, setelah di rasa lengkap tak ada yang hilang. ia mengambil tas Bian lalu menyerahkan nya.
"nah.. terima..." belum sempat menyelesaikan perkataan nya, Bian langsung ngeloyor pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun.
"wahh!! bukan kah setidak nya dia mengucapkan terimakasih juga? atau paling tidak mendengarkan ku dan mengatakan sama sama...!?" rutuk Zey kesal.
"ck.. aku terlambat.." gumam Bian sambil berlari dan memandangi arloji nya.
...~~~~...
__ADS_1
Jam menunjukkan pukul 18:30. Duma kembali sebentar ke klinik nya karena ada pasien darurat, sementara Nurul masih belum mandi bahkan belum mengganti baju nya. di tengah hening nya suasana karena Vino tertidur, sekumpulan buaya betina berbondong bondong datang menjenguk Vino.
"Vino... omaigat.. ada apa??"
"aduh.. pasti sakit banget yaa..?"
"ya ampun Vin.. kok bisa??"
ucap mereka semua bergantian, ada yang membawakan buah,roti hingga makanan ringan lain nya.
Mereka semua adalah teman teman dari kantor atau lebih tepat nya Fangirl sih, soal nya beberapa dari mereka pernah ada yang jalan hingga hampir jadian.
"aduh.. maaf ya kakak kakak, tante tante..
jangan ngerubung gitu kasian pak Vino nya pengap nih.." Nurul memaksa mereka semua untuk mundur.
Para fangirl itu langsung menatap heran ke arah Nurul. "ini siapa Vin? adik mu? atau anak mu?"
"hhh.. silahkan jelaskan siapa diri mu"
Vino sengaja memancing Nurul dengan senyum smirk nya.
"saya.. saudara nya.." sahut Nurul sedikit gugup.
"chh.. apa yang ku harapkan? tidak mungkin juga dia akan mengatakan kalau hubungan kami spesial" batin Vino.
"mendingan tante tante ini pulang ya.. soal nya pak Vino masih butuh istirahat yang banyak.." Nurul melemparkan senyuman palsu pada mereka.
"iya.. kalian pulang lah, aku sedang tak ingin di ganggu" imbuh Vino.
"hhhfff.. ya sudah, semoga cepat pulih ya Vin, kami merindukan mu.."
"jangan lama lama sakit nya.."
mereka semua berpamitan dengan wajah kecewa, tadi nya mereka berpikir untuk mencuri curi kesempatan dan menunjukkan perhatian untuk menggaet Vino.
tapi ternyata tak bisa karena ada pawang nya.
Setelah mereka semua pergi, Vino meminta Nurul untuk menegakkan posisi ranjang nya agar bisa setengah duduk.
"tolong naikkan tuas nya Ran.."
Nurul menuruti walau sedikit ngedumel.
"ini bantal saya tolong benerin, nggak enak banget.."
hhhhhffff.....
Nurul menghela nafas panjang lalu mendekati Vino.
"begini?"
"ke kanan sedikit.." ucap Vino sambil menikmati posisi tubuh Nurul yang sangat dekat dengan wajah nya.
"sudah.." ucap Nurul lalu segera beranjak.
namun Vino dengan jahil nya malah menarik tangan Nurul hingga terjatuh ke pelukannya.
glek .....
mereka berdua sama sama menelan ludah dengan gemuruh jantung yang bersahutan.
...*******...
Maaf ya baru bisa Up otor nya..ππ
soal nya jaringan ilang seharian bebπ maklum tinggal di pelosok..
jangan marah yaaπππ
dan jangan lupa like dan dukungan lainnya ππ
__ADS_1