
Vino tersenyum geli melihat tingkah Nurul
yang masih gampang panik.
"hhh.. saya cuma mau bilang terimakasih
karena sudah menjaga El hari ini."
"oh.. iya sama sama pak.."
sahut nya terbata.
Vino mendekatkan diri nya lalu berbisik.
"kamu memang harum.."
Lagi lagi detak jantung Nurul berderu kencang saat nafas Vino terasa membelai lembut rambut nya. ia menatap teduh lelaki yang selalu mendebarkan jantung nya itu hanya dengan satu alunan suara.
...~~~~...
Setelah para bocil pulang ke rumah nya masing masing. Nurul duduk terdiam di depan cermin sambil melihat lihat foto nya bersama Bian.
ingatan nya pun melayang ke waktu dua tahun silam. waktu di mana diri nya dan Bian mengikat komitmen untuk menjadi sepasang kekasih.
Flashback .....
Setelah menyerahkan formulir pendaftaran di kampus nya. Bian dan Nurul mampir ke pemakaman untuk menyambangi mendiang Nita.
"ibuk.. ini Nur datang..
buk.. hari ini Nur daftar ke Universitas yang dulu ibu sarankan. doakan agar Nur masuk ya.."
ia menitikkan air mata sambil menaburkan bunga di atas Nisan sang ibu.
Bian tersentuh melihat ikatan batin yang hanya bisa terlihat oleh seseorang yang juga kehilangan.
ia mengusap lembut kepala Nurul sambil berdoa
di dalam hati nya.
"ya tuhan.. hapus lah kesedihan dari gadis ini.
usir rasa sepi yang menghantui nya.."
"ayo kita pulang pak.." ucap Nurul.
"iya..." Bian tersenyum lalu mengusap air mata di pipi Nurul.
Mereka pun berjalan menuju parkiran di seberang pemakaman. suasana habis hujan saat itu, tampak genangan air memenuhi lekukan yang berada di atas aspal. tetesan air dari dedaunan pun masih terjatuh saling bersahutan di iringi kicauan burung yang menambah kesan hangat hari itu.
Saat hendak menyebrangi jalan, sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi hingga membuat genangan air itu terciprat sangat keras.
Beruntung Bian sigap menarik Nurul ke pelukan nya lalu berbalik badan sehingga punggung nya habis basah kuyup kena cipratan air yang lumayan kotor itu
"ya ampun.. bapak basah..
hiss!! tu orang nggak hati hati banget sih!
udah tau ada orang disini malah ngebut."
rutuk nya masih dalam pelukan Bian.
Tetesan air dari kepala Bian yang juga terkena cipratan menyadarkan nya dari lamunan.
__ADS_1
"hh.. " bukan nya melepaskan pelukannya, ia malah mengecup lembut pucuk hidung nya Nurul dengan penuh rasa cinta.
Nurul menaikkan pandangan nya perlahan dan menatap wajah teduh Bian.
wajah yang selalu ada di saat diri nya senang ataupun susah. wajah manis yang selalu berdiri di barisan depan saat diri nya mengalami kesulitan.
wajah yang selalu membuat nya tertawa dengan prilaku sederhana nya.
"dek.. kamu sudah mempertimbangkan permintaan saya?" bisik nya.
Nurul tersenyum, rasa hangat dan nyaman saat bersama Bian tampak nya menumbuhkan benih cinta. ia sadar, betapa buruknya terlambat menyadari cinta yang tumbuh untuk seseorang.
"jangan tinggalin Nur ya pak..."
ia memeluk erat tubuh Bian.
Bian tersenyum lebar sambil mengecup kepala Nurul berkali kali.
"saya janji akan selalu bersama mu.."
Sejak hari itu, mereka berdua meresmikan komitmen nya dari yang hanya sebatas teman dan mentor menjadi sepasang kekasih.
awal nya Bian sempat di guncang karena membatalkan janji nya dengan Viona.
namun kedewasaan menjelaskan kepada mereka semua bahwa yang nama nya cinta tak bisa di paksa.
Flashback selesai...
Masih di depan meja rias nya, Nurul tersenyum melihat foto mereka saat di rumah sakit saat hari kelahiran si kembar. tampak di foto itu semua keluarga menghadap ke kamera, namun Bian dan Nurul malah saling pandang penuh makna.
"tatapan mu selalu bikin melting bang.."
gumam nya tersenyum kecil.
Film itu sudah lama mereka idam idamkan.
dan kali ini Nurul beruntung karena berhasil mendapatkan tiket Film itu melalui kenalan nya.
Jam menunjukkan pukul 20:30. Bian sudah berjanji akan datang pukul tujuh malam ini.
namun hingga kini ia belum juga sampai.
satu setengah jam sudah Nurul menunggu, tatanan rambut nya sampai sudah berubah.
riasan tipis di wajah nya pun sudah samar menghilang karena tersapu oleh keringat.
merasa bosan, ia pun keluar kamar sambil membawa tas nya. siapa tau sebentar lagi Bian sampai.
"widihhh...rapi banget, mau kemana dek?"
tanya Dika yang baru pulang tugas.
"mau nonton sama bang Bian kak.."
sahut nya sedikit bete.
"hah? tapi Pak Bian lagi ada oprasi di rumah sakit tadi. oprasi darurat kaya nya.."
"hhh.. pantesan di telpon nggak di angkat angkat."
Nurul pun tetap keluar seorang diri,ia berpikir tiket nya sayang jika tak di pakai. lagi pula ia terlanjur badmood karena Bian tak memberi nya kabar lebih dulu.
"bang Bian bener bener.! nunggu selama 90 menit itu lama banget loh.. mana udah berharap lagi bakal ngelepas rindu di pundak nya sambil makan popcorn. ihhhh...!"
__ADS_1
rutuk nya kesal, ia pun mengambil mobil nya lalu melesat dengan wajah di tekuk dan bibir manyun.
...~~~~...
Karena sangat kesal, ia hanya masuk sebentar di bioskop lalu keluar lagi bahkan saat Film nya belum di mulai. hanya formalitas saja biar tiket nya nggak ke buang. padahal yang dia lakukan juga sama aja buang buang tiket.
Obat untuk menaikkan mood wanita adalah belanja, karena situasi dan uang mendukung.
ia pun berkeliling ke area toko pakaian dan tas yang ada di Mall tersebut.
"ayo Nurul.. tidak ada guna nya kau tabung
uang mu." ia mengeluarkan kartu atm yang khusus di berikan Rianti untuk uang jajannya.
Selama kuliah, ia mendapatkan uang jajan 15 juta dalam seminggu hanya untuk jajan.
uang kuliah dan kebutuhan lainnya tetap Rianti yang mengurus. bagi orang yang terbiasa sederhana seperti Nurul tentu lah uang segitu sangat banyak. ia hanya menghabiskan 700 ribu dalam seminggu itu pun sudah termasuk beli bedak dan keperluan lain nya seperti sabun dan lain lain. jadi bayangkan saja berapa uang yang ada di saldo nya selama 2 tahun ini kuliah.
Setelah hampir dua jam keliling mall, Nurul sudah menenteng 12 kantong belanja.
"aahhh.. belanja memang pereda mood paling efisien.." senyum lebar ia mekarkan bak bunga matahari.
Setelah merasa puas, Nurul kembali pulang
dengan wajah ceria nya. namun saat di tengah jalan mobil nya terasa oleng dan tak seimbang.
ia pun berhenti dan memeriksa nya.
"ya ampun.. kenapa harus sekarang?!!"
gerutu nya kesal saat melihat ban depan nya sudah kempes kandas tiada bernyawa.
Sedikit panik tentu nya, karena lokasi nya sekarang di pinggir jalan yang jauh dari pemukiman. tak ada satupun kendaraan yang lewat mengingat sudah hampir jam 12 malam.
ia menelpon Dika dan orang rumah lain nya, namun tak di angkat. seperti nya mereka semua sudah pada tidur.
"waduh.. aku nggak punya nomor pak satpam lagi.. ck.. satu nomor pengawal pun aku nggak punya astaga..! ngapain aja aku di rumah sampai nggak nyimpen nomor nomor penting."
Mau menelpon Dimas takut menganggu, menghubungi Bian nggak di angkat angkat.
akhirnya ia pasrah dan merebahkan kepala nya di setir mobil sambil mendengus kesal.
"bang.. kalau abang sudah selesai tugas, tolongin Nur.. ban mobil Nur bocor di jalan xxxx
Nur nggak bisa menghubungi orang rumah.
harapan Nur cuma abang..
Nur tunggu ya bang.. love u.."
ia langsung mengirim pesan suara itu melalui WhatsApp nya.
Detik demi menit, Bian tak kunjung membalas pesan nya. putus asa dan sedikit takut membuat Nurul ingin menghilang dari bumi malam itu juga.
namun entah kenapa tiba tiba nongol bayangan Vino di kepala nya.
"nomor pak Vino masih yang dulu bukan ya..."
ia mencoba menelpon Vino di nomor lama nya.
mustahil sih jika Vino masih memakai nomor itu, tapi siapa yang tau. usaha aja dulu, pikir Nurul.
dari pada tidur di tengah jalan kaya orang ilang begitu.
__ADS_1
...*********...