Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
episode 27 : Kelakuan Dimas


__ADS_3

Setelah mencoba Gaun dan Jas pengantin.


Dimas dan Fani mampir ke sebuah mall untuk membelikan beberapa baju untuk adik adik mereka.


Mama Dimas yang meminta mereka, ia ingin Fani dan adik adik nya mempunyai baju yang bagus dan layak untuk di gunakan sehari hari.


"sudah??" tanya Dimas kepada Fani yang sudah memilih beberapa lembar baju untuk adik nya.


" udah.." jawab Fani mengangguk pelan.


"cuma segitu? tambah lagi dong, nih... banyak yang bagus bagus buat Nurul dan Ayu." Dimas menunjuk beberapa baju yang terpajang.


"segini aja dulu om.. udah banyak ini, toh baju lama mereka juga masih ada."


tolak Fani segan, karena ia merasa terlalu boros membeli banyak baju sekaligus.


"ya sudah kalau gitu,. punya kamu mana?"


Dimas heran karena seperti nya Fani tidak membeli baju untuk diri nya sendiri.


"Baju Fani masih banyak om.. masih bagus bagus juga."


"ayolahh Fani.. beli satuuu aja." bujuk Dimas. karena ini merupakan pertama kali nya ia membelikan baju untuk sang calon istri.


"ahh nggak usah om.. beneran.!"


Fani masih tetap menolak.


" kalau gitu izinkan om memilihkan satuu saja baju buat kamu.. yaaa??" ujar Dimas memohon, ia berusaha merayu Fani dengan senyum manis nya.


"plisssss..." ujar Dimas lagi.


"ya udah iya.. tapi satu aja ya om, jangan banyak banyak." sahut Fani masih dengan wajah sungkan.


Dimas pun menyusuri pajangan baju wanita di mall tersebut.


"yang ini mau??"


tanya Dimas sambil mengangkat sehelai baju dengan motif bunga bunga besar.


Fani menggelengkan kepala nya.


"kalau ini gimana??"


kali ini dres dengan 1 tali di bahu nya.


"hehe..nggak om."


tolak Fani lagi.


"padahal ini akan sangat cantik di tubuh nya"


batin Dimas sambil menyeringai.


"bagaimana kalau ini??"

__ADS_1


Dimas menunjukkan gaun yang terlihat sangat ketat apabila di pakai Fani.


"kekecilan itu om..."


ujar Fani sambil meringis.


"nggak kok, coba lah dulu. pasti cukup untuk kamu." ujar Dimas sambil menyodorkan gaun itu kepada Fani.


"haduhh.. kenapa pilihan om Dimas begitu semua sih.." ujar Fani dalam hati sambil menahan rasa gugup nya.


" beli yang agak longgar aja om, biar kalau Fani hamil masih bisa di pakai." ujar Fani dengan wajah polos nya,ia tak menyadari bahwa kata kata nya membuat jantung Dimas terbang ke udara.


" kamu bahkan sudah kepikiran untuk punya anak dengan om. sshhh...om suka pemikiran kamu ." Dimas menggoda Fani dengan tatapan nakal nya.


" hiiishhh.. mulut ku ini.." gerutu Fani dalam hati.


ia menggigit bibir bawah nya dengan wajah risau.


bagaimana bisa dia mengucapkan kata kata itu.


"apaan sih om.. Fani nggak bilang begitu."


Fani sengaja berpura-pura agar Dimas berhenti menatap nya dengan tatapan nakal itu.


"Kalau begitu yang ini saja ya.." ujar Dimas sambil menaik turunkan alis nya.


ia menyodorkan setelan baju tidur sexsi dengan bahan yang tipis terawang.


" nggak .. kenapa harus itu sih om, masih banyak tuh yang lebih layak di pakai." wajah Fani seketika menjadi merah seperti kepiting rebus, ia tidak menyangka om Dimas nya akan memikirkan hal yang jauh di luar nalar nya Fani.


Fani pun langsung berbalik badan sambil bergidik merinding.


" hiiii..om Dimas aneh." gumam Fani sambil mengerutkan bibir nya.


Saat mengikat janji pernikahan di depan ibu nya, Fani sama sekali tidak memikirkan hal hal yang mengarah ke sana..


Dimas pun demikian,ia hanya akan sabar menunggu Fani siap menjadi istri nya seutuh nya.


namun karena kepancing dengan kata kata Fani ia malah membuat Fani menjadi malu dan gugup.


Dimas bergumam sendiri sambil memandangi Fani yang sedang berjalan membelakangi nya.


" hhh... anak kecil itu benar benar membuat ku ingin... aakhhh sudah lah."


Dimas menyusul langkah Fani dari belakang.


" hhhhzz.. bahkan pinggul kecil itu sangat indah."


batin Dimas sambil menelan ludah, ntah apa yang membuat nya tiba tiba salah fokus dengan tubuh Fani.


" ada lagi yang mau di beli om??"


tanya Fani sambil berbalik melihat Dimas.


"hah..??!"

__ADS_1


Dimas terkejut dan langsung membuyarkan pandangan nya.


"sudah.. ayo kita ke kasir.."


ujar Dimas sambil mengusap usap hidung nya yang tidak gatal.


Dimas pun berjalan cepat mendahului Fani agar mata nya tidak melihat pemandangan itu lagi.


sementara Fani hanya memandang terheran karena sifat Dimas yang mendadak aneh.


...~~~~...


Di rumah Dimas..


pranggggg!!!!!!!!!


Ayu tidak sengaja memecahkan piring yang hendak ia cuci, ia langsung berjongkok dengan tubub gemetar ketakutan.


Rianti yang sedang di kamar pun langsung berlari kedapur dan memeriksa ada apakah gerangan.


" ya ampun nak??? kenapa???"


Rianti terkejut saat melihat pecahan piring di lantai.


"maafin Ayu... Ayu nggak sengaja."


ujar nya lirih sembari menatap Rianti dengan mata berkaca kaca. wajah nya juga menunjukkan rasa takut karena ia sudah menyebabkan kekacauan.


" kamu nggak apa apa kan?? kamu mau ngapain nak?" tanya Rianti,ia tampak sangat menghawatirkan Ayu


"Ayu mau cuci piring nya.. kata ibuk kalau makan di tempat orang harus rapi dan bersih."


tutur Ayu dengan air mata yang menetes.


seperti nya saat ini perasaan nya sedang terguncang karena sangat merindukan ibu nya terinta.


"iya nak.. ibuk kamu bener. tapi ini kan bukan tempat orang, ini rumah Ayu sekarang."


Rianti mengelus lembut kepala bocah berusia 10 tahun itu.


"kamu kangen sama ibuk ya??"


Rianti memegang tangan Ayu dan menatap wajah nya yang sedang menahan tangis.


"sini peluk mama.. Ayu nangis aja sepuas nya nggak apa apa.." Rianti meraih tubuh gadis kecil itu dan membawa ke pelukan nya.


tangis Ayu pun pecah.. ia membenam kan wajah nya di pelukan Rianti sambil menangis sesenggukan.


Rianti mengusap usap lembut punggung Ayu.


ia sengaja membiarkan Ayu menumpahkan kesedihan nya agar hati Ayu lega.


ia pun tampak hampir meneteskan air mata karena merasa sangat iba kepada Ayu, yang mana di usia nya sekarang dia sangat membutuhkan kehadiran orang tua. namun apa mau di kata takdir seakan memahat hati kecil Ayu agar menjadi gadis yang tangguh dan kuat.


......**********......

__ADS_1


__ADS_2