Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
episode 93: Pisau dapur


__ADS_3

"Pak Sean kemari.. ada yang mengunjungi mu"


ucap kepala sipir membuka pintu sel tahanan.


Sean tersenyum tipis, sepertinya ia memang sudah mengetahui dia akan datang.


"apa kabarmu my bos"


sapa si pengunjung wanita.


"kurang baik,di sini panas"


Sean menyambut baik tamu spesial itu.


"aku membawakan kartu AS terakhir kita, aku susah payah mencari ini jadi kita harus menggunakan nya dengan baik"


"tunjukkan pada ku.."


Si wanita menunjukkan rekaman Video seorang lelaki yang tengah bermesraan di klub malam bersama wanita.


"bagaimana? bagus kan?"


"wahh.. kau sangat hebat! lakukan lah sebaik mungkin. jangan mengandalkan ku karena kita tak mungkin bisa sering bertemu untuk menyusun rencana.


aku sudah mengorbankan diri ku disini,setidak nya aku harus melihat kehancuran nya"


Sean tersenyum picik kepada wanita itu.


"seandai nya kemarin kau mendengarkan ku untuk tidak ceroboh.. pasti kita bisa melakukan ini bersama"


"chh.. sekarang kau pandai menasehatiku?"


"hahahaha... kau menikmati di sini?"


wanita itu memandang jijik ke sekeliling ruangan.


"ck..orang gila mana yang betah di penjara?


kau banyak tertawa,seperti nya kau menikmati kehidupan baru mu"


Sean menatap jengah pada wanita itu karena terus meledek nya.


Wanita itu tersenyum sambil menggigit bibir bawah nya.


"aku mendapat hadiah besar kemarin"


"ch,,pantas saja wajah mu sangat bersinar"


"sudah lah.. aku pergi tempat ini tidak cocok untuk ku" wanita itu mengibaskan rambut nya sambil tersenyum puas pada Sean.


"ingat lakukan dengan baik.. jika kau butuh uang ambil saja di brankas kantor ku kau masih ingat kode nya kan?"


"ya..ya.. terimakasih atas kemurahan hati mu"


wanita itu segera beranjak dari sana.


Sean pun tersenyum lega karena masih mempunyai kesempatan bahkan tanpa bergerak.


...~~~~...


Pagi hari...

__ADS_1


Dimas terbangun dari tidur nya,ia tak mendapati Fani di sana.


"kemana dia pagi pagi begini?"


gumam nya dengan mata masih separuh lengket.


ia pun berdiri dan membuka tirai di sisi kamar,mata nya langsung melotot saat melihat Fani di halaman depan tengah berbicara pada wanita bernama keisya itu.


"eh.. ngapain Fani bertemu perempuan itu,nanti salah tanggap malah stress lagi bumil ku" Dimas langsung berlari keluar kamar tanpa mencuci muka nya.


...-...


...-...


Keisya memegang tangan Fani dengan wajah memelas.


"saya rela jadi istri kedua Pak Dimas,kamu mau jadikan saya babu juga nggak apa apa saya ikhlas asalkan saya bisa menjadi istri Pak Dimas"


"ahahahah......


mbak ini masih muda loh,cantik lagi.


masih banyak laki laki di luar sana yang lebih pantas menjadi suami mbak. kenapa malah memilih suami saya mbak?"


"saya bener bener cinta banget sama Suami kamu,saya sudah pendam perasaan ini bertahun tahun tapi tetap nggak bisa untuk melupakan Pak Dimas"


"terus kenapa baru sekarang? suami saya dulu lama loh jadi duda kenapa pas kami sudah menikah baru mbak bersikeras minta di nikahi suami saya?"


"karena saya di tolak terus sama Pak Dimas"


"di tolak?" Fani terkejut,itu berarti wanita ini bukan sekedar pengagum rahasia nya Dimas melainkan sudah pernah dekat.


"udah tau di tolak terus kenapa sekarang masih bersikeras mbak nya?" tanya Fani lagi.


wanita itu semakin ngelunjak,dia bahkan tak memikirkan perasaan Fani.


"mana mungkin aku biarkan Mas nikah lagi"


batin Fani mulai kesal.


tapi bukan Fani nama nya kalau tidak bisa mengatasi masalah seperti ini.


"menurut mbak saya ikhlas gitu kalau suami saya nikah lagi? coba mbak pikir deh kalau mbak di posisi saya gimana? mbak lagi hamil terus tiba tiba ada perempuan gila yang minta di nikahi suami mbak?" ketus Fani sambil tersenyum pahit,sorot mata nya menusuk tajam kepada keisya.


Keisya bingung harus menjawab apa.


"ya pasti saya nggak mau,tapi dari pada suami kamu menghabiskan hidup dengan orang yang tidak mencintai nya.


mendingan sama saya yang sudah cinta setengah mati sama Pak Dimas"


seperti nya kegilaan Keisya ini terwujud karena berita kemarin yang mengatakan kalau Fani terpaksa menikahi Dimas.


"saya sedang hamil,dan saya menolak keras tujuan mbak. apa menurut mbak itu bukan cinta? apa bisa kami menumbuhkan benih di perut saya ini tanpa cinta?" tegas Fani menekan kata kata nya.


"sayaang..." seru Dimas yang baru keluar dari rumah.


"iya sayang..." sahut Fani melantangkan suara nya agar Keisya melihat kalau mereka benar benar saling cinta.


"mbak pergi ya.. atau saya laporkan ke polisi karena sudah mengusik keluarga saya"


ucap Fani lalu berbalik badan meninggalkan Keisya.pengawal pun segera memaksa Keisya pergi dari sana.

__ADS_1


"aku tau kalian hanya berpura pura..


mana mungkin gadis muda seperti dia mencintai Pak Dimas,dan tidak mungkin Pak Dimas mencintai gadis miskin seperti dia" gumam Keisya sambil berusaha melepaskan diri dari cengkraman para pengawal.


"kamu ngapain temui dia sayang?? Mas kan udah bilang abaikan saja" ucap Dimas membopong tubuh Fani,ia masih khawatir Fani kelelahan lagi.


"berapakali Mas tolak dia?"


"sarapan apa kita enak nya sayang?"


Dimas sengaja mengalihkan topik yang bisa memancing perang itu.


"mancing enak kaya nya Mas.."


"kok mancing? Mas tanya sarapan sayang"


"kok sarapan? Fani tanya soal keisya Mas"


Fani membalikkan kata kata Dimas sambil mencubit kecil daun telinga nya.


Dimas hanya meringis kecil mendapatkan cubitan dari Fani.


"kamu ingin mancing.. mau ke maldiv? Mas punya kapal pesiar di sana. ikan di sana juga bagus bagus banget lo sayang..


apalagi pemandangan nya wihh top pokok nya"


"Mas masih ada niatan cetak dimdim season 2 nggak? pisau yang baru di beli bik ida cocok kaya nya " Fani melebarkan mata nya.


"masih yang.. masih" wajah Dimas langsung pucat fasih di buat Fani.


"berapa kali Mas tolak dia?"


"le..lebih dari 10 kaya nya heheh.."


"berati Mas sama dia pernah deket?"


"nggak sayang.. cuma beberapa kali ketemu itu pun nggak sengaja"


"terus kenapa kemarin Mas bilang nggak kenal?"


"hehehe.." Dimas menyeringaikan gigi nya.


"bik.. pisau nya belum di pake kan?"


seru Fani pada kedua bibik nya yang sedang sibuk di dapur.


"sayang.. ih.. kan udah Mas jawab"


Dimas benar benar merinding membayangkan si ular kadut akan di tebas oleh kanjeng ratu.


"jawaban nya nggak sesuai harapan" Fani turun dari gendongan Dimas lalu berjalan ke kamar dengan wajah di tekuk.


"sudah ku duga hasil nya pasti buruk"


gumam Dimas.


"sayang...."


panggil Dimas seraya menyusul langkah Fani.


alamat susah kalau sudah begini,kalau nggak cepat di tangani bisa libur jatah sebulan nih Dimas.

__ADS_1


...********...


__ADS_2