
Di Kejaksaan...
Hakim mengetuk telah mengetuk palu di meja sidang. Sean resmi di vonis hukuman 16 tahun penjara karena terbukti menjadi pengedar narkotika dalam skala besar dan juga percobaan pembunuhan terhadap Fani hingga membuat dua orang lain nya yakni Mila dan Zey juga menjadi korban.
Suasana pun seketika ricuh di karenakan Sean mengamuk.
"Dimas!!! aku tidak akan melupakan kebusukan mu!!" teriak nya sambil terus meronta.
ia pun di bawa secara paksa untuk menuju ke rumah besi nya oleh dua orang polisi.
Semu orang tampak hadir di sana,kecuali Mila dan Riko yang juga sedang di sidang oleh kedua orang tua mereka di rumah nya.
Di sebelah Dimas,Fani tampak terguncang saat melihat Sean mengamuk seperti monster barusan. ia benar benar tak menyangka Sean segila itu,kalau saja tempo hari dia tidak menendang biji salak nya sudah pasti nyawa nya akan melayang di tangan Sean.
"kamu nggak apa apa sayang??"
tanya Dimas sembari menggenggam tangan Fani yang masih gemetaran.
"i..iya.. Mas.." sahut Fani terbata.
"tenang lah sayang.. dia sudah nggak bisa mengganggu kita lagi sekarang" bisik Dimas menenangkan Fani.
Fani hanya menangguk sambil mengusap tetesan keringat yang mengaliri dahi nya.
siapa sangka,ternyata Sean benar benar seorang yang berbahaya.
Setelah semua nya beres,mereka semua pun keluar dari ruangan sidang.
tampak Fani duduk di kursi roda atas permintaan Dimas,karena ia tak mau sang istri kelelahan. apalagi melihat persidangan yang sudah pasti bikin stress,terus kenapa dia ikut? ya harus. karena dia saksi dan korban utama yang jadi sasaran kegilaan Sean.
Saat hendak menuju parkiran,pandangan dan pendengaran mereka teralihkan oleh seorang yang tampak nya kaya raya namun sombong sedang memarahi pria paruh baya.
"Kau tau tidak berapa biaya untuk memperbaiki mobil ini hah?!! bahkan gaji mu 5 bulan tidak cukup untuk memperbaiki ini!!" pekik pria sombong itu sambil menunjuk bumper mobil mewah nya yang penyok karena tak sengaja di tabrak pria paruh baya itu. (sebut saja nama nya pak Rudi )
Pak Rudi merupakan seorang supir yang bekeja di Pos cargo,usia nya sekitar menjelang 50 tahun.
di lihat dari plat nomor nya,tampak nya ia dari luar kota, ia disini mengantarkan paketan berkas ke kantor Jaksa tersebut.
namun saat hendak keluar parkiran,ia tak sengaja menyerempet mobil si pria sombong itu hingga bumper nya penyot dan tergores.
Si pria sombong terus saja memaki maki pak Rudi dan mengancam nya akan membawa kasus ini ke jalur hukum bila ia tak mau ganti rugi.
__ADS_1
pak Rudi hanya terdiam menunduk menerima makian itu,ia tampak bingung harus bagaimana agar bisa berdamai dengan pria sombong itu.
Melihat itu,hati Dimas merasa iba,lalu mereka pun memutuskan menghampiri pria itu.
"ada apa ini pak?" tanya Dimas sopan.
"orang ini menabrak mobil ku! tapi dia tidak mau mengganti rugi!!" ketus pria sombong itu dengan wajah congkak nya.
"saya tidak punya uang untuk membayar biaya perbaikan nya sekarang pak" sahut Pak rudi dengan suara bergetar menahan tangis nya.
deggg..
"suara itu..."
batin Fani sambil mengamati wajah pak Rudi yang tertutupi topi.
"ini kartu nama saya.. bawa lah mobil bapak ke bengkel dan kirimkan foto kwitansi perbaikan nya beserta nomor rekening bapak ke sini. saya akan membayar sesuai nominal." ucap Dimas tegas sambil menyodorkan selembar kartu nama.
Yaps.. selain posesif,cemburuan,emosi,tak peduli dengan gosip dan perfeksionis. Dimas merupakan orang yang sangat perhitungan alias medit kepada orang yang congkak seperti pria itu.
tapi dia akan sangat royal jika lawan nya orang yang asik baik hati,tidak sombong dan rajin menabung.
"BRAM'S property??" pria itu tercengang kala melihat tulisan yang tertera di kartu nama Dimas.
"ini kartu nama saya pak.." pak Rudi juga menyerahkan kartu nama nya pada Dimas.
Dimas: "buat apa pak??"
"kalau dia sudah mengirim kwitansi perbaikan nya,tolong kirim juga ke saya. walaupun saya tidak bisa membayar langsung ke bapak,tapi pasti saya cicil sampai lunas pak.. dan ini ada sedikit uang saya" ujar Pak Rudi sambil menyerahkan beberapa lembar uang 100 ribuan ke Dimas.
terlihat senyum kelegaan terpampang di bibir nya.
Dua langkah di belakang Dimas Fani hanya terdiam dengan tangan gemetar,ia mengamati suara lelaki itu dengan seksama sambil berusaha memindai wajah lelaki paruh baya itu.
"tidak perlu pak.. pakai saja uang nya untuk keluarga bapak. dan bapak tidak usah membayar saya."
Mendengar itu air mata Pak rudi tak terbendung lagi, mengingat ia memang tengah kesulitan untuk biaya anak anak dan istri nya. rasa nya Dimas seperti malaikat yang sengaja di utus tuhan untuk menolong nya.
"terimakasih banyak pak.. terimaksih..." tangis Pak Rudi sambil memegangi tangan Dimas.
"sama sama pak.. doakan saja saya dan istri saya panjang umur.." ucap Dimas sembari menepuk nepuk punggung tangan pak Rudi.
__ADS_1
Pak Rudi pun melihat ke arah Fani sambil membungkukkan badan dan beterimakasih.
"terimakasih banyak sudah menolong saya,semoga kalian selalu bahagia dan panjang umur." ucap nya lalu berpamitan dengan tangis haru.
"i..itu benar ayah.."
batin Fani sambil menangis sesenggukan, ia sangat yakin suara itu milik ayah nya.
dan ia semakin yakin lagi kala melihat bekas luka di pipi sebelah kiri ayah nya,yaitu bekas luka akibat jatuh dari motor sewaktu menjemput Fani sekolah dulu.
Mata nya terus mengikuti punggung sang ayah yang mulai menjauh meninggalkan nya,ingin sekali ia berteriak saat itu juga mengatakan rindu,aku rindu ayah,aku Fani.. aku anak mu..
tapi bibir nya kelu dan tak bisa bergerak karena memori menyakitkan dari sang ayah juga datang bersamaan di otak nya.
Orang yang dulu paling ia cintai, tempat nya berkeluh kesah,cinta pertama nya tentu saja ia ingat betul wajah sang ayah.
walaupun sudah banyak kerutan di wajah renta nya,walaupun sang ayah sama sekali tak mengenali nya.
tapi rasa rindu yang selama ini ia pendam untuk sang ayah meledak seketika dan membanjiri batin nya.
namun rasa rindu yang amat besar itu terbendung kokoh oleh rasa benci yang tak kalah besar saat ia teringat bagaimana menderita nya mereka karena ulah egois sang ayah.
terlebih saat mengingat pahit nya perjuangan mendiang sang ibu yang membesarkan mereka seorang diri tanpa mengenal lelah bahkan sampai di akhir hayat nya.rasa rindu dan benci yang amat dalam itu kini bertarung hebat di benak Fani.
"sayang..? kamu kenapa sayang?? kamu sakit hah?? yang mana yang sakit?" tanya Dimas panik saat melihat Fani menangis sesenggukan.
Fani tak menjawab,tangis nya malah semakin kuat dan tak terkendali saat mengingat masa masa perih yang di lalui sang ibu demi dia dan adik adik nya.
"hei..? sayang kamu kenapa? lihat Mas sayang.. lihat.." Dimas berusaha menenangkan Fani sambil meniup niup wajah Fani yang basah kuyup di banjiri air mata.walaupun sebenarnya meniup tak bisa meredakan Fani yang terlanjur tantrum.karena semakin di tiup akan semakin terguncang seperti api yang ada di lilin bab! ngepot.
"hwwaaaaa😭😭😭 aaaa......" Baru hendak membuka mulut nya, blek.. Fani kehilangan kesadaran nya hingga membuat Dimas panik bukan main.
"SAYANG?!!! kamu kenapa??"
(pingsan om.. pake di tanya kenapa😌)
dengan jantung nya yang hampir meledak karena panik,Dimas langsung membawa Fani ke dalam mobil lalu tancap gas menuju ke rumah sakit terdekat.
...************...
*segini dulu ya beb.. maaf kemarin tenggelam tanpa kabar karena darah rendah dan vertigo lagi collab gelar konser di kepala otor😌
__ADS_1
Terimakasih dan maaf buat semua ny🙏🙏♥️♥️♥️