
brakkk!!!!
Ponsel Bian terjatuh saat sedang menelpon
Nurul. ya, itu sebab nya sambungan telepon
terputus tiba tiba.
"aaashh..!! "
Bian segera mengambil ponsel nya lalu
mengetuk ngetuk ponsel yang memang sudah
retak itu.
"tidak..tidak.. jangan sekarang.
aku perlu menabung untuk acara tahun depan.
aaishh!!" rutuk Bian jengkel.
Ponsel yang memiliki motif sarang laba laba
di layar nya itu kini tak lagi bernyawa.
"kenapa Bi..?"
tanya Viona.
"ponsel ku meninggal.."
"fffttt....
akhir nya ponsel tua itu pensiun juga."
ledek nya menahan tawa.
Ponsel itu memang sudah dari jaman kuliah
di pakai Bian. ngirit bukan??
"beli lah yang baru..
kalau kamu keberatan beli saja yang
harga dua jutaan. dari pada kamu tidak
bisa berkabar sama pujaan hati mu.
hahahhaa..."
"hah? memang nya ada ponsel harga dua juta?
layar sentuh? ada kamera nya? bisa untuk
video call?" Bian tampak terkejut mendengar harga ponsel semurah itu.
"jaringan 4G, kapasitas 3,32 GB, dan ada
camera depan belakang.
chh.. mendadak jadi spg aku."
tutur Viona sedikit kesal.
"dimana aku bisa membeli nya?
antarkan aku."
"oke.. tapi besok"
Viona menyetujui permintaan Bian.
...~~~~...
Setelah nasi bola siap, Nurul membawa nya
ke kamar El dengan kaki gemetar bak orang
demam.
"khmm.. "
Nurul mengisyaratkan bahwa dia meminta
izin untuk masuk.
"masuk lah bunda.."
panggil Vino sambil melambaikan tangan nya.
"hore... nasi bola.."
sambut El jingkrak jingkrak.
"sudah bisa lompat lompat?
berarti sudah sembuh?
bunda nya sudah boleh pulang dong ya.."
Vino menyerbu El tanpa jeda.
Menyadari siasat nya di ketahui sang ayah
El langsung berbaring lagi di ranjang nya.
"El masih sakit loh ayah..
nih liat, jidat El masih panas."
"Pak..!"
tegur Nurul karena sudah menyudutkan El.
"aaaa..."
Nurul melayangkan satu bola nasi yang
idam idamkan El.
"aamm...
eenak bunda.." wajah El berbinar sambil mengacungkan dua ibu jari nya.
Nurul sangat senang melihat El ceria lagi.
"hehehe.. iya dong.
habisin ya, biar El cepet sembuh."
Sepanjang Nurul menyuapi El, Vino tertegun
memandangi kesempurnaan yang tak
bisa di gapai itu.
sebenarnya sih seperti biasa momen kedekatan
Nurul dan El, namun karena kali ini
Nurul memakai daster nuansa nya jadi agak
berbeda gitu. bawaan nya minta di terkam.
"astaga.. pikiran mu!!"
rutuk Vino memukul jidat nya agar sadar diri.
...~~~~...
Di kantin rumah sakit, Dika yang sedang
makan siang di sibukkan oleh notif instagram
nya yang terus terusan bergerak menandakan
pesan masuk. kegiatan itu sudah menjadi
makanan sehari hari nya.
Jangankan di media sosial, setiap pasien
yang di rawat nya jika itu orang tua pasti
__ADS_1
selalu menanyakan status Dika.
mereka selalu menawarkan anak gadis nya
untuk di jadikan calon pendamping.
dan jika pasien nya single, pasti akan menawarkan diri bahkan bolak balik datang dengan alasan kontrol walaupun Dika sudah menyatakan sembuh total.
Tentu saja Dika menolak apapun itu,
karena usia nya yang masih sangat muda
yaitu 22 tahun, jadi dia belum mau menceburkan
diri ke dunia cinta cintaan.
Saat sedang asik melihat lihat isi pesan.
tiba tiba pandangan Dika tertuju pada satu
pesan yang sangat berbeda dari ribuan
pesan lainnya.
Dika pun membuk pesan itu.
"jika kamu merasa hebat, maka jangan
kamu sia sia kan orang tua mu yang
menyedihkan."
"chh.. orang tua?
perasaan mama dan papa ku baik baik saja.
apalagi ibuk. dia pasti sudah tenang di surga."
ia hanya tersenyum geli membaca pesan ngawur
tersebut.
Kemudian ia membuka pesan lainnya.
kali ini dari Gaby, terlihat pesan itu sudah
masuk dari beberapahari yang lalu.
maklum lah, kesibukan Dika sangat padat
jadi selain nomor pribadi ia akan jarang sekali
membalas pesan orang.
"kak.. makasih untuk payung nya ya ☺️
btw ini payung nya di pinjam atau di kasih?
kalau pinjam, nanti aku kembali kan ke
Nurul. kalau di kasih ya terimakasih.."
begitu isi pesan dari Gaby.
"hhh.. anak anak sekarang IQ nya jongkok"
gumam Dika tersenyum smirk.
...~~~~...
Karena ini akhir pekan, Vino mengajak
Dimas untuk bertemu di rumah Rianti.
ia ingin protes sebab sudah mengikuti
beberapa tes tak kunjung lolos.
"kau mempermainkan aku hah?
kau bilang akan membantu ku.
lalu kenapa aku tidak di berikan kesempatan?"
ucao Vino tak terima.
bukan aku yang menyeleksi kan?"
Dimas tampak acuh, sebenarnya bukan
karena Vino tak memenuhi syarat untuk
bekerja di sana. melainkan Dimas sudah
di wanti wanti oleh papa nya Vino untuk
tidak mempekerjakan Vino di sana.
agar ada yang meneruskan perusahaan nya.
"tapi kau pemimpinnya duda tua!!!"
rutuk Vino jengkel.
"hei? aku sudah punya istri! kenapa
kau mengejek ku duda?
kau itu yang duda!!"
tentu saja Dimas tak terima.
"aku bukan duda. aku hanya punya anak."
"cih.. lalu kau bangga?
menjadi duda tanpa menikah"
"bangga lah.. setidak nya bibit ku unggul.
tidak seperti mu! dua kali duda tanpa hasil
hahahaha..."
"tapi aku menghasil kan dua sekaligus..
lebih unggul mana?" Dimas melebarkan mata
nya.
"debat teruss...!
nggak malu apa di lihatin anak anak nya?
iiuhhhh.." tukas Fani sambil membawakan
air dingin untuk mereka.
"Fani.. kamu mau tau rahasia??"
qaLALLLLLAA@Vino mengancam Dimas.
"apa?" Fani pun penasaran.
"heh!! Vino??!!"
Dimas langsung mengejar Vino untuk
membungkam mulut nya.
Terjadi lah kejar kejaran dua bapak bapak
tua yang tak sadar umur itu.
anak anak mereka sampai tertawa terbahak
bahak melihat mereka berlarian seperti anak
kecil.
"ck..ck..ck..
mereka berdua tak tau malu."
ucap Rianti geleng geleng kepala.
__ADS_1
...~~~~...
Sore pun tiba..
Fani, dan Dimas duduk di atas kursi santai
pinggir kolam renang sambil mengawasi
tiga bocil berenang.
Vino juga ikut berenang bersama anak anak
sambil mengajari mereka beberapa gaya
renang yang keren.
sedangkan, Nurul hanya duduk di pinggiran
kolam dengan camilan nya sambil bermain air
dengan kaki nya.
"bina.. ayo dong berenang..."
panggil Keenan sambil menarik narik kaki
Nurul.
"nggak sayang.. bina di sini aja."
"bina.. ayo dong.."
timpal Ica ikut ikut menarik kaki Nurul.
"e.. enggak. bina takut nanti ada buaya."
ucap nya beralasan, padahal asal ceplos
tapi Vino malah tersungging dan langsung
melirik tajam ke arah Nurul.
"tidak ada bunda..
kalau ada ya kami semua sudah di makan."
sahut El.
"iya.. soal nya buaya nya nggak suka makan
anak anak.." Nurul masih saja tak sadar
dengan ucapan nya.
"Ran.. kamu ngeledek saya ya?"
Vino berenang mendekati Nurul.
"hhah?? ngeledek gimana pak?"
"itu buaya buaya..!"
"eng.. nggak kok pak..
tapi kalau bapak merasa ya bagus juga."
lirik Nurul sewot.
"maksut kamu saya buaya?"
"emang bapak pikir apa?"
"saya memandang kamu sebagai
bidadari tercantik di muka bumi ini..!
dan kamu memandang saya buaya?!"
suara Vino naik beberapa tone hingga
membuat Dimas dan Fani tertawa.
"chh.. bidadari kata nya?"
batin Nurul tersipu.
"Nur nggak bilang ya pak.
bapak aja yang merasa.."
Menyadari suasana agak panas, Keenan
dan yang lainnya pun menyingkir ke bagian
yang agak dangkal.
"sini aja .. sini aja..
nanti kita ikut ikutan di marah."
bisik Keenan menggandeng kedua saudara nya.
Vino menerkam pinggang Nurul
dengan dengan kedua tangan kekar nya
lalu menyeret Nurul ke dalam kolam sambil
berguling guling persis seperti buaya yang
sedang melumpuhkan mangsa nya.
"Papa!!! bunda di bawa buaya.. eh ayah!!"
teriak El panik.
"biarin El.. kalian mau berenang bareng bunda
kan? ikuti aja pergerakan buaya..eh ayah mu."
sahut Dimas terkekeh.
"pakk!!! bapak mau bunuh Nur?"
ia mengambang di permukaan sambil
megap megap.
Vino tersenyum puas.
"mau saya makan kamu!!"
"bapak hih!!! Nur udah mandiii..!
udah Nur bilang Nur nggak mau berenang!
Nur tau niat bapak bercanda!
tapi bapak mikir nggak bercandaan
bapak membahayakan nyawa!
bapak spontan seret Nur begitu sedangkan
Nur belum ambil nafas! kalau Nur kenapa
kenapa tadi gimana?!!"
emosi,terkejut dan hampir pingsan
karena tenggelam menyulut amarah di dada
Nurul. ia meninggalkan kolam renang itu
tanpa menoleh sedikit pun ke arah Vino.
"tentu saja aku sudah memperhitungkan
semua nya.
aku juga tidak mau dia kenapa kenapa."
lirih Vino menatap sayu Nurul dengan
langkah gontai nya.
__ADS_1
...*******...