Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
S2 episode 20: Buaya


__ADS_3

brakkk!!!!


Ponsel Bian terjatuh saat sedang menelpon


Nurul. ya, itu sebab nya sambungan telepon


terputus tiba tiba.


"aaashh..!! "


Bian segera mengambil ponsel nya lalu


mengetuk ngetuk ponsel yang memang sudah


retak itu.


"tidak..tidak.. jangan sekarang.


aku perlu menabung untuk acara tahun depan.


aaishh!!" rutuk Bian jengkel.


Ponsel yang memiliki motif sarang laba laba


di layar nya itu kini tak lagi bernyawa.


"kenapa Bi..?"


tanya Viona.


"ponsel ku meninggal.."


"fffttt....


akhir nya ponsel tua itu pensiun juga."


ledek nya menahan tawa.


Ponsel itu memang sudah dari jaman kuliah


di pakai Bian. ngirit bukan??


"beli lah yang baru..


kalau kamu keberatan beli saja yang


harga dua jutaan. dari pada kamu tidak


bisa berkabar sama pujaan hati mu.


hahahhaa..."


"hah? memang nya ada ponsel harga dua juta?


layar sentuh? ada kamera nya? bisa untuk


video call?" Bian tampak terkejut mendengar harga ponsel semurah itu.


"jaringan 4G, kapasitas 3,32 GB, dan ada


camera depan belakang.


chh.. mendadak jadi spg aku."


tutur Viona sedikit kesal.


"dimana aku bisa membeli nya?


antarkan aku."


"oke.. tapi besok"


Viona menyetujui permintaan Bian.


...~~~~...


Setelah nasi bola siap, Nurul membawa nya


ke kamar El dengan kaki gemetar bak orang


demam.


"khmm.. "


Nurul mengisyaratkan bahwa dia meminta


izin untuk masuk.


"masuk lah bunda.."


panggil Vino sambil melambaikan tangan nya.


"hore... nasi bola.."


sambut El jingkrak jingkrak.


"sudah bisa lompat lompat?


berarti sudah sembuh?


bunda nya sudah boleh pulang dong ya.."


Vino menyerbu El tanpa jeda.


Menyadari siasat nya di ketahui sang ayah


El langsung berbaring lagi di ranjang nya.


"El masih sakit loh ayah..


nih liat, jidat El masih panas."


"Pak..!"


tegur Nurul karena sudah menyudutkan El.


"aaaa..."


Nurul melayangkan satu bola nasi yang


idam idamkan El.


"aamm...


eenak bunda.." wajah El berbinar sambil mengacungkan dua ibu jari nya.


Nurul sangat senang melihat El ceria lagi.


"hehehe.. iya dong.


habisin ya, biar El cepet sembuh."


Sepanjang Nurul menyuapi El, Vino tertegun


memandangi kesempurnaan yang tak


bisa di gapai itu.


sebenarnya sih seperti biasa momen kedekatan


Nurul dan El, namun karena kali ini


Nurul memakai daster nuansa nya jadi agak


berbeda gitu. bawaan nya minta di terkam.


"astaga.. pikiran mu!!"


rutuk Vino memukul jidat nya agar sadar diri.


...~~~~...


Di kantin rumah sakit, Dika yang sedang


makan siang di sibukkan oleh notif instagram


nya yang terus terusan bergerak menandakan


pesan masuk. kegiatan itu sudah menjadi


makanan sehari hari nya.


Jangankan di media sosial, setiap pasien


yang di rawat nya jika itu orang tua pasti

__ADS_1


selalu menanyakan status Dika.


mereka selalu menawarkan anak gadis nya


untuk di jadikan calon pendamping.


dan jika pasien nya single, pasti akan menawarkan diri bahkan bolak balik datang dengan alasan kontrol walaupun Dika sudah menyatakan sembuh total.


Tentu saja Dika menolak apapun itu,


karena usia nya yang masih sangat muda


yaitu 22 tahun, jadi dia belum mau menceburkan


diri ke dunia cinta cintaan.


Saat sedang asik melihat lihat isi pesan.


tiba tiba pandangan Dika tertuju pada satu


pesan yang sangat berbeda dari ribuan


pesan lainnya.


Dika pun membuk pesan itu.


"jika kamu merasa hebat, maka jangan


kamu sia sia kan orang tua mu yang


menyedihkan."


"chh.. orang tua?


perasaan mama dan papa ku baik baik saja.


apalagi ibuk. dia pasti sudah tenang di surga."


ia hanya tersenyum geli membaca pesan ngawur


tersebut.


Kemudian ia membuka pesan lainnya.


kali ini dari Gaby, terlihat pesan itu sudah


masuk dari beberapahari yang lalu.


maklum lah, kesibukan Dika sangat padat


jadi selain nomor pribadi ia akan jarang sekali


membalas pesan orang.


"kak.. makasih untuk payung nya ya ☺️


btw ini payung nya di pinjam atau di kasih?


kalau pinjam, nanti aku kembali kan ke


Nurul. kalau di kasih ya terimakasih.."


begitu isi pesan dari Gaby.


"hhh.. anak anak sekarang IQ nya jongkok"


gumam Dika tersenyum smirk.


...~~~~...


Karena ini akhir pekan, Vino mengajak


Dimas untuk bertemu di rumah Rianti.


ia ingin protes sebab sudah mengikuti


beberapa tes tak kunjung lolos.


"kau mempermainkan aku hah?


kau bilang akan membantu ku.


lalu kenapa aku tidak di berikan kesempatan?"


ucao Vino tak terima.


bukan aku yang menyeleksi kan?"


Dimas tampak acuh, sebenarnya bukan


karena Vino tak memenuhi syarat untuk


bekerja di sana. melainkan Dimas sudah


di wanti wanti oleh papa nya Vino untuk


tidak mempekerjakan Vino di sana.


agar ada yang meneruskan perusahaan nya.


"tapi kau pemimpinnya duda tua!!!"


rutuk Vino jengkel.


"hei? aku sudah punya istri! kenapa


kau mengejek ku duda?


kau itu yang duda!!"


tentu saja Dimas tak terima.


"aku bukan duda. aku hanya punya anak."


"cih.. lalu kau bangga?


menjadi duda tanpa menikah"


"bangga lah.. setidak nya bibit ku unggul.


tidak seperti mu! dua kali duda tanpa hasil


hahahaha..."


"tapi aku menghasil kan dua sekaligus..


lebih unggul mana?" Dimas melebarkan mata


nya.


"debat teruss...!


nggak malu apa di lihatin anak anak nya?


iiuhhhh.." tukas Fani sambil membawakan


air dingin untuk mereka.


"Fani.. kamu mau tau rahasia??"


qaLALLLLLAA@Vino mengancam Dimas.


"apa?" Fani pun penasaran.


"heh!! Vino??!!"


Dimas langsung mengejar Vino untuk


membungkam mulut nya.


Terjadi lah kejar kejaran dua bapak bapak


tua yang tak sadar umur itu.


anak anak mereka sampai tertawa terbahak


bahak melihat mereka berlarian seperti anak


kecil.


"ck..ck..ck..


mereka berdua tak tau malu."


ucap Rianti geleng geleng kepala.

__ADS_1


...~~~~...


Sore pun tiba..


Fani, dan Dimas duduk di atas kursi santai


pinggir kolam renang sambil mengawasi


tiga bocil berenang.


Vino juga ikut berenang bersama anak anak


sambil mengajari mereka beberapa gaya


renang yang keren.


sedangkan, Nurul hanya duduk di pinggiran


kolam dengan camilan nya sambil bermain air


dengan kaki nya.


"bina.. ayo dong berenang..."


panggil Keenan sambil menarik narik kaki


Nurul.


"nggak sayang.. bina di sini aja."


"bina.. ayo dong.."


timpal Ica ikut ikut menarik kaki Nurul.


"e.. enggak. bina takut nanti ada buaya."


ucap nya beralasan, padahal asal ceplos


tapi Vino malah tersungging dan langsung


melirik tajam ke arah Nurul.


"tidak ada bunda..


kalau ada ya kami semua sudah di makan."


sahut El.


"iya.. soal nya buaya nya nggak suka makan


anak anak.." Nurul masih saja tak sadar


dengan ucapan nya.


"Ran.. kamu ngeledek saya ya?"


Vino berenang mendekati Nurul.


"hhah?? ngeledek gimana pak?"


"itu buaya buaya..!"


"eng.. nggak kok pak..


tapi kalau bapak merasa ya bagus juga."


lirik Nurul sewot.


"maksut kamu saya buaya?"


"emang bapak pikir apa?"


"saya memandang kamu sebagai


bidadari tercantik di muka bumi ini..!


dan kamu memandang saya buaya?!"


suara Vino naik beberapa tone hingga


membuat Dimas dan Fani tertawa.


"chh.. bidadari kata nya?"


batin Nurul tersipu.


"Nur nggak bilang ya pak.


bapak aja yang merasa.."


Menyadari suasana agak panas, Keenan


dan yang lainnya pun menyingkir ke bagian


yang agak dangkal.


"sini aja .. sini aja..


nanti kita ikut ikutan di marah."


bisik Keenan menggandeng kedua saudara nya.


Vino menerkam pinggang Nurul


dengan dengan kedua tangan kekar nya


lalu menyeret Nurul ke dalam kolam sambil


berguling guling persis seperti buaya yang


sedang melumpuhkan mangsa nya.


"Papa!!! bunda di bawa buaya.. eh ayah!!"


teriak El panik.


"biarin El.. kalian mau berenang bareng bunda


kan? ikuti aja pergerakan buaya..eh ayah mu."


sahut Dimas terkekeh.


"pakk!!! bapak mau bunuh Nur?"


ia mengambang di permukaan sambil


megap megap.


Vino tersenyum puas.


"mau saya makan kamu!!"


"bapak hih!!! Nur udah mandiii..!


udah Nur bilang Nur nggak mau berenang!


Nur tau niat bapak bercanda!


tapi bapak mikir nggak bercandaan


bapak membahayakan nyawa!


bapak spontan seret Nur begitu sedangkan


Nur belum ambil nafas! kalau Nur kenapa


kenapa tadi gimana?!!"


emosi,terkejut dan hampir pingsan


karena tenggelam menyulut amarah di dada


Nurul. ia meninggalkan kolam renang itu


tanpa menoleh sedikit pun ke arah Vino.


"tentu saja aku sudah memperhitungkan


semua nya.


aku juga tidak mau dia kenapa kenapa."


lirih Vino menatap sayu Nurul dengan


langkah gontai nya.

__ADS_1


...*******...


__ADS_2