Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
episode 114: Cuci es krim?


__ADS_3

"hhhhffff... tenang Mila, dia suami mu!


jangan berlebihan.. dia suami mu!"


gerutu nya memarahi diri sendiri, tapi seperti nya ia tak bisa mengendalikan itu.


"pakai baju mu cepat!"


teriak Mila, ia membelakangi Riko agar tidak melihat anaconda nya.


"kau mau kemana?" nada bicara Riko yang dingin terdengar seperti om om yang hendak memangsa sandera nya.


Merasa masukan dari Dimas tak berlaku pada Mila, Riko terpaksa ambil jalan nekat sebab sudah kepalang tanggung ia memamerkan peliharaan nya, sayangkan kalau nganggur begitu saja.


Riko kembali memakai handuk nya lalu mendekati Mila. "aku akan melakukan hal yang sewajar nya"


bisik Riko, ia hendak menarik bahu Mila agar berbalik. namun Mila malah panik dan langsung menghindar membuat Riko tak sengaja merobek piyama berbahan satin yang sedang ia gunakan.


ssreeekk....!!


bagian belakang piyama itu robek hingga hampir terbelah dua karena kuat nya tarikan Riko.


tak bisa di elakkan bra nya Mila pun terpampang jelas di sana.


"Hehh!!! ini baju kesayangan ku tau!"


bentak Mila tak terima.


"maaf.. aku tak sengaja"


sahut Riko memelas sambil menggenggam robekan baju Mila.


"kenapa kau malah kesini? aku kan sudah bilang pakai baju mu..!"


"aku.. ini tangan ku seperti nya terkilir karena tertimpa Ban mobil tadi, jadi aku meminta bantuan mu untuk mengambilkan baju" Riko memamerkan pergelangan tangan nya yang memamg bengkak karena tak hati hati saat mengganti ban mobil tadi sore. sakit nya tak seberapa sih, caper doang etah es kepal Mylo.


ia ingin lihat apakah Mila akan melunak jika diri nya sakit.


Sebenarnya ia bisa saja langsung menerkam Mila malam ini, toh dia suami nya jadi walaupun memaksa bukan lah masalah. tapi Riko ingin melakukan nya dengan cara manis dan sadar, tidak mabuk seperti kemarin.


"yang mana? tapi tadi kau menarik baju ku kuat sekali??"


"itu kan yang kiri.. yang terkilir ini Mila"


Riko menyodorkan tangan kanan nya.


"tunggu.." Mila berjalan mundur menuju ruang tengah untuk mencari salep dan obat obatan.


tentu nya dengan baju yang masih robek.


"kasian banget dia.. pasti sakit.." gumam Mila.


Beberapa menit kemudian ia kembali ke kamar dengan obat obatan.


"sini.. kupakai kan" Mila menarik tangan Riko lalu mengolesi HotNcream secara perlahan.

__ADS_1


"aaduh.. pelan pelan," ucap Riko pura pura.


"fffuhhh... fffuuuhh...


minum pereda nyeri ya" ucap Mila, ntah kenapa sisi mak lampir Mila hilang malam ini.


Riko hanya mengangguk perlahan.


"tidak bisakah kita seperti ini terus?"


"maksut nya? kau mau tangan mu terkilir terus?"


Mila menarik sebelah bibir nya dengan tatapan sinis.


"akur.. seperti suami istri pada umum nya"


ucap Riko.


"kau menyalahkan ku? kau yang selalu cari gara gara dengan ku!" rutuk Mila.


"lalu kau membalasku, dan seperti itu terus keseharian kita" Riko tersenyum kecil menonjolkan lesung pipi nya yang bikin ambyar.


"ya iya lah ku balas! kau tidak pernah lembut pada ku di kantor maupun di rumah. jadi untuk apa aku berbaik hati dengan mu"


"hmm.. jadi aku harus baik hati?


kalau aku memeluk mu bisakah kau berbaik hati pada ku?"


"ntah lah.." ujar Mila.


"tidak buruk.." ucap Mila malu malu.


melihat lesung pipi yang hanya timbul jika Riko tersenyum itu benar benar membuat nya mabuk kepayang.


Riko melirik kepunggung Mila yang masih terbuka karena sobekan baju itu.


"bekas luka mu sudah memudar.."


"aku mengoleskan salep dari dokter"


sahut Mila panas dingin.


Riko: "benarkah? bukankah susah mengoleskan nya sendiri?"


Mila: "sedikit.."


Riko: "kau bisa menyuruhku.."


"baiklah, mulai hari ini kau yang mengoleskan untukku" ujar Mila tersenyum kecil pada Riko, Riko pun membalas senyuman Mila sambil menatap nya lembut.


"ternyata kau baik juga.." ucap Riko memuji samg istri.


"aishh.. sampai kapan kau akan merangkul ku?"


balas Mila.

__ADS_1


"selama nya..."


Lagi Riko berhasil membuat Mila tersipu malu, ini kali pertama mereka menghabiskan malam tanpa bertengkar setelah pernikahan.


"kau mau es krim??" tanya Riko dengan tatapan nakal.


"mau.. segar pasti, aku sedang gerah soal nya"


sahut Mila dengan mata berbinar.


"sebentar ku cuci dulu.." Riko beranjak ke kamar mandi sambil tersenyum.


sementara Mila hanya mengangguk tanpa mencerna kata kata Riko. sepintas terbesit tanya tadi 'es krim kok di cuci?' tapi ia tak menghiraukan pertanyaan dari otak nya itu karena melihat senyum Riko yang sangat memabukkan nya.


...~~~~...


Pagi hari nya di rumah sakit tampak Dimas,Rianti dan Nurul tengah mengemas barang barang karena Bian mengatakan Fani sudah bisa di rawat jalan. kondisi nya sudah sangat baik, walaupun masih membutuhkan beberapa kontrol dan obat tapi Bian menyarankan rawat jalan saja agar Fani juga tidak bosan.


Di saat yang lain tengah berkemas Bian malah mencuri kesempatan untuk menanyai Nurul.


"sebenar nya kemarin kenapa dek?"


"itu Pak Vino tidur di rumah, terus nggak sengaja kami papasan di taman. ya bapak tau lah dia kaya mana iseng nya" sahut Nurul sedikit berbisik.


"ohhh... saya kira beneran tidur bareng"


Bian tersenyum lega, tentu saja ia percaya karena ia bisa melihat dari raut wajah Nurul kalau ia jujur.


"ya nggak lah pak.. tidur di kamar masing masing kami"


"kamu hati hati aja.. soal nya laki laki itu kadang tidak bisa menahan n*fsu nya" ujar Bian memberi nasihat.


"bener banget pak..


eh berarti bapak juga" Nurul langsung terbelakak karena Bian mengatakan lelaki yang berarti tanpa pengecualian.


"ya saya tidak bisa pungkiri, tapi jujur selama 27 tahun saya hidup belum pernah menyentuh wanita yang bukan pasien saya" Bian tersenyum tipis, ntah itu senyum kebanggaan atau keputusasaan yang pasti itu berhasil membuat Nurul berdecak kagum.


"saya cuma nggak mau gadis berharga seperti kamu jatuh ke tangan orang yang salah" imbuh nya lagi.


Nurul mulai bingung kemana arah pembicaraan mereka. "Nur akan simpan baik baik nasehat bapak"


"god girl.. jaga diri kamu untuk orang yang tepat ya.." Bian tersenyum bangga kepada Nurul.


Jika sedang bersama Bian, membahas hal hal sensitif pun Nurul merasa nyaman karena aura nya sangat positif. beda cerita kalau dengan Vino, jika membicarakan hal hal begitu pasti suasana langsung merinding dan mencekam.


"kamu nggak apa apa kan sayang tinggal di rumah mama dulu?" tanya Dimas.


"nggak apa apa Mas.. biar banyak temen nya Fani" sahut nya mengangguk.


"iya nak.. lagian rumah dokter Bian juga nggak jauh dari rumah mama, jadi gampang kalau dokter nya mau kontrol kamu" imbuh Rianti bersemangat. mereka bertiga memang sedang ngobrol. tapi pandangan mereka tak lepas dari Nurul dan Bian yang sedari tadi berbisik bisik membuat mereka bertiga penasaran apa yang sebenar nya di bahas.


"masa depan cerah ini.."


ucap Dimas di sahuti anggukan Fani dan Rianti.

__ADS_1


...********...


__ADS_2